
"Mas Satria, saya minta waktunya sebentar." ucap Alena.
Seketika itu juga Alena menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di ruang tamu itu.
Semua orang jadi menatap Alena penuh tanya. Kenapa Alena meminta waktu Satria? namun pertanyaan itu tidak ada yang melontarkan pada Alena.
Pembicaraan mengenai Satria dan Elena yang akan menikah, itu sudah selesai. Sehingga Alena berani membuka suara untuk meminta waktu berbicara dengan Satria.
"Bicara saja di sini," ucap Satria.
"Tidak bisa disini Mas. Karena yang ingin aku bicarakan denganmu itu sangat penting." ucap Alena.
Satria terlebih dahulu menatap pada calon mertuanya dan juga Elena. Kedua wanita beda usia itu menganggukan kepalanya, tanda mengizinkan Satria untuk pergi berbicara dengan Alena.
Satria bangkit dari tempat duduknya lebih dulu lalu berjalan menuju pintu keluar. Setelah Satria keluar dari ruang tamu, barulah Alena menyusulnya.
Kedua orang itu kini sudah berada di halaman depan rumah Mayang.
"Aku ingin minta maaf, Mas." ucap Alena.
"Untuk?" tanya Satria.
"Karena aku pernah menyakiti mu," ucap Alena.
Satria tersenyum miring. Pengkhianatan yang dilakukan Alena, sungguh sangat membekas di hatinya.
Luka itu seolah takkan pernah bisa terobati.
Bukan karena Alena yang baru sekarang ini meminta maaf, melainkan karena dirinya yang masih begitu mencintai Alena.
"Ma'af, karena baru sekarang aku meminta ma'af padamu, Mas." ucap Alena.
Satria diam tak menanggapi apa yang Alena ucapkan, hingga Alena mengajukan sebuah pertanyaan padanya barulah Satria berbicara.
"Apa tujuanmu untuk menikah dengan Elena?" tanya Alena.
"Tidak ada tujuan apapun," jawab Satria dengan singkat dan padat.
"Semoga apa yang kamu ucapkan itu benar dari dalam hatimu," ucap Alena.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya kita kembali ke dalam rumah," ucap Satria kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah.
"Tolong jaga Elena. Jangan pernah kamu sakiti dia," ucap Alena sembari menatap punggung Satria yang yang menjauh darinya.
Satria terus melangkahkan kakinya, meski ia bisa mendengar ucapan Alena.
Pria itu sama sekali tidak menoleh lagi kebelakang.
__ADS_1
Setelah Satria masuk ke dalam rumah, barulah Alena masuk juga untuk kembali duduk berkumpul dengan keluarga yang lainnya.
Baru saja Alena mendudukkan bokongnya di sofa, baby Arkana yang berada dipangkuan Kevin sudah menangis karena mengantuk ingin tidur.
"Tidurkan Arkana dulu sayang," ucap Kevin.
"Iya Mas," jawab Alena kemudian menggendong baby Arkana, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
Alena kemudian menidurkan baby Arkana diatas ranjang, dengan dirinya ikut merebahkan tubuh di sebelah baby Arkana.
Sayup-sayup Alena bisa Mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di ruang tamu.
Semakin lama suara tersebut semakin kecil, dan tidak terdengar lagi. Alena ikut terlelap bersama baby Arkana yang terlelap di dalam pelukannya.
Ceklek.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang membuat Alena yang terlelap membuka matanya.
"Eh, ma'af, aku kira kamu tidak tidur Al," ucap Elena.
"Ternyata kamu El, aku pikir siapa tadi yang buka pintu," ucap Alena kemudian mendudukan tubuhnya dengan sesekali menguap karena mengantuk.
"Aku datang ke kamarmu karena ada yang ingin aku tanyakan," ucap Elena.
"Aku tahu pasti itu tentang Satria, kan?" tebak Alena.
Elena menganggukkan kepalanya. Tebakan Alena benar, ia datang ke dalam kamar Alena karena ada yang ingin Ia tanyakan mengenai Satria.
"Aku hanya meminta maaf pada Satria karena dulu aku sudah menyakitinya dan belum sempat meminta ma'af," ucap Alena.
Elena menganggukan kepalanya lagi. Ia tidak mempermasalahkan calon suaminya berbicara dengan Alena.
Sebenarnya dia datang ke kamar Alena, karena ingin menanyakan pendapat saudara kembarnya mengenai pernikahan dirinya dan pria itu.
"Apa kamu yakin mau menikah dengan Satria?" tanya Alena.
Belum sempat Elena menanyakan pendapat Alena, wanita itu justru lebih dulu mendapat pertanyaan dari saudara kembarnya.
"Aku yakin, Al. Jujur saja ini adalah penantianku selama ini, pria yang aku cintai datang padaku untuk menjadikan aku istrinya," ucap Elena.
Alena yang tadi mengantuk seketika melebarkan matanya. Rasa kantuknya seketika hilang mendengar apa yang Elena katakan.
Pria yang dicintai? Satria? Elena mencintai Satria? Sejak kapan?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya mengantri untuk Alena lontarkan.
"Sejak kapan kamu mencintai Satria?" tanya Alena.
__ADS_1
"Sejak pertama kali kami berkenalan di pesta pernikahan Mas Reyhan dan Mbak Larissa," ucap Elena.
Deg!
Alena terkejut mendengar fakta bahwa saudara kembarnya mencintai Satria bersamaan dengan dirinya yang dulu mencintai pria itu.
Alena jadi teringat dengan cerita Elena mengenai seseorang yang disukai saudara kembarnya itu saat mereka masih SMA.
Ternyata pria yang Elena ceritakan selama ini,m adalah Satria.
"Kenapa kamu tidak mengatakan dari dulu, Elena?" tanya Alena.
"Aku tidak ingin merusak hubungan kalian," ucap Elena.
Hufftt.
Alena menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Selama ini Ia tidak pernah menyangka bila saudara kembarnya juga mencintai pria yang sama dengan pria yang dulu ia cintai.
Ternyata selama ini Alena tidak hanya menyakiti Satria melainkan juga menyakiti Elena.
"Aku minta maaf El, karena tidak pernah tahu bila kamu juga mencintai Satria," ucap Alena.
"Tidak Al. Kamu tidak perlu minta ma'af. Itu semua bukan salah mu. Cinta tumbuh begitu saja, tidak bisa aku kendalikan. Tapi aku masih bisa mengendalikan diri untuk tidak merebutnya darimu," ucap Elena.
Alena memeluk saudara kembarnya, untuk menyalurkan rasa sayangnya pada Elena.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Elena lebih dulu mengurai pelukan tersebut.
Setelah pelukan itu terlepas, Alena teringat dengan Satria yang mengatakan 'mencintai putri Ibu' namun pandangan pria itu menatap pada dirinya.
"El, pikirkan lagi bila ingin menikah dengan Satria. Aku yakin dia memiliki maksud buruk pada mu, dan juga pada ku" ucap Alena menasehati adik kembarnya.
Elena menggelengkan kepalanya. Ia sudah berkali-kali memikirkan itu, dan tetap saja hanya satu yang ia inginkan yakni menjadi istri dari Satria Wiratama, pria yang selama ini ia cintai.
"Aku sudah memikirkannya Al. Aku akan tetap menikah dengan Satria," ucap Elena.
"Baiklah El. Apapun yang menjadi keputusanmu, aku harap kamu bahagia." ucap Alena yang diangguki oleh Elena.
Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan dari kedua wanita kembar itu. Elena segera keluar dari kamar Alena untuk masuk ke dalam kamarnya.
Hati Alena sedang berbunga-bunga menantikan hari bahagia yang sebentar lagi akan ia rasakan.
Di kamar Alena.
Setelah kepergian saudara kembarnya, tidak lama kemudian Kevin masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga pembicaraan itu," ucap Kevin setelah menutup pintu dan menguncinya.
"Ya sudah sini Mas kita istirahat," ucap Alena menepuk tempat kosong disebelahnya.