
"Hati-hati ya..." Hanna memeluk adiknya hingga beberapa lama, rasanya berat ditinggalkan adiknya walau hanya beberapa bulan saja. Pasti dia akan merindukannya, begitu juga ayahnya.
Selepas Hanna memeluk Nayo, Pak Handi pun memeluk Nayo sebelum masuk ruang tunggu keberangkatan.
"Hati-hati di jalan, belajar yang bener, yang tekun, dan jaga kakak kamu nantinya" pesan Pak Handi.
"Ayah...kenapa ayah bilang seperti itu, hingga kini Ayahlah pahlawan kita" Nayo tersenyum menatap ayahnya lekat, lelaki sepuh yang tak kenal lelah berjuang untuk anak-anaknya itu.
"Berangkatlah nak" mata Pak Handi berkaca-kaca. Nayo menarik kopernya dan segera masuk ke ruang tunggu. Hanna melambaikan tangannya hingga punggung adiknya sudah tak terlihat lagi.
"Kita kemana yah?" tanya Hanna pada ayahnya yang masih duudk di sebuah kursi. Pak Handi nampak tersenyum, dalam hatinya dia bangga dengan anak-anaknya yang kini berjuang untuk mandiri.
"Tak terasa kalian sudah besar, dan ayah sangat bangga pada kalian" ucapnya.
"Berkat ayah" Hanna ikut duduk di samping ayahnya.
"Tinggal ayah menunggu kamu menikah" ucap Pak Handi, Hanna melihat ke samping, melihat wajah Pak Handi.
"Kan aku sudah menikah" kilah Hanna sambil bercanda.
"Ya itu diseriusin" balas Pak Handi. Hanna tersenyum kecil, menertawakan dirinya.
"Nanti lah yah" Hanna berkilah.
"Jangan nanti-nanti, keburu ayah nggak bisa lihat kamu menikah beneran, dan Rayyan adalah pria yang baik"
"Ayaaah....jangan ngomong begitu" Hanna menggelayut di lengan ayahnya. "Yuk ah pulang" Hanna menarik pelan lengah ayahnya, dan mereka meninggalkan bandara.
Mereka hendak berjalan keluar dan menunggu datangnya taksi online yang Hanna pesan.
"Yah..."
"Hehm...?" Pak Handi menoleh, Hanna masih bergelayut manja di lengannya.
"Ayah nggak ingin menikah lagi?" pertanyaan Hanna membuat ayahnya menghentikan langkah.
"Untuk apa?" tanya ayahnya gemas dengan memasang wajah lucu, matanya membulat dan bibirnya dimanyunkan.
__ADS_1
"Ya biar ayah ada teman masa tua"
"Enggak...cukup kalian saja, dan kalaupun nanti kalian menikah, ayah akan menikmati masa tua di rumah sendirian saja, nggak mau nikah lagi" jawab Pak Handi sambil tersenyum. Sebenarnya tidak masalah bagi Hanna jika ayahnya ingin menikah lagi.
"Ayah belum bisa melupakan Ibu?"
"Begitulah" jawabnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan keluar. Dan taksi yang dipesan pun sudah sampai.
***
Hanna membersihkan halaman rumahnya dari daun kering, udara sore yang jarang dia nikmati saat dia harus ke kampus atau magang. Kini Hanna benar-benar menikmati aktivitas sorenya, selain menyiangi rumput di taman mini depan rumahnya. Hanna juga mengumpulkan daun kering menjadi satu. Dia nampak bahagia. Sementara Pak Handi sedang berada di dalam, melakukan rutinitasnya.
"Selamat sore, dengan mbak Hanna?" tanya seseorang dengan jaket merah, khas seorang kurir. Hanna yang tangannya masih belepotan dengan tanah itu mendongak.
"Iya" jawabnya. Hanna bergegas menyalakan kran air dan mencuci tangannya, kemudian mendekat ke arah kurir.
"Ada paket" orang tersebut menyerahkan sebuah amplop coklat dengan namanya.
"Oh terima kasih ya mas" sahut Hanna, matanya masih memandangi amplop tersebut, tidak ada nama pengirim.
Hanna kembali mengelap tangannya dengan kaosnya, memastikan tangannya benar-benar kering dan tak membuat kertas yang dia pegang kotor. Hanna membuka perlahan map coklat tersebut dan menarik sebuah lembar kertas yang ada di dalamnya.
"Dia melakukannya dengan benar" ucapnya dengan perasaan tak karuan. Hanna masuk ke dalam rumah dan menyimpan surat tersebut. Dan dia kembali lagi menata kebun mininya, namun lagi-lagi fokusnya hilang.
Senja tiba, Hanna menyudahi aktivitasnya dan segera maembersihkan diri dan melaksanakan kewajiban ibadahnya. Kemudian menyiapkan makan malam untuk dia dan ayahnya.
"Yah makan dulu" ajak Hanna, ayahnya yang baru selesai mengaji pun mengangguk. Laki-laki itu meletakkan kacamatanya dan segera bergabung dengan Hanna di meja makan.
Hanna dengan cekatan mengambil piring untuk ayahnya dan mengambilkan nasi, sayur, serta lauk.
"Terima kasih anak ayah yang demplon" Pak Handi memegang sendok, Hanna meletakkan piring yang sudah siap tersebut di depan ayahnya.
"Sama-sama ayah ganteng" balas Hanna dengan senyum cerianya.
Hanna melirik ke kursi yang biasanya diduduki oleh Nayo, kini kursi itu kosong.
"Anggap saja dia sedang mengerjakan tugas dan belum pulang" sahut Pak Handi menyadari jika Hanna sedang memikirkan adiknya itu. Hanna mengangguk dan melanjutkan makan.
__ADS_1
Hanna merapikan piring bekas makan dia dan ayahnya, menumpuknya di meja dekat dengan dia.
"Yah"
"Hehm...?" Pak Handi melihat ke arah Hanna. Hanna sengaja menunda membersihkan piringnya.
"Aku sudah resmi bercerai dari Rayyan"
Mimik wajah Pak Handi berubah, kini nampak tidak seceria tadi. Ada rasa kecewa yang dia rasakan, harapannya, anak perempuannya itu benar-benar bisa bersama dengan Rayyan. TapiĀ harapan itu kandas.
"Oh, iyakah? kapan itu?" Pak Handi berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Tadi sore" ucap Hanna lirih, mencoba untuk tersenyum.
"Oh...iya, apa anak ayah baik-baik saja?" Pak Handi masih saja menomor satukan perasaan anaknya. Hanna mengangguk.
"Aku baik-baik saja ayah" Hanna kembali tersenyum.
Saat hati dan bibir tak bisa saling bekerja sama, inilah rasanya. Hanna merasa galau, dia sudah resmi menyandang status janda di hari ini. Bahkan Rayyan pun tak mengabarinya.
Ah, sial apakah Hanna benar-benar ingin disapa oleh Rayyan? atau sekedar Rayyan say hello?. Hanna memukul dahinya dengan tangannya, berharap otaknya bisa bekerja dengan normal. Ini yang dia inginkan, dan harusnya di bahagia.
Netranya kembali membaca kata demi kata yang tertera dalam akta cerai tersebut, menghela nafas panjang dan berusaha menerimanya keadaan ini.
Hanna memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam amplopnya, dia beringsut dari kursi tua yang ada di depan meja riasnya dan membuka lemarinya. Menyimpan amplop itu di sana.
Yeeeah janda, apa yang akan terjadi saat teman-temannya nanti tahu jika berstatus janda sekarang? dan bagaimana reaksi calon suaminya nanti? Benar-benar membuatnya galau.
Hanna meraih ponselnya, sama sekali tak ada pesan dari Rayyan.
"Sial...kenapa malah selalu memikirkan dia?" gumamnya, memejamkan matanya, tangannya masih memegang ponselnya. Ada panggilan masuk, Hanna terkesiap.
Ada rasa kecewa yang muncul saat nama yang tertera di ponselnya ternyata bukan Rayyan.
"Ya hallo" sapa Hanna. Suara Panji di sana.
"Ngapain?" tanya Hanna.
__ADS_1
Pokoknya kita harus ketemu.
"Iya deh, besok sepulang magang ya? di mana? oh tempat biasa? iya..." Hanna menjawab, dan panggilan singkat pun berakhir. Hanna meletakkan ponselnya begitu saja di ranjang. Lalu dia merebahkan diri di sana.