
Malam sebelum akad nikah dihelat, semua sudah berada di resort yang semuanya sudah dibooking oleh Rayyan. Hanna, Nayo, Ratna, dan juga Kia sudah berada di sana. Meskipun kedua-duanya tanpa kedua orang tua, namun acara tetap berjalan dengan khidmad. Dari pihak Rayyan, Kamila lah yang menjadi wakil dari orang tua Rayyan. Di mana acara midodareni dilaksanakan, entahlah Rayyan ingin acara ini dihelat, dan Hanna pun antusias.
Karena semua sudah menggunakan jasa WO, maka mereka tinggal mengikuti saja.
"Kapan anda jatuh cinta pada calon istri anda,?" pertanyaan itu dilontarkan oleh pembawa acara, Rayyan sedang berdiri di depan seolah sedang diroasting. Sementara Hanna yang dipingit hanya berada di kamar. Mereka tidak akan bertemu hingga waktunya tiba, esok hari.
"Saya tidak tahu sejak kapan, yang jelas dia sangat istimewa di hati saya, mungkin beberapa hari setelah bertemu dengannya," jawab Rayyan sambil mencoba mengingat kapan dia bisa jatuh cinta dengan Hanna. Mendengar hal tersebut, para kolega yang datang tersenyum-senyum dengan jawaban Rayyan.
"Bisa aja nih," ujar Kamila yang duduk di kursi paling depan. Dia adalah salah satu orang dekat Rayyan yang paling bahagia dengan acara ini. Setelah beberpa bulan yang lalu dia merasa sangat bersalah pada Rayyan karena merasa menjadi salah satu orang yang membuat Hanna pergi tanpa bisa melakukan apapun untuk mereka. Kamila menunduk, dia merasa terharu akhirnya dua insan yang awalnya hanya sekedar menikah kontrak itu akhirnya akan benar-benar dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang sebenarnya.
"Apa janji anda untuk calon istri anda,?"
"Tidak ada janji apa-apa, yang pasti saya akan selalu menjadikan dia tujuan utama dan membuatnya bahagia, semoga," harapnya.
"Luar biasa calon pengantin kita yang satu ini, beri tepuk tangan yang meriah,"
Terdengar tepuk tangan di ruangan tersebut, ruangan semacam pendopo yang terbuka. Karena ini memang intimate party, di mana yang datang hanya kolega dekat saja. Memang tidak rame, tapi sangat hangat sekali suasananya.
Kia, Ratna, dan juga Nayo juga berada di ruangan yang sama menyaksikan Rayyan berdiri di depan sana.
Terlihat juga Annet yang duduk di salah satu kursi, sesekali dia memijit kepalanya. Tidak menyangka jika inilah kisah cinta Rayyan yang dia anggap masih terbuka lebar kesempatan untuknya. Nyatanya bosnya itu dengan secapat kilat menambatkan hatinya pada Hanna. Menurutnya secepat kilat, tapi nyatanya cinta Rayyan memang bertahan hanya untuk Hanna, meskipun sudah berpisah berbulan-bulan.
Malam pun merangkak naik, begitu acara selesai. Banyak yang menikmati indahnya pemandangan di resort ini saat malam hari. Deburan ombak di bawah sana terdengar sangat syahdu dengan irama yang teratur dan tenang. Angin yang berhembus agak kencang memang, hanya saja suasananya sungguh syahdu menenangkan.
Rayyan duduk di salah satu kursi ditemani oleh Kamila yang semakin hari semakin sehat.
"Bagaimana dia di dalam,?" tanya Rayyan, karena Kamila menjadi salah satu orang yang melihat Hanna berada di kamar sedang dipingit.
"Cantik sekali," jawabnya. Rayyan tersenyum mendengarnya, cuaca cerah malam ini membuat bintang di langit terlihat begitu gemerlap, sungguh suasana yang sangat sempurna. "Aku senang kamu berada di titik ini," ungkap Kamila senang.
__ADS_1
"Terima kasih Mil sudah mengantarkan aku hingga berada di titik ini,"
"Ah kamu berlebihan, aku nggak punya andil apapun, kamu yang sudah bekerja keras hingga detik ini," puji Kamila.
"Tanpa keputusan edan kamu kala itu, aku nggak akan bisa bertemu dengan Hanna," tawa Rayyan terdengar renyah, Kamila pun ikut tertawa. Mereka sedang mengingat-ingat kejadian malam itu. Seorang gadis asing yang tengah membawa kebaya dari laundrynya malah menjadi pengantin dadakan. Gila juga memang keputusannya kala itu.
"Tapi kini kamu malah mundur dengan teratur menjadi artis," Kamila terkekeh.
"Iya, tak perlu lagi membuat skandal," kekehnya lagi.
"Selama kalian bahagia, jalani saja apa yang ada,"
"Iya Mil, doakan kamu bahagia selalu,"
"Iya, selalu lah. Jaga dia baik-baik,"
"Siap Mil," Rayyan menyanggupi dengan senang hati.
"Aku fans berat dia juga Han," Ratna menyahut, dia merebahkan diri di ranjang Hanna dan melihat Hanna yang sedang duduk di pinggir ranjang. Sementara Kia juga berada di ranjang yang sama.
"Siapa sih yang nggak ngefans sama dia,?" Kia menyeringai.
"Bener juga kamu," Ratna terkekeh.
"Tapi yang beruntung cuma dia nih," Kia mengedikkan dagunya menunjuk Hanna. Hanna pun tersenyum simpul.
"Iya bener kamu Kia, dia adalah salah satu makhluk beruntung di dunia ini," Ratna menambahkan.
Obrolan ngalor ngidul mereka yang hampir jam 1 pagi harus dihentikan karena mereka harus istirahat guna acara penting esok hariinya.
__ADS_1
***
Bunga krisan, mawar putih, dan juga bunga lily menghiasi setiap sudut tempat yang akan digunakan untuk menggelar acara pernikahan Rayyan dan Hanna. Di sepanjang sudut terlihat lalu lalang orang sibuk dengan tugas masing-masing. Rayyan berpesan, meskipun ini sangat mendadak, dia ingin jalannya pernikahannya lancar tanpa suatu kendala.
Panitia sedang melihat meja tempat akad nikah, memastikan jika sudah sempurna dan cantik. Sebagian lain memastikan bagiannya masing-masing.
Sementara di bagian yang lain, Hanna sedang menunggu jam akad nikah. Dengan paes khas jawa, Hanna duduk di kursinya. Di sana dia ditemani Kia dan juga Ratna yang tengah mengenakan kebaya berwarna pink muda. Mereka berdua terlihat cantik.
"Deg-degan banget, jam berapa sekarang,?" Hanna menatap kedua sahabatnya itu.
"Jam 8," sahut Ratna.
"Sejam lagi Han, santai dulu...sarapan dulu ya, aku siapin dan aku suapin deh," Kia menawarkan. Hanna mengangguk meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak ingin makan karena saking groginya. Bahkan rasa deg-degannya ini melebihi pada saat pernikahan pertamanya dengan Rayyan dulu.
Kia bergegas keluar mengambil sarapan untuk Hanna. Lipstik yang merah merona dan juga paes yang cantik membuat Hanna benar-benar manglingi.
"Cantik banget calon manten," puji Ratna.
Terdengar pintu dibuka, Kia sudah kembali dengan sepiring sarapan yang ada di tangannya. Kia bersiap menyuapi Hanna.
"Makan sendiri bisa lah Ki," Hanna mencoba meraih sendok dan hendak makan sendiri.
"Ih biarin ah, terakhir kalinya nyuapin kamu sebelum setelah ini pasti kamu akan sering suap-suapan sama Rayyan. Gumam Kia tak mempedulikan Hanna yang meminta sendok darinya. Kia menyendokkan nasi dan lauknya.
"Hati-hati Kia, nanti lipstiknya hilang," Ratna mematut dirinya di depan cermin.
"Ya...tenang sudah pro ini," Kia berhasil menyuapkan nasi pada Hanna. Dan aman-aman saja tidak merusak lipstik Hanna. "Lagian MUA masih di sini semua," kilahnya.
Hanna melirik jam di dinding, rasanya dia ingin pingsan. Merasa tak tenang.
__ADS_1
"Berdoa Han, jangan kacau lah," Kia tersenyum tipis. Lalu dia mengambilkan air yang sudah dia kasih sedotan agar memudahkan Hanna minum. Hanna mengangguk, dia memang harus banyak-banyak menenangkan diri sebelum ikrar sehidup semati segera dilakukan beberapa menit lagi.
Hanna menghela nafas panjang, menahan dan membuangnya. Berkali-kali dia lakukan. Meksipun berlagak sok tenang, nyatanya Kia menjadi salah satu manusia yang deg-degan juga menyambut acara penting hari ini. Dia duduk di samping Hanna, sesekali memegang tangan Hanna yang terasa dingin. Dingin bukan karena hawa AC, melainkan karena deg-degan. Kia yang akan menjadi pendamping Hanna saat akan duduk di kursi akad nantinya.