
Rentetan pekerjaan yang diberikan oleh Mbak Santi membuatnya agak kewalahan hari ini, tapi Hanna tetap harus mengerjakannya sebaik mungkin sebagai pembelajaran dan pengalamannya. Tidak biasanya Mbak Santi memberikannya begitu banyak pekerjaan.
Hari sudah sore saat Hanna menyelesaikan semua pekerjaannya. Bergegas Hanna merapikan meja kerjanya dan mematikan komputernya. Melihat suasana kantor yang mulai sepi membuat Hanna berjalan lebih cepat agar segera sampai ke tempat parkir.
"Baru pulang mbak Hanna?" suara yang sudah sangat dia kenal menyapanya, dilihat Mas Karyo sedang membersihkan ruang bawah.
"Iya Mas, pulang dulu ya" Hanna melambaikan tangan.
"Iya mbak, hati-hati" balas Mas Karyo sambil melihat Hanna setengah berlari. Hanna melihat ke atas, di samping matahari yang mulai pulang ke peraduan, mendung juga ikut menyumbang gelapnya langit. Hanna mempercepat langkahnya agar segera sampai ke parkiran. Bergegas Hanna memakai helm dan menstater motornya, kemudian menyusuri jalan untuk pulang. Dia berharap jangan turun hujan terlebih dahulu sebelum dia sampai rumah.
Sampai di depan rumah, Hanna nampak heran dengan rumahnya yang begitu gelap. Hanna melepaskan helmnya dan meletakkan di jok motor yang sudah terparkir di depan rumahnya. Hanna merogoh ponselnya dan coba menghubungi Ayahnya. Namun nihil, ayahnya tak mengangkat panggilan darinya. Hanna beralih melakukan panggilan kepada Nayo, juga sama tak ada jawaban.
Untung Hanna membawa kunci rumah, dia kembali merogoh tasnya dan mencari kunci rumah. Suasana begitu gelap saat Hanna berhasil masuk ke dalam rumah, Hanna harus menyalakan ponsel untuk mendapatkan penerangan.
"Yah....Ayah....Ayah di rumah kan?" Hanna memanggil Ayahnya dengan cemas, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan ayahnya. "Yah..." Hanna kembali memanggil. Tetap saja tak ada jawaban.
Seketika lampu menyala, dan Hanna terkejut dibuatnya.
"Selamat ulang tahun....." suara mereka seperti dikomando.
Nampak Pak Handi, Nayo, dan Rayyan di depan Hanna. Nayo membawa kue ulang tahun dan Rayyan membawa buket bunga besar untuknya. Sejenak Hanna belum menyadari apa yang dilakukan oleh ayahnya, Nayo, dan Rayyan.
"Selamat ulang tahun putriku yang paling cantik" gumam Pak Handi dengan wajah sumringah, wajahnya nampak sangat bahagia. Setelah beberapa detik tertegun, Hanna baru sadar jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun kak" Nayo tersenyum sambil mengulurkan kue ulang tahun untuk Hanna dengan sebuah lilin di atas kue tersebut, tanpa menyebutkan angka.
Mata Hanna nampak berkaca-kaca, mereka mengingat ulang tahunnya, sementara dia sendiri lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Hanna memeluk ayahnya erat, "Terima kasih yah" ujarnya. Lalu dia memeluk Nayo dengan agak kesusahan karena adiknya itu masih memegang kue ulang tahun untuknya.
"Terima kasih ya" Hanna memeluk erat adiknya.
"Selamat menua kak, dan jangan jadi gila" Nayo tersenyum jahil. Hanna memukul pelan lengan adiknya itu.
__ADS_1
Rayyan melihat Hanna, dan buket bunga besar itu Rayyan ulurkan untuk Hanna.
"Selamat ulang tahun, HannaRo" ujar Rayyan dengan senyuman manis. Wajah tampan itu, senyum manis itu, Hanna melihat orang yang ada di depannya itu sungguh menawan. Hanna menerima buket yang super besar itu dari tangan Rayyan.
"Terima kasih" Hanna mengucapkan tanda terima kasih dan hanya menyalami Rayyan. Rayyan yang dengan canggung pun harus menerimanya, tak mendapat pelukan seperti ayah dan adiknya.
Setelah Hanna mandi dan menjalankan ibadah, mereka kembali berada di ruang depan untuk memotong kue. Potongan pertama Hanna suapkan untuk ayahnya.
Hanna mengulurkan suapan kedua untuk Nayo, tapi Nayo menggeleng dan memberikan kode agar Hanna menyuapi Rayyan. Hanna yang nampak ragu pun akhirnya mmeberikan suapan untuk Rayyan. Dan terakhir memberikan suapan untuk Nayo.
Setelah menikmati kue, mereka pun makan malam bersama. Diam-diam Pak Handi, Nayo, dan Rayyan sudah menyiapkan semua ini untuk Hanna. Bahkan untuk mengulur waktu, Rayyan meminta Santi untuk memberikan banyak kerjaan untuk Hanna hari ini.
"Foto dulu" Rayyan memfoto dia sedang memegang buket bunga besar tadi. "Yuk foto berdua" pinta Rayyan.
"Buat apa?" Hanna mengeryit.
Tanpa menunggu persetujuan, Rayyan meraih tubuh Hanna dan merangkulnya, lalu berfoto berdua.
"Nah gini kan bagus" Rayyan nampak puas setelah melihat hasil fotonya. Pak Handi sudah izin untuk tidur, sedangkan Nayo sudah masuk ke kamar guna mengerjakan tugasnya.
"Pertanyaan klise" dalih Rayyan. "Apa yang nggak bisa aku ketahui?" Rayyan tersenyum kecil. Hanna mencebik.
"Ya..ya..."
"Han..."
"Hehm apa?" jawab Hanna tanpa beban, dia melihat titik gerimis yang sedang turun di halaman. Mereka berada di teras rumah.
"Serius"
"Iya apa?"
"Aku percaya takdir, dan tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin awalnya lucu saat melihat orang asing yang tiba-tiba hadir di rumah, tapi kenapa aku tidak bisa melupakan kamu?" Rayyan berbicara dengan serius.
__ADS_1
Hanna terdiam.
"Bahkan aku merasa tergantung dengan keberadaan kamu" sambungnya.
"Rayyan...kamu ada mega bintang, sedangkan aku hanya butiran debu di dunia ini" Hanna tersenyum kecil. "Kamu tahu kan kamu siapa? dan kamu tahu juga aku siapa?" Hanna menatap laki-laki tampan itu. Harusnya ini adalah waktu yang dinanti oleh kaum hawa, tapi mengapa justru membuatnya ragu. "Aku dengan kegilaanku yang mengidolakan kamu, tapi sampai di sini aku merasa aku nggak bisa" gumam Hanna. "Jika kamu bertanya mengapa, tetap saja perbedaan kita terlalu besar"
"Han....aku tak peduli"
"Tapi aku peduli Rayyan, saat aku mengidolakan kamu, aku merasa sangat cemburu saat kamu punya pacar, entah kenapa itu terjadi. Dan aku nggak akan mampu menjadi kekasih kamu saat aku sadar banyak hati yang merasa cemburu dengan keberadaan aku di sampingmu"
Begitu sulit menaklukkan Hanna, baru kali ini Rayyan benar-benar merasa kesulitan menaklukkan cewek. Jika dulu tinggal tunjuk, maka jadilah. Hanna benar-benar memporak-porandakan hatinya.
"Kamu mega bintang, dan aku tak punya tangan untuk menggapainya" Hanna tersenyum getir, matanya melihat tetesan air hujan yang turun dari langit. "Terima kasih atas semuanya, sudah menjagaku dari buruknya cinta yang salah, aku kira kamu harus fokus kembali pada karirmu"
Rayyan menatap Hanna dalam, benar-benar Hanna yang teguh pendirian.
"Tolong lihat mataku Han" pinta Rayyan, Hanna yang sejak tadi memperhatikan hujan, kini dia menoleh dan melihat Rayyan. "Tatap aku lekat" pinta Rayyan kembali, Hanna pun meskipun deg-degan, itu yang dia lakukan.
"Katakan, katakan kamu tidak mencintaiku" perintahnya. Hanna masih menatap mata indah Rayyan, beberapa kali dia meneguk ludahnya. "Katakan Han" titahnya berulang.
"Iya, aku tidak mencintai kamu" kalimat itu meluncur sesuai perintah. "Dan setelah ini, kita akan kembali ke mode awal, kita tak saling mengenal, aku minta segera proses perceraian kita"
Rayyan bak sedang kalah perang pun mengangguk dengan senyum getir.
"Aku tidak pernah menyesalkan apapun" ucap Hanna mantap, entah yang ada di hatinya.
Rayyan kembali mengangguk, "Jika itu yang kamu inginkan, ok mari kita lakukan" Rayyan mengulurkan tangannya dan mencoba tersenyum. Hanna membalas uluran tangan Rayyan sembari membalas senyuman Rayyan.
Rayyan bergegas berdiri untuk pamit pulang, Hanna pun ikut berdiri, Rayyan bergegas menarik tubuh Hanna dan memeluknya erat.
"Selamat ulang tahun, dan terima kasih banyak sudah memberikan banyak warna dalam hidupku, semoga kamu bahagia" ujar Rayyan, tangannya mengelus punggung Hanna.
"Terima kasih" balas Hanna.
__ADS_1
Hanna mengunci pintu kamarnya dan terduduk di depan pintu kamarnya, air matanya mulai turun. Betapa bibirnya telah menghianati hatinya. Mengapa bibirnya bisa selancar itu mengucapkan jika dia tidak mencintai Rayyan. Tubuh Hanna terguncang karena menahan tangis, dipeluknya buket bunga besar pemberian Rayyan.