Suamiku Bersifat Iblis Berhati Malaikat

Suamiku Bersifat Iblis Berhati Malaikat
Meminta Restu


__ADS_3

Setelah Sampai, Tiara langsung turun, ia sudah tidak sabar bertemu dengan mama dan ayah nya, ia yakin kemarahan kedua orang tua nya akan reda jika melihat Diko...


Tapi sayang nya, saat sampai didepan gerbang, gerbang itu terkunci, Tiara melihat keadaan rumah nya yang seperti sudah lama ditinggalkan, gembok yang terpasang pun sudah berkarat...


"Kalian cari siapa?...."Seorang wanita berumuran mama Liana datang dan bertanya,...


"Pemilik rumah ini kemana ya bu, kayak nya rumah nya sudah lama ditinggalkan, mereka pindah kemana ya ?..."Tanya Tiara...


"Ohh, pemilik rumah ini meninggal 5 bulan yang lalu neng, karna kecelakaan, mobilnya masuk jurang..."Tiara terkejut, bayi Diko yang ada digendongan nya hampir terjatuh, untung saja Daren langsung meraih bayi mungil itu...


"Ngak mungkin, Ayah sama mama ngak mungkin meninggal, ngak itu semua bohong..."Tiara jatuh terduduk, air mata nya seketika mengalir deras, masih segar diingatan saat diri nya diusir keluar dari rumah itu, Daren yang melihat nya sangat tidak tega, tapi ia tidak bisa melakukan apapun...


"Tenang Tiara ini semua sudah takdir mereka, yang bisa kamu lakukan hanya ikhlas agar mereka bisa tenang disana..."Seru Daren menyentuh pundak Tiara, tapi langsung ditepis kuat oleh ibu dari anak nya


"Diam, semua ini gara-gara kamu, Kamu yang menyebabkan aku diusir dari ruamah ini, karna kamu aku tidak bisa berada disamping kedua orang tuaku saat meninggal, kamu penyebab dari penyesalanku ini...."Teriak Tiara menunjuk-nunjuk wajah Daren...


"Sabar Daren, jangan menjawab, Tiara sangat terpukul saat ini, biarkan dia memakimu semau nya, jika bisa membuat nya tenang..."Seolah mempertingkatkan diri nya agar tidak bicara sepatah kata pun, karna ia tau perasaan Tiara saat ini...


"Sabar ya neng, doakan saja mereka, agar mereka tenang dialam sana...."ibu itu mengelus punggung Tiara sebelum pergi...

__ADS_1


"Tunggu bu..."Teriak Daren membuat ibu tadi berhenti, Daren berjalan cepat kearah ibu itu...


"Apa ibu tau dimana mereka dimakamkan, kami ingin kesana?..."


"Dipemakaman kembang bunga Pak, dekat dari sini,...."Daren mengangguk dan mengucapkan terima kasih, ia pun kembali menghampiri Tiara yang masih menangis histeris...


"Kenapa kalian ninggalin aku ya, ma, apa sekecewa itu kelian padaku?..."Daren menghela napas panjang antara bingung mengajak Tiara kemakam kedua orang tua nya atau tidak, masalah nya, Tiara sangat sulit diajak mengobrol, ia saat ini seperti singa kelaparan...


Setelah lama menunggu dan menimbang, akhir nya Daren memutuskan untuk mengajak Tiara kemakam calon mertua nya...


"Tiara, bagaimana kalau kita kemakam mereka, katanya dimakamkan Dipemakaman Kembang bunga..."Tiara mengangguk pelan dan mengambil Diko didalam gendongan Luis kemudian masuk kedalam mobil tanpa mengatakan apapun...


"Bocah ini, sabar Daren sabar, semua ini ujian untukmu, jangan sampai kamu menyakiti Tiara, ibu yang sudah membesarkan putramu..."sebisa mungkin Daren menahan emosi nya, agar tidak membentak ataupun mengasari Tiara, karna ia tau semua yang terjadi karna malam itu....


"Bisakah tidak usah banyak bicara kak, yang aku inginkan saat ini hanya ingin mengunjungi makam kedua orang tuaku..."Luis mengangguk pelan kemudian menyalakan mobil nya...


Sepanjang perjalanan hanya kebisuan yang tercipta, Tiara yang masih larut dalam kesedihan karna mengetahui jika kedua orang tua nya sudah meninggal dunia dan Daren, entah apa yang laki-laki itu pikirkan...


Setelah sampai, Tiara langsung turun dan masuk kedalam pemakaman kembang bunga, pandangan nya berkeliling mencari makam orang tua nya...

__ADS_1


"Ayah mama,..."Tiara menjatuhkan tubuh nya disamping makam kedua orang nya, saat ia menemukan nya....


"Ma, ayah, maafkan Tiara, Tiara memang anak durhaka, seharusnya aku berada disaat-saat terakhir kalian, kumohon maafkan aku,..."Mengelus batu nisan mama dan papa nya....


"Ma ayah, ini anak Tiara, anak yang membuat kalian mengusir Tiara dia sudah besar, tolong sayangi dia, jangan membenci nya karna dia tidak salah apapun,..."memperkenalkan bayi mungil Diko pada kedua orang tua nya, walaupun batu nisan itu tidak akan menjawab, Tiara terus bercerita dengan air mata yang menganak sungai, Daren yang duduk disamping nya hanya diam mendengarkan Tiara...


1 jam telah berlalu, Tiara pun pun pamit pada makam kedua orang tua nya, tapi sebelum itu, Daren lebih dulu meminta restu pada kedua orang tua Tiara...


"Om, tante, perkenalkan nama saya Daren, saya ingin meminta maaf atas apa yang terjadi pada Tiara, tolong jangan marah pada nya, ini semua kesalahan saya, dan tolong restui kami, saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah saya perbuat dimasa lalu, walaupun terlambat, saya janji saya akan membahagiakan Tiara, saya akan membuat dia bahagia,sekali lagi maafkan saya, tolong restui pernikahan kami..."Ujar Daren terlihat sangat tulus, setelah nya mereka pun pergi meninggalkan makam kedua orang tua Tiara...


***


Lain hal nya dengan Tiara dan Daren yang pergi meminta restu, Luis dan Kania pergi memeriksa kandung Kania, sedari tadi Luis terlihat saat tidak sabar, ia terus mondar mandir diluar ruangan, Kania memutar bola mata malas melihat suami nya yang seperti setrika...


"Sayang, bisa kamu duduk disini, disamping aku? aku gerah liat kamu mondar mandir terus,..."Seru Kania merasa kesal,Kania dan Luis sepakat merubah panggilan mereka agar bisa lebih dekat lagi......


"Sayang bagaimana saya bisa tenang, sudah setengah jam lama nya kita mendaftar kita belum dipanggil juga, saya sudah tidak sabar mengetahui keadaan kandungan kamu..."Luis yang merasa lelah mondar mandir langsung duduk disamping Kania dan mengelus perut Kania dengan pelan...


"Benarkan kandungan kamu tidak apa-apa, kamu tidak pernah merasa sakit saat turun kejurang?..."berkali-kali pertanyaan yang sama didengar oleh Kania selama setengah jam ini, ia merasa kekhawatiran Luis sangatlah berlebih...

__ADS_1


"Tidak mas, aku tidak merasa apapun, aku turun dari jurang dengan sangat hati-hati, kamu tidak usah memikirkan ucapan mama, aku tidak merasakan apapun..."Sejak mama Liana menelpon Luis untuk menyuruh memeriksa kandungan Kania, laki-laki berbadan kekar itu menjadi urin-uringan apa lagi saat mengingat ucapan mama nya yang mengatakan jika ibu hamil kecapean atau melakukan perjalanan jauh itu akan berpengaruh buruk untuk janin nya, walaupun Kania sudah berulang kali ia mengatakan jika dia tidak apa-apa...


"Tuan muda, Nona muda, Ruangan sudah siap, silakan masuk, Dokter sudah menunggu..."Seru Suster, Kania dan Luis pun masuk kedalam ruangan...


__ADS_2