
3 Bulan Kemudian
Hari yang berat perlahan mulai melandai, tetapi bukan berarti luka itu sudah sembuh sepenuhnya. Hanna menjalani hari dengan masih membawa luka, meskipun dia bisa tertawa tapi tidak bisa dipungkiri dia masih saja mengingat tentang Rayyan. Bagaimana kabar dia sekarang? karena yang dia tahu Rayyan mulai jarang tampil di televisi. Jika dikatakan dia tidak rindu jelas itu bohong. Dalam lubuk hati terdalamnya, dia sangat merindukan Rayyan.
"Melamun saja oi," suara itu mengagetkan Hanna yang sedang melamun sambil menopang dagu di meja kerjanya. Kerja di kantor cabang membuatnya nyaman, karena teman-teman yang lebih bersahabat dan menerima dirinya dengan baik. Tidak ada yang membullynya. Dan meskipun mereka tahu siapa Hanna, mereka tidak memperdulikan itu terlalu dalam.
"Ih Ratna....kenapa ngagetin," Hanna mengibaskan tangannya pura-pura marah pada temannya itu. Sedangkan Ratna meringis tertawa.
"Lagian melamun aja kamu ini, nglamun apaan? kepo," Ratna menarik kursi yang berada agak jauh dari Hanna, dan meletakkannya di depan Hanna. Mumpung masih jam istirahat. Tangannya pun mengambil camilan yang ada di toples di atas meja Hanna tanpa permisi, sudah menjadi kebiasaannya dan Hanna juga tidak keberatan.
"Mau tau banget,?" Hanna mendekatkan wajahnya pada Ratna lalu tersenyum menggoda temannya yang kepo tapi baik itu.
"Eh kamu nggak pulang gitu,?"
"Pulang kemana,?" tanya Hanna.
"Ya ke rumah kamu lah, masa ke kontrakan mulu," Ratna mengedipkan matanya. Karena dikontrakan dia sudah sangat sering, sedangkan di rumah Hanna yang sebenarnya dia belum pernah.
"Kenapa emang,?"
"Ya kan aku bisa ikut," Ratna menimpali sambil menaik turunkan alisnya. Hanna mengangguk-angguk mengerti, karena dia tahu maksudnya Ratna. Ratna adalah salah satu fans Nayo meskipun belum pernah melihat Nayo secara langsung.
"Adikmu super tampan, keren, calon dokter, gila banget nggak sih," Ratna nampak tertawa-tawa sendiri. Hanna menggelengkan kepalanya. Kok ada teman macam Ratna yang super heboh ini. Benar-benar super heboh. Ratna adalah salah satu teman yang dekat dengan Hanna.
"Nggak boleh, nanti dikiranya adikku jalan sama nenek-nenek," Hanna tertawa ngakak. Ratna cemberut, membuat Hanna semakin tertawa terbahak-bahak.
"Ih gini-gini masih muda tahu nggak sih, paling juga selisih berapa tahun, masih pantas lah bersanding dengan calon dokter," Ratna benar-benar edan, membuat Hanna semakin menggelengkan kepalanya. Hanya berbekal melihat wajah adiknya lewat media sosial saja membuatnya seheboh ini. "Kalau pulang aku mau ikut ya...," Ratna memegang tangan Hanna, "Setidaknya aku bisa melihat wajah adikmu," Ratna terkekeh.
__ADS_1
"Iya...," akhirnya itu yang diucapkan oleh Hanna, agar Ratna tak heboh lagi dengan adiknya itu.
"Eh tahu nggak, kalau nggak salah minggu depan kita akan ada pertemuan semacam study banding gitu di perusahaan luar kota,"
"Tahu dari mana,?" Hanna memainkan bolpoin yang ada di atas mejanya.
"Pak Haris," jawab Ratna, Haris adalah pimpinan yang ada di kantor ini. "Dan sepertinya kita berangkat nanti,"
"Kok info kamu secepat ini bahkan yang berangkat saja sudah tahu,"
"Huh...Ratna gitu loh, sat set wus wus, pokokya kamu nggak rugi kalau punya adik ipar seperti aku," masih saja Ratna mengiklankan diri.
"Terus di mana itu,?"
"Nah itu yang belum tahu," jawab Ratna.
"Yah katanya sat set, gitu nggak tahu,"
***
3 Bulan yang penuh perjuangan untuk Rayyan. Selain berjuangan untuk perusahaan yang hampir saja colaps, Rayyan juga harus berjuang mati-matian untuk bisa keluar dari bayang kesedihan karena ditinggalkan oleh Hanna. Sampai detik ini dia tidak mendapatkan info apapun tentang Hanna. Benar-benar dia tidak meninggalkan jejak apapun. Pada awalnya dia benar-benar frustasi dengan keadaan yang dia hadapi. Tapi seiring berjalannya waktu dia bisa sedikit merelakan. Jika suatu saat bisa bertemu, semoga bisa bertemu dengan situasi apapun dia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak, silahkan ditanda tangani berkasnya," suara itu membuyarkan lamunan Rayyan.
"Oh, iya," Rayyan kembali ke keadaan nyata, lamunan tentang Hanna menguap. Rayyan mengambil bolpoinnya dan segera menandatangani berkas yang disodorkan oleh sekertarisnya. Rayyan yang harus memilih karir, antara tetap berada di dunia entertainer dan juga karir di perusahaan. Nyatanya Rayyan memilih jalan ini, bukan tanpa alasan. Jika suatu saat nanti Hanna kembali padanya, Hanna bisa terlepas dari hujatan para warganet yang tidak menyukainya. Rayyan lebih suka berada di belakang layar untuk saat ini. Sesekali dia muncul untuk acara yang singkat saja dan benar-benar dia sukai.
"Terima kasih pak," ujar sekertarisnya.
__ADS_1
"Ok," jawab Rayyan singkat. Kemudian sekertarisnya bergegas keluar sambil membawa berkas yang sudah ditanda tangani oleh Rayyan.
Tidak sia-sia apa yang dilakukan oleh Rayyan, perusahaannya perlahan bangkit. Para investor kembali mempercayainya. Perusahaan perlahan berkembang kembali dan sepertinya akan semakin berkembang dengan baik. Itulah keyakinan yang Rayyan pegang. Rayyan kembali menata hidupnya dengan tidak lagi berteman dengan sembarang orang agar tidak kembali terjebak dengan masalah yang sama. Hidupnya kian tenang meskipun dia merasa kesepian.
Banyak sekali para gadis yang mulai mendekat, karena mereka tahu Rayyan benar-benar tercampakkan oleh Hanna. Bukan tidak ada cacian, di saat Hanna sudah tidak ada di sampingnya pun Hanna masih mendapatkan caci maki. Dikatakan Hanna adalah gadis yang tidak bersyukur dan tega meninggalkan Rayyan seenaknya. Rayyan mulai paham kelelahan Hanna kala itu.
Rayyan mengusap wajahnya, sudah terlihat rapi kini. Berbeda dengan hatinya yang kosong dan hampa.
Tok...tok...tok....
Terdengar pintu ruangannya kembali terdengar diketuk. Rayyan benar-benar sudah terbiasa berada di ruangan ini.
"Masuk," perintah Rayyan.
Terdengar bunyi pintu dibuka, Rayyan menoleh ke arah pintu tersebut dan terlihat salah satu OB membawa sebuah kotak berwarna biru.
"Permisi pak, ini ada paket,"
"Hum?" Rayyan melihat kotak yang dimaksud. "Dari,?"
"Kurang tahu pak,"
"Hehm...ya sudah, sini," Rayyan mengulurkan tangan menerima kotak tersebut.
"Baik, ini pak. Saya permisi,"
Rayyan mengangguk, "Terima kasih mas," ujarnya. Dan OB pun kembali keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Rayyan meletakkan kotak tersebut di meja, membuka tutupnya dan ternyata berisi coklat. Rayyan mengangkat alisnya, merasa heran karena masih saja mendapatkan kiriman dari penggemarnya.
Rayyan menutup kotak itu kembali dan tidak menyentuh isinya, dia akan memberikan coklat tersebut pada yang mau saja. Rayyan sedang menikmati menjadi orang biasa, dan dia cukup menikmatinya.