
Hari yang dinanti para karyawan untuk bisa sedikit healing pun tiba, begitu juga Hanna. Setelah beberapa hari dikejar deadline dan juga banyak banget lembur, akhirnya hari ini bisa cuci mata dan bisa mengendorkan otaknya dari pekerjaan.
"Seneng banget dah akhirnya bisa jalan-jalan," Ratna senyum-senyum duduk di samping Hanna. Mereka menuju kantor yang akan digunakan untuk acara pertemuan. "Jangan lupa nanti aku nginap di rumahmu," Ratna mengingatkan Hanna kembali, toh Hanna nggak mungkin lupa, karena Ratna sudah mengatakan berapa puluh kali. Dan untungnya malam ini Nayo bersedia menemui Ratna untuk ketemu, ya meskipun awalnya ogah. Karena merasa aneh saja ada orang yang mengidolakannya, secara dia merasa dia bukan siapa-siapa.
Perjalanan yang memakan waktu sekirar 2 jam itu pun akhirnya menemui ujung, mobil berhenti di parkir yang telah disediakan. Hanna menunggu Ratna turun terlebih dahulu, Hanna merapikan rambutnya dengan tangan. Sebuah pemandangan yang sebenarnya bukan healing, kendaraan terlihat memenuhi area parkir, itu artinya banyak banget orang yang berada di sana. Tak ubahnya seperti sedang meeting. Hanna menghirup udara dalam-dalam dan akhirnya turun dari mobil, sementara Ratna sudah merentangkan kedua tangannya di luar.
"Han...nanti kamu semeja dengan saya," tiba-tiba Farel mendekati Hanna dan menyampaikan perintah itu. Hanna menoleh.
"Saya,?" Hanna menunjuk dirinya sendiri, Ratna yang tak jauh dari Hanna pun tersenyum-senyum simpul.
"Iya, kamu."
"Masa aku sih Han," sahut Ratna, lalu disambut dengan cubitan kecil dari tangan Hanna ke punggung Ratna.
"Aduuuh," ujar Ratna menjerit kecil.
"Maksudnya...kan...,"
"Aku percaya kamu bisa mendengar dengan baik pemaparan yang ada di sini, jadi...tetaplah di sampingku," titah Frel sembari berlalu, kaca mata hitam yang sedari tadi menempel pun dilepas, terlihat aura ketampanan Farel.
"Woooaaah," Ratna melongo. "Iya kamu Han...kamu, bukan yang lain," Ratna menggoda, dan dia segera menghindar sebelum Hanna kembali mencubitnya.
Hanna mengikuti langkah Ratna dan yang lainnya yang akan memasuki sebuah ruangan, sebelum masuk ke dalam ruangan yang dimaksud Hanna harus melewati lorong sebelum masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke tempatnya.
Sekelebat Hanna melihat seseorang yang dikenalnya, hanya saja Hanna ragu.
"Ah nggak mungkin," Hanna menyadarkan dirinya sendiri.
"Siapa Han,?" tanya Ratna sambil melihat ke arah yang dilihat Hanna.
"Oh enggak...itu tadi, kirain temanku,"
__ADS_1
"Punya teman di perusahaan sini,?" tanya Ratna masih melihat ke arah tersebut.
"Ah lupakan, enggak ada, yuk masuk tuh pintu lift sudah kebuka," Hanna menunjuk pintu lift tersebut, dan lantas mereka masuk ke dalam.
Tiiiing...
Pintu lift terbuka, mereka tiba di lantai 10. Di mana sebuah tempat yang snagat luas berada di sana. Sudah ada banyak orang di sana, acara yang sekiranya disebut sebagai family gathering itu nampak meriah. Di sana sudah ada MC yang sudah cuap-cuap. Hanna melihat-lihat keadaan, sekiranya dia akan duduk di mana.
"Belakang aja Rat," ajak Hanna.
"Eh jangan...kan nanti kamu duduknya semeja sama Pak Farel,"
"Duh...males ih, niat healing malah kerja lagi,"
"Huss nggak boleh gitu, banyak loh cewek yang mau duduk sama Pak Farel tapi nggak kesampaian, kamu malah nolak," Ratna menarik lengan Hanna. Hanna dengan ogah-ogahan akhirnya mau duduk di bangku agak depan, agar lebih dekat dengan Farel yang ternyata sudah duduk di meja depan.
"Aku sini dulu deh, lagian acara belum dimulai,"
"Iya...iya," jawab Hanna akhirnya. Hanna meletakkan tasnya di atas meja. "Duh kebelet nih, mau ke toilet dulu," Hanna pamit pada Ratna.
"Aku temenin,?"
"Nggak usah, tuh jaga tasku, banyak hartanya," Hanna menyeringai.
"Ih...apaan, paling juga dompet yang isinya sama kayak milikku," Ratna tertawa. Hanna sudah melenggang keluar ruangan.
Hanna menyusuri lorong sambil melihat-lihat keadaan kantor yang megah ini. Dan akhirnya dia menemukan toilet. Setelah dari toilet, Hanna bercermin, menata rambutnya dan sedikit menyeka wajahnya dengan tisu. Hanna nampak lelah.
"Hah...nggak burik-burik amat lah," Hanna melemparkan tisu bekas wajahnya ke dalam tempat sampah yang tak jauh darinya berdiri. Hanna bersiap keluar, kembali menyusuri lorong. Dan saat berada di depan suatu ruangan, nampak sebuah pintu yang setengah terbuka, di mana terdengar dua insan yang sedang berbicara terdengar dengan jelas. Tanpa disengaja Hanna melihatnya.
Terlihat seorang gadis sedang mengelap wajah laki-laki yang wajahnya tak asing lagi, darah Hanna berdesir, dia meneguk ludahnya sendiri. Jantungnya berdegup lebih kencang, dunia terasa berhenti berputar.
__ADS_1
"Sudah bersih," ujar suara nyaring itu. Tangan halus itu telah mengusap lembut pipi laki-laki itu. Dua pasang mata melihat ke arah luar pintu, sadar jika Hanna menjadi perhatian dua insan itu. Hanna dengan terburu kembali melangkah dengan perasaan tak karuan. Hanna meremas kedua tangannya sambil terus berjalan, semoga dia lekas sampi di aula agar dia tidak pingsan di sini.
Langkahnya serasa tidak menapak ke tanah, Hanna merasa ingin kabur saja. Kenapa ada di sini?
"Han...kamu kenapa?" tanya Ratna begitu mendapati Hanna kembali dengan raut wajah yang menurutnya aneh. Hanna menarik kursinya kemudian meneguk air yang ada di meja, hampir setengah botol tandas.
"Nggak...nggak ada apa-apa Rat, kenapa,?" Hanna mencoba tenang, mulutnya mengerucut, sambil membuang nafas perlahan, menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu seperti habis melihat setan," Ratna memegang bahu Hanna.
"Hih ada-ada saja," Hanna mengibaskan tangannya ke arah badannya seperti sedang mengipasi dirinya.
"Tuh...kamu keringetan," Ratna menunjuk wajah Hanna yang berkeringat, sontak Ratna mengambil tisu untuk Hanna dan mengelapnya. Sial, adegan ini malah mengingatkan Hanna pada kejadian barusan yang terjadi. Buru-buru Hanna mengambil tisu yang dipegang Ratna dan membersihkannya sendiri.
"Panas," Hanna berujar. Ratna mengerutkan keningnya, karena ruangan ini cukup sejuk, bahkan lebih bisa dikatakan dingin sejak tadi. Jadi dia merasa heran saja saat Hanna mengatakan ruangan ini panas.
"Toiletnya panas,?" Ratna masih kepo.
"Enggak Rat...aman aman...," Hanna tak ingin memperpanjang pertanyaan Ratna yang memang suka kepo.
"Han," panggil Farel.
"Noh dipanggil," Ratna menyenggol Hanna. Hanna mengangguk, tangannya menyambar tas yang sedari tadi berada di atas meja. Kemudian dia pindah tempat duduk di samping Farel, berada di meja depan. Acara inti akan segera dimulai. Suasanya yang tadi riuh dengan musik kini menjadi hening. Di mana beberapa tamu penting sudah mengisi kursinya masing-masing.
Suasana bertambah hening saat seseorang yang dia kenal memasuki ruangan ini, bersama dengan gadis yang dia lihat tadi. Hanna semakin tercekat, rasanya jantungnya kembali berirama tak beraturan. Di mana gadis itu tersenyum simpul menebar pesona, melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Dan dia duduk di samping laki-laki itu.
Farel melihat ke samping Hanna, Hanna pun menoleh. Hanna mencoba terlihat biasa saja, inilah pertemuan pertama sejak dia menghilang tanpa berita. Karena Hanna merasa di meja depan, dia bisa melihat dengan jelas. Dan pada akhirnya mereka bertatap mata.
Deeeg.....
Ada banyak rasa yang mendera, hanya saja tidak bisa membahasakan. Mungkin ada rindu yang menggunung tak terhitung, ada rasa bersalah yang sudah mengakar. Hanna bergegas membuang tatapan itu dan beralih melihat ke arah Farel, mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah itu.
__ADS_1
Hanna terus saja menenangkan dirinya, laki-laki yang dia lihat masih sama. Masih mempesona di matanya, suaranya, tatapannya, hanya mungkin hatinya yang berbeda. Hanna tersenyum hambar, dia layak mendapatkan gadis yang sepadan. Ingin rasanya dia kembali ke toilet dan mengunci dirinya di sana hingga acara usai.