
"Seperti kenal ya Bu Farah?" tanya Pak Wawan pada Bu Farah yang membuat wajah Alena berubah pias.
Bu Farah tidak menanggapi ucapan Pak Wawan melainkan, masih memperhatikan wajah Kevin yang tertutup masker.
Rambut pirang pria itu sangat mencolok untuk ia kenali.
Bu Farah kemudian menoleh pada Pak Wawan yang sama sedang menoleh kearahnya, membuat kedua orang itu saling pandang, mengisyaratkan bila mereka mengenali pria yang ditunjuk Alena tersebut.
Sedangkan pria yang sedang dibicarakan tetap tenang duduk dikursi cukur tersebut.
Pak Wawan segera mendekat pada Kevin yang sedang dicukur, membuat Alena panik.
Kepanikan Alena itu juga bisa dirasakan oleh Bu Farah yang berdiri tidak jauh darinya.
"Bu Alena baik-baik saja?" tanya Bu Farah.
"I-iya Bu saya baik-baik saja," jawab Alena gugup.
Bu Farah menganggukan kepalanya namun ia masih mencurigai ada sesuatu yang tidak beres disana.
Tidak beres yang membuat Alena terlihat panik.
Sedangkan pak Wawan yang sudah mendekati Kevin, segera menyapanya.
"Hai, anda pasti suaminya Bu Alena ya?" tanya Pak Wawan, namun tidak mendapat jawaban dari pria yang disapanya.
Kevin yang ditanyai hanya diam saja, ia tidak mungkin bersuara karena Pak Wawan pasti akan mengenali suaranya.
Pak Wawan kemudian menelisik wajah Kevin, yang membuatnya merasa mengenali pria itu tapi siapa.
"Kamu?" tanya Pak Wawan masih terus menelisik wajah Kevin yang tertutup masker.
Ia seperti pernah melihat, tapi dimana ia masih tidak ingat.
Hingga akhirnya Kevin selesai dengan cukur rambutnya.
Pria itu mengeluarkan uang dari sakunya satu lembar berwarna biru lalu meletakan dimeja tersebut.
Kevin segera berlalu dari hadapan Pak Wawan kemudian menghampiri Alena yang sedang bersama Bu Farah.
Pak Wawan masih saja memperhatikan Kevin yang menghampiri rekan gurunya.
"Bapak mau cukur rambut?" tanya tukang cukur rambut tersebut.
"Iya, saya ma cukur rambut," ucap Pak Wawan.
Dengan berat hati ia akhirnya mengalihkan pandangannya untuk duduk dikursi cukur dan menghadap cermin.
Dicermin tersebut Pak Wawan tidak bisa melihat Kevin, karena pria itu berada diarah samping cermin.
Sedangkan Kevin yang menghampiri Alena sudah tiba ditempat wanita itu berdiri.
"Sudah?" tanya Alena yang dijawab anggukan kepala dari Kevin.
Alena beralih menghadap Bu Farah yang berada disebelahnya untuk berpamitan.
__ADS_1
"Bu Farah, saya duluan ya." ucap Alena.
"Iya Bu Alena, hati-hati." ucap Bu Farah.
Alena segera menggandeng tangan Kevin, lalu membawanya keluar dari tempat cukur tersebut.
Bu Farah terus memperhatikan Alena dan suami rekan kerjanya itu.
Meski keduanya sudah berada diluar tempat cukur rambut, namun pandangan Bu Farah masih tidak teralihkan dari kedua orang itu.
Kevin membuka maskernya saat ia hendak masuk kedalam mobil, lalu melempar masker tersebut ke tong sampah.
Kevin yang membuka masker tersebut, tentu saja membuat Bu Farah yang masih memperhatikannya melihat siapa sebenarnya suami Alena.
"Kevin," gumam Bu Farah yang melihat Kevin masuk kedalam mobil bersama Alena.
"Jadi suaminya Bu Alena itu Kevin," gumam Bu Farah.
Terjawab sudah rasa penasan Bu Farah tentang siapa suami Bu Alena yang sebenarnya.
Bu Farah terus memandangi mobil Kevin yang melaju meninggalkan tempat cukur rambut itu.
Beruntung yang melihat Kevin hanya Bu Farah, sedangkan Pak Wawan, pria itu masih dicukur rambutnya.
Didalam mobil, Alena terus mengomeli Kevin yang membuka maskernya sebelum masuk kedalam mobil.
"Maaf sayang, habisnya bekas rambut yang dicukur nempel dimasker jadi bikin wajahku gatal," ucap Kevin sembari menunjuk pada wajahnya yang sudah merah-merah karena gatal tercucuk potongan rambutnya.
Alena memberengutkan bibirnya, kesal sekali dengan suaminya itu.
Dirinya susah payah merahasiakan Kevin sebagai suaminya, tapi pria itu sendiri yang hampir membongkarnya.
Pria itu bahkan menolehkan wajahnya lalu hendak mencium pipi istrinya, membuat pria itu tidak fokus menyetir.
Tittt ditt.
Suara klakson dari mobil didepannya menyadarkan pria itu, sehingga ia cepat-cepat mengendalikan mobilnya lagi.
Bukk.
Alena memukul punggung suaminya.
"Lihat kedepan kalau nyetir!" ucap Alena kesal.
"Mangkanya maafin aku," ucap Kevin memelas.
"Iya sudah aku maafin," ucap Alena pada akhirnya.
Kevin tersenyum lebar pada Alena yang berada disebelahnya.
Pria itu meraih tangan kanan Alena kemudian menautkan jarinya kesela-sela jari tangan istrinya, lalu menggenggam tangan Alena dan menciumnya.
"Vin," panggil Alena.
"Iya sayang," jawab Kevin.
__ADS_1
"Ada satu ngidamku yang belum keturutan," ucap Alena.
"Apa itu?" tanya Kevin.
"Aku ingin makan rujak buah, tapi kamu yang buat," ucap Alena.
Kevin menautkan alisnya karena heran dengan permintaan Alena.
'Rujak buah? Bukannya banyak yang jual? kenapa harus aku yang buat?' batin Kevin.
Pria itu tak habis fikir pada permintaan istrinya itu.
"Kenapa harus aku yang buat?" tanya Kevin pada Alena.
"Karena anak kita ingin makan rujak buah buatan papahnya," jawab Alena.
Kevin menganggukan kepalanya mengerti apa yang harus ia lakukan.
Pria itu kemudian melajukan mobilnya menuju toko buah, untuk membeli buah-buahan.
Setibanya ditoko buah, keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ketoko buah tersebut.
Alena memilih banyak buah-buahan disana, yakni buah mangga muda, bengkoang, kedondong, dan masih banyak lagi.
Semua buah-buahan yang dibeli, khusus buah untuk ia rujak.
"Banyak sekali sayang buahnya?" tanya Kevin.
"Biar semua orang dirumah merasakan rujak buatan kamu," jawab Alena.
Hahh?
Kevin tercengang dengan ucapan Alena.
Kalau semua orang dirumah bisa merasakan rujak buatannya, berarti ia harus membuat rujak yang banyak.
Pria itu menggelengkan kepalanya, rasanya tak sanggup bila harus membuat rujak sebanyak itu.
"Tuh bawa," titah Alena pada Kevin sembari menunjuk pada buah-buahan yang sudah masukan kedalam plastik.
Kevin kemudian, membawakan buah-buahan itu masuk kedalam mobilnya, membuat mobil sportnya penuh oleh buah-buahan yang istrinya beli.
"Sayang, lihat itu mobilku," ucap Kevin sembari menunjuk pada mobilnya yang penuh dengan buah-buahan.
Rasanya sayang sekali mobil sportnya harus dipenuhi buah-buahan.
"Ooh, jadi kamu lebih sayang dengan mobilmu dari pada membuatkan rujak permintaanku?!" tanya Alena menaikan nada bicaranya sembari berkacak pinggang.
"Bu-bukan begitu. Hanya saja, Ahh sudahlah. Ayo kita pulang," ajak Kevin.
Alena yang tadi berkacak pinggang menatap Kevin dengan tajam, membuat pria itu menundukan kepalanya.
Sungguh, Kevin yang sekarang sangat takut bila istrinya marah padanya.
Wanita itu lalu masuk kedalam mobil lebih dulu, barulah disusul oleh Kevin yang ikut masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Setelahnya, mereka kembali pulang kerumah karena waktu sudah melewati tengah hari.
Tengah hari seperti ini sangat cocok untuk makan rujak, oleh karenanya Alena ingin cepat-cepat tiba dirumah, lalu dibuatkan rujak buah oleh suaminya.