
Alena kembali terlelap, rasa nyaman berada dipelukan suaminya membuat ia enggan untuk bangkit dari tempat tidur.
Kevin yang dipeluk Alena terus mengelus rambut istrinya. Tubuh panas Alena terasa sekali ditubuh Kevin. Setelah Alena terlelap pria itu melepas dengan pelan tangan Alena yang memeluk dirinya.
Iya kemudian turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil kompres.
"Kompres buat siapa, Vin?" tanya Andrian yang sedang menikmati makan malam.
Pria paruh baya itu masih duduk dimeja makan bersama Kakek Eren .
"Buat Alena Pah, dia demam." jawab Kevin.
"Alena demam, Vin? Ya ampun Kakek yang ada di rumah justru tidak tahu," ucap kakek Eren penuh sesal.
"Nggak papa Kek ini sudah mau aku kompres juga," ucap Kevin.
Pria itu kemudian mengambil mangkuk besar mengisinya dengan air hangat, kemudian membawanya kedalam kamar, mengambil handuk kecil lalu mengompres kening Alena.
Kevin jadi teringat dengan dulu pertama kali ia mengompres Alena. Saat itu Alena sedang demam juga, karena kelelahan malamnya ia tempur.
Mengingat itu Kevin menyunggingkan senyumnya. Dulu mengompres kepala Alena, ia tidak ikhlas melakukannya. Tapi sekarang dengan senang hati ia melakukannya.
Tepat tengah malam Alena terbangun karena rasa lapar diperutnya sangat mengganggu tidurnya.
Setelah ia membuka mata, Alena mendapati suaminya yang sedang tidur terduduk dikursi dengan kepala pria itu berada diranjang tepatnya dipinggir perutnya.
Alena meraba keningnya, ternyata ada handuk kompres disana. Iya langsung mengambil handuk itu lalu menggerakkan tubuhnya untuk duduk.
Gerakan dari Alena mampu membuat Kevin yang sedang tidur, kini terbangun.
"Emm, sayang kamu udah bangun?" tanya Kevin yang baru saja membuka matanya.
"Aku lapar," jawab Alena.
"Kalau begitu biar aku yang ambilkan, kamu tunggu disini." ucap Kevin.
"Tapi aku mau makan di dapur," ucap Alena.
"Jangan sayang kamu masih sakit, biar aku aja yang ambilkan." ucap Kevin.
"Tapi aku udah baikan," ucap Alena dengan tatapan memohon.
Kevin tidak langsung menjawab, ia meletakkan punggung tangannya dikening istrinya.
Kening Alena sudah tidak sepanas tadi, demam wanita itu sudah turun karena ia kompres.
"Ya sudah ayo aku bantu kamu berjalan ke dapur," ucap Kevin.
Alena mengangguk kemudian menurunkan kakinya dari ranjang, lalu dengan dibantu Kevin ia berjalan menuju pintu kamar untuk keluar menuju dapur.
"Hati-hati sayang jalannya pelan-pelan aja," ucap Kevin pada Alena yang berjalan tergesa saat menuruni tangga.
__ADS_1
"Iya iya," ucap Alena seraya terkekeh.
Padahal bagi Alena ia berjalan biasa saja, namun Kevin yang melihatnya seperti berjalan tergesa dengan perut yang besarnya.
"Kok malah ketawa sih," ucap Kevin terheran.
"Ya jelas aku ketawa lah Vin, kamu ini berlebihan sekali aku kan jalannya biasa aja," ucap Alena masih dengan terkekeh.
"Kamu nih ya, nakal sekali. Aku ini khawatir, kok malah dibilang berlebihan. Hahh?." ucap Kevin kemudian menggelitik pinggang Alena.
Mereka kini sudah berada didapur, sehingga Kevin berani menggelitik pinggang Alena.
"Hahaha, geli Vin. Sudah jangan gelitiki aku, hahaha." ucap Alena seraya tertawa.
Tubuhnya yang kegelian juga meliuk-liuk karena Kevin yang menggelitikinya.
Karena terus tertawa membuat sudut mata Alena berair. Kevin segera menghentikan tangan yang menggelitik pinggang istrinya itu.
"Oke aku berhenti, ayo kita makan." ucap Kevin kemudian merangkul pinggang istrinya, lalu membawanya duduk dikursi meja makan.
"Mau makan sama apa sayang?" tanya Kevin.
"Emm," ucap Alena seraya berfikir.
"Bilang aja kamu mau makan apa," ucap Kevin.
"Yakin nih, aku bilang aja?" tanya Alena.
Mendapati jawaban dari Kevin, Alena jadi punya ide. Ide itu membuat Alena tersenyum merekeh.
"Kalau begitu aku mau dibuatkan nasi goreng sama kamu," ucap Alena.
"Hahh? Nasi goreng? Aku yang buat?" tanya Kevin.
Maksud Kevin tadi mengatakan 'bilang aja makanan yang mau Alena makan' yakni ia akan membangunkan pelayan untuk membuatkannya. Bukan dirinya yang membuat.
"Kenapa, kok kayaknya kaget?" tanya Alena.
"Kamu yakin Sayang, aku yang buatkan nasi goreng?" tanya Kevin.
"Iya. Kalau bukan kamu terus siapa lagi?" tanya Alena.
Dengan terpaksa Kevin menganggukkan kepalanya, kemudian menuju kulkas, mengambil bahan-bahan nasi goreng.
Bahan-bahan? bahan nasi goreng saja Kevin tidak tahu. Setelah pria itu membuka kulkas, Ia hanya melihat isinya.
Kevin bingung, bahan apa saja yang mau ia ambil jadi ia hanya menatap isi didalam kulkas tersebut.
Hingga Alena mendekat pria itu tidak menyadarinya.
"Kamu bingung ya bahannya apa aja?" tanya Alena.
__ADS_1
"Iya sayang aku bingung," jawab Kevin seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menyengir.
"Kalau begitu kamu duduk sana, biar aku aja yang buat nasi goreng." ucap Alena.
"Jangan! Jangan sayang, biar aku aja yang buatkan nasi goreng. Kamu sebutin apa saja bahannya," ucap Kevin.
Alena mengangguk dengan bibirnya yang tersenyum. Padahal ia tadi hanya pura-pura mengatakan dirinya yang akan membuat nasi goreng.
Ia tidak benar-benar akan membuatnya. Ia mengatakan demikian hanya untuk agar Kevin mau membuatkannya.
Alena menyebutkan apa saja bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng. Hanya menyebutkan, tanpa membimbing caranya memasak, sehingga Kevin memasaknya dengan asal.
Nasi goreng yang dibuat Kevin sudah jadi. Pria itu segera menghidangkan di atas piring, lalu memberikannya pada Alena.
"Ini sayang udah jadi nasi gorengnya," ucap Kevin sembari meletakkan piring berisi nasi goreng di hadapan Alena.
"Makasih," ucap Alena tersenyum pada Kevin.
Wanita itu kemudian menyendokkan nasi gorengnya ke dalam mulut dan mengunyahnya.
Alena juga menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulut Kevin.
"Enak juga ya sayang nasi gorengnya," ucap Kevin.
"Kamu bakat berarti masak nasi goreng, Vin." ucap Alena.
Wanita itu terus menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, bergantian dengan menyuapkan kedalam mulut Kevin hingga habis.
Setelah menghabiskan nasi goreng itu Kevin dan alena segera kembali ke kamar.
"Besok-besok buatkan aku nasi goreng seperti itu lagi ya," pinta Alena pada Kevin.
"Pasti sayang," ucap Kevin.
Saat ingin mereka tengah berada di atas ranjang dengan tubuh Alena yang di dekap oleh tubuh Kevin.
Keduanya sudah masuk ke dalam selimut, sedang berusaha untuk tertidur lagi, namun tidak bisa sehingga mereka menyalakan televisi untuk mengisi kesunyian didalam kamarnya.
"Vin," panggil Alena disela-sela mereka menonton siaran televisi.
"Hemm," jawab Kevin kemudian mengecilkan volume televisi.
"Aku boleh ya panggil kamu dengan sebutan 'Mas'?" tanya Alena.
Wajah Kevin yang tadinya sedang menatap televisi, jadi beralih menatap Alena yang berada di sebelahnya.
Sebelum menjawab Kevin tersenyum lebih dulu. Dipanggil dengan sebutan 'Mas' tentu saja membuat hati pria itu berbunga-bunga.
"Boleh sayang. Ayo panggil aku 'Mas'," ucap Kevin.
"Iya Mas," ucap Alena.
__ADS_1
Kevin menyatukan keningnya dengan kening istrinya kemudian tersenyum bersama.