Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Yes


__ADS_3

"Han...wanna be with me?"  Bian kembali mengulang maksudnya. Hanna yang sedari tadi bengong seolah terpaku pun akhirnya mengangguk, dia menunduk sambil menahan senyumnya. Bian dengan bahagia mengangkat kedua tangannya ke atas seperti anak kecil yang sedang sangat bahagia mendapatkan barang kesukaannya.


"Thanks Han" ujarnya kemudian, Hanna kembali mengangguk. Gadis yang biasanya tak gentar apapun itu mendadak seolah tremor karena menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak sulit itu, tapi entah mengapa dia sulit menjawab, ini lebih sulit dari soal ujian dari Pak Ibra.


Rasa bahagia tak bisa dia sembunyikan, Hanna menatap langit-langit kamarnya dengan berbinar-binar, akhirnya dia mendapatkan mimpinya menjadi nyata.


"Mas Bian" ujarnya lirih, tak henti senyum merekah di bibirnya. Bahkan dia begini ini sama sekali lupa jika statusnya masih sebagai istri Rayyan. Hanna teringat akan ponselnya yang sedari tadi tak ia lihat.


Hanna meraih ponsel yang sebenarnya sangat dekat dengannya, yaitu di tempat tidur, karena Hanna juga berada di sana sedang rebahan. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bian, dan juga beberapa pesan. Selanjutnya dari Meta, mengingatkan untuk besok. Dan satu pesan dari Rayyan.


Hai...lagi apa? aku lagi di luar kota, pesan sesuatu khas sini?


Tak lupa Rayyan mengiriminya sebuah foto di mana foto tersebut menjadi salah satu icon dari kota yang dia kunjungi. Hanna hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya.


Apakah yang dilakukan terlalu sombong? terlalu angkuh? Hanna mengubah posisinya menjadi duduk. Dia masih memandangi pesan dari Rayyan, tak ada keinginan untuk membalasnya.


Hanna merasa ini bukan kesombongan, hanya saja untuk sekarang, dia harus realistis, tak ada gunanya dia memimpikan hal yang tidak nyata. Dan dia merasa Rayyan bukan hal nyata. Hanna tersenyum hambar, bagaimana laki-laki itu pernah tidur di sini bersamanya. Potret wajahnya pernah menghiasi kamarnya.


"Aku yakin, kamu pasti punya rencana kenapa kamu masih belum melepaskan aku" gumamnya. "Sebegitu bermanfaatkah aku bagi karirmu?" Hanna berkata dengan sinis. Semakin kesini, seolah dia hilang simpati pada Rayyan yang tak juga melepasnya, tapi di sisi lain dia juga kasihan.


        ***


Rayyan yang baru saja menyelesaikan syutingnya segera kembali ke villa tempat dia menginap, kembali mengecek ponselnya yang sedari tadi masih belum terbaca oleh Hanna. Rayyan merasa bahagia saat ternyata pesannya sudah menjadi biru, itu tandanya sudah dibaca oleh Hanna. Tapi tak ada respon dari gadis itu. Rayyan tersenyum kecut, mencoba menghubungi, tapi tidak jadi. Rayyan melihat jam yang ada di layar ponselnya sudahh menunjukkan pukul 11 malam. Dia tidak mau mengganggu Hanna.


Rayyan mengetik pesan yang dia yakini tak akan mengganggu ketimbang suara dering telpon darinya.


Suatu hari aku ingin mengajak kamu kesini


Rayyan kembali menuliskan pesan pada Hanna. Hanna yang masih belum tidur melihat pesan tersebut dari layar depan, sehingga akan terlihat dia tidak membaca pesan tersebut. Hanna mendengus.


"Ngapain? nyuciin bajunya apa?" Hanna ingin tertawa, dia tidak merasa marah, dan memang terkadang Rayyan itu random.

__ADS_1


Hanna men-silent ponselnya dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidurnya, Hanna meregangkan kedua tangannya lalu merapatkan selimut dan memejamkan matanya.


Morning sweety...


Satu pesan masuk dari Bian, Hanna yang merasa bahagia segera membuka pesan tersebut lalu membalasnya.


Morning juga mas


Jawaban Hanna standar.


Maaf, hari ini nggak bisa nganter kamu, semangat ya...


        Hanna bergegas turun dari tempat tidur dan segera keluar kamar untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh. Rumah masih sepi, biasanya ayahnya jam segini sudah duduk di kursi ruang keluarga untuk mengaji. Hanna yang baru kembali dari kamar mandi tak segera mengecek keberadaan ayahnya, dia melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu.


Hanna yang baru saja selesai sholat segera mengetuk perlahan kamar Pak Handi.


"Yah...ayah sudah bangun?" Hanna kembali mengetuk. Tak ada jawaban, Hanna membuka perlahan pintu kamar ayahnya yang tak dikunci itu. Ayahnya mengatakan tak akan mengunci pintunya, guna memudahkan anak-anak mencarinya. Hanna melihat ayahnya masih tertidur nyenyak di kamarnya. Hanna mendekat, melihat nafas ayahnya halus teratur. Hanna lega, melihat ayahnya baik-baik saja.


"Ah...kenapa Han? hah ayah kesiangan ya?" Pak Handi mengucek matanya dan mencoba turun dari tempat tidurnya.


"Ayah sakit?" Hanna memegangdahi ayahnya dengan jarinya.


"Hanya kecapekan dikit, nggak apa-apa, nanti juga baikan" Pak Handi bergegas ke kamar mandi dan menunaikan kewajibannya. Hanna yang masih khawatir dengan keadaan ayahnya kini sibuk di dapur, sambil sesekali melongok ke arah pintu kamar ayahnya. Dan akhirnya ayahnya keluar dari kamar hendak bekerja seperti biasanya.


"Ayah mau ngapain?" Hanna mendekat ke arah ayahnya dan meninggalkan kompor yang masih menyala, dia sedang memasak sayur.


"Itu menyelesaikan pekerjaan" jawabnya.


"Ayaaah....ayah istirahat saja, tolong ayah nurut ya sama Hanna, ayah istirahat hari ini, besok kalau sudah sehat kembali boleh deh ayah kerja lagi, hari ini biar aku saja yang ngerjain, ya yah...." Hanna menuntun ayahnya untuk duduk di kursi ruang keluarga. "Sebentar" Hanna meninggalkan ayahnya yang sudah terduduk di kursi usang itu. Hanna kembali ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk ayahnya.


"Nih yah, minum tehnya, setelah ini aku siapin sarapan, pokoknya ayah sudah istirahat saja ya..." Hanna memohon, Pak Handi mengangguk.

__ADS_1


"Eh tapi kamu hari ini mau nyari tempat magang kan Han?" Pak Handi teringat cerita Hanna kemarin.


"Halah aman, beres, setelah itu kebetulan nggak ada kuliah, Hanna langsung pulang dan ngerjain semua, ayah tiduran saja"


"Iya...iya" Pak Handi mengalah, dia tersenyum melihat putrinya begitu perhatian padanya. Begitu juga Hanna, batinnya terasa pilu saat melihat ayahnya sakit, dia merasa trauma melihat orang yang dia cintai sakit, dia ingat akan keadaan ibunya kala itu. Dan kini dia nggak mau melihat ayahnya jatuh sakit.


        Hanna berlari kecil keluar rumah, dia tidak mau terlambat janjian dengan Meta untuk mencari tempat magang. Segera dia menstater motornya dan menuju alamat kantor di mana Meta magang.


Hanna yang biasanya memakai baju kasual, atau kemeja dan celana jeans saat ke kampus, kini memakai celana kain warna hitam dipadu atasan putih dan blazer hitam, rambutnya tertata rapi. Hanna memarkir motor bututnya di deretan kendaraan yang rata-rata semua bagus di sana. Meta yang sudah berdiri tak jauh darinya melambaikan tangan memberi tanda pada Hanna. Hanna yang baru saja melepas helmnya segera mendekat.


"Sorry...telat"


"Nggak apa-apa, aku juga barusan datang kok"


Mereka masuk ke dalam kantor yang berdiri megah itu, sebelumnya mereka menemui resepsionis yang ada di depan. Meminta izin untuk menemui bagian SDM (Sumber Daya Manusia) untuk meminta izin. Dan ternyata lega bagi Hanna, karena masih ada satu slot tempat untuk anak magang.


"Akhirnya" ujarnya saat keluar kantor tersebut, Hanna yang mencarinya serba mendadak itu merasa senang sekali mendapatkan tempat magang, meskipun dia tidak tahu itu perusahaan apa dan milik siapa. Urusan belakangan.


"Ok, aku langsung balik ya Met, soalnya bokap sakit, aku harus ngerjain kerjaan bokap"


"Ok sip"


"Terima kasih ya..."


Di sepanjang perjalanan pulang, Hanna merasa lega karena sudah mendapatkan tempat magang, itu artinya mata kuliah ini aman juga. Dan berharap magangnya lancar. Hanna berjalan agak kencang agar segera sampai di rumah, karena dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di rumah.


Saat Hanna memasukkan motornya, dna hendak masuk ke dalam rumah. Sayup-sayup Hanna mendengar suara seseorang sedang berbincang dengan ayahnya di ruang tamu. Sesekali terdengar gelat tawa, Hanna lega. Itu artinya jika ayahnya baik-baik saja.


"Begitulah dia" ungkap Ayahnya yang masih terdengar sayup-sayup, Hanna meletakkan helm di motornya lalu masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum" ucap Hanna, dijawba oleh Pak Handi. Hanna beradu pandang dengan laki-laki yang sedang ngobrol dengan ayahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2