
Hanna memegang erat buket bunga dari acara pernikahan tadi. Hanna memegang handle pintu mobil dan hendak keluar, dia sudah tiba di depan pagar rumahnya. Belum juga Rayyan membukakan pintu mobil itu, Hanna sudah keluar dengan mata berair.
"Han...kamu kenapa,?" tanya Rayyan heran seketika melihat air mata Hanna. Hanna menggeleng tanpa mengucapkan sepatah jawaban. "Han...kamu baik-baik saja kan? kamu nggak sakit kan,?" Rayyan memastikan. Hanna mengangguk. Hal ini membuat Rayyan heran, lantas apa yang membuat Hanna menangis? apa dia salah pada Hanna.
"Han...," Rayyan memegang tangan Hanna yang masih memegang buket bunga itu.
"Apa aku sedang bermimpi,?" tanya Hanna sembari mengusap air mata dengan tangan kirinya. Rayyan menggandeng tangan Hanna dan mengajaknya masuk terlebih dahulu, setidaknya mereka tidak berada di jalan saat mengobrol dengan keadaan seperti ini. Dan kini mereka sudah berada di teras rumah Hanna.
Rayyan memegang pundak Hanna, lalu mendekatkan ke arah tubuhnya, memeluknya dengan lembut. Entah apa yang sedang dirasakan oleh Hanna, dia ingin menenangkan.
"Terima kasih sudah sudi mencintaiku," ungkap Hanna sembari kembali mengurai air matanya. Rayyan masih mengelus punggung Hanna. Belum ada kalimat yang meluncur dari bibirnya, baginya ucapan Hanna terlalu berlebihan, seolah Hanna tak layak dicintai olehnya.
"Kita sama-sama saling menemukan, dan kita harus bahagia," jawab Rayyan akhirnya. Perlahan Hanna menarik tubuhnya, tak peduli dengan wajahnya sekarang yang berantakan, dia memberanikan diri menatap Rayyan. Wajah yang tampan, keren, dan nyata itu ada di depannya. Jika selama bertahun-tahun dia mengidolakan dan hanya berbicara serius di depan posternya, kini makhluk itu nyata di depannya. Dan baru saja melamarnya.
Hanna memejamkan matanya perlahan sebelum kembali menatap keindahan yang ada di depannya.
"Jika ayah masih ada, pasti dia akan menjadi salah satu orang yang bahagia hari ini,"
Rayyan mengangguk, ini adalah salah satu mimpi dari ayah Hanna, bagaimana dia menginginkan Rayyan dan Hanna bersatu dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan hanya sebatas kontrak.
"Ayah pasti bahagia," jawab Rayyan.
"Ah...nggak seharusnya kita mellow seperti ini," Hanna mencoba tersenyum, dia menarik nafas dan membuang rasa galaunya. Sebenarnya yang dia rasakan adalah terharu, hanya saja banyak yang dia pikirkan hingga membuatnya teringat ke ayahnya yang membuatnya dia sedih.
"Nah itu dia," Rayyan menyentil hidung Hanna. Hanna tersenyum.
"Em...apa setelah ini aku akan benar-benar dikejar wartawan,?" tanya Hanna dengan nada setengah bercanda. "Ah merepotkan sekali punya pacar artis beken," Hanna menyibakkan poninya yang entah bagaimana bentuknya. Rayyan tersenyum lalu membenahi poni Hanna.
"Bilang saja dengan lantang, dan bilang kalau kamu tak takut apapun," perintah Rayyan dengan santi.
__ADS_1
"Kamu beneran tak takut karirmu meredup gegara punya pacar dari kalangan seperti aku,?"
Rayyan menghela nafas panjang, "Sudah berkali-kali aku katakan, aku nggak takut apapun Han, sudah cukup aku berada di dunia artis kalaupun akhirnya akan meredup, roda itu berputar, bukan begitu,?" Rayyan membalikkan pertanyaan.
Hanna mengangguk, "Ya...ya...,"
"Jadi mulai sekarang, baik-baiklah ya...jangan nakal," Rayyan mengusap kepala Hanna.
"Memangnya aku pernah nakal,?" Hanna bertanya. Karena dia merasa selama ini dia baik-baik saja, nggak ada nakal-nakalnya, atau hanya karena dia berada di satu payung yang sama dengan Farel itu adalah sebuah kenakalan?.
"Kebalik ih, karena di sini yang banyak dikenal adalah kamu, banyak fansnya, jadi..." Hanna tak melanjutkan kalimatnya.
"Sudahlah...lekas masuk wahai Nona Hanna, karena ini sudah malam, dan kamu harus istirahat, besok kembali kerja, dan selamat menikmati hari-hari yang sibuk," Rayyan tersenyum penuh arti. Hanna tahu maksudnya, pasti ini akan berkaitan dengan berita yang akan muncul.
"Ya...ya...ya udah, kamu balik dulu gih, aku masuk setelah kamu pulang," Hanna tergelak, mengusir Rayyan secara halus.
"Ih...,"
"Jiah...diusir nih,"
"He em."
"Ya udah," Rayyan mendekat dan mengecup dahi Hanna dengan kilat, sehingga Hanna tak sempat menghindar.
"Ih curang," Hanna memegang keningnya, sementara Rayyan sudah berlari hampir sampai di pintu pagar Hanna, wajahnya sumringah karena sudah berhasil menjahili Hanna. Hanna melihat Rayyan masuk ke dalam mobil, dia masih mematung di teras menunggu hingga Rayyan berlalu.
***
Matahari pagi bersinar cerah, meskipun biasanya nanti agak sorean berubah menjadi mendung, bahkan hujan deras. Hanna sudah naik ke atas mojor kang ojol dengan tenang dan damai menuju kantor. Sudah 2 hari dia tak pulang dengan mengendarai motornya. Dan bagaimana nasib motornya yang konon rusak itu.
__ADS_1
Tak berapa lama motor kang ojol pun sampai di kantor, Hanna turun dan menyerahkan helmnya serta membayar ongkosnya. Hanna berjalan masuk kantor sambil membenahi rambutnya yang agak berantakan setelah melepaskan helm.
"Eh...mbak Hanna...," sapa beberapa karyawan yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya. Hanna yang merasa disapa pun enggan memasang wajah jutek, jadi dia melemparkan senyum manisnya.
"Ih romantisnya," timpal yang lain. Hanna lagi-lagi tersenyum manis, lebih tepatnya dimanis-maniskan. Inilah yang dimaksud Rayyan kemarin, heboh.
Hanna berhasil masuk ke ruangannya setelah beberapa kali diberhentikan oleh beberapa karyawan yang kepo dengan berita lamaran Hanna yang romantis itu. Ada yang menganggap bahwa itu adalah sebuah prank, sebuah gimmick, bahkan sebuah reality show. Ah apapun itu, Hanna tidak peduli, bahkan dia senang jika mereka menganggap hal itu bukanlah hal yang nyata.
Sebuah uluran tangan menggantung di udara, tepat di hadapan Hanna. Hanna yang baru saja menyalakan layar komputer segera mendongak melihat sang empunya tangan.
"Pak...," Hanna menyapa Farel, sang pemilik uluran tangan. Dengan ragu Hanna menyambut uluran tangan Farel tanpa tahu maksud sebelumnya.
"Selamat atas lamarannya," senyum Farel mengembang.
"Eh...te...terima kasih pak," jawab Hanna sambil merasa darimana Farel tahu. Tangan mereka sudah tak lagi berjabat, dan Farel juga sudah berada di mejanya yang tak jauh dari meja Hanna.
"O ya Han, motor kamu sudah siap," Farel membuka sebuah map dan memeriksanya.
"Oh...ah apa pak,?" Hanna nampak kurang fokus.
"Motor kamu yang ngadat kemarin sudah beres,"
"Kok bisa pak,?" tanya Hanna.
Farel tersenyum, "Iya, sudah di bawa ke bengkel kemarin sore sama orang kantor, jadi sudah bisa kamu kendarai nanti saat pulang,"
Alah, hal ini membuat Hanna semakin sungkan dengan Pak Farel yang baik hati itu.
"Bapak kok repot-repot...terima kasih Pak,"
__ADS_1
"Nggak repot, orang bukan aku yang bongkar mesinnya," Farel terkekeh. Mereka bercakap dari kursi masing-masing. Andai saja bisa memilih, dia ingin kerja dengan nyaman di ruangan yang berbeda saja dengan Farel. Karena ini sungguh membuatnya tak nyaman dan kikuk. Farel tersenyum kecil sambil memperhatikan Hanna yang kembali fokus ke layar komputernya. Sementara Hanna sebenarnya hanya pura-pura fokus, bekerja satu ruang dengan Farel membuatnya kurang leluasa, entah apa alasannya.Tuan