Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Membeku


__ADS_3

Apa dia sudah tidak mengenalku? Apa dia benar-benar melupakan aku? haah....tidak heran, memang laki-laki seperti itu akan mudah melupakan perempuan macam aku. Aku ini siapa? bukan siapa-siapa.


Hanna menopang dagunya dengan tangan kanannya, Rayyan baru saja keluar dari ruangan tersebut. Sudah berapa kali dia tadi beradu pandang dengan Rayyan, tapi laki-laki itu sama sekali tidak ada reaksi dengannya. Benar-benar huuuhhh. Hanna menggaruk kepalanya. Antara dia harus bahagia karena akhirnya Rayyan sesukses ini dan sebahagia ini. Ataukah dia harus bersedih karena sudah menjadi bagian suram dalam hidup Rayyan, dia sudah dilupakan.


"Han...ayo keluar," suara itu membuyarkan lamunannya. Hanna terperanjat, menurunkan tangannya yang sedari tadi menopang dagunya.


"Oh," Hanna menyahut sambil melihat Farel.


"Aku kira ada hal yang urgent, yang penting yang bisa kita jadikan celah untuk kerjasama, ternyata....," Farell sedikit menggerutu, hal itu terdengar dari bahasanya yang menyiratkan kekecewaannya. Hanna mengangguk lalu berdiri, membuntuti Farel. Sepanjang apa yang dibicarakan oleh Rayyan di depan tadi, memang tidak ada hal yang urgent, dan dia pun tidak mencatat apapun. Buku catatannya kosong, hanya coretan yang sama sekali tidak penting yang ada di bukunya.


Hanna berjalan lambat karena harus bersamaan keluar bersama orang banyak, dan Ratna berhasil menyusulnya.


"Duuh yang di depan sama pak Farel, seneng ni ye...," gumam Ratna.


"Seneng apaan?," Hanna mencebik. Hatinya terasa dongkol, bukan karena gurauan Ratna. Tapi kesal karena...oh apakah dia memang kesal karena Rayyan tak menganggapnya? oh sial. Mungkin itu yang terasa kini.


Hanna menggeret langkah kakinya, Ratna tiba-tiba melemparkan tasnya dan berlari kecil.


"Aku mau ke toilet, tunggu aku di bawah," Ratna melambaikan tangannya dan berlari kecil, Hanna dengan spontan menerima tas Ratna yang diberikan dengan setengah lemparan. Untung saja tidak jatuh. Hanna menggelengkan kepalanya.


Hanna mengantri untuk masuk ke dalam lift, karena ternyata hampir semua orang turun bersamaan. Hanna menyandarkan dirinya di tembok sambil menunggu antrian.


"Kantor segede gini liftnya terbatas," gerutunya sambil memainkan kuku jemarinya.

__ADS_1


"Ehem," suara deheman itu terdengar jelas, namun tak dia hiraukan. Hanna masih melihat kukunya. Terdengar derap langkah kaki dari hak sepatu melewatinya, dan Hanna hapal dengan makhluk itu. Itu adalah Rayyan yang sedang berjalan dengan gadis cantik itu. Hanna melihatnya dengan jelas, Rayyan melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam lift VIP.


"Hiiish....arogan sekali," Hanna menatap sambil melotot. Hanna menepuk dahinya dengan tangan kirinya.


 "Kenapa aku ini? apa yang terjadi denganku,"


Tak berapa lama, antrian masuk lift pun sudah terurai, Hanna masuk ke dalam lift, hanya ada 3 orang. Dan saat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan menahan lift tersebut.


Sebuah sepatu fantovel warna hitam mengkilap itu melangkah masuk ke dalam lift, Hanna memperhatikannya dari bawah, dan sebentar, sebelahnya lagi sepatu dengan hak tinggi ikut melangkah juga. Hanna mendongak ke atas.


Tungguuu......bukankah mereka sudah keluar dari lantai ini dengan lift khusus?


Hanna mengerjab, menggeser posisi berdirinya menjadi ke samping kiri, mepet dengan dinding lift. Sengaja menjauh dari posisi Rayyan berdiri di sampingnya, hanya beberapa senti saja.


Dasar tubuhku yang lemah, jangan tunjukkan padanya kalau kamu lemah please.... rutuk Hanna pada dirinya. Ah wanginya masih sama, benar-benar Rayyan tidak berubah. Hanya saja ada gadis cantik di sampingnya, gadis cantik dengan paras yang sepadan dengannya. Hanna benar-benar merasa menjadi itik buruk rupa. Terasa semakin panas berada di lift ini. Dalam lift yang hanya beberapa detik itu terasa sangat lama, terlebih saat melihat Rayyan yang dingin seperti kutub itu. Sungguh dia ingin menjambaknya.


Tiiiing....


Akhirnya, pintu lift terbuka lebar. Hanna bernafas lega seperti baru saja mendapatkan udara segar setelah engap-engapan. Hanna sengaja menunggu Rayyan keluar terlebih dahulu, jadi dia menunggu. Setelah semua orang keluar, termasuk gadis yang selalu ada di samping Rayyan. Rayyan masih mematung di dalam.


Hanna masih setia menunggu Rayyan keluar duluan, tapi hingga pintu hampir kembali tertutup. Kaki Rayyan masih melekat di lantai dengan sepatu mengkilatnya itu. Sungguh Hanna tidak tahu apa yang diperbuat oleh Rayyan.


Hanna mencegat pintu lift dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih memegang tas milik Ratna yang ada padanya. Tangan Rayyan menepis tangan Hanna dan membiarkan pintu kembali tertutup. Rayyan kembali memencet angka 10 pada tombol.

__ADS_1


"Aku mau keluar," spontan Hanna mengeluarkan kata-katanya. Tapi sang lawan bicara tak menanggapi, nampak dia santai sambil memasukkan kedua tangannya di saku kanan kiri celananya. Sepanjang lift bergerak pun tidak ada perbincangan apapun. Hingga pintu lift kembali ke lantai 10, di mana Hanna tidak jadi menuju lantai bawah.


"Ikuti aku," suara itu memerintah dengan tegas, Hanna membelalak. Dan nyatanya dia tidak bisa menolak, suara itu seperti sedang menghipnotisnya. Dia mengekor mengikuti langkah Rayyan.


Hanna berada di dalam ruangan Rayyan, ruang yang digunakan Rayyan dan gadis itu berduaan tadi. Hawa terasa menusuk, Hanna bingung itu karena merasa merinding atau karena AC yang terlalu dingin. Hanna duduk dengan manis di atas sofa warna abu-abu, sedangkan Rayyan duduk di depan Hanna sambil menyilangkan kakinya dan bersedekap, menatap Hanna penuh selidik. Hanna merasa sedang dikuliti.


Hanna menunduk, seperti anak kecil yang sedang dimarahi bapaknya karena telah berbuat hal yang kacau balau. Hanna masih saja menunduk, siap mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Rayyan. Padahal dia sediri tidak merasa salah.


Ah, harusnya dia tadi keluar bareng Farel saja agar tidak terjebak seperti ini. Hanna meremas tangannya, menggenggam tangan kanannya dengan tangan kirinya agar Rayyan tidak melihatnya.


"Jadi kamu meremehkan aku,?" akhirnya kalimat pertama keluar setelah terdiam sekian lama, Hanna sedikit mendongak, senyum kecilnya yang tidak nyaman itu mengembang.


"Maksud bapak,?" pertanyaan yang sangat mengambang, karena dia tidak tahu apa yang harus dia utarakan.


"Hish," Rayyan tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya, kenapa Hanna masih sama. Dan inilah yang dia suka dari Hanna, ingin rasanya dia mengobrak-abrik rambut Hanna dengan gemas. Tapi urung, karea tiba-tiba dia melihat jemari Hanna yang sudah tak ada lagi cincin tunangan darinya. Sedangkan di tangannya masih ada cincin yang tersemat di sana. Buru-buru Rayyan menurunkan tangannya dan berusaha menyembunyikannya.


"Maaf pak, saya dicari teman saya, ini tasnya saya bawa," Hanna mengangkat tas milik Ratna dengan wajah tanpa dosa. Ini dilakukan agar rasa gugupnya menguap, senyum kaku pun mengembang. Berharap Rayyan akan mempersilahkannya keluar dengan mudah dari ruangan ini.


Rayyan menurunkan kakinya dan berdiri, mendekat ke arah Hanna. Hanna mencondongkan tubuhkan ke samping karena merasa Rayyan begitu sangat dekat dengannya.


"Kamu jahat sekali, setelah menghilang bak ditelan bumi tanpa jejak, meninggalkanku tanpa dosa, kini kamu muncul dengan mudahnya di depan mataku dengan wajah tanpa dosamu," Rayyan nyerocos di samping Hanna, sangat dekat, lengan mereka saling menempel. Hanna meneguk ludahnya, terasa kelu. "Dan kamu sama sekali tidak mengenalku, hah...semudah itu," imbuh Rayyan.


Hah, Hanna malah merasa mabuk dengan bau parfum Rayyan yang sangat dia hapal. Rayyan melepaskan cincin yang dia pakai dan diletakkan di atas meja tepat di depan Hanna. Hanna hanya berani menatap cincin itu tanpa berani menatap sang pemiliknya.

__ADS_1


Hawa dingin semakin membuatnya terasa membeku, tidak ada kalimat yang bisa dia ucapkan. Karena kejadian hari ini sama sekali tidak dia prediksi sebelumnya, bahwa dia akan bertemu dengan Rayyan di sini.


__ADS_2