
Hari-hari berlalu, bahkan bulanpun berlalu.
Terhitung sudah satu bulan Alena merahasiakan pernikahannya dari kekasihnya, yakni Satria Wiratama.
Kecurigaan Satria pada Alena belum terbukti, tapi ia bisa merasakan kejanggalan pada perubahan sikap Alena.
Belakangan ini, Alena sulit sekali ia temui bahkan jarang sekali mengangkat panggilan teleponnya.
Satria juga pernah mendatangi kompleks rumah yang pernah Alena sebutkan padanya.
Satria sudah mencari tahunya sendiri, bila tidak ada nama Alena Wulandari dikompleks itu.
Meski begitu, Satria tetap tidak mengatakan kejanggalan itu pada Alena.
Hari ini Satria mengajak Alena makan siang bersama, karena sudah cukup lama mereka tidak makan bersama.
Alena selalu menolak ajakan makan bersama dari Satria, oleh karena itu hari ini ia menerimanya.
Satria sudah menghubungi Alena lebih dulu bila dirinya akan menjemput Alena didepan sekolahan.
Tepat setelah bell istirahat berbunyi, Alena pamit pada Kepala Sekolah bila dirinya makan siang diluar.
Alena keluar dari kantor dengan tergesa, ia tidak ingin membuat kekasihnya menunggu terlalu lama.
"Bu Alena kenapa buru-buru sekali?," tanya Bu Ningsih saat berpapasan dengan Alena dilorong antara kelas dan kantor.
"Iya Bu, ini sudah ditungguin," ucap Alena.
Bu Ningsih melihat kearah luar gerbang sekolahan, rupanya sudah ada seorang pria yang ia yakini suami dari Alena sudah menunggu disana.
"Oohh kalau begitu hati-hati, Bu," ucap Bu Ningsih yang diangguki Alena sembari berjalan.
Didepan kelas XII IPS 3, Kevin baru saja keluar dari kelas itu.
Akhir-akhir ini Kevin sedikit berubah, ia ingin Alena menganggapnya suami sungguhan.
Ia mendengarkan apa saja yang Alena katakan, termasuk menghargai orang tuanya dan orang disekitarnya.
Hal itu akan Kevin lakukan bersama Alena yang mendampinginya.
Kevin juga sudah jarang keluar malam, ia lebih memilih menghabiskan waktunya belajar dirumah bersama Alena.
Tapi sekarang ini ia melihat Alena sedang berjalan tergesa menghampiri Satria yang sudah menunggu wanita itu diluar gerbang.
Dua minggu terakhir ini Kevin sudah jarang melihat Alena bersama Satria, karena Alena sibuk mengurus dirinya.
"Ternyata lo sama Satria masih berhubungan," gumam Kevin seraya tersenyum kecut menatap Alena yang sudah tiba diluar gerbang.
Alena yang sudah tiba diluar gerbang segera dibukakan pintu mobil oleh Satria.
Wanita itu tersenyum lebih dulu baru setelahnya masuk kedalam mobil itu.
"Terimakasih mas," ucap Alena yang dijawab senyuman dan anggukan kepala oleh Satria.
Perlakuan Satria jauh berbeda dengan perlakuan Kevin padanya.
Satria adalah pria yang lemah lembut, penuh kasih sayang dan sangat romantis. Membuat Alena sulit untuk melepaskan cintanya pada pria itu.
Sedangkan Kevin adalah pria yang kasar, acuh dan tidak pernah menghargai orang lain.
__ADS_1
"Mau makan dimana mas?," tanya Alena setelah Satria melajukan mobilnya dijalanan.
"Direstorant Jepang, bagaimana?," tanya Satria lagi.
"Emm, boleh mas. Aku mau makan disitu," ucap Alena.
Satria menoleh pada Alena seraya tersenyum.
Ia sangat mencintai wanita yang saat ini sedang bersamanya, tapi akhir-akhir ini ia meragukan cinta wanita itu.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba direstoran jepang.
Satria membukakan pintu mobil dibagian tempat Alena duduk.
"Makasih mas," ucap Alena lagi.
"Iya Al," ucap Satria kemudian menutup pintu mobil Alena.
Satria merangkul pinggang Alena sembari mengajak wanita itu untuk masuk kedalam restoran.
"Jangan seperti ini mas," ucap Alena sembari melepas rangkulan Satria dipinggangnya.
"Kenapa Al?," tanya Satria.
"Tidak enak dilihat orang," ucap Alena.
"Tidak enak dilihat orang, atau tidak enak dengan pria mu?," tanya Satria yang sudah sejak lama menahan diri agar tidak bicara seperti itu.
"Maksud kamu mas?," tanya Alena.
"Aku tahu kamu selingkuh, Al!," ucap Satria.
Alena tersentak dengan ucapan Satria.
Ia bingung caranya menjelaskan pada kekasihnya itu.
"Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan Al!. Bibir bengkak yang kamu bilang disengat lebah saat itu, aku tahu itu bekas ciuman. Aku juga pernah melihat kiss mark dilehermu. Aku juga mendatangi rumah yang kamu bilang ada dikarang indah, tapi ternyata kamu membohongiku. Tidak ada namamu disana," ucap Satria.
"Kamu salah paham mas, aku bisa jelaskan," ucap Alena.
"Mau kamu jelaskan seperti apa, Al?," tanya Satria.
Keduanya berdebat dihalaman restoran tersebut. Beruntung, para pengunjung berada didalam restorant jadi tidak melihat perdebatan mereka.
"Aku nggak selingkuh mas," ucap Alena.
"Nggak selingkuh? Hehh. Bullshit!" ucap Satria tersenyum sinis.
Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam restorant. Satria memilih membuka pintu mobilnya namun buru-buru dicegah oleh Alena.
Brakk.
Alena menutup pintu mobil Satria untuk mencegah pria itu pergi.
"Mas, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku," ucap Alena.
Satria tidak mengindahkan permohonan Alena pria itu memilih pergi dari parkiran restorant tersebut.
"Mas!" panggil Alena.
__ADS_1
"Mas!" panggil Alena lagi, tapi Satria terus berjalan.
Alena yang mendapati dirinya diacuhkan Satria segera mengejar pria itu.
Satria yang pergi dari parkiran segera menyebrang jalan dan berjalan ditrotoar disebrang sana.
Ia ingin menenangkan diri lebih dulu.
Alena mengejar Satria, mengikuti pria itu menyebrang.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini sudah berderai, ia tidak sanggup bila hubungannya dengan Satria harus berakhir.
Tit dit.
Suara klakson kendaraan saling bersahutan karena Alena yang menyebrang tidak melihat kiri dan kanan.
Hingga akhirnya tubuh Alena tertabrak oleh salah satu pengendara mobil.
Tittttt!!.
Brakk!.
Pengendara mobil itu sudah membunyikan kelaksonnya dari kejauhan, serta mengurangi laju mobilnya, namun tetap tidak bisa menghindari mobilnya menabrak tubuh Alena yang sedang menyebrang.
Mendapati suara tabrakan dijalan yang tak jauh dari tempatnya berjalan, Satria segera menoleh kebelakang.
Dilihatnya oleh Satria Alena sudah tergeletak dijalan dengan bersimbah darah.
"Alena!!" panggil Satria.
Pria itu segera berlari kearah Alena yang sudah tergeletak namun masih sadar.
"Al!" panggil Satria.
Pria itu segera membopong tubuh Alena yang sudah banyak mengeluarkan darah.
"Maasss, akuu nggakk selingkuuhh," lirih Alena disela-sela Satria yang berlari sembari membopong tubuh Alena menuju rumah sakit.
Kebetulan tempat Alena kecelakaan berada tidak jauh dari rumah sakit, hanya sekitar 300 meter saja.
Satria tidak menjawab ucapan Alena. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa hingga akhirnya Alena tidak sadarkan diri digendongan Satria.
"Al!" panggil Satria lagi.
Ia tidak ingin wanita yang ia cintai itu kenapa-napa. Satria mempercepat larinya hingga akhirnya mereka tiba dirumah sakit.
Alena segera ditangani oleh dokter disana.
"Semoga kamu tidak apa-apa Al," ucap Satria mengusap wajahnya kasar.
Harusnya ia tadi tidak menyebrang sehingga Alena juga tidak ikut menyebrang.
Huffttt.
Pria itu menghela nafasnya untuk mengurangi rasa cemasnya.
Tidak lama kemudian dokter yang menangani Alena keluar.
"Bagaimana kondisi Alena dok?," tanya Satria pada dokter yang menangani Alena.
__ADS_1