Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Tugas Baru


__ADS_3

Seolah mendapatkan tantangan dan tugas baru, yaitu "menjaga Rayyan", Hanna terdiam sejenak, kembali mencerna kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Kamila. Ya, laki-laki yang serumah dengannya saat ini memang problematik, tapi Hanna tak mau menghakimi, jika ada akibat, maka ada sebab. Dan kini dia akan belajar memahami laki-laki yang menurutnya aneh itu, dia nampak sempurna di luar, di mata para penggemar, akan tetapi dia tidak menyangka jika laki-laki bernama Rayyan itu rapuh.


"Apa yang bisa aku lakukan?" gumam Hanna.


Hanna keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju sebuah ruangan, di mana dia pernah membersihkan ruangan tersebut. Hanna membuka pintu ruangan tersebut, mencoba mengingat di mana benda yang dia cari. Hanna berjalan ke pojokan, meraih sebuah benda yang dia cari. Senyumnya mengembang, lipatan tenda sudah ada di tangannya. Hanna menepuk-nepuk benda tersebut agar debunya menghilang. Hanna keluar dari ruangan tersebut.


Hanna keluar dari rumah, dan berada di halaman samping rumah, sebuah taman kecil dengan rumput hijau seperti karpet. Hanna dengan cekatan mendirikan tenda kecil tersebut di samping rumah, selepas Kamila pamit pulang, Rayyan tak terlihat batang hidungnya, mungkin dia masih tidur selepas debat dengan Kamila.


Hanna baru saja selesai memasang tenda, dia duduk di atas rumput, langit mulai menggelap karena matahari baru saja tenggelam. Hanna menarik nafas panjang, kedua tangannya menepuk, sengaja dia belum mencuci tangannya.


"Akhirnya, bisa juga tenda ini berdiri" Hanna melihat sebuah tenda berwarna biru muda itu berdiri. "Nggak percuma dulu rajin ikut pramuka" Hanna mneyeringai. Beberapa menit setelah rasa lelah hilang, Hanna berdiri dari duduknya, dia ingin mandi membersihkan diri. Hanna kembali menepuk tangannya, membersihkan potongan rumput kecil yang menempel di kedua tangannya. Kemudian dia masuk ke dalam untuk mandi.


***


Rayyan membuka matanya, kepalanya terasa agak pening, perdebatan dengan Kamila sore tadi benar-benar membuat dia marah. Kamila yang bersikeras tak ingin dia bersama dengan Talitha, Kamila bersikukuh dia harus putus dengan Talitha. Rayyan berjalan ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.


"Jika saja Ibu kamu masih ada, kamu tak akan begini Rayyan, pasti Ibumu akan sangat kecewa jika melihat kamu seperti ini!" kalimat Kamila masih terngiang di telinganya. Rayyan masih membiarkan air mengguyur kepalanya.


Kamila begitu keras, baru kali ini Kamila begitu keras padanya. Hanya dengan hubungannya dengan Talitha. Rayyan tak habis pikir, apa yang membuat Kamila seperti itu.


Percakapan dengan Kamila seolah berputar ulang di otaknya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? kamu cemburu karena aku suka sama Talitha?" Rayyan tak kalah keras dan pedas. Kamila melihat Rayyan dengan kesal, kedua tangannya mengepal, Rayyan masih ingat betapa marahnya Kamila tadi sore mendnegar ucapannya.


"Hanya karena aku selalu dekat dengan kamu, kamu mengatakan hal seburuk ini padaku?" Kamila mendebat.


Rayyan menghela nafas panjang, kali ini dia mengusapkan sampo di rambutnya, tercium aroma wangi yang sedikit membuatnya rileks dan tenang. Dia terlalu keras pada Kamila, dia terlalu jahat mengatakan hal yang tak pantas pada Kamila hari ini.


Dia tahu jika Kamila selama ini seperti saudaranya, dekat dengan almarhumah Ibunya dulu. Tak selayaknya dia bersikap seperti itu, hanya saja dia tak ingin Kamila ikut campur dalam urusan asmaranya, terlebih dengan Talitha.


Rayyan mematikan kran shower, dia keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju, rambutnya masih basah, handuk putih masih di pundaknya. Kaos warna putih lengan pendek dan celana pendek menjadi pilihannya. Rayyan turun dari tangga menuju dapur, dia tidak tahu sejak kapan dia menjadi hobby ke dapur saat merasa lapar. Secara otomatis dia akan berjalan kesana.


Rayyan menyapu pandangan seisi dapur, terutama meja makan yang ada di dapur, kosong tak ada apapun. Rayyan mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuknya, agak kecewa sebenarnya karena tidak ada makanan apapun di atas meja, sementara perutnya terasa lapar.


"Apa mungkin dia belum pulang?" gumam Rayyan.


Hanna meletakkan daging sapi tipis yang baru saja digrill, aroma wangi khas makanan itu benar-benar menggoda, rasanya ingin dia segera memakannya. Tapi Hanna menahannya, dia letakkan di atas piring, asapnya masih mengepul.


Hanna kembali meletakkan irisan daging ke atas teflon, dan menunggunya kembali matang. Rayyan berjalan ke arah Hanna yang tak menyadari kehadirannya. Akhirnya Rayyan duduk di samping Hanna.


"Kamu?" Hanna terhenyak.


"Kenapa? kaget?" tanya Rayyan sambil melotot melihat Hanna. Hanna menggeleng. "Siapa yang mengizinkan kamu mendirikan kemah di sini?" ujar Rayyan, handuk yang tersampir di pundaknya dia pindah ke pangkuan. Tak menunggu jawaban dan tak menunggu aba-aba, tangannya dengan cekatan mencomot daging yang ada di piring, Rayyan mangguk-mangguk, terasa enak.

__ADS_1


Hanna membiarkan apa yang dilakukan Rayyan tanpa protes, dia ingin membiarkan laki-laki itu melakukan apa saja yang dia sukai, kali ini tak ingin protes. Biarkan saja!


"Enak?" tanya Hanna sambil tersenyum.


Rayyan mengunyah sambil menatap Hanna agak aneh, tumben-tumbenan Hanna bersikap manis tanpa banyak protes.


"Yah.....lumayan lah, soalnya aku lagi lapar" jawab Rayyan sekenanya. Hanna tersenyum, tangannya membalik daging yang sudah hampir matang itu.


"Tak ada salahnya kan kemah di rumah, anggap saja lagi di puncak gitu" Hanna menyeringai, Rayyan tersenyum tipis. Hanna yang memang unik nan berbeda itu kali ini sukses membuat perasaannya membaik walau tanpa kehadiran Talitha.


"Boleh juga...tapi kenapa cuma satu tendanya?"


"Memangnya buat apa?"


"Kamu maunya tidur berdua gitu?" Rayyan mengernyitkan mata, Hanna tak kalah mengeryitkan mata.


"Nggak gitu konsepnya, siapa juga yang mau tidur setenda?" Hanna mulai ngegas, dan akhirnya dia tersadar bahwa dia harus menahan diri. "Ehm...jadi begini, anggap saja tenda ini sebagai pemanis, pemanis saja...aku dan kamu" Hanna menghentikan kalimatnya, terasa aneh dia berbicara lemah lembut dengan Rayyan. "Aku...dan kamu nggak usah tidur, tidurnya di dalam kamar masing-masing, udah gitu aja, paham kan?" jawab Hanna.


"Kalau aku ingin tidur di tenda gimana? kan sayang sudah berdiri tuh tenda" Rayyan menunjuk tenda tersebut.


"Kalau kamu ingin tidur di sana, silahkan tidurlah...nanti aku tidur di kamar saja" Hanna tersenyum, yang bener saja dia harus tidur setenda dengan Rayyan. Yang ada dia akan pingsan nanti. Hanna tak ingin berhalusinasi.

__ADS_1


"Kan nggak seru, masa iya aku harus kemah sendirian" Rayyan masih saja protes. "Kalau kamu nemenin gimana? kamu tidur di luar gitu" Rayyan tertawa kecil, Hanna mengerjabkan mata. Rayyan tertawa terbahak-bahak.


"Tuh mateng lagi tuh dagingnya, buruan angkat" Rayyan mengingatkan Hanna agar mengangkat daging yang sudah matang. Tak ada lagi perdebatan, mereka makan berdua dengan antengnya.


__ADS_2