
Saat ini, waktu belajar mengajar telah berakhir.
Alena mencari Kevin kedalam kelas pria itu tapi disana ia tidak melihat Kevin. Ia justru melihat Hans yang sedang berkemas-kemas.
"Nyari saya ya Bu?," tanya Hans seraya tersenyum.
"Bukan Hans, saya lagi cari Kevin. Apa kamu lihat kemana Kevin pergi?," tanya Alena.
"Mungkin sudah pulang Bu," ucap Hans.
Alena menggelang, ia melihat tas kosong milik Kevin masih berada disana, menandakan bila Kevin belum pulang.
"Saya duluan ya Bu, mau ada pertemuan," ucap Hans.
"Iya hati-hati Hans," ucap Alena, tanpa tahu pertemuan apa yang akan dilakukan Hans.
Alena kemudian membereskan buku dan bolpoin yang ia berikan pada Kevin tadi, kemudian memasukan kedalam tas pria itu.
"Kevin, Kevin, disuruh sekolah aja nggak bener. Coba aja kalau sekolahan ini bukan milik pak Andrian, kamu sudah pasti dikeluarkan," gerutu Alena sembari membereskan barang milik Kevin.
"Lo ngatain gue?," tanya Kevin, membuat Alena seketika menolehkan kepalanya kesumber suara.
Rupanya Kevin sudah kembali kekelas karena pria itu akan pulang.
"Ehh, kamu Vin. Anterin aku kerumah ibu ya," pinta Alena.
"Gue bukan ojek," jawab Kevin.
Alena tercengang dengan jawaban Kevin.
"Siapa yang bilang kamu tukang ojek. Aku cuma minta kamu anterin aku kerumah ibu, Kevinnn," ucap Alena kesal.
Kevin tidak menjawab, ia melangkahkan kakinya untuk maju mendekati Alena lal merebut tas yang sedang dipegang oleh Alena.
Setelah mendapatkan tasnya Kevin segera menggendong tas itu, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Alena didalam kelas.
Alena yang ditinggal oleh Kevin, segera mengejar pria itu.
Saat ini disekolahan sudah tidak ada siapa-siapa, selain satpam sekolah dan petugas kebersihan disekolahan itu.
"Kevin tunggu aku," ucap Alena.
Ia masih mengejar Kevin yang berjalan lebih dulu.
Satu langkah kaki Kevin sama dengan dua langkah kaki Alena, sehingga membuat wanita itu kesulitan untuk mengejar Kevin.
Kevin menghentikan langkah kakinya kemudian membalikan tubuhnya.
Dugh.
"Aww, kenapa kamu berhenti?," tanya Alena sembari megusap keningnya yang menabrak tubuh kekar Kevin.
"Gue tunggu diluar gerbang sekolah," ucap Kevin, kemudian membalikan tubuh lagi dan berjalan menuju luar gerbang sekolah.
__ADS_1
Alena bahkan belum sempat menjawab iya atau tidak, tapi Kevin sudah meninggalkannya.
Karena Kevin mengatakan seperti itu, maka mau tidak mau Alena menyetujuinya.
Alena segera mengambil helm Kevin yang tadi ia letakan dirak helm, lalu menentengnya sembari berjalan menuju luar gerbang sekolah.
"Bu Alena jalan kaki?," tanya satpam disana saat Alena melewati pos satpam.
"Tidak pak, saya dijemput diluar," ucap Alena.
"Oohh, hati-hati dijalan ya Bu," ucapa satpam tersebut yang diangguki oleh Alena.
Wanita itu melanjutkan langkah kakinya hingga akhirnya ia tiba diluar gerbang.
Alena bisa melihat Kevin masih duduk dimotor, menunggunya diluar gerbang sekolah dengan jarak 100 meter.
Alena buru-buru menghampiri Kevin disana, mengenakan helm kemudian naik keatas motor pria itu.
"Ayo Vin jalan, aku sudah naik," ucap Alena, pasalnya ia sudah duduk diatas motor tapi motor Kevin tidak jalan-jalan juga.
"Pegangan," titah Kevin.
"Iya Vin," ucap Alena.
Kevin menghidupkan motornya, kemudian melajukan motor tersebut membelah jalanan kota jakarta.
Alena yang sudah diberitahu oleh Kevin agar berpegangan, sudah mencengkram kuat jaket pria itu.
Alena memejamkan matanya karena takut. Kevin membawa motornya sangat kencang membuat Alena ketakutan.
Kevin menghentikan motor sportnya dilampu merah.
Disana banyak orang-orang yang turut menghentikan kendaraannya juga, salah satunya Satria.
Satria hendak meeting digrand cempaka hotel bersama klien. Ia juga turut menghentikan mobilnya dilampu merah itu.
Tidak jauh dari tempatnya berhenti ia melihat seseorang berpawakan seperti Alena sedang berboncengan dengan seseorang.
"Itu seperti Alena," gumam Satria.
Tidak lama kemudian lampu merah padam lalu berganti dengan lampu hijau yang menyala. Para pengendara yang tadi berhenti, melanjutkan perjalanannya termasuk Kevin dan Satria.
Karena penasaran, akhirnya Satria mengikuti seseorang yang berpawakan mirip Alena itu.
Namun baru saja ia ikut berbelok, ponselnya sudah berbunyi ada sebuah panggilan telepon dari sekretarisnya menanyakan posisi Satria saat ini karena meeting harus segera dimulai.
Satria mengurungkan niatnya untuk mengikuti orang tersebut.
Pria itu memilih memutar balik mobilnya, untuk menuju Grand Cempaka Hotel.
Ditempat berbeda Kevin dan Alena sudah hampir sampai kerumah Mayang.
Sepanjang jalan masuk menuju rumah Alena, Kevin bisa melihat banyak ibu-ibu yang sedang momong anaknya.
__ADS_1
Melihat itu Kevin jadi teringat pada mamahnya, sudah lama sekali ia tidak melihat mamahnya itu.
Tapi rasa kecewa pada orang tuanya, membuat Kevin enggan untuk bertemu mamahnya. Bertemu Andrian saja karena ia tinggal serumah.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya sampai, Kevin menghentikan motornya didepan pagar rumah Mayang.
"Sebentar Vin, aku buka pintu pagar dulu," ucap Alena kemudian turun dari motor.
Alena membuka pintu pagarnya dan meminta Kevin memasukan motornya kehalaman rumah.
Grunngg..
Kevin memasukan motornya kehalaman rumah mertuanya, kemudian turun dari motor.
"Masuk dulu kerumah Vin, tunggu ibu ku pulang dari toko," titah Alena.
Kevin tak menjawab, namun ia segera masuk kedalam rumah mertuanya. Setelahnya barulah, Alena menyusul Kevin masuk kedalam rumah.
Kevin mengedarkan pandangannya kepenjuru rumah Alena. Disana ia bisa melihat foto-foto keluarga Alena. Foto Alena dan Elena mulai dari bayi hingga dewasa.
Ini pertama kalinya ia datang kerumah mertuanya setelah menikahi Alena.
"Kalau mau istirahat, dikamarku aja Vin," ucap Alena.
"Kamar lo yang mana?," tanya Kevin.
"Ayo ikut aku. Aku sekalian mau ganti baju," ucap Alena.
Wanita itu berjalan lebih dulu, barulah Kevin mengikuti dari belakang.
Kevin menatap pintu kamar itu, ia ingat pernah masuk kedalam kamar tersebut membahas sesuatu dengan Alena.
Ceklek.
Alena membuka pintu kamarnya, kemudian masuk lebih dulu kedalam kamar itu.
"Masuk Vin, kamu istirahat aja disini," titah Alena sembari menunjuk ranjangnya.
Kevin masuk kedalam kamar itu, kemudian menutup pintu dan memutar kunci pintu kamar tersebut.
Klek.
"Kenapa dikunci Vin?," tanya Alena heran.
Kevin berjalan menuju ranjang Alena, kemudian mendudukan bokongnya ditepi ranjang itu, menarik tangan Alena hingga wanita itu duduk dipangkuan Kevin.
"Vinn," ucap Alena.
"Layani gue Al," pinta Kevin dengan suara paraunya.
Alena bingung hendak menolaknya, meski hatinya masih milik kekasihnya tapi raganya milik suaminya.
Tanpa menunggu jawaban Alena, Kevin segera membalikan tubuh istrinya agar menghadap dirinya.
__ADS_1
Kevin segera menyambar bibir istrinya sembari tangannya membuka satu persatu kancing baju Alena. Namun Alena justru melepaskan ciuman tersebut.
"Vin mengertilah, aku tidak mencintaimu. Aku tidak mau disentuh kamu lagi," ucap Alena yang ditanggapi oleh Kevin yang tersenyum sinis.