
Disana ternyata bukan hanya ada Reyhan, melainkan banyak orang.
Ada keluarga Alena lengkap kecuali dua keponakan kembarnya karena sudah tertidur.
Ada juga Andrian bersama seorang kakek yang duduk dikursi roda.
Tapi Alena tidak sempat memperhatikan satu persatu orang disana karena Kevin sudah menutup pintu kamarnya.
Brakk.
"Vin, kenapa ditutup pintunya?," tanya Alena.
"Ini waktu untuk kita, Al," jawab Kevin.
"Waktu apa?," tanya Alena bingung, hingga tidak lama kemudian.
"Akkhh!" teriak Alena terkejut, karena suaminya tiba-tiba mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ketempat tidur.
Kevin meletakan tubuh Alena ditempat tidur.
Pria itu menyingkapkan keatas gaun tidur milik Alena yang memang sudah sedikit tersingkap.
Dieluslah perut Alena yang besar itu.
Dutt dutt.
Perut Alena berkedut karena janin yang ada didalam kandungan Alena bergerak, seolah menyambut elusan dari tangan Kevin.
"Dia bergerak, Al," ucap Kevin dengan mata berbinar. Ia rakjub sekali melihatnya.
Ini pertama kalinya Kevin menyentuh perut Alena selama wanita itu hamil.
Hal itu tentu saja membuatnya merasa bahagia.
Bukan hanya Kevin yang bahagia, melainkan Alena juga.
Sudah sejak lama ia ingin dibelai seperti ini oleh suaminya. Tapi apalah daya, jangankan dibelai, melihat orangnya saja hanya bisa melalui jendela kaca.
"Iya Vin, dia lagi bergerak," ucap Alena seraya tersenyum.
"Sejak kapan dia bisa bergerak, Al?," tanya Kevin menatap pada Alena tapi tangannya masih mengelus perut buncit wanita itu.
"Sudah dari usia 16 minggu, Vin," jawab Alena.
"Maafkan aku ya Al, aku tidak bisa menjadi suamimu yang baik. Aku bahkan tidak menemani kamu disaat kamu lemah, disaat kamu membutuhkan aku sebagai suamimu," ucap Kevin penuh sesal.
"Tidak apa-apa Vin. Cukup kamu berubahlah, jangan kembali lagi kelorong gelap itu. Sekarang ada anak kita Vin, sebentar lagi dia akan lahir," ucap Alena sembari memegang tangan Kevin dan ia gerakan untuk mengusap perutnya.
"Terimakasih Al, kamu tetap menerimaku, menemani aku disaat hidupku telah hancur. Karena kamu lah dan calon anak kita yang membuatku semangat untuk sembuh, aku mencintai kamu Al," ucap Kevin.
Ia bersyukur sekali papahnya waktu itu menjodohkan dia dengan Alena.
Wanita yang menjadi penerang didalam kegelapan.
Alena tersenyum untuk menanggapi ucapan Kevin.
Ia tak menyangka bila suaminya yang jarang bicara itu kini pandai berkata panjang lebar.
__ADS_1
"Aku juga mencintai kamu, Kevin," ucap Alena.
Kevin mencium lagi bibir Alena yang langsung dibalas oleh wanita itu.
Pria itu juga meraba bagian sensitif tubuh Alena, membuat wanita itu menggelinjang hebat.
Sudah lama sekali Alena tidak merasakan sentuhan seperti ini dari suaminya itu.
Alena benar-benar merindukan Kevin, begitu juga dengan Kevin yang merindukan sosok penerang didalam kegelapannya.
Pria itu melepas lebih dahulu tautan pada bibir Alena kemudian meminta izin pada sang pemilik tubuh.
"Boleh ya, aku menengok bayi kita," ucap Kevin meminta izin.
Biasanya Kevin selalu memaksa Alena untuk melayaninya meski ia sudah menolaknya.
Tapi kini pria itu justru meminta izin lebih dulu pada Alena bila dia hendak meminta haknya sebagai suami.
Alena yang mendapati permintaan izin dari Kevin menganggukan kepalanya membuat pria itu melepaskan pakaian dari tubuh keduanya.
Keduanya melakukan lagi penyatuan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Rasa rindu dikedua orang itu membuat suasana dikamar itu semakin syahdu.
Pagi datang.
Alena bangun dikejutkan oleh Kevin yang mencium bibirnya.
"Morning Kiss," ucap Kevin setelah mencium bibir Alena.
"Ini udah siang sayang, ayo bangun, mau ikut tidak?," tanya Kevin sembari menepuk-nepuk pipi Alena.
Dengan malas akhirnya Alena membuka matanya, lalu mendudukan tubuhnya diranjang itu.
Alena belum sadar bila tubuhnya masih polos, sehingga saat ia duduk, selimut yang dikenakan wanita itu turun membuat bagian dada dan perutnya terlihat.
Kevin yang melihat itu langsung mencubit kecil ujung dada istrinya itu.
"Aww!," teriak Alena yang dicubit ujung dadanya.
"Lupa ya, kalau belum pakai baju," ucap Kevin.
"Ehh iya, aku belum pakai baju," ucap Alena spontan menarik selimut untuk menutupi tubuh atasnya.
"Sudah jangan ditutupin lagi, mending kita mandi aja," Ajak Kevin.
Alena menatap pria dihadapannya.
Alena melihat pada Kevin. Ternyata pria itu baru saja cukur karena sudah tidak ada rambut halus dirahannya.
"Kamu juga belum mandi, Vin?," tanya Alena pada Kevin.
"Belum sayang, tadi hanya cukur ini," jawab kevin sembari nenunjuk rahangnya yang sudah tidak ada rambut halus disana.
Pantas saja tadi malam saat Kevin mencium dirinya serasa ada yang mencucuk pipi dan bibirnya, rupanya brewok pria itu tidak dicukur selama enam bulan direhab.
"Hahaha," Alena justru tertawa mengingat tadi malam, saat brewok pria itu mengenai pipi dan bibirnya, membuatnya kegelian.
__ADS_1
"Hei kenapa kamu menertawakan aku?," tanya Kevin.
"Hahaha" bukannya menjawab, Alena masih menertawai Kevin.
Kevin yang keheranan dengan Alena yang tertawa segera menggelitik pinggang istrinya, membuat wanita itu menggelinjang kegelian.
"Kevin, stop! Hahaha.. Ini geli Kevin, udah hahaha.. Berhenti!," ucap Alena sembari tertawa.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu bicara, kenapa tadi kamu menertawai aku?," tanya Kevin masih terus menggelitik Alena.
"Haha.. Kevin sudah, hentikan! Awww!," tawa Alena terhenti seketika, saat perutnya terasa keram.
Berhentinya tawa Alena seketika juga menghentikan Kevin yang menggelitik pinggang wanita itu.
Kevin menatap lekat pada Alena yang meringis, seolah ia menahan sakit.
"Kenapa?," tanya Kevin khawatir.
Alena mencengkram kuat tangan Kevin, membuat pria itu semakin khawatir.
Kevin sudah akan menggendong tubuh Alena, ia sudah akan membawa Alena kerumah sakit.
"Tapi bohong. Hahaha," ucap Alena kemudian tertawa lagi. Tawa terpingkal membuatnya mengeluarkan air mata disudut matanya.
Memang perutnya terasa keram, tapi tidak sesakit itu.
Alena hanya melebih-lebihkan untuk mengerjai suaminya dengan pura-pura kesakitan.
Dan itu berhasil, Kevin menghentikan tangannya untuk menggelitik pinggang Alena.
Pria itu benar-benar mengkhawatirkan Alena.
"Hahaha," Alena yang tertawa itu di gelitiki lagi oleh Kevin.
"Bohongin aku ya," ucap Kevin.
"Ampun Vin. Sudah dong, ini geli haha," ucap Alena.
Kevin menghentikan tangannya yang menggelitik pinggang Alena.
Pria itu kemudian menggendong tubuh polos istrinya kekamar mandi.
Menyiapkan air hangat dibak mandi kemudian bawa tubuh Alena masuk kedalam bak mandi bersamanya.
Kevin duduk dibelakang tubuh Alena, sedangkan istrinya itu duduk didepannya dengan membelakangi.
Pria itu meletakan dagunya dibahu Alena dengan tangan mengusap perut buncit istrinya dari belakang.
"Udah berapa bulan sayang?," tanya Kevin.
"Tujuh bulan minggu ini, Vin," jawab Alena.
"Apa jenis kelaminnya?," tanya Kevin.
Alena menggelengkan kepalanya tanda ia tidak tahu jenis kelamin dari calon anaknya.
"Aku setiap bulannya hanya memeriksa kesehatannya. Aku sengaja tidak ingin tahu jenis kelaminnya. Aku ingin tahu saat periksa kandungan bersamamu," ucap Alena yang membuat bibir Kevin melengkung.
__ADS_1