Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 52 Syukuran


__ADS_3

Keesokan harinya.


Acara syukuran akan dilakukan secara sederhana, hanya dihadiri oleh seluruh keluarga Alena dan juga keluarga Kevin, tak lupa juga Alena mengundang Diana ibu mertuanya itu.


Diana tentu saja langsung menerima undangan syukuran dari menantunya. Meski bukan Kevin yang mengundangnya, namun ia tetap merasa bahagia karena dirinya diikut sertakan dalam acara bahagia itu.


Tadinya Kevin ingin mengundang semua anggota geng Lion, namun ia urungkan Karena Kevin belum siap bila keluarga Alena tahu kalau dirinya seorang ketua geng motor.


Iya akan memberitahukan pelan-pelan kepada keluarga istrinya, bila dia adalah ketua Geng Lion, tapi bukan hari ini.


Hari ini adalah hari bahagia untuk seluruh keluarga, karena merayakan 7 bulan kehamilan Alena.


Semua keluarga berkumpul di ruang tamu, tak lupa juga Andrian mengundang tetangga dekat rumahnya.


Kedatangan Diana dan suami barunya tentu saja menarik perhatian orang-orang yang ada di sana salah satunya kakek Eren.


Kakak Eren tersenyum masam, dahulu dirinya beserta sahabatnya yang menjodohkan Andrian dengan Diana tapi nyatanya perjodohan itu gagal.


Pernikahan kedua orang yang dijodohkannya itu justru harus kandas karena selalu berbeda pendapat.


"Assalamualaikum Papah Eren," sapa Diana kemudian mencium tangan kakek Eren.


Meski mereka sudah bukan mertua dan menantu tapi Diana tetap menganggap Kakek Eren adalah ayahnya.


"Waalaikumsalam Diana," sapa balik Kakek Eren.


"Apa kabarnya Pah?" tanya Diana.


"Baik Di, kamu sendiri apa kabarnya? ini suamimu?" tanya Kakek Eren, kemudian menunjuk pada seorang pria paruh baya yang berdiri di sebelah Diana.


"Kabarku baik Pah. Iya betul ini suamiku, namanya Fathur," ucap Diana.


"Assalamualaikum Pah perkenalkan saya Fathur suaminya Diana," sapa Fathur, kemudian melakukan hal yang sama seperti Diana lakukan. Fathur juga mencium tangan Kakek Eren.


Kakak Eren kemudian memegang bahu Fathur untuk mengatakan sesuatu didekat telinga Fathur.


"Jagalah Diana, meski dia sudah bukan menantuku lagi, tapi dia tetap saya anggap anak saya sendiri." ucap kakek Eren.


"Baik Pah, saya akan menjaga Diana serta menyayanginya hingga maut memisahkan kami," ucap Fathur.


Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan dari mereka memulai acara syukuran tersebut, membacakan do'a-do'a untuk kesehatan, kelancaran dan keselamatan ibu hamil yang akan segera melahirkan.

__ADS_1


Syukuran itu berlangsung penuh hikmat, Alena dan Kevin tentu saja bersyukur sekali karena acaranya tidak ada kendala sedikitpun.


Acara selesai, para tetangga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Diana dan Fathur juga sudah pulang ke rumahnya. Kini di rumah Andrian hanya tinggal keluarga Alena dan keluarga Kevin.


Keluarga Alena malam ini menginap di rumah Andrian, mereka akan pulang besok pagi-pagi sekali.


"Sudah Nak kamu istirahat saja," ucap Mayang yang melihat Alena hendak membantu membersihkan bekas acara syukuran tersebut.


"Iya sayang, kamu sebaiknya istirahat saja ini biar pelayan yang akan membersihkannya." ucap Kevin.


Alena menoleh pada suaminya kemudian tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Aku mau tidur ditemani kamu," jawab Alena malu-malu.


Kevin langsung paham dengan apa yang dikatakan istrinya. Ia segera merangkul pinggang wanita didepannya kemudian berpamit pada semua keluarga yang masih berkumpul disana.


Keduanya segera menuju kamar mereka untuk beristirahat.


Setelah kepergian Alena dan Kevin ke kamar, Kakek Eren mengajak Andrian untuk bicara karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan. Andrian segera membawa ayahnya keruang kerjanya, lalu duduk di sofa diruang itu.


"Ada apa Pah?" tanya Andrian.


"Iya Pah, aku juga merasakan perubahannya. Aku sangat bersyukur karena Alena selalu mendampingan Kevin dalam kondisi apapun." ucap Andrian.


"Papah rasa Kevin sudah bisa menghandle salah satu perusahaan kita," ucap Kakek Eren.


"Iya Papah benar, tapi Kevin masih harus didampingi oleh sekretarisku dia akan aku tempatkan menjadi manager terlebih dahulu." ucap Andrian.


"Terserahmu saja, apa yang menurutmu baik maka lakukanlah. Kevin tidak kuliah juga tidak apa-apa yang penting dia mau mengelola perusahaan," ucap Kakek Eren.


Adrian setuju dengan apa yang Ayahnya katakan. Tapi kini masalahnya, Apakah Kevin mau mengelola perusahaannya.


Andrian tentu saja paham dengan karakter putranya yang keras kepala itu. Bisa saja Kevin menolak untuk ia jadikan CEO disalah satu perusahaannya.


"Nanti akan aku bicarakan pada Kevin, Pah." ucap Andrian.


"Bicarakanlah dulu padanya," ucap kakek Eren.


"Iya Pah," ucap Andrian.

__ADS_1


Setelahnya tidak ada pembicaraan lagi, mereka memutuskan untuk kembali kekamar masing-masing.


Pagi datang.


Keluarga Alena masih berada dirumah Andrian, kini mereka tengah berkumpul dimeja makan untuk sarapan bersama dengan Andrian dan Kakek Eren, lalu setelahnya mereka akan kembali keaktifitas masing-masing.


Ditengah-tengah sarapan itu, Mayang memulai pembicaraan diantara mereka.


"Alena," panggil Mayang sembari mentap pada Alena yang duduk disebrangnya.


"Iya Bu," jawab Alena.


"Ibu dan Elena besok mau pulang kesemarang. Kami akan ziarah kemakam ayahmu," ucap Mayang.


"Aku ikut ya, Bu." ucap Alena.


"Sayang, kamu kan sedang hamil besar mana boleh melakukan perjalanan jauh." ucap Kevin.


"Iya betul apa yang Kevin bilang, Al. Kamu tidak boleh melakukan perjalanan jauh karena sedang hamil besar." ucap Mayang.


Alena menundukan kepalanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia sudah ingin menangis.


Melihat istrinya mau menangis tentu saja Kevin tidak tega. Ia segera membujuk istrinya agar mau mendengarkannya.


Tapi Alena tetap saja dengan keinginannya untuk ikut dengan ibu dan saudaranya pulang kampung. Ia juga ingin ziarah kemakam ayahnya.


Semenjak ia, Elena dan ibunya pindah kejakarta 5 tahun yang lalu. Alena baru sekali pulang kampung, itu juga ia tidak sempat berziarah karena harus segera kembali kejakarta.


Saat Alena pergi kesemarang bertepatan dengan kakak laki-lakinya kecelakaan jadi ia harus kembali kejakarta.


"Gimana kalau kita konsultasi dulu dengan dokter Anne. Kalau dokter Anne membolehkan kamu melakukan perjalanan jauh, maka kamu boleh ikut, itu juga denganku. Tapi kalau dokter Anne tidak membolehkan, kamu jangan maksa ya," ucap Kevin.


Alena menganggukan kepalanya meski wajahnya masih menunduk. Ia berharap sekali bila dokter Anne akan mengizinkan dirinya untuk melakulan perjalanan jauh.


Kevin segera menghubungi dokter Anne menggunakan ponsel Alena karena dirinya tidak memiliki nomor ponsel dokter itu.


"Hallo Bu Alena," ucap dokter Anne disebrang telepon setelah telepon itu terhubung.


"Ini saya dok, Suaminya." ucap Kevin.


"Ooh, Pak Kevin. Ada apa Pak?" tanya dokter Anne.

__ADS_1


"Istri saya ingin pergi kesemarang, apa boleh dia melakukan perjalanan jauh dengan perutnya yang besar?" tanya Kevin.


Pria itu berharap juga bila dokter Anne memperbolehkannya, ia ingin melakukan apapunya yang Alena inginkan.


__ADS_2