
"Pak Andre jangan khawatir, Rayyan baik-baik saja," Hanna meminta Pak Andre tak terlalu merisaukan keadaan Rayyan. Meskipun kalimatnya juga belum tentu bisa menenangkan hati Pak Andre, jelas saja karena bagaimanapun juga perasaan seorang ayah sama anak itu jelas bertaut.
"Iya, saya percaya...dan saya titip dia ya...," gumamnya dengan tatapan pasrah, membuat Hanna merasa tak enak hati. Karena dia merasa bukan siapa-siapanya Rayyan.
"Sebisa saya," jawab Hanna, selepasnya dia meneguk ludahnya. Jangan-jangan dia merasa tak sanggup, merasa tak mampu menjaganya. Karena dia memang bukan siapa-siapa. "Oh ya...Pak Andre kan nggak mau makan nih, apa mau makan yang lainnya? biar Hanna carikan." Hanna dengan senang hati menawarkan. Karena menurut dokter, melihat kondisi Pak Andre yang demikian, maka tidak ada pantangan makanan apapun. Dan keluarga boleh menurutinya.
"Saya ingin makan dengan Rayyan, apapun itu makanannya," ujarnya, jawaban itulah yang membuat Hanna tak bisa berkata apa-apa, batinnya terasa sangat kelu. Tenggorokannya sakit, seketika Hanna teringat akan ayahnya yang baru 7 hari meninggalkannya. Andai saja dia tahu kapan ayahnya akan pergi, maka setidaknya dia akan meluangkan banyak waktu untuk ayahnya.
"Maaf ya Pak Andre....,"
"Jangan panggil Pak...panggil saya ayah ya..." pintanya.
"Iya," Hanna kembali tersenyum. "Nanti jika Rayyan sudah selesai dengan pekerjaannya, nanti saya bawa kesini, kita makan bersama," Hanna berjanji akan menyeret Rayyan kemari dan makan bersama.
"Semoga bisa," harap Pak Andre penuh harap.
"Saya keluar sebentar ya yah," pamit Hanna. Pak Andre mengangguk.
Rayyan tak sempat menghindar saat Hanna membuka pintu. Terlihat dia terpaku sambil tersenyum kaku.
"Kemana?," pertanyaan itu yang meluncur dari bibirnya saat melihat Hanna memergoki dirinya di depan pintu
ruangan di mana ayahnya dirawat.
"Cari makan, dan kita makan bareng," jawab Hanna sedikit judes. Karena Rayyan pun meskipun bisa melihat apa yang terjadi di dalam, dia tidak bisa mendengar apa yang diperbincangkan di dalam.
"Ok," jawabnya lalu mengekor di belakang Hanna yang sudah berjalan terlebih dahulu tanpa banyak bertanya.
Mereka sudah keluar dari lift, dan Hanna tak ingin keluar jauh. Dia mencari tempat makan yang tak jauh dari rumah sakit.
"Makan apa?," tanya Rayyan yang masih mengekor. Hanna masih memperhatikan sekeliling, sekiranya makanan
__ADS_1
apa yang cocok disantap makan malam. Terlihat deretan rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit.
"Mau makan apa,?" Hanna menengok ke arah Rayyan, laki-laki itu mengedikkan bahunya.
"Ikut kamu,"
"Ok, soto ya?," pertanyaan itu lebih Rayyan harus mengikutinya. Rayyan pasrah. "Nggak apa-apa kan artis besar makan soto?," Hanna tertawa, karena dia tahu selera makan Rayyan
"Asal bisa dimakan," jawabnya asal lalu disusul tawa mereka berdua. Hanna melangkah masuk ke dalam warung soto yang kebetulan tidak terlalu antre.
"Waaah...Rayyan...." gumam seorang gadis muda saat melihat Rayyan masuk ke dalam warung tersebut, Hanna melihat Rayyan lalu menaikkan kedua alisnya. "Boleh minta foto nggak,?" tanya gadis itu girang, matanya penuh harap.
Rayyan menatap Hanna sebelum menjawab, seolah dia sedang meminta izin pada Hanna.
"Lah...terserah," jawba Hanna dengan suara yang pelan. Akhirnya Rayyan dengan senang hati melayani foto penggemarnya tersebut, tak pelak gadis itu wajahnya berbinar setelah mendapatkan beberapa pose dengan Rayyan. Dia pun melangkah keluar warung dengan wajah cerah dan tak hentinya memperhatikan layar ponselnya.
"Bungkus tiga ya mang." Hanna mengangkat ketiga jarinya.
"Terima kasih," Hanna duduk di sana sambil menunggu pesanannya dibuatkan.
Rayyan menarik satu kursi lagi dan duduk di samping Hanna.
"Kenapa kamu mau melakukan ini,?" Rayyan melihat Bapak penjual yang sedang meracik pesanan Hanna.
"Kamu pernah merindukan seseorang?," Hanna balik bertanya, Rayyan yang semula memperhatikan penjual soto dengan mimik serius, kini dia menoleh ke arah Hanna. "Rindu yang paling berat adalah merindukan seseorang yang sudah tak ada lagi di dunia ini, dan itu yang aku rasakan sekarang, meskipun aku dekat banget sama ayah, rasanya kurang dan kurang, dan banyak hal yang aku sesali sekarang."
"Aku baru saja kehilangan orang yang berarti dalam hidup, dan tanpa mengkesampingkan Tuhan, tapi aku takut jika...," kalimat Hanna menggantung.
"Neng ini sudah," interupsi bapak penjual soto,menyerahkan sekantong kresek soto pada Hanna. Belum sempat Hanna menerimanya, Rayyan dengan cepat mengambil uluran tangan bapak penjual dan menyerahkan uang.
"Ini kembaliannya, terima kasih," sahut penjual dengan ramah. Rayyan meresponnya dengan tersenyum dan mengangguk. Hanna berdiri lalu keluar dari warung tersebut, Rayyan berjalan di sampingnya. Dia heran dengan apa yang dilakukan Hanna, kenapa dia begitu seperti membela Andre, laki-laki yang paling dia benci itu.
__ADS_1
"Kamu tahu kan sakitnya ayahmu,?" kupas Hanna sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit kembali. Rayyan tahu apa yang menimpanya, komplikasi parah memperburuk sakit kanker yang diderita ayahnya. Setidaknya dia pernah bertanya pada dokter yang merawat ayahnya secara diam-diam.
"Ya," jawabnya singkat. Tapi hingga saat ini, dia belum bisa membuka hatinya.
"Kapan lagi? nunggu penyesalan itu datang setelah dia tak ada,?" Hanna kembali menyerang, dia ingin menyadarkan Rayyan. "Sejahat apapun dia, dia tetaplah ayah kamu, apalagi sekarang dia sudah menyadari kesalahannya, dia sudah bukan ayahmu yang dulu lagi," Hanna tetap nyerocos, sementara Rayyan terdiam dan tetap berjalan sambil menenteng bungkusan kresek tersebut.
Mereka tiba di depan kamar perawatan Pak Andre.
"Nggak mau masuk,?" Hanna menatap Rayyan sambil meminta bungkusan kresek tersebut pada Rayyan. Laki-laki tampan itu masih mematung di depan Hanna. "Sini," Hanna kembali meminta kresek tersebut. Rayyan tak bergeming, dia masih memegangnya.
Hanna akhirnya mengambil paksa bungkusan tersebut, lalu membuka pintu kamar perawatan. Dilihatnya Pak Andre tengah berbaring dan memejamkan matanya, Hanna melangkah pelan, takut mengganggu istirahatnya.
"Sudah datang,?" tanya Pak Andre yang seketika menyadari kehadirannya.
"Oh ayah sudah bangun? maaf membuat anda kaget," Hanna meletakkan bungkusan ke atas meja. "Hanna beli soto, mari kita makan," seru Hanna dengan wajah ceria. Pak Andre yang melihat wajah Hanna ceria pun ikut tersenyum.
Hanna sedang menata makanan tersebut ke atas piring dan mangkok bersih, dan bersiap menyuapi Pak Andre.
"Harus makan, mari kita makan bersama," Hanna membujuk. Belum juga Hanna menyuapi, terdengar suara pintu terbuka. Hanna dan Pak Andre melihat ke arah pintu, di mana Rayyan yang membukanya. Hanna terpaku sejenak, begitu juga Pak Andre. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Rayyan melangkah meskipun dengan kaki yang berat, dia duduk di salah satu sofa yang tak jauh dari ayahnya berbaring. Hanna dengan cepat menuangkan makanan untuk Rayyan. Inilah saatnya mewujudkan salah satu keinginan Pak Andre untuk makan bersama dengan Rayyan.
"Mari kita makan," Hanna berseru setelah makan siap. "Hanna suapin ayah," pekik Hanna senang, dia menyendokkan nasi soto dan menyuapkannya untuk Pak Andre. Rayyan yang meskipun dengan jarak yang tak dekat dengan ayahnya, setidaknya mereka berada di salam satu ruangan yang sama dan Pak Andre merasakan hangatnya makan bersama anaknya. Hanna pun tak kalah senang.
"Ayo lagi ya yah...," Hanna mencoba membujuk, namun Pak Andre sudah menggelengkan kepalanya, rasanya tak kuat lagi lambungnya menampung, sudah kenyang. Hanna mengambilkan minum untuk Pak Andre.
"Tolong ambilkan tisu," Hanna meminta pada Rayyan, karena kebetulan tisu ada di meja depan Rayyan. Rayyan yang belum selesai makan itu meletakkan piringnya dan mengambil tisu, lalu dia berjalan mendekat ke arah Hanna, tentunya juga mendekat ke arah ayahnya. Rayyan memberikan tisu tersebut ke Hanna.
Hanna membersihakn sisa makanan yang ada di wajah dan juga baju Pak Andre.
"Aku ke toilet dulu cuci tangan," Hanna pamit. Tinggalah Rayyan dan ayahnya, dunia seakan enggan berputar. Rayyan merasa kembali ke masa lalu dan kebencian meracuni otaknya. Sementara itu ayahnya seolah tak ingin ada masa lalu di benaknya, dia merasa sangat berdosa dengan apa yang dilakukannya pada Rayyan dan Ibunya Rayyan.
__ADS_1