Suami Rahasia Bu Alena

Suami Rahasia Bu Alena
SRBA. Bab. 55 Sakit


__ADS_3

Setelah mengutarakan keinginannya, Kevin segera meminta anggota geng lion untuk duduk bersama di ruang pertemuan.


Tak lupa juga Kevin mencari keberadaan Bagas disana, seseorang yang selalu mengingatkan dirinya saat ia berada dilorong kegelapan, namun selalu tidak pernah ia herani.


Sejak tadi Kevin tidak melihat keberadaan Bagas disana. Keenan yang mengerti dengan Kevin yang sedang mencari seseorang, segera menanyainya.


"Cari siapa lo, vin?" tanya Keenan.


"Gue dari tadi nggak liat si Bagas," jawab Kevin.


"Lo nggak baca apa yang digrup chat, kalau si Bagas lagi sakit." ucap Keenan.


"Gue nggak baca, emang dia sakit apa?" tanya Kevin.


"Dia sakit usus buntu, dua hari yang lalu baru aja operasi," jawab Keenan.


Kevin mengananggukan kepalanya mengerti. Sehabis pulang dari basecamp ini dia akan membesuk Bagas yang masih dirawat dirumah sakit.


Setelahnya, tidak ada lagi pembicaraan mengenai Bagas. Mereka semua duduk bersama di ruang pertemuan basecamp itu.


Tidak lama kemudian Kevin pamit pulang pada semua teman-temannya.


Sebelum pulang ke rumahnya, Kevin menyempatkan diri untuk membesuk Bagas dirumah sakit.


Bagaimanapun juga Bagas itu adalah sahabatnya, susah senang sudah pernah mereka lalui bersama.


Kevin menghentikan laju motor sportnya disebuah toko buah. Ia membeli buah-buahan terlebih dahulu untuk dibawa membesuk Bagas.


Dengan membawa sekeranjang buah-buahan, Kevin menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dimana Bagas dirawat.


Tok tok tok


Pria itu mengetuk pintu ruang rawat Bagas. Setelah dirinya dipersilahkan masuk, Kevin segera membuka pintu ruangan itu.


Kedatangan Kevin tentu saja mengejutkan Bagas. Terlebih lagi Kevin datang dengan menenteng sekeranjang buah-buahan.


Yang ia tahu Kevin tidak pernah mau melakukan itu. Tapi nyatanya iya melihat sendiri, bila Kevin membawa buah-buahan tersebut.


Bagas melihat sahabatnya itu seperti bukan Kevin. Kevin benar-benar berbeda dari sebelum pria itu direhab di rumah sakit.


"Gimana kabar lo?" tanya Kevin pada Bagas yang terbaring dibrangker rumah sakit.

__ADS_1


"Kabar gue baik Vin. Gimana sama lo? Gue denger lo keluar dari rumah sakit udah mau seminggu?" tanya Bagas.


"Ia bener gue udah mau seminggu keluar dari rumah sakit. Sorry gue baru bisa besuk lo, gue baru tahu tadi kalau lo dirawat dirumah sakit karena usus buntu." ucap Kevin.


"Iya nggak papa, Vin. Gue udah dibesuk lo aja udah seneng," ucap Bagas.


"Gas, gue mau minta ma'af dulu gue nggak pernah dengerin omongan lo, gue juga marah sama lo, bahkan mukul lo juga. Gue bener-bener minta ma'af." ucap Kevin.


"Iya Vin, gue udah maafin lo. Gue juga senang ngelihat lo udah berubah," ucap Bagas sembari melirik pada tangan Kevin yang menentang satu keranjang buah-buahan.


Kevin mengikuti arah pandang Bagas yang melirik pada tangannya yang sedang menenteng buah-buahan.


"Ehemm. Gue nggak sengaja tadi lewat depan toko buah, jadi sekalian gue mampir dan bawain lo buah-buahan," ucap Kevin kemudian meletakkan satu keranjang buah-buahan itu diatas nakas.


Bagas mengulum senyum, ia ingin tersenyum bahkan tertawa tapi pasti akan membuat Kevin malu. Jadi akhirnya ia menahannya.


"Thank's Vin, sorry jadi ngerepotin lo," ucap Bagas.


"Gue juga mau ngucapin makasih juga sama lo. Jujur aja lo sahabat gue yang paling bisa ngertiin gue," ucap Kevin yang ditanggapi anggukan kepala dan senyum senang dari Bagas.


"Gimana kabar bini lo? Gue dengar dari anak-anak lagi bunting ya?" tanya Bagas.


"Iya, bini gue lagi bunting udah tujuh bulan." jawan Kevin.


"Semoga aja gue bisa menjadi ayah yang baik," ucap Kevin.


"Aminn," ucap Bagas mengaminkan.


Setelahnya mereka membahas mengenai geng motor lion untuk kedepannya. Bicara dengan Bagas tentu saja membuat Kevin mendapatkan solusi dari apa yang sudah Ia rencanakan.


Ia berencana membuat geng lion tetap jaya namun dengan prestasi yang positif, bukan seperti dulu yang selalu membuat onar.


Prestasi positif yang ia maksud itu adalah, membuka bengkel motor dan jasa modif motor. Hal itu akan lebih bermanfaat dibandingkan balapan liar, taruhan kesana kesini, berkelahi dengan kelompok lain.


Kebetulan juga hampir semua anggota geng motornya memiliki skill otomotif dan memodif kendaraan.


Meski mayoritas anggotanya adalah anak konglomerat, tapi Kevin yakin solidaritas mereka akan tetap terjaga.


Bagas tentu saja mendukung rencana dari sahabatnya itu. Ia akan membantu agar rencana itu bisa berjalan dengan baik.


Setelah pembicaraan itu selesai Kevin segera pulang kerumah. Ia tiba dirumah tepat dengan waktu makan malam.

__ADS_1


Kevin yang baru saja masuk kedalam rumah segera menuju dapur untuk mengambil air minum dingin.


Dilihat olehnya dimeja makan hanya ada papah dan kakeknya yang duduk menunggu makan malam bersama.


"Loh Pah, Alena nggak ikut makan?" tanya Kevin pada Andrian.


"Sudah dipanggil pelayan tapi dari tadi nggak mau turun," jawab Andrian.


Kevin yang hendak mengambil air minum mengurungkan niatnya. Ia kemudian bergegas menuju kamarnya dan langsung membuka pintu kamar tersebut.


Setelah membuka pintu kamar, Kevin dikejutkan dengan Alena yang terbaring diranjang dengan wajah pucatnya.


"Sayang! Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya Kevin kemudian naik keatas ranjang dan memeriksa tubuh istrinya.


Alena membuka matanya perlahan yang langsung melihat suaminya berada di sebelahnya.


"Ya ampun sayang badanmu panas, kamu demam kenapa nggak nelpon aku?" tanya Kevin.


"Aku udah nelpon kamu," ucap Alena dengan lirih.


Kevin segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, kemudian ia membuka ponsel tersebut.


Benar saja Alena tadi menghubunginya sebanyak 4 kali dan mengirim pesan satu kali berisi pemberitahuan bila dirinya tidak enak badan.


"Ia sayang kamu menghubungiku. Ma'af ya aku nggak dengar bunyi ponsel, jadi aku baru pulang sekarang," ucap Kevin.


Alena mengangguk seraya tersenyum. Dalam benaknya pantas saja suaminya tidak menjawab panggilan telepon darinya, pasalnya pria itu tidak mendengar suara ponsel berbunyi.


Wanita itu kembali memejamkan lagi matanya karena rasa pusing dikepalanya, benar-benar membuat ia enggan untuk bangkit dari tidurnya.


"Sayang, kok tidur lagi kamu belum makan malam, kan?" tanya Kevin.


Alena kembali membuka matanya menggelengkan kepala tanda bila Ia memang belum makan malam.


"Aku bawakan makanan kekamar ya, kamu makan malam dulu." ucap Kevin hendak turun dari ranjang namun segerra dicegah oleh Alena.


Wanita itu kemudian menghadapkan tubuhnya kearah Kevin lalu memeluk pria itu dengan erat.


"Aku mau seperti ini aja," ucap Alena kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Kevin mengelus rambut Alena kemudian mengecup puncak kepala istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kamu tidurlah." ucap Kevin.


__ADS_2