
"Maafkan aku mas," ucap Alena mengigau disela-sela tidurnya karena demam.
Didalam kamar Alena, disana ada Kevin yang menjaganya. Pria itu bisa mendengar igauan dari Alena.
"Ck! lagi tidur aja masih ngigauin orang lain," ucap Kevin.
Pria itu memeras kuat-kuat handuk untuk mengompres Alena.
Handuk itu, ia letakan dikening Alena, agar demamnya turun.
Ia mengulang terus menerus mengompres Alena, hingga akhirnya demam itu turun.
Saat ini sudah jam sebelas malam.
Alena perlahan membuka matanya, melihat sekeliling kamarnya ada Kevin yang duduk ditepi ranjang.
Pria itu sedang memainkan ponselnya sembari menunggu waktu mengganti kompres.
Diponselnya, Kevin sedang chatingan dengan anggota geng lion digrup chat aplikasi hijau, membahas hadiah balapan tadi.
"Vin," panggil Alena yang sudah membuka matanya.
Mendapati dirinya dipanggil oleh Alena, Kevin segera meletakan ponselnya diatas nakas.
"Udah bangun lo?," tanya Kevin yang diangguki oleh Alena.
Dililihat oleh Alena mangkuk bekas kompres ada dinakas. Alena meraba keningnya. Disana ada handuk kompres yang masih menempel.
"Kamu yang ngompres aku Vin?," tanya Alena.
"Nggak usah ge'er lo. Gue ngompres lo karena nggak ada lagi orang yang mau ngompres lo," ucap Kevin.
'Siapa yang ge'er, perasaan aku cuma nanya' batin Alen.
Alena diam tak menanggapi ucapan Kevin.
Ia kemudian teringat dengan ponselnya.
wanita itu perlahan mendudukan tubuhnya, dan hendak turun dari ranjang.
"Mau kemana lo?," tanya Kevin.
"Aku mau ngambil ponselku. Mas Satria pasti nelpon aku," jawab Alena.
"Lo tuh ya, baru aja sadar tapi yang diingetin malah Satria. Disini gue yang laki lo Al," ucap Kevin.
"Apa kamu bilang, Vin? Kamu suami aku?. kalau kamu ngaku suami aku, harusnya kamu bisa menghargai aku," ucap Alena.
"Terserah lo," ucap Kevin kemudian bangkit dari duduknya.
Pria itu memilih keluar dari kamar Alena dan masuk kedalam kamarnya sendiri.
Hufftt. Helaan nafas itu lolos dari mulut Alena.
"Inilah Al, hasil keputusan yang kamu ambil," gumam Alena pada dirinya sendiri.
Setelahnya Alena mengurungkan niatnya untuk mencari ponsel.
Alena ingat, ponsel itu berada didalam tas, sedangkan tas yang kemarin ia gunakan ada didalam kamar Kevin.
__ADS_1
Ia malas datang kekamar Kevin, khawatir akan terjadi sesuatu seperti tadi malam.
Alena merebahkan lagi tubuhnya diatas ranjang.
Ia memejamkan matanya berusaha untuk terlelap lagi.
Tapi cukup lama ia memejamkan matanya, tetap saja tidak bisa terlelap juga. Wanita itu teringat dengan cincin pemberian Satria yang dibuang oleh Kevin.
"Cincinku" gumam Alena.
Alena membuka lagi matanya, ia akan mencari cincin itu sampai ketemu.
Ia khawatir bila tidak menemukan cincin itu, maka Satria akan menanyainya.
Dengan tubuh yang masih lemas, Alena perlahan turun dari ranjang, lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Ceklek.
Alena keluar dari kamar itu, lalu menuju tangga, menuruni anak tangga itu satu persatu hingga akhirnya, Alena tiba dilantai satu.
Wanita itu, menyalakan semua lampu yang ada disana, kemudian mencari cincin tersebut.
Didalam kamar Kevin, pria itu mendengar pintu kamar disebelah kamarnya terbuka.
Ia kira Alena akan mendatangi kamarnya untuk mengambil tas dan ponsel, tapi ternyata tidak.
Hingga 10 menit berlalu Kevin menunggu Alena masuk, namun wanita itu tak kunjung masuk juga.
Kevin akhirnya keluar dari kamarnya. Ia ingin memastikan kemana Alena pergi tadi.
Setelah dirinya tiba diluar kamar, Kevin berjalan menghampiri kamar Alena, membuka pintu kamar tersebut, namun didalam sana kosong.
Dilihat olehnya, semua lampu dilantai satu itu menyala. Disana juga ada Alena yang sedang menyusuri ruangan mencari sesuatu.
Kevin tahu apa yang sedang dicari istrinya itu.
Ia merogoh kantongnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"Lo nyari ini, kan," gumam Kevin tersenyum miring pada Alena yang sedang mencari-cari dibawah sana.
Cincin berlian yang sedang dicari oleh Alena, ternyata berada ditangan Kevin.
Kevin tidak sengaja menemukannya saat dirinya hendak berangkat balapan.
Ia ingin tahu, sejauh mana Alena akan merahasiakan dirinya pada kekasih wanita itu.
Pria itu memasukan lagi cincin tersebut kedalam saku celana, kemudian berjalan kearah tangga dan turun kebawah juga.
"Nyari apa lo?," tanya Kevin sesaat tiba dilantai satu.
Mendapati pertanyaan dari Kevin, Alena menghentikan kegiatannya.
Wanita itu penatap tajam pada Kevin disana.
"Masih nanya kamu nyari apa!. Tentu aja aku nyari cincin yang kamu buang, Kevin!," ucap Alena meninggikan suaranya.
Ia kesal pada Kevin, jelas-jelas dia tahu apa yang sedang ia cari, tapi Kevin masih saja bertanya.
Alena tidak memperdulikan Kevin disana, ia melanjutkan pencariannya.
__ADS_1
"Mau sampai kapan ngerahasiain gue dari pacar lo?," tanya Kevin.
Alena tidak mengindahkan pertanyaan Kevin. Ia masih mencari cincin tersebut. Ia juga menjauh dari tempat Kevin berada.
"Ck!" decih Kevin.
Kevin kemudian melangkah menuju dapur, membuka kulkas lalu mengambil buah apel disana.
Pria itu mendekati lagi Alena yang masih mencari cincin tersebut diruang tamu.
Kevin mendudukan bokongnya disofa yang ada disana, memperhatikan Alena sembari memakan buah apel.
"Nggak bakal lo temuin cincin itu," ucap Kevin.
Alena masih sama, ia tidak menghiraukan Kevin disana.
Merasa dirinya tidak diherani, Kevin menggit apel tersebut, kemudian melemparnya kearah Alena.
Pukk.
Gigitan apel yang dilempar Kevin mengenai tepat dikepala Alena.
"KEVIIINNN!!" teriak Alena.
Ia kesal sekali dengan suami rahasianya itu, bukan bantu mencari cincin, ini malah mengganggu dirinya.
Padahal sudah jelas yang membuang cincin itu adalah Kevin.
"Sudah gue bilang Al, lo nggak bakal nemuin cincin itu," ucap Kevin tersenyum miring.
"Jangan bilang kamu sudah nemuin cincinnya?," tanya Alena, sembari berjalan mendekati Kevin, yang duduk disofa.
Kini giliran Kevin yang tidak menanggapi pertanyaan Alena.
"Ayo ngaku, kamu pasti udah nemuin cincinnya kan?," tanya Alena lagi. Kini wanita itu sudah berada berhadapan dengan Kevin.
"Kalo iya, lo mau apa?," tanya Kevin.
"Kembalikan," ucap Alena sembari menadahkan tangannya didepan Kevin.
Kevin tidak mengherani Alena, ia justru bangkit dari sofa, melempar sisa apel yang sudah hampir habis ia makan.
Pukk.
Sisa apel itu, masuk kedalam tong sampah.
Setelahnya, pria itu kemudian berjalan kearah tangga, lalu menaikinya satu persatu anak tangga itu. Ia akan kembali kekamar dan tidur.
Alena yang ditinggal oleh Kevin, tercengang disana, namun buru-buru sadar.
Alena segera mengikuti Kevin, ia juga ikut menaiki anak tangga dengan cepat.
Sungguh, tenanganya jadi lebih kuat dibandingkan tadi. Ia ingin cepat-cepat mengambil kembali cincin miliknya.
Setelah tiba dilantai dua, Kevin segera masuk kedalam kamarnya.
Ia hendak menutup pintu, tapi buru-buru ditahan oleh Alena.
"Ngapain lo ngikutin gue?," tanya Kevin.
__ADS_1