
Rayyan menanggalkan statusnya sebagai seleb papan atas, dia berbaur dengan para tetangga Hanna yang sedang
guyup rukun untuk acara tahlilan malam ini. Hanna merasa senang karena ada yang menemani sedekat ini selain sahabat-sahabatnya, itupun mereka datangnya lebih lambat dari Rayyan. Mungkin Rayyan hanya istirahat sejenak. Rayyan muncul di depan pintu saat Hanna baru saja selesai mandi dan berganti baju.
Tak hanya datang seorang diri, Rayyan membawa mobil berisi makanan dari catering terkenal.
"Buat apa?." tanya Hanna heran melihat 2 mobil box di depan pagar rumahnya.
"Kan nanti ada acara tahlilan ayah," jawab Rayyan singkat, senyum kecil menghiasi bibirnya, setidaknya dia sudah bisa tersenyum. Hanna baru sadar jika memang harus ada makanan yang tersedia, dan lagi-lagi dia merasa sangat berhutang budi sama Rayyan.
Hanna menunduk, "Terima kasih"
"Jangan merasa tidak enak." balas Rayyan.
Para pegawai catering pun menurunkan makanannya dan akan berada di sana hingga acara usai.
"Harusnya kamu nggak usah repot-repot,"
"Nggak repot, dan selama 7 hari ke depan nggak usah mikirin tentang catering, semua aku yang handle,"
"Aku..." Hanna belum sempat melanjutkan kalimatnya.
"Ayahmu juga ayahku...jangan buat aku sedih karena tidak boleh melakukan ini," potong Rayyan. Karena dia memang sangat menghormati Pak Handi yang sudah dia anggap sebagai ayah sendiri.
Hanna mengangguk, tak ada lagi kalimat yang bisa dia ucapkan untuk Rayyan. Apa yang Rayyan lakukan sudah sangat banyak untuknya.
Terlihat Kia dan Panji telah tiba di rumahnya.
"Siapa yang pesan?." tanya Kia pada Hanna yang tengah duduk di karpet, sementara Rayyan sedang menerima panggilan telepon di teras samping.
"Rayyan," jawab Hanna singkat.
"Wih, keren juga tuh siap siaga, baik banget," puji Kia. Hanna tersenyum kecil, Panji hanya diam saja.
"Bagaimana keadaan kamu Han?," Kia melihat mata Hanna masih sembab. "Kamu sudah makan,?" tanya Kia. Hanna menggeleng, bahkan dia sejak semalam belum makan sama sekali.
__ADS_1
Kia menggelengkan kepalanya, dan bergegas berdiri. Namun belum sampai luar, dia melihat Rayyan hendak masuk ke dalam rumah dengan membawa sepiring nasi beserta lauk-pauknya.
"Ini," Rayyan menyodorkannya pada Kia, dengan maksud agar Kia memberikannya pada Hanna.
"Ehm...iya, terima kasih," jawab Kia kikuk, benar saja, laki-laki itu bisa diandalkan. Kia bergegas menerima porsi makanan dari Rayyan, lalu balik badan dan kembali ke Hanna.
"Nggak ada protes, nggak ada penolakan, kamu harus makan, aaaaak," Kia menyuapi Hanna. Hanna pun akhirnya tersenyum dan membuka mulutnya, menerima suapan makanan dari Kia. Dari kejauhan Rayyan nampak melihat Hanna yang sedang makan disuapi oleh Kia. Bibirnya menyunggingkan senyum.
Satu per satu para tetangga Hanna datang untuk acara tahlilan, dan Rayyan lah yang menjadi garda depan menyambut para tetangga dengan begitu luwesnya.
"Udah deh Han, itu udah mirip banget kayak lakik kamu," bisik Kia. Hanna pun melihat ke arah Rayyan yang persis seperti penerima tamu, tak peduli dengan statusnya.
7 hari pun berlalu, kesedihan Hanna perlahan mereda. Bagaimanapun dia harus menerima keadaan ini sebagai takdir dari Ilahi. Ini adalah jalan terbaik untuk ayahnya dan keluarganya.
Hanna mengemasi barang-barang ayahnya dan menyimpannya ke dalam lemari di kamar ayahnya. Rumahnya sudah sepi sekarang, tak ada lagi warga yang tahlilan di malam hari. Kini dia harus kembali sendiri.
Hanna menutup lemari ayahnya, kini dia melihat seisi ruangan kamar ayahnya. Kenangan-kenangan masih saja membekas di sana, Hanna tersenyum tipis. Merasa sangat rindu kehadiran ayahnya.
Terdengar suara ketokan pintu yang membuyarkan lamunannya. Hanna bergegas keluar kamar ayahnya dan menuju ruang depan, membukakan pintu. Dan di depan pintu Rayyan sudah tersenyum di sana.
"Kamu,"
"Masuk," Hanna mempersilahkan Rayyan masuk. Rayyan pun melangkah ke ruang tamu.
"Keluar yuk," ajak Rayyan.
"Huhm,?" Hanna menatap Rayyan. Wajah Hanna nampak tirus.
"Iya keluar, jalan-jalan, sore-sore gini enak jalan-jalan," balas Rayyan. Dia sedang tidak peduli dengan apa yang terjadi di media akhir-akhir ini. Satu per satu mulai membongkar kehidupannya. Bahkan berita tentang perceraiannya mulai santer, dan kini sudah mengulik nama Hanna.
"Ayo...ganti baju dan kita pergi," ajaknya.
"Kamu nggak kerja?,"
"Enggak," jawabnya enteng. Rayyan sedang membatasi pekerjaannya akhir-akhir ini, dia ingin mengembangkan bisnisnya.
__ADS_1
Hanna akhirnya menerima tawaran Rayyan untuk jalan-jalan, hitung-hitung sebagai penyegaran setelah berkutat dengan kesedihan yang mendalam selama 7 hari terakhir.
Rayyan menunggu Hanna yang sedang berganti baju, dia beranjak dari kursi dan berjalan ke teras depan. Melihat sekeliling halaman rumah Hanna yang tak luas itu. Tak berapa lama Hanna keluar dan sudah berganti baju.
"Sudah siap,?"
Hanna mengangguk. Rayyan membantu menutup pintu rumah Hanna, lebih mirip sebagai suami yang sedang mengurus istrinya agar istrinya bahagia. Hanna hanya bisa bengong dan heran dengan apa yang dilakukan oleh Rayyan.
"Bolehkah kita ke suatu tempat terlebih dahulu,?" tanya Hanna setelah memakai sabuk pengaman, Rayyan baru saja menyalakan mesin mobilnya hendak melaju.
"Boleh, kemanapun kamu mau," gumam Rayyan seraya tersenyum.
"Kita ke rumah sakit," jawab Hanna. Membuat Rayyan menoleh ke arahnya, meskipun Hanna tak menyebutnya, dia tahu kemana tujuan Hanna.
"Ok," jawa Rayyan tak menolak.
***
Keadaan yang masih sama menurut penglihatan Hanna, namun tidak menurut para dokter. Keadaan Pak Andre sudah sangat jaub menurun kata dokter, Hanna duduk di samping laki-laki itu sambil melihatnya.
"Maafkan Hanna yang beberapa hari ini tidak kesini," Hanna tersenyum, menatap mata cekung Pak Andre. Sementara Rayyan menunggu di depan, dia tidak ikut masuk.
"Apa kamu sehat nak? apa kamu baik-baik saja? kok kamu nampak kurusan,?" Pak Andre nampak mengkhawatirkan Hanna. Hanna mengangguk kecil, dia terpaksa berbohong. Dia memang sehat, hanya saja dia masih sangat sedih karena kehilangan ayahnya.
"Iya, Hanna baik-baik saja Pak, hanya saja kemarin sibuuuk banget dengan tugas. Bapak harus sehat ya...." hibur Hanna. "Bapak sudah makan? Hanna suapin ya,?" Hanna menawarkan, seolah tak ingin kehilangan orang tua untuk kedua kalinya. Namun Pak Andre menggeleng.
"Masih kenyang," jawabnya.
"Kan belum makan? kok sudah kenyang," Hanna cemberut.
"Nanti saja...oh ya bagaimana kabar Rayyan? apa dia baik-baik saja,?"
Ah andai dia tahu jika Rayyan sedang berada di balik pintu itu, Hanna tersenyum kecil. "Iya Pak...Rayyan baik-baik saja,"
"Oh baiklah...saya tenang dan senang mendengarnya,"
__ADS_1
Mata laki-laki sepuh itu nampak masih sangat berharap bisa bertemu dan meraih hangat tangan anaknya itu di akhir usianya. Sementara Rayyan melihat Hanna dan Pak Andre di balik kaca jendela yang bercelah kecil.
*Maafkan Author yang baru sempat update, mungkin karena kebanyakan begadang Autohr tumbang hingga muntah darh donk...hehe doakan Author ya...salam sehat untuk kita semua....^^**