Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 49 Cuma Pengen Cium


__ADS_3

"Akkhh!" teriak Alena.


Wanita itu terkejut dirinya ditarik oleh seseorang. Seseorang itu yakni Kevin, suaminya sendiri.


Kevin tadi hendak keluar dari toilet, tapi kebetulan Alena sedang berjalan menghampiri toilet wanita.


Sebelum Alena membuka toilet tersebut, Kevin lebih dulu menariknya masuk kedalam toilet pria.


Alena kesal sekali pada Kevin yang menariknya, membuat dirinya terkejut.


"Kevin!" bentak Alena sembari mendelikan matanya.


Iya tak habis fikir pada Kevin yang menariknya kedalam toilet pria. Mau apa juga pria itu menariknya masuk kedalam toilet.


"Sstt, jangan kencang-kencang kalau ngomong nanti ada yang dengar gimana?" tanya Kevin sembari meletakan jari telunjuk didepan mulutnya.


"Lagian kamu narik-narik aku masuk kedalam sini," ucap Alena dengan wajah kesalnya.


"Hehe, aku kangen sama kamu sayang, aku cuma pengen cium." ucap Kevin seraya menyengir.


"Kalau mau kangen-kangenan dirumah Vin, bukan disini." ucap Alena.


"Pulangnya masih lama," ucap Kevin dengan lesu.


Melihat Kevin yang seperti itu, tentu saja Alena jadi tidak tega, wanita itu akhirnya mengalah namun sebelumnya ia menelisik lebih dulu kedalan toilet tersebut, takut-takut ada orang didalamnya seperti Bu Farah saat itu.


Kevin yang mengerti Alena menelisik lebih dalam toilet, segera mengatakan bila tidak ada orang disana.


"Beneran nggak ada orang?" tanya Alena.


"Iya sayang nggak ada orang, tadi aku udah buka semua pintu toiletnya. Sekarang boleh cium, kan?" ucap kevin kemudian bertanya.


"Cepat kalau mau cium, tapi cuma sebentar," ucap Alena.


Kevin tak menjawab namun ia mendekatkan tubuhnya pada Alena kemudian mencium bibir istrinya.


Mencium dengan lembut namun semakin dalam, semakin bergairah. Terlihat sekali bila pria itu sedang menginginkannya.


Alena juga bisa merasakan itu. Ia jadi teringat dengan tadi malam bila dirinya terlelap lebih dulu, sehingga ia tidak melayani suaminya.


Ciuman itu berlangsung cukup lama sehingga membuat wanita hamil itu kesulitan bernafas.


Alena segera mendorong dada suaminya untuk melepas ciuman tersebut.


"Sudah sana masuk kelas, aku juga mau ngajar." ucap Alena setelah ciuman itu terlepas.


"Masih kurang," ucap Kevin cemberut.

__ADS_1


"Sudah nanti lagi dirmumah," ucap Alena sembari membenahi bajunya.


"Janji," ucap Kevin.


"Iya aku janji. Nanti malam aku yang service," ucap Alena dengan pipi yang merona karena malu berkata seperti itu.


"Oke, aku tagih nanti dirumah." ucap Kevin seraya tersenyum.


"Kalau begitu aku keluar ya," ucap Alena.


"Iya Sayang," ucap Kevin.


Alena membuka pintu, menoleh kesana kemari untuk melihat ada orang tidaknya.


Setelah merasa aman, Alena bergegas keluar dari toilet pria tapi baru satu langkah ia sudah dikejutkan dengan Pak Wawan yang memanggil namaya.


"Bu Alena," panggil Pak Wawan.


Alena yang dipanggil namanya segera menghentikan langkah kakinya kemudian membalikan tubuhnya.


Dilihat oleh wanita itu, Pak Wawan mendekat padanya.


"Ada apa ya Pak?" tanya Alena.


"Saya tadi lihat Bu Alena keluar dari toilet pria." ucap Pak Wawan.


Wanita itu bingung ingin mengatakan seperti apa, hingga akhirnya ia memilih berbohong.


"Tadi saya salah toilet Pak." ucap Alena.


Pak Wawan terheran dengan jawaban dari Alena.


Salah toilet?


Guru olah raga itu menoleh pada pintu toilet, disana sudah jelas-jelas ada gambar seorang pria yang menandakan bila itu toilet pria.


Belum lagi ada tulisan 'TOILET PRIA' dengan jelas, tapi Alena masih tetap salah masuk toilet.


Disaat Pak Wawan masih kebingungan, Alena bergegas masuk kedalam toilet wanita.


Sejak tadi ia ingin buang air kecil selalu mendapat gangguan.


Pak Wawan menatap pintu toilet wanita yang baru saja tertutup oleh Alena yang masuk kedalamnya.


Meski heran tapi pria itu malas memikirkannya. Pak Wawan kemudian membuka pintu toilet pria, disana ia melihat ada Kevin yang berdiri didepan washtafel.


"Sedang apa kamu, Kevin?" tanya Pak Wawan.

__ADS_1


"Cuci muka," jawab Kevin dengan singkat, setelahnya pria itu berjalan kearah pintu untuk segera keluar dari toilet.


Pak Wawan menatap kepergian Kevin yang sudah memegang handle pintu untuk membukanya.


Ia teringat dengan seseorang yang ditunjuk Alena sebagai suaminya ditempat cukur rambut.


Pria itu memiliki rambut pirang dengan potongan rambut yang sama dengan Kevin.


Mata Kevin dengan mata pria yang dilihatnya ditempat cukur rambut sama persis.


"Apa pria itu Kevin ya?" tanya Pak Wawan seorang diri.


Pria itu kemudian mencocokan semua kejadian yang ia alami mulai dari dia yang dipukul Kevin saat diparkiran karena terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyukai Alena.


Jelas-jelas saat itu Kevin cemburu sehingga memukul dirinya.


Lalu ia hubungkan lagi dengan pria yang ditempat cukur itu. Perawakan pria tersebut, warna rambut, model rambut serta mata pria itu persis seperti milik Kevin.


Belum lagi tadi ia memergoki Alena keluar dari toilet pria dan ternyata didalam toilet tersebut ada Kevin didalamnya.


"Aku yakin sekarang, pasti pria yang ditempat cukur rambut itu adalah Kevin. Aku juga yakin kalau Kevin itu Suami Rahasia Bu Alena." ucap Pak Wawan.


Pak Wawan mengurungkan niatnya untuk buang air kecil, pria itu justru kembali kekantor mencari Bu Farah wanita yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


Ia ingin berbagi cerita dengan wanita itu, Bu Farah sangat mengerti dirinya sehingga ia selalu terbuka pada rekan gurunya itu.


Tapi setibanya dikantor Pak Wawan tidak menemukan Bu Farah, ternyata wanita itu sudah masuk kekelas untuk mengajar.


Pak Wawan mengurungkan niatnya untuk memberitahukan Bu Farah, ia sebaiknya pura-pura tidak tahu.


Ditempat berbeda setelah keluar dari toilet, Alena segera kembali kekantor, rupanya disana ada Pak Wawan yang menatapnya lekat seolah meminta penjelasan darinya.


Namun Alena abaikan, wanita itu segera menyiapkan buku untuknya mengajar lalu segera pergi kekelas.


"Semoga saja Pak Wawan tidak berfikir yang macam-macam," gumam Alena sembari berjalan menuju kelas.


Setibanya dikelas tersebut, Alena terlambat 10 menit.


Ia benar-benar merasa bersalah pada anak didiknya, untuk mengganti waktu yang hilang itu, Alena akan menambah 10 menit jam belajarnya.


Hal itu tentu saja ada yang terima dan ada yang tidak, tapi lebih banyak yang tidak terima oleh karenanya Alena membatalkan penambahan waktu belajar menggantinya dengan Pekerjaan Rumah.


Tepat pukul 12 siang, bell sekolah berbunyi lagi menandakan waktunya istirahat kedua.


Alena segera menuju kantin untuk mencari makanan untuknya makan siang, tapi semua yang ia lakukan tidak luput dari perhatian Pak Wawan yang sudah mengetahui suami rahasianya.


Alena jadi merasa tidak nyaman dirinya diperhatikan seperti itu, membuatnya kini menghindari bertemu dengan Pak Wawan.

__ADS_1


__ADS_2