
Mata mereka kini beradu, Rayyan melihat laki-laki itu dengan mata ingin menerkam. Sedangkan laki-laki yang ada di depannya nampak tersenyum lega, akhirnya bisa melihat Rayyan secara langsung. Sudah sebesar ini, dan dia sangat tampan.
"Rayyan..." ucapnya, kedua tangannya ingin memegang pipi Rayyan. Rayyan menghindar dan tangannya menepis tangan laki-laki itu.
Bayangan laki-laki itu kembali muncul di masa-masa lalu, saat dia mabuk dan menghajar Ibunya. Ini adalah pertemuan pertama setelah puluhan tahun tidak bertemu. Bahkan Rayyan sudah mengira jika laki-laki yang kini ada di depannya itu sudah mati.
Rayyan memandangi laki-laki itu dengan sinis, rasanya matanya ternodai.
"Maafkan ayah" ucap laki-laki itu dengan suara bergetar. Rayyan melengos, menganggap omongannya hanya angin lali. "Ayah sudah berjuang untuk sampai di sini, jadi ayah mohon izinkan ayah bicara"
"Tak ada yang perlu dimaafkan" ucap Rayyan dingin.
"Maafkan ayah jika selama ini.."
"Masih pantaskah dipanggil ayah? di mata hatimu saat aku dan Ibu terpuruk? dan kini kamu muncul kesini dengan memuakkan" Rayyan mengeram, rahangnya mengeras.
"Iya, memang ayah tak pantas disebut ayah"
"Jika kamu butuh uang, bilang saja" gertak Rayyan. Tiap kali ayahnya marah, Ibunya yang selalu menjadi sasarannya. Ayahnya yang suka mabuk dan meminta uang pada Ibunya masih terekam jelas di otaknya. "Kamu tidak tahu bagaimana beratnya hidup kami, dan semenjak itu pula aku tak pernah menganggap kamu ada". Mereka masih berdiri di depan pintu, tak ada keinginan sedikitpun untuk menyuruh laki-laki sepuh itu masuk.
"Bukan masalah uang"
"Lalu apa?" Rayyan tak memberikan kesempatan pada laki-laki itu untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ayah hanya ingin minta maaf" sahutnya.
Rayyan tersenyum sinis, tangannya bersedekap. Laki-laki yang harusnya menjadi pelindung keluarga itu nampak penuh dosa di mata Rayyan, tak ingin sedikitpun dia memaafkan laki-laki itu.
"Hanya karena kamu mudah menemukanku, bukan berarti kamu bisa mendapatkan maaf dariku" Rayyan kembali menatap laki-laki itu bengis, lalu dia menutup pintu apartemennya. Rayyan menelpon security agar segera mengeluarkan laki-laki itu dan memintanya agar dia tak diizinkan jika ingin kembali ke tempat ini.
Hari-hari Rayyan kembali disibukkan oleh pekerjaan, karena Kamila memang belum sehat betul, maka asisten dihandle sementara oleh pengganti Kamila. Dia tak mau membuat Hanna kembali susah dengan ritme pekerjaannya. Rayyan tahu Hanna sedang sibuk dengan kuliahnya.
Rayyan terus saja kerja, kerja, dan kerja. Tak lupa dia meminta pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Hanna.
__ADS_1
"Lagu baru yang keren bro" ucap Fadil, pemilik label musik yang menaungi Rayyan.
"Biasa aja bro" jawab Rayyan tersenyum hambar.
"Dari kisah pribadi, biasanya mengalir begitu saja dan akhirnya jadilah lagu yang begitu dalam artinya"
"Kamu ngejek?" Rayyan pura-pura marah.
"Mana berani sih mengejek sang super star?"
Selain bersiap merilis lagu baru, Rayyan juga sedang disibukkan dengan berbagai syuting iklan yang cukup menguras waktunya. Benar-benar ingin mencari kesibukan sehingga dia melupakan Hanna.
Sementara itu, Hanna juga menyibukkan diri dengan terus belajar di tempat magang. Sudah lama dia tidak melihat Rayyan berada di kantor ini. Hingga pernah dia menanyakannya pada Mas Karyo yang tentu saja tidak memberikan jawaban.
"Mbak Santi mbak yang tahu" ucap Mas Karyo. Kalaupun Hanna menanyakan hal itu pada Santi, itu berarti sama dengan mempermalukan diri sendiri. Tak ada pesan satupun dari Rayyan. Harusnya dia senang karena pada akhirnya Rayyan akan melepaskannya. Dan Rayyan akan bisa berkarir dan mendapatkan gadis yang serasi dengannya. Hanna siap dengan status barunya.
Hanna memainkan pulpen yang diketok di atas meja.
"Ye nggak kena" Hanna senang bisa menerima lemparan tersebut.
"Mbak Hanna..." panggil Mas Karyo sesaat setelah masuk ke dalam ruangan.
"Iya?" Hanna melongok dan melihat Mas Karyo.
"Ada yang nyari" sahutnya.
"Oh siapa?" Hanna melongo, baru kali ini ada yang mencarinya. "Di mana?"
"Nggak tahu mbak, bapak-bapak, tuh di lobby luar" Mas Karyo menunjuk ke luar.
"Ok, terima kasih ya Mas" Hanna bergegas menarik kursi agar dia leluasa keluar.
"Fans kamu Han?" Meta nampak penasaran.
__ADS_1
"Kau pikir aku suka sama sugar daddy gitu?" Hanna mengembalikan guluangan tisu dan melemparkan pada Meta yang kepo. Meta nyengir, gulungan tisu pun kembali ada di tangannya.
Hanna sudah sampai di lobby, nampak para karywan berlalu lalang, Hanna mengedarkan pandangan, siapakah tamu yang dimaksud Mas Karyo. Berbekal ucapan Mas Karyo jika yang ingin menemuinya adalah bapak-bapak, maka Hanna menenak mungkin saja orangnya yang duduk di sofa warna krem itu.
Laki-laki dengan penampilan sederhana, berambut putih itu.
"Permisi" sapa Hanna. Sontak laki-laki itu mendongak saat melihat Hanna. Dia bergegas berdiri. Hanna yang sama sekali tak mengenal laki-laki itu merasa salah orang. "Oh maaf jika salah orang" Hanna hendak kembali.
"Tidak, kamu tidak salah orang nak, benar kan kamu Hanna? istri Rayyan?"
Deeeg....
Jantung Hanna mendadak berhenti, siapa laki-laki yang ada di depannya? kenapa dia tahu jika dia adalah istri Rayyan. Sedangkan rahasia itu sudah sangat dia jaga.
Kantin kantor nampak ramai karena sekarang adalah jam istirahat. Hanna duduk di sebuah kursi yang ada di pojok ruangan. Laki-laki yang memperkenalkan diri bernama Andre itu nampak menatap Hanna dengan mata sendunya. Gurat-gurat wajahnya yang menua nampak terlihat jelas.
"Sudah berapa lama kalian bersama?" tanya laki-laki itu. "Maaf...bukan bermaksud mencampuri urusan kalian, hanya ingin mengenal orang yang dekat dengan anak saya" jelasnya.
Mendengar kata ayah, membuat Hanna terbelalak.
"Kamu kaget?" gumamnya sambil tersenyum. "Iya ini salah saya sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab"
"Kenapa anda baru muncul sekarang?" Hanna menatap laki-laki itu dengan tatapan tegas.
"Hidup saya tak tenang, jadi sebelum aku pergi, aku ingin dia melihat ayahnya"
Hanna menghela nafas panjang, dia tak pernah tahu permasalahan apa yang terjadi di masa lalu antara Rayyan dan Ayahnya. Yang dia tahu Rayyan begitu dekat dengan Pak Handi selama ini.
"Tolong bantu saya" ucapnya. "Sebelum saya pergi meninggalkan dia, saya harus tenang", Laki-laki itu berharap pada Hanna. "Yang saya tahu, kamu bisa berbicara dengannya, hanya kamu yang bisa menolong saya" harapnya. Laki-laki itu bangkit dari kursinya seraya melemparkan senyum. Dia mengulurkan tangannya pada Hanna, beberapa detik terdiam. Hanna menyambut uluran tangan laki-laki itu.
Tak ada yang bisa dia janjikan pada laki-laki itu, karena saat ini dirinya tengah menjaga jarak dari Rayyan. Baginya, Rayyan adalah masa lalu yang harus dia lupakan.
"Jaga dia" ucap Pak Andre dengan penuh harap. Membuat Hanna sesak. Hingga laki-laki itu meninggalkan Hanna yang masih berdiri mematung.
__ADS_1