
Pagi datang.
Alena sudah didandani sedemikian rupa, hingga membuat wanita itu terlihat berbeda.
Berbeda bagi semua orang yang melihat Alena. Tapi tidak dengan Kevin. Alena tetap terlihat sama bagi Kevin, yakni sama-sama menyebalkan.
Pria itu masih tidak habis fikir pada gurunya, yang mau menikah dengan seorang brandalan seperti dirinya.
Kevin sedang menatap Alena yang berjalan menghampirinya, dengan didampingi Reyhan, kakak laki-laki Alena disisi kanan dan Mayang, Ibu dari Alena disisi kiri.
Kevin menatap Alena dengan tatapan tajam, seolah-olah mengibarkan bendera perang pada calon istrinya itu.
Meski tajam, tapi Alena tidak takut sama sekali pada tatapan calon suaminya itu.
Alena justru menatap balik mata Kevin dengan sama tajamnya.
Setibanya didekat tempat Kevin duduk, Alena segera duduk disebelah pria itu dengan masih mempertahankan tatapan matanya yang tajam.
Tatapan keduanya itu diartikan berbeda oleh orang yang melihatnya. Semua orang mengira, tatapan itu adalah tatapan saling kagum antara keduanya.
"Matanya bisa dijaga sebentar ya, sekarang saatnya akad nikah dimulai," ucap penghulu.
"Ehem. Iya Pak silahkan," ucap Alena. Ia jadi merasa gugup ditegur seperti itu, seperti dirinya tertangkap basah sedang melakukan kesalahan.
Berbeda dengan Alena yang gugup. Kevin tidak bicara sama sekali. Pria itu masih memasang wajah datarnya.
"Bisa kita mulai mas?," tanya penghulu tersebut pada Kevin.
Namun lagi-lagi Kevin tidak bicara dan hanya menganggukan kepalanya.
Bapak penghulu yang hendak menikahkan Kevin dan Alena menjadi bingung. Ia mengira kalau mempelai prianya tidak bisa berbicara alias bisu.
"Apa mempelai prianya bisu?," tanya penghulu tersebut.
Kevin yang mendengar pertanyaan tersebut, seketika emosinya memuncak.
Brakk.
Kevin menggebrak meja dihadapannya, yang akan digunakan untuk akad nikah.
Penghulu, dan orang-orang disekitar mereka terkejut dengan gebrakan meja dari Kevin.
Bukan hanya itu saja. Kevin juga hendak berucap kasar. Tapi untung saja segera dicegah oleh Alena yang berada disebelahnya.
"Gue bisa ngomong, tol__ Emm." ucap Kevin terhenti, karena mulutnya dibekap oleh tangan Alena.
__ADS_1
"Jaga sopan santun mu, Kevin. Jangan tunjukan dirimu seorang brandalan didepan keluargaku, dan semua orang yang ada disini," bisik Alena tepat ditelinga Kevin.
Kevin menatap Alena dengan tajam, wanita ini belum menjadi istrinya saja sudah banyak mengatur dirinya.
Bagaimana bila mereka sudah menikah, Kevin tidak bisa membayangkan hal itu.
Namun, bila ia menolak pernikahan ini maka papahnya akan melaporkan dirinya pada polisi, karena ia seorang pemakkai.
Membayangkan itu, lebih mengerikan lagi dari pada menikah dengan Alena. Akhirnya Kevin kembali diam.
"Maaf Pak, Bu, semuanya, kita bisa melanjutkan lagi akad nikahnya. Untuk pak penghulu, Calon suami saya ini bisa bicara, dia hanya pendiam," ucap Alena.
"Ooh, maafkan saya mas. Mari kita mulai lagi, akad nikahnya," ucap Penghulu tersebut.
Penghulu tersebut mengarahkan Reyhan menjabat tangan Kevin, lalu mengajarkan kalimat ijab kabul.
Setelah keduanya benar-benar paham, penghulu tersebut meminta Reyhan dan Kevin memulainya.
Reyhan sebagai wali dari Alena, mengucapkan kalimat yang sudah diajarkan penghulu dan segera disambut oleh Kevin.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Alena Wulandari binti Almarhum Firmansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Kevin dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu tersebut.
Ucap semua orang yang ada disana. Alena meneteskan air matanya, kini ia sudah menjadi istri dari Kevin Andrian.
Bukan seperti yang selama ini ia impikan, yakni menjadi istri dari Satria Wiratama.
Kedua mempelai diminta menandatangani berkas pernikahan. Setelahnya memasangkan cincin kejari manis pasangan.
Untuk pertama kalinya, Alena mencium tangan muridnya. Meski Kevin disekolahan adalah muridnya, namun dirumah pria itu adalah suaminya.
Kevin juga mencium kening Alena. Ini pertama kalinya bagi Kevin bersentuhan dengan seorang wanita.
Tidak lupa juga kedua orang itu menyalimi orang tuanya, saudara-saudaranya dan semua orang yang hadir diacara tersebut.
Keluarga Alena semuanya hadir, sedangkan dari pihak Kevin. Pria itu hanya datang bersama Andrian.
Hanya Alena yang berbicara, sedangkan Kevin masih betah diam tidak bicara, dan hanya memasang wajah datarnya.
"Al, suaminya disuruh senyum dong biar kelihatan gantengnya," celetuk salah satu tetangga Alena yang hadir diacara tersebut.
"Ah, Iya. Maaf bu. Suami saya ini orangnya pendiam juga pemalu. Jadi tidak banyak bicara dan juga tidak banyak senyum," ucap Alena seraya mempertahankan senyumannya.
Ia benar-benar tidak enak pada semua orang yang hadir saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga tidak bisa memaksa Kevin untuk senyum pada semua orang.
__ADS_1
Setelah selesai bersalaman, semua tetangga Alena akhirnya pulang. Mereka tidak tahu, bila suami Alena itu seorang pelajar SMA.
Alena dan Kevin makan bersama dengan keluarga mereka.
Kakak laki-laki Alena serta istri dan anak-anaknya juga ikut serta makan bersama.
"Bu Mayang, Reyhan, setelah selesai makan bersama, saya dan Kevin meminta izin untuk membawa Alena pulang kerumah kami," ucap Andrian.
Mayang tidak langsung menjawab, ia beralih menatap putrinya yang baru saja menikah itu.
Matanya seketika berkaca-kaca, ia berat sekali harus melepas putrinya bersama dengan pria yang baru ia kenal tiga hari ini.
Bahu Mayang segera disentuh oleh Reyhan yang duduk disebelahnya. Pria itu menganggukan kepalanya pada Mayang.
Tanda ibunya harus setuju dengan ucapan Andrian. Sedangkan Mayang yang mendapatkan isyarat tersebut segera membuka suaranya.
"Silahkan Pak. Bapak dan Kevin boleh membawa Alena bersama kalian. Karena sekarang dia adalah istri dari Kevin," ucap Mayang.
Alena yang menjadi topik pembicaraan hanya mampu menundukan kepalanya. Ia juga berat meninggalkan ibu dan saudaranya. Namun ia harus ikut pergi bersama Kevin dan Andrian.
Mendapati persetujuan dari besannya, Andrian hanya menganggukan kepala.
Tidak lama kemudian acara makan bersama itu, telah selesai.
Alena segera berpamit pada ibu serta saudara-saudarnya, juga kakak ipar dan kedua keponakan kembarnya.
Tak lupa juga Alena menyalimi semua keluarganya.
"Kalau begitu kami pamit," ucap Andrian yang diangguki oleh semua keluarga Alena.
Sedangkan Kevin, ia hanya menyalimi semua keluarga Alena tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Hingga orang terakhir yang Kevin salimi ialah Elena. Kevin bisa melihat wajah Elena yang benar-benar mirip dengan istrinya itu.
Hanya saja ada sedikit perbedaan. Jika Alena memiliki sorot mata yang tajam, namun tidak dengan Elena. Wanita itu memiliki mata bulat yang indah.
"Jaga Alena ya Vin," ucap Elena.
Kevin tidak menjawab, ia hanya menganggukan kepala dan berlalu dari hadapan Elena.
Setelahnya Andrian, Kevin dan Alena segera pulang kerumah.
Andrian sengaja membawa menantunya untuk pulang kerumah. Ia ingin Kevin segera berubah.
Andrian takut bila kelakuan putranya itu tidak bisa tertolong lagi.
__ADS_1