
“Haasss,” Rayyan membanting ponselnya, jika biasanya dia selalu mengabaikan berbagai komentar negatif yang julid dari para warganet, tidak sekarang. Terlebih saat komentar tersebut tersemat di media sosial Hanna.
“Bagaimana perasaan dia jika membaca ini,?” Rayyan menggigit bibirnya sendiri. “Mengapa jari jemari mereka sangat jahat, apa salah dia sama mereka,?” Rayyan mengambil kunci mobil, dia baru saja memimpin meeting di R_Pro.
Rayyan melihat jam di ponselnya, 1 jam lagi dia akan melakukan syuting untuk acara talkshow. Jika saja belum terikat kontrak, dia akan meninggalkan acara itu.
“Apakah dia baik-baik saja,?” Rayyan sudah berada di tempat syuting, tapi pikirannya masih saja di Hanna. Bagaimana Hanna menjalani harinya di tempat kerja pertamanya? Bagaimana perasaan Hanna saat membaca komentar para warganet?
Karena Rayyan yakin Hanna membacanya. Sedangkan dia belum bisa melakukan tindakan apa-apa.
Syuting 2 jam serasa sangat lama sekali, setelah selesai. Rayyan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Hanna. Dia bersiap menjemput Hanna. Tapi ternyata Hanna tidak mau karena membawa motor ke kantor.
Rayyan berganti rencana, dia menuju konter makanan dan membeli berbagai macam makanan yang akan dia baw ake rumah Hanna. Karena dia tahu pasti Hanna belum memasak. Tidak ada salahnya makan malam bersama di rumah Hanna.
***
“Han….”
“Hum,?” baru saja Hanna meletakkan minuman bersodanya di tikar.
"Apakah kamu baik-baik saja,?" berapa kali rasanya Rayyan menanyakan hal ini kepada Hanna. Hanna tersenyum.
"Seperti yang kamu lihat, aku sehat dan aku baik-baik saja,"
"Bukan...maksudku, apakah kamu pernah melihat media sosial kamu akhir-akhir ini,?" pertanyaan Rayyan menjurus, dan dia mengucapkannya dengan hati-hati. Hanna kembali tersenyum, lambat laun Rayyan pasti akan menanyakannya.
"Ya, aku baik-baik saja, para pengikutku semakin banyak," Hanna malah berguaru, sedangkan bukan itu yang ingin didengarkan Rayyan. "Apa kamu mengkhawatirkanku,?"
"Kamu pikir aku tidak peduli dengan kamu,? bahkan aku akan menempuh jalur hukum jika memang ini sudah keterlaluan,"
Hanna mengibaskan tangannya, "Hiiis jangan, ngapain susah-susah ngadepin hal beginian,"
__ADS_1
"Ini bukan hal sepele Han, kata-kata mereka bahkan keterlaluan," ucap Rayyan menahan rasa marahnya. Hanna terdiam, matanya menerawang di lampu taman mini yang ada di halamannya, dekat mereka sedang duduk sekarang. Memang iya apa yang dikatakan oleh Rayyan. Kalimat yang mereka ketik di media sosialnya cukup pedas, banyak bullying yang dia terima, body shamming yang luar biasa, hingga yang mengatakan Hanna pakai guna-guna, Hanna per*k juga ada. Hanna memejamkan mata sejenak, lalu kembali melihat Rayyan, tak lupa bibirnya mengembangkan senyumannya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir, hanya karena hal itu, aku tidak akan bunuh diri, aman." Hanna meyakinkan.
"Aku takut kamu akan mundur dariku," Rayyan mengutarakan isi hatinya, yang menjadi salah satu kecemasan yang dia rasakan.
Hanna melihat Rayyan, lalu kembali tersenyum. "Jika takdir menuliskan kita bersama, apapun yang ada di depan kita, seberat apapun itu, maka tak akan menjadi penghalang yang berarti, namun jika memang...."
Rayyan menempelkan telunjuknya di bibir Hanna. "Ssssstttt, aku akan meminta takdir agar kita berdua bisa berssama, aku akan meminta itu," Rayyan menatap mata Hanna lekat. Hanna yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya pun terdiam, mata mereka beradu. Dan Rayyan benar-benar tulus mencintai Hanna. Degup jantung Hanna tidak normal berdetak. Rayyan menarik wajah Hanna dan meletakkan di bahunya, mengelus kepala Hanna dengan lembut.
"Apapun yang terjadi, tetaplah di sisiku," gumam Rayyan.
Malam yang cerah tanpa mendung menjadi saksi, di mana Rayyan tak ingin melihat Hanna disakiti siapapun, Rayyan menyayangi Hanna apa adanya dan tidak peduli apa kata orang. "Jangan pernah pergi, tetap di sini," imbuhnya lagi. Tangan Hanna mengusap punggung Rayyan. Aroma parfum Rayyan yang begitu khas itu dapat dia nikmati dengan leluasa.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku," ucap Rayyan lagi, Hanna menarik tubuhnya dari pelukan Rayyan.
"Kenapa kamu menjadi sangat melankolis, apakah kamu baik-baik saja," Hanna memegang dahi Rayyan dengan punggung tangan kanannya, memastikan jika Rayyan dalam kondisi sehat normal. Rayyan tertawa kecil melihat tingkah Hanna.
"Hum,?" mata Hanna membulat.
"Iya, aku nggak baik-baik saja, karena aku sedang gila, gila karena kamu, aku sedang nggak waras," ujar Rayyan. Pipi Hanna terasa panas dengan gombalan yang sudah umum itu.
"Bucin," Hanna membalas gombalan Rayyan.
"Biarin," jawab Rayyan sambil menatap Hanna, hingga Hanna nampak salah tingkah. "Makanlah lagi," Rayyan menyodorkan makanan yang lain.
"Kamu mau buat aku gendut,?" Hanna menutup mulutnya, karena dia merasa sangat kenyang.
"Kan sudah aku bilang, apapun kamu, aku sudah gini sama kamu," Rayyan mengeluarkan jarinya membentuk finger love.
Oh Tuhan...kesambet apa Rayyan, sungguh membuat Hanna kelimpungan karena rayuan gombal murahan itu. Hanna tertawa sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Oh ya, gimana kerjaan di hari pertama kamu, apa atasan kamu baik,?"
Hanna mengangguk, mengingat Farel yang baik hati, tidak memarahinya hari ini karena terlambat. Hanya itu atasan yang dia tahu, karena dia memang bekerja sebagai staff dari Farel. Jika sang pemilik perusahaan sendiri Hanna belum mengetahuinya. Laki-laki yang umurnya hampir sepanataran dengan Rayyan itu nampak baik bagi Hanna.
"Cewek atau cowok,?" Rayyan penasaran.
"Cowok," jawab Hanna.
"Cakep,?" Rayyan menyelidik.
"Iiiihhh ada yang kepo," Hanna menunjuk dengan telunjuknya sambil menggoda Rayyan, Rayyan membuang muka, agar tidak terlihat dia sedang mengulik Hanna.
"Bukaaann," Rayyan melihat ke arah jalanan yang ramai lalu lalang.
"Cakep," ceplos Hanna. Rayyan menahan perasaannya agar terlihat tidak masalah.
"Kenapa sih kamu nggak kerja di R_Pro saja,?" Rayyan memperjelas sekaligus meminta kembali agar Hanna bekerja di salah satu perusahaannya saja, karena saat magang dulu kinerja Hanna tidaklah buruk. Bahkan bisa menjadi salah satu yang terbaik di antara mahasiswa magang yang lain.
"Aku nggak mau menambah daftar pergosipan negeri ini semakin memanas," jawaban Hanna masuk akal juga. "Bilang aja cemburu," gumam Hanna lirih.
"Apa,?" ucap Rayyan dengan nada keras. Hanna tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya lucu.
"Enggak...enggak apa-apa..." gumamnya sambil mengibaskan tangannya. "Lupakan."
Rayyan nampak gemas melihat Hanna.
"Kamu terlalu banyak nih membeli makanan, rasanya nggak muat ini, mubadzir tau nggak," Hanna melihat makanan yang ada di depannya, bahkan ada yang masih utuh.
"Simpanlah yang masih bisa disimpan, besok bawa ke kantor buat bekal, kalau nggak mau ya udah, besok aku kirim makanan buat kamu ke kantor,"
Hanna mengangkat kedua tangannya, "Eits...nggak...nggak usah...ini sudah lebih dari cukup, sudah kenyang-kenyang ini, nggak usah ya...jangan mubadzir, ini sayang kalau nggak dimakan, besok aku bawa, besok aku angetin, aman," Hanna buru-buru menolak. Apa jadinya kalau anak baru dapat kiriman makanan, ya sebenarnya tidak masalah juga. Hanya saja kalau mereka tahu itu dari Rayyan, wah bisa runyam, ramai, dan bertambah lagi gosipnya.
__ADS_1