Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 62 Keputusan Sekolah


__ADS_3

Hari kedua cuti hamilnya, Alena harus datang kesekolahan untuk memenuhi panggilan dari Andrian selaku pemilik yayasan.


Alena datang tidak sendirian, melainkan bersama dengan suaminya. Pria itu juga diminta datang kesekolahan untuk membahas masalah foto dan vidio kemarin.


Saat ini sepasang suami istri itu tengah duduk dikursi, dengan keduanya duduk bersebelahan. Didepan mereka, ada empat orang berpengaruh disekolahan.


Orang itu yakni pemilik yayasan, kepala sekolah, dan dua orang pengurus yayasan.


Saat ini kedua orang itu tengah menjalani sidang internal sekolahan.


Meski Andrian berada disana, tapi pria paruh baya itu sudah menyerahkan pada kepala sekolah. Ia tidak bisa membantu Alena dan Kevin.


Meski didepan Alena dan Kevin ada empat orang berpengaruh disekolahan ini, tapi hanya kepala sekolah yang mengintrogasi kedua orang itu.


"Apa benar yang berada didalam foto dan vidio itu adalah kalian?" tanya Kepala sekolah sembari menunjukan foto dan vidio yang ada pada layar tablet.


"Betul Pak," jawab Alena dan Kevin bersamaan.


"Apa yang kalian lakukan dikamar hotel itu?" tanya kepala sekolah lagi.


Alena menundukan kepalanya sembari menggigit bibir bagian bawah. Ia gugup dengan pertanyaan yang diberikan kepala sekolah pada dirinya dan juga Kevin.


Lain halnya dengan Alena yang gugup, Kevin terlihat biasa saja. Pria itu justru menegakan kepalanya menatap satu persatu orang yang sedang menyidangnya.


"Tentu saja melakukan apa yang biasa dilakukan suami istri," jawab Kevin dengan santainya, membuat semua orang yang ada disana membolakan matanya karena terkejut.


Alena yang masih menunduk hanya mampu merutuki ucapan suaminya itu.


Mau bagaimana lagi, memang benar apa yang diucapkan Kevin, bila dirinya dan pria itu melakukan apa yang biasa dilakukan suami istri.


"Alena istri saya, lalu apa masalahnya bila saya membawanya kehotel," ucap Kevin yang lagi-lagi mengejutkan orang-orang yang sedang menyidangnya.


Andrian selaku pemilik yayasan juga hanya mampu terdiam. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, hingga ketiga orang yang sedang menyidang Alena dan Kevin menatapnya, menuntut penjelasan dari Andrian.


Sebelum membuka suara Andrian menganggukan kepalanya terpebih dahulu. Dalam benaknya, mungkin ini saatnya semua orang tahu bila Kevin Andrian adalah suami dari Bu Alena.


"Betul apa yang disampaikan oleh Kevin, Pak. Kevin dan Alena adalah suami dan istri. Mereka menikah karena saya yang memintanya," ucap Andrian.


"Bagaaimana bisa anda melakukan semua ini, Pak Andrian? Pernikahan seorang guru dengan murid yang masih sekolah itu melanggar peraturan sekolah. Kevin dan Bu Alena harus dikeluarkan!" ucap Kepala Sekolah dengan tegas.


Ia sudah tidak mentolelir lagi pelanggaran yang dilakukan Kevin, meski jabatan sebagai kepala sekolah menjadi taruhannya, pria paruh baya itu akan tetap memberi sanksi untuk Kevin dan juga Alena.

__ADS_1


Andrian bingung untuk menghadapi masalah ini.


Masalah yang memang ia buat sendiri pada awalnya.


Andrian tak mungkin membantah keputusan kepala sekolah yang akan mengeluarkan Kevin dan Alena dari sekolahan.


Tapi ia ingin tetap Kevin bersekolah, karena hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan.


Sedangkan Alena yang terancam dikeluarkan juga, Andrian tidak bisa menerimanya. Ia tak mau bila karier menantunya hancur begitu saja karena masalah ini.


Lama Andrian berfikir, hingga akhirnya pria itu meminta berdiskusi terlebih dahulu dengan orang-orang yang menyidang Kevin dan Alena.


Pria itu juga meminta anak dan menantunya pulang kerumah, sementara ia berdiskusi dengan ketiga orang lainnya.


"Bagaimana kalau kita dikeluarkan, Mas?" tanya Alena.


Saat ini mereka baru saja tiba dirumah Andrian.


Pertanyaan itu sedari tadi ingin ia lontarkan tapi masih ia tahan karena masih berada diperjalanan. Begitu mereka tiba dirumah Andrian, Alena langsung melontarkan pertanyaan itu pada suaminya.


"Jangan terlalu kamu pikirkan sayang. Papah akan mengusahakan yang terbaik untuk kita," ucap Kevin masih terus meyakinkan istrinya bila semuanya akan baik-baik saja.


Meski hati merasa khawatir, tapi Alena tetap menganggukan kepalanya. Ia berusaha untuk tidak memikirkan masalah yang tengah ia hadapi.


Karena terlalu banyak pikiran, Alena merasakan perutnya kencang dan keram sehingga membuatnya meringis kesakitan.


Masalah akhir-akhir ini sangat mengganggu pikirannya, membuat janin yang ada dalam kandungannya ikut merasakan ketegangan yang tengah ia alami.


"Ayo duduk dulu," ucap Kevin sembari menuntun Alena untuk duduk disofa ruang tamu.


Tanpa menjawab ucapan Kevin, Alena mengikuti Kevin yang menuntunnya duduk disofa.


Wanita itu menarik nafasnya lalu menghembuskan, menarik nafas lagi lalu menghembuskan lagi hingga ia ulangi terus menerus.


"Perutnya sakit ya?" tanya Kevin.


Alena menganggukan kepalanya sembari memegang perutnya yang sakit.


"Mana yang sakit?" tanya Kevin.


"Ini," jawab Alena sembari mengarahkan tangan suaminya keperut bagian bawah.

__ADS_1


"Sayang Papah, kamu jangan nakal ya. Kasian nih sama mamah yanng kesakitan," ucap Kevin sembari mengusap perut Alena dengan lembut.


Seperti mengerti dengan apa yang diucapkan Kevin, perut Alena yang awalnya kencang kini perlahan melemas membuat wanita hamil itu bisa bernafas lega.


"Masih sakit?" tanya Kevin.


Alena menggelengkan kepalanya. Memang sudah tidak terasa sakit lagi perutnya. Ia juga sudah bisa bernafas lega.


"Sudah nggak Mas," ucap Alena.


"Perutmu keram pasti karena kamu lagi banyak pikiran. Kamu jangan terlalu memikirkan masalah kita ini, karena ada papah yang akan mengurusnya," ucap Kevin.


Alena menganggukan kepalanya, tanda mengerti dengan ucapan Kevin.


Tidak lama kemudian Andrian datang dengan wajah lelah dan tengangnya. Hal itu sudah bisa ditebak oleh Alena apa yang terjadi dengan papah mertuanya itu.


Tepat sasaran. Andrian memang tidak berhasil membujuk Kepala Sekolah agar tidak mengeluarkan Kevin dan Alena dari sekolahan.


Pria paruh baya itu hanya bisa membujuk agar Alena masih bisa berkarier disekolahan lain.


"Bagaimana Pah?" tanya Alena.


Wanita itu benar-benar penasaran dengan keputusan Kepala Sekolah.


"Kalian akan tetap dikeluarkan dari sekolahan," ucap Andrian.


Dengan berat hati, pria itu harus memberi tahukan keputusan yang diambil oleh sekolahan untuk putranya.


"Yaahhh," ucap Alena kecewa.


Ia benar-benar kecewa dengan keputusan itu. Ia tidak bisa lagi berkarier sebagai pengajar diSMA Cempaka.


Kevin menatap pada istrinya yang kecewa itu, membuatnya juga ikut kecewa.


Kecewa bukan karena dirinya dikeluarkan melainkan karena karier Alena yang hancur.


Ia terus saja mengatakan semuanya akan baik-baik saja tapi pada kenyataannya Alena juga dikeluarkan dari sekolahan.


"Setelah ini Kevin akan mengikuti paket C, sedangkan Alena masih bisa mengajar di SMK Cempaka," ucap Andrian.


Alena yang sudah terlanjur kecewa tak percaya dengan ucapan Andrian, membuat dirinya bertanya lagi.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah dengar, Pah?" tanya Alena.


Andrian menganggukan kepalanya sembari tersenyum, membuat Alena bersorak gembira.


__ADS_2