Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Persiapan


__ADS_3

Rayyan sudah masuk duluan ke dalam rumah mode yang namanya sudah tidak diragukan lagi, gaun-gaun dan desainnya sudah digunakan di hampir para artis ternama dan juga orang-orang sosialita. Terlihat Rayyan sedang berbincang dengan seseorang dengan akrab, kiranya sedang membicarakan perihal baju yang akan dipesan. Karena wanita yang sedang bicara dengan Rayyan itu mengenakan seragam dengan tulisan brand rumah mode tersebut.


Hanna memperhatikan dari jarak yang tidak jauh dari Rayyan berbincang. Pandangan Hanna beralih ke sebuah ruangan terbuka, di mana ada cermin besar di sana. Dari pantulan cermin tersebut, Hanna bisa melihat dengan jelas sosok yang sangat di kenal.


"Bukankah dia bilang sedang keluar kota,?" gumam Hanna sambil hendak mendekat, gantian kini Rayyan yang memperhatikan Hanna dari posisinya berdiri.


Kia sedang mencoba sebuah kebaya warna pink muda. Hanna menelan ludahnya, jangan-jangan Kia adalah orang yang dimaksud.


"Ki...Kia...," Hanna memanggil Kia setelah dia masuk ke ruangan tersebut. Kia menoleh ke arah Hanna dan tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya. Salah satu pegawai rumah mode yang membantu Kia fitting kebaya pun menganggukkan kepalanya kepada Hanna.


"Hai Han...," Kia nampak sumringah melihat sahabatnya itu datang, sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Hanna. Hanna tersenyum, tetapi hatinya bertanya-tanya, sedang apa Kia di sana.


"Kamu...," Hanna menunjuk Kia dengan telunjuknya. "Kita sedang berjodoh ketemu di sini kan,? kebaya acara apa,?" Hanna mulai penasaran, ingin memastikan jika memang kedatangan Kia dan Rayyan serta dirinya ini tidak ada hubungannya.


"Oh ini, ini persiapan pernikahan," Kia menyunggingkan senyumnya sambil mengelus lengannya dan mematut tubuhnya di depan cermin. "Cantik nggak,?" Kia masih menyunggingkan senyumnya.


"Nikah,? kamu mau nikah,?" Hanna semakin penasaran. Kia hanya tersenyum lalu memegang tangan Hanna.


"Tuh calon mantennya," Kia menunjuk Rayyan dengan dagunya.


Rayyan yang berada di ambang pintu pun tersenyum, Hanna menatap Rayyan, kemudian beralih melihat ke arah Kia dan Hanna bergantian. Hanna semakin merasa aneh. Apakah kedua orang yang dia kenal itu akan menikah.


        Masih belum berhenti rasa kagetnya, tiba-tiba Nayo masuk ke dalam rumah mode tersebut.


"Kak," sapa Nayo tanpa basa-basi.


"Ngapain kesini,?" tanya Hanna dengan wajah heran. Nayo hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Silahkan fitting di sebelah sini mas," ujar seorang pegawai dengan ramah pada Nayo yang bar saja datang.


"Ini maksudnya apa sih,?" Hanna bertanya pada siapa saja yang berkenan menjawab.

__ADS_1


"Mbak, sekalian ini dibawa," Rayyan memerintah pada salah satu pegawai.


"Baik pak," ujar pegawai tersebut mengangguk, lalu dia meminta Hanna mengikutinya masuk ke sebuah ruangan yang lain.


Hanna yang masih belum mengerti pun hanya ikut saja, sebuah ruangan tertutup dengan beberapa kebaya yang sangat cantik itu dilengkapi dengan cermin besar, hampor mirip dengan ruangan yang digunakan oleh Kia untuk fitting tadi.


"Silahkan dicoba kak, yang ini," Sebuah kebaya yang cantik elegan berwarna putih yang dilengkapi ekor panjang yang menempel di punggung kebaya.


"Hah nyoba,?" Hanna mengerutkan dahinya.


"Iya kak," jawab pegawai tersebut dengan ramah, dia bergegas menuntun Hanna masuk ke dalam sebuah ruangan ganti yang ada di dalam ruangan tersebut. "Silahkan kak, nanti saya bantu merapikan,"


Dengan ragu, Hanna akhirnya mengikuti saja apa yang dikatakan pegawai tersebut, meskipun agak kesulitan memakai, akhirnya Hanna keluar dari kamar tersebut. Saat dia keluar, sudah ada 3 orang yang menunggunya, salah satunya wanita cantik dengan tinggi seperti model tersenyum sambil memperhatikan Hanna.


"Ah kiranya sudah pas, tinggal merapikan sedikit saja," ujarnya lega. Hanna tersenyum kaku. Wanita anggun yang sepertinya adalah pemilik rumah mode tersebut menghampiri Hanna dan merapikan kebaya yang dikenakan Hanna sambil sesekali memberikan perintah pada dua pegawainya untuk merapikan kebaya yang menempel di tubuh Hanna. Meminta pegawainya untuk menyesuaikan dengan proporsi tubuh Hanna, agar pas dan cantik saat dipakai nanti.


Setelah memastikan jika kebaya sudah cantik di badan Hanna meskipun dengan bantuan jarum khusus, wanita cantik itu bergegas membawa Hanna keluar ruangan dan memperlihatkan pada Rayyan, Kia, dan juga Nayo.


"Good Job Sab," pujinya. Wanita yang dipanggil Sab itu tersenyum simpul.


"Thanks Rayyan, nanti tinggal dibenahi dikit aja, aman," kedua jempolnya terangkat ke atas. Nampaknya Rayyan sudah sangat akrab dengan wanita tersebut. "Calon mantenmu cantik banget,"


Rayyan tertawa kecil. Hanna kembali mengerutkan kening dan menatap Rayyan seolah sedang mempertanyakan keadaan ini. Rayyan memegang kedua pundak Hanna dari arah depan.


"Yes, kamu orangnya...jadi aku mohon jangan kabur lagi, please...tetaplah di sini," pinta Rayyan dengan sungguh-sungguh.


"Jadi kamu bekerjasama dengan mereka," Hanna menunjuk ke arah Kia dan Nayo yang duduk di sofa warna coklat, yang ditunjuk pun hanya cengengesan.


"Iya," Rayyan menyentil puncak hidung Hanna.


"Curang," seru Hanna.

__ADS_1


Rayyan menggenggam kedua tangan Hanna erat. "Tetap di sini, jangan pergi lagi,"


        Acara fitting baju pun usai, Rayyan membawa Hanna ke sebuah tempat. Sebelum sampai di tempat tersebut, perjalanan yang ditempuh pun agak susah karena harus melewati jalanan terjal yang belum teraspal dengan sempurna.


Mereka tiba di sana pas matahari hampir tenggelam.


"Ini di mana lagi,?" tanya Hanna. Rayyan belum menjawab pertanyaan Hanna, mereka sudah disambut oleh manager hotel, seorang laki-laki muda menyambut mereka dengan ramah.


"Jadi saya akan menunjukkan tempat ini sesuai dengan pesanan yang dilakukan oleh anda,"


Laki-laki itu mengajak Rayyan menuju ke sebuah tempat.


"Ini pak, tadi pimpinan WO juga sudah kesini untuk melihat situasi sekali lagi, dan katanya akan dilaporkan kepada bapak,"


"Iya terima kasih,"


"Silahkan pak," laki-laki itu membawa Hanna dan Rayyan menuju ke sebuah tempat dengan latar belakang pantai yang ada di bawahnya, ditambah dengan pemandangan matahari sore. Sungguh sangat cantik.


"Ini kalau tidak salah yang akan digunakan untuk prosesi pernikahannya pak,"


Diam-diam Hanna terkesima dengan pemandangan yang dia lihat, deburan ombak di bawa sana. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dan rambutnya ikut terburai.


"Baik, saya akan melihat-lihat dulu,"


"Baik pak, silahkan, saya tinggal dulu...jika ada apa-apa saya siap melayani," manager itu pamit meninggalkan mereka berdua.


"Aku adalah laki-laki yang tidak pandai menebak apa yang ada di hati orang yang disukainya, maaf jika aku tidak bertanya terlebih dahulu, tapi semoga ini masuk dalam kriteria wedding dream kamu," Rayyan menatap Hanna lekat.


Kalimat itu berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikiran Hanna, dia merasa Rayyan bisa mengetahui apa yang dia sukai. Diam-diam ini adalah salah satu impian Hanna, menikah di tempat yang indah seperti ini. Rasanya mau nangis, tapi Hanna hanya diam saja.


"Jadi aku mempersiapkan ini secepat mungkin, sekilat mungkin dan serba mendadak banget,"

__ADS_1


Iya, setelah tahu Hanna pulang dan bertemu kembali, Rayyan dengan secepat kilat menghubungi satu per satu vendor. Untung saja dia sudah mengenal mereka, dan Rayyan menjadi salah satu klien prioritas mereka, Sehingga secepat kilat pun disanggupi.


__ADS_2