
"Kenapa kamu makan mie?" tanya Hanna, Rayyan tak peduli, dia duduk sambil menikmati sedapnya mie kuah yang dia sudah lama sekali tidak menikmatinya.
Hanna melihat Rayyan yang benar-benar menikmati mie itu, harusnya tidak boleh, jika saja Kamila tahu, maka Rayyan akan kena kartu merah. Karena menurut Kamila, Rayyan tidak boleh makan mie instan, takutnya mempengaruhi suara Rayyan saat perform.
"Setelah ini kamu mau ngapain?" Rayyan menyeruput sisa kuah di mangkoknya, dan mangkok itu kini sudah tandas. Rayyan meletakkan di depannya, lalu dia mengambil air putih dan meneguknya, menyempurnakan makan malamnya itu.
"Mau nyuci piring di dapur" jawab Hanna enteng. Rayyan melihat Hanna sambil tertawa hingga terguncang tubuhnya.
"Kenapa?" Hanna heran.
Rayyan menghela nafas panjang, "Maksudku setelah perjanjian kita usai" Rayyan menegaskan.
Suasana mendadak hening, Hanna nampak berfikir setelah mendengar pertanyaan Rayyan itu. Rayyan juga terdiam, dia ingin sekali tahu apa yang akan dilakukan gadis di sampingnya, setelah gadis itu mendapatkan gelar janda.
"Aku.....aku mau kembali kuliah, dan membantu Ayah kerja, yaa.....seperti sebelum bertemu kamu tentunya" Hanna meringis. "Eh terima kasih ya...dengan kejadian ini, adik aku bisa kuliah dengan baik" Hanna melihat ke arah Rayyan dan tersenyum manis, Rayyan pun ikut tersenyum kecil.
"Jika ada apa-apa setelah kita berpisah, jangan sungkan jika kamu butuh bantuan" Rayyan berbicara layaknya dengan teman lama. Hanna mengangguk, dan itu sepertinya tak akan dia lakukan, dia sadar siapa dirinya, dan dia yakin Rayyan akan dengan cepat melupakan dia.
"Kamu harus hidup dengan baik" Hanna berpesan. Rayyan kembali tersenyum, seolah gadis itu sekarang tahu kehidupannya sekarang, bahwa menjadi selebritas itu tidaklah mudah. Setiap gerak gerik menjadi konsumsi publik.
"Memangnya hidupku tak baik?" Rayyan balik bertanya.
Hanna tertawa, pertanyaan yang sulit dia jawab. Harusnya hidupnya Rayyan lebih baik dari hidupnya, materi bergelimang tak kurang suatu apa.
"Aku akan kembali kesepian" Rayyan tersenyum pias. Hanna kembali melihat Rayyan, laki-laki di sampingnya itu menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Oh maaf...harusnya aku tak membuka percakapan ini" Hanna mendadak merasa bersalah.
"Bukan....kamu jangan merasa serba salah, sejak kapan jiwamu seperti ini?" Rayyan mengolok, Hanna melotot ke arah Rayyan. "Aku merasa sepi, nggak ada yang aku jahili, nggak ada yang masak, nyuci baju lagi"
Hanna semakin memelototkan matanya, "Aku pembantu gitu?" Hanna pura-pura marah.
__ADS_1
Rayyan tertawa, memang perkataannya lebih mengarah kesana tapi bukan itu maksudnya. Tapi dia tidak mengatakannya dengan jujur.
"Bukan...kamu sedikit banyak sudah tahu tentang hidupku Hann, aku kesepian, aku terlihat berbeda di layar dan di kehidupan asli. Aku kelihatan wah saat orang lain melihat, tapi kenyataannya aku begini kan...aku kehilangan Ibuku, dan aku nggak mau tahu tentang siapa Papaku" ungkap Rayyan, Hanna tertegun. Baru kali ini dia mendengar cerita langsung dari Rayyan.
"Ibuku suka masak masakan rumahan, dan entah kenapa dengan masakanmu rinduku terobati, dan ayahmu...." Rayyan tersenyum. "Ayahmu baik....tapi aku tak mau mengingat Papaku" senyumnya kembali datar.
"Kamu masih memendam semuanya?"
Rayyan melihat Hanna, lalu dia mengangguk. "Iya, terima kasih untuk selama ini, dan terima kasih juga untuk ayahmu, maaf sudah membuat kamu menjadi janda" ucap Rayyan tulus. Hanna menelan ludahnya, saat Rayyan mengatakan hal itu, ada yang aneh dengan perasaannya, terasa berat tapi dia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
"Iya sama-sama, dan aku minta maaf juga jika selama ini aku sudah membuat hidupmu tak nyaman, banyak omong dan sedikit banyak ikut campur" Hanna tak lupa minta maaf, karena memang seminggu lagi hubungan mereka akan game over. "Boleh minta sesuatu?" Hanna memohon.
"Katakan, selama aku bisa membelinya, akan aku belikan"
"Bukan, bukan tentang uang" Hanna menimpali, dia tak mau dicap sebagai cewek matre, baginya uang selama perjanjian itu sudah cukup, dia tak akan meminta apapun tentang materi.
"Apa?"
"Jadi datang kan di acara dies natalis nanti di kampusku?" Hanna setengah merayu. Rayyan menghela nafas, ternyata itu.
"Hanya itu, jadi tolong kabulin" Hanna kembali memohon.
"Buat apa? buat pacar kamu?" Rayyan mencibir.
"Siapa? Bian?"
"Nggak tahu, siapa emangnya pacar kamu?" Rayyan balik bertanya. "Menyebalkan"
"Hah? kenapa?"
"Hati-hati kalau pilih pacar" imbuh Rayyan dengan muka tak suka. Hanna tertawa.
__ADS_1
"Please.....ini permintaan terakhir sebelum kita pisah, kabulin ya...." Hanna menangkupkan kedua tangannya. Rayyan tak menjawab.
Tinggal menghitung hari, Hanna akan pulang ke rumahnya, perlahan Hanna membawa pulang barang-barangnya pulang ke rumahnya. Hanna menatap langit kamar mewahnya, dia tersenyum lega, akhirnya dia usai menunaikan tugasnya dan akan kembali ke kehidupan normal.
Sementara itu Rayyan juga tengah berada di kamarnya, kini dia benar-benar selektif memilih pekerjaan. Dia ingin menyembuhkan mentalnya yang belum sepenuhnya sehat. Mungkin setelah berpisah dengan Hanna, dia akan kembali tinggal di apartemennya. Teringat akan apartemennya, Rayyan bangun dari rebahan dan langsung keluar kamar, dia meniti anak tangga dan tepat berada di depan pintu kamar Hanna.
"Tok tok..." Rayyan mengetuk pintu Hanna, Hanna yang tengah menikmati lamunannya akhirnya tersadar jika pintu kamarnya diketok.
Hanna membuka pintu, dan Rayyan berada di depan pintu.
"Ada apa?"
"Ikut aku" ajak Rayyan tanpa menunggu persetujuan Hanna. Rayyan menarik tangan Hanna dan mengajaknya keluar.
"Kemana sih?" Hanna masih kepo.
Rayyan membuka pintu mobil dan sedikit mendorong Hanna agar duduk manis di samping kemudi. Hanna akhirnya menurut, Hanna meraba rambutnya yang acak-acakan dan menyisirnya dengan jari.
Rayyan tak peduli dan melajukan mobilnya. Sebelum Rayyan sampai di tujuan, dia membawa Hann ke salon terlebih dahulu, dia meminta memoles Hanna agar tampil beda dan tidak terlihat seperti Hanna.
Rayyan yang meminta Hanna diam dan tidak banyak bertanya, Hanna pun menurut. Para pekerja salon bekerja dengan maksimal dan cepat, karena Rayyan tak ingin lama-lama. Satu jam usai, Hanna nampak anggun dengan meskipun dengan style kasual, Hanna nampak berbeda dengan rambut palsu lebih panjang.
"Sudah jangan protes" Rayyan seolah tahu jika Hanna akan kembali bertanya, Hanna kembali nurut. Dan Rayyan menggandeng Hanna keluar salon kembali menuju mobil dan kembali melajukannya.
Rayyan tersenyum melihat Hanna nampak kebingungan namun pasrah di sampingnya.
"Jangan lupa pakai kacamata hitam" Rayyan membuka dashboard mobilnya dan mengambul salah satu koleksi kacamata mahalnya, lalu memberikannya untuk Hanna.
"Buat apa? malam-malam pakai begini, nanti aku nggak kelihatan apa-apa kalau jalan" protes Hanna.
"Biar makin glow up" canda Rayyan.
__ADS_1
Mobil berhenti di sebuah basement, Hanna menurut saja. Dan Rayyan turun dan mengajak Hanna masuk ke sebuah mall tanpa masker, tentu saja masyarakat bisa melihatnya dengan jelas. Hanna yang sama sekali tak tahu tujuannya, hanya ikut saja.
Maaf ya readers, maunya up rutin. Tapi karena kesibukan dan kesehatan naik turun jadi beginilah...hiks....sehat selalu semua