Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Ku Kira Ini Prank


__ADS_3

2 buah tas besar sudah berada di depan pintu kamarnya, malam ini juga Hanna akan berangkat ke tempat yang baru guna mempersiapkan diri besok akan bekerja di kantor cabang yang ada di luar kota. Semua serba mendadak.


Nayo baru saja menutup pintu, dia baru saja pulang dari kampus. Terlihat heran dengan tas yang ada di depan pintu kamar Hanna.


"Kak, ini apa,?" Nayo berjalan mendekat ke arah tas Hanna, sedangkan Hanna baru saja menutup pintu kamarnya. Hanna menarik tangan adiknya dan mengajaknya duduk di kursi ruang tamu. Hanna mulai menceritakan apa yang terjadi.


Nayo menghela nafas panjang, inilah keputusan yang diambli oleh kakaknya.


"Apa kakak sudah yakin,?" Nayo melihat gurat kesedihan di mata Hanna, jelas dia menebak jika Hanna baru saja menangis. Hanna mengangguk kecil, senyum terpaksa pun merekah di bibirnya. "Kak...," Nayo nampak iba melihat kakaknya.


"Tidak ada pilihan, inilah yang terbaik,"


"Kenapa mendadak begini kak,? lantas aku sama siapa,?" Nayo sedang berdiplomasi, karena biarpun dia sendirian pun dia bisa. Hanya memang dia mengkhawatirkan kakaknya.


Hanna tersenyum kali ini, mengetahui jika adiknya sedang pura-pura tidak mampu hidup sendirian.


"Ah kamu ini, jangan lebay,"


"Kakak tega ninggalin aku sendirian,?" Nayo masih menegaskan.


"Ini yang terbaik, nanti aku kasih alamatnya kalau kamu kangen sama kakak. Dan ingat, jika Rayyan mencari kakak, tolong jangan kasih tahu, untuk sementara inilah yang terbaik," Hanna berpesan dengan serius. Nayo kembali menghela nafas panjang, dan akhirnya mengangguk. Dia menghargai segala keputusan Hanna.


"Terima kasih anak baik, kamu baik-baik, kuliah yang bener, jika butuh uang, seerti biasa ya...kamu tinggal bilang ke kakak. Nanti kakak transfer," Hanna menatap adiknya.


"Maaf ya kaka selalu merepotkan kakak," Nayo merasa bersalah.

__ADS_1


"Ngomong apa kamu ini, ini sudah kewajiban kakak, kuliah yang bener," Hanna kembali berpesan.


"Iya kak,"


        Nayo mengantarkan Hanna dengan naik taksi online menuju stasiun kereta api. Hanna akan tiba sekitar 2 jam lagi. Perjalanan malam ini akan menjadi pengalaman pertama perjalanan malam dengan kereta.


"Kakak hati-hati, jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai," Nayo tidak tega, sebenarnya dia ingin mengantarkan kakaknya sampai tempat tujuan, tetapi Hanna tidak memperbolehkan karena besok adiknya harus kuliah. Hanna tidak akan mau jika adiknya membolos.


"Iya, kamu baik-baik ya," Hanna memeluk adiknya dengan erat.


        Hanna berada di dalam kereta, dan perlahan kereta berjalan. Perjalanan malam pun dimulai, begitu juga perjalanan kehidupan Hanna yang baru. Hanna melihat keluar jendela, hanya gelap yang dia lihat. Batinnya yang rapuh masih saja merasa bersalah, bagaimana dengan Rayyan? sejauh ini dia menyakiti Rayyan. Bahkan ganti nomer baru agar Rayyan tidak mencarinya.


Hanna memejamkan, merehatkan pikirannya sejenak yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Rayyan. Semoga dia baik-baik saja.


Rayyan nampak sangat frustasi, baju yang dia kenakan sejak tadi pagi masih menempel di badannya. Selain urusan pekerjaan yang menguras pikirannya, Hanna adalah salah satu membuatnya gila. Rayyan mengambil ponselnya dan mencari nomor Hanna, sudah berapa kali dia mencoba memanggil nomor tersebut. Hasilnya nihil, Hanna mematikan ponselnya.


"Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku,?" gumamnya dengan wajah frustasi. Rambutnya nampak berantakan, wajahnya kusut, lelah, semua jadi satu. Rayyan memaksa dirinya untu masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya masih lengkap dengan bajunya. Tangannya mengepal dan memukul tembok yang tidak bersalah.


"Arrrrgggghhhhh," Rayyan berteriak sekeras-kerasnya di kamar mandi. Hampir satu jam dia berada di sana.


Berjuta pertanyaan menggelayut di otaknya, apa yang mendasari Hanna meninggalkan dia begitu saja. Salah apakah dia? Jika memang Hanna merasa lelah menghadapi para penggemarnya yang begitu keterlaluan, setidaknya dia bisa bertindak agar hal itu tidak terjadi.


Buru-buru Rayyan keluar dari kamar mandi dan berganti baju, meninggalkan handuk basahnya begitu saja di kasurnya. Rayyan mencari ponselnya yang tadi dia lemparkan di sofa, Rayyan mencari barang pipih itu dengan melempar bantal sofa yang ada di sana.


"Sial, di mana ponselku,?" Rayyan merasa kesal dengan dirinya sendiri. Dan akhirnya ponselnya ketemu di lantai, ternyata jatuh tergeletak di sana.

__ADS_1


"Hallo....," suara Rayyan terdengar frustasi. "Brengseeeek," Rayyan berteriak.


Tengah malam nelpon aku hanya untuk mengumpatku?. Suara serak Kamila membalas umpatan Rayyan.


"Kamu pasti tahu kalau Hanna pergi,"


Maksudnya apa?


"Mil...nggak usah bohong, kamu yang tahu betapa ruwetnya kehidupanku akhir-akhir ini, aku yakin kamu tahu Mil kamu tahu Hanna kemana," Rayyan terdengar kacau. Mila terdiam sesaat, merasa kasihan dengan apa yang dialami oleh Rayyan.


Rayyan...aku tahu kamu sedih, besok deh aku kesana. Kita ngobrol baik-baik, ini sudah malam, istirahatlah. Perintah Kamila pada Rayyan yang terdengar sedang membujuk seperti bujukan Ibu ke anaknya. Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar dan mengangguk kecil, lalu menutup panggilan telponnya.


Ponsel yang baru saja dia gunakan untuk menelpon Kamila itu kembali dilempar ke sofa kembali. Rayyan mendekat ke arah jendela kamarnya, membuka gorden kamarnya dan melihat ke arah gerbang rumahnya. Berharap ada seseorang yang berada di sana. Namun nihil, tidak ada siapapun di sana kecuali security rumahnya.


Berharap Hanna hanya bercanda, ternyata ini nyata. Rayyan memegang dadanya, terasa sesak, batinnya terasa sakit. Kenapa harus dengan cara seperti ini Hanna meninggalkannya. Ini tidak adil baginya, kenapa tanpa alasan yang jelas. Dan kini Hanna malah menghilang.


Rayyan mengambil jaket warna hitam dan bergegas keluar dari kamarnya, meniti anak tangga dan mengambil kunci mobil di tempatnya. Segera dia keluar rumah di tengah malam tanpa peduli apapun. Rayyan masuk ke dalam mobil dan security membukakan pintu gerbang untuknya. Tidak ada rasa kantuk yang dia rasakan, benar-benar kacau hidupnya.


Rayyan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, tujuannya hanya satu, rumah Hanna. Karena Rayyan khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan Hanna. Sesampainya di depan pagar rumah Hanna Rayyan mematikan mesin mobilnya, dilihatnya rumah itu dengan seksama. Terlihat lampu teras menyala, berarti Hanna masih ada. Karena tengah malam, tak enak rasanya jika dia harus membangunkan isi rumah Hanna. Mau menelpon Nayo pun tak enak rasanya.


Di tengah resahnya, Rayyan kembali masuk ke dalam mobil dan kembali menyalakannya. Mobil kembali berjalan tanpa tahu kemana dia akan pergi sekarang.


Rayyan mengusap wajahnya berkali-kali dengan rasa frustasi. Dan akhirnya Rayyan kembali pulang ke rumah menjelang subuh. Rayyan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu dan memejamkan matanya, menikmati sisa waktu untuk tidur sebelum menghadapi rutinitas pagi nanti.


Dia mengira jika hari ini adalah kejutan, dia mengira hari ini adalah prank. Atau semua ini hanya mimpi? siapa tahu setelah bangun dan membuka mata, dia akan melihat Hanna tersenyum di hadapannya. Rayyan tertidur dengan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2