
Hanna sudah terlanjur memesan ojek online, dan saat di pertengajan jalan hampir sampai di tujuan, ternyata gerimis tiba-tiba datang. Hanna tak ingin membuang waktunya, dan meminta abang ojeknya segera menggeber motornya saja agar segera sampai di rumah sakit.
"Terima kasih bang," Hanna membayar ongkos ojek tersebut dan segera berlari ke tempat di mana Pak Andre dirawat. Hanna mempercepat langkahnya sambil sesekali mengusap kedua lengan bajunya yang agak basah. Langkahnya terhenti saat melihat Rayyan berdiri di depan kaca, dia sedang memperhatikan tindakan yang ada di dalam. Hanna melangkah kesana, Rayyan yang menyadari kehadiran Hanna menoleh melihat Hanna.
Hanna ikut melihat apa yang terjadi di dalam sana, nampak dalam pandangannya perawat sedang melepas semua alat yang menempel di tubuh Pak Andre. Rasanya baru kemarin dia berbicara dengan Pak Andre yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri itu.
Sore ini, begitu Hanna bersiap untuk menjenguk Pak Andre, tiba-tiba ponselnya berdering, salah satu perawat mengabari Hanna jika keadaan Pak Andre kritis. Dengan terburu Hanna berangkat, hatinya tak karuan. Berharap dia masih bisa berbicara dengan laki-laki itu, tapi apalah daya, kembali dia serasa ditinggalkan begitu saja tanpa pesan.
Hanna menatap nanar apa yang terjadi di dalam, baru saja ditinggalkan ayah kandungnya, kini harus ditinggalkan oleh laki-laki yang sudah dia anggap sebagai ayah itu. Hanna benar-benar kehabisan kata. Rayyan merangkul pundak Hanna.
"Kemarin kita masih makan bersama," Hanna menerawang, itulah momen terbahagia yang dilihat dari wajah Pak Andre, laki-laki itu merasa sangat senang bisa makan bersama Rayyan meskipun tak berada di satu meja yang sama. Rasa damai itu kini dibawa pergi untuk selamanya. "Maafkanlah dia...maafkan dia," Hanna masih menerawang, air mata seolah terbendung di pelupuk mata,"
Rayyan mengusap pundak Hanna, dalam hatinya juga terasa sakit. Inilah rasanya, penyesalan. Rasa sakitnya hatinya yang terpendam bertahun-tahun terasa hilang dengan kepergian ayahnya.
Perawat yang sudah berhasil melepaskan alat-alat dari tubuh ayahnya pun menutup jenazah Pak Andre dan bersiap membawanya ke kamar jenazah.
"Rasanya baru kemarin," kembali Hanna bergumam, Rayyan mengajak Hanna duduk di sebuah kursi agar Hanna lebih tenang. Mereka duduk berdua sambil menunggu surat kepulangan jenazah, asisten Rayyan dengan sigap membantu mengurusnya.
"Mungkin rasa ini tidak sedalam rasa kehilangan kamu saat ayahmu meninggal, tapi kini aku sedikit bisa merasakan luka. Aku tidak baik menjadi anak," Rayyan menghela nafas berat. Hanna melihat Rayyan, wajah laki-laki itu nampak menyisakan rasa bersalah, tapi dia terlihat sangat tegar. Hanna tersenyum kecil sambil masih merasakan air matanya terbendung.
"Terima kasih sudah mau makan bersama dia, itu akan menjadi hadiah terindah dari kamu," kini air mata Hanna tak lagi bisa terbendung, air mata itu lolos begitu saja dan membasahi kedua pipinya. Rayyan kembali menarik tubuh Hanna dan menyandarkan di dadanya. Aroma Rayyan pun memenuhi indra penciuman Hanna. Hanna mengusap air matanya, dia bahagia sudah bisa membuat Rayyan memaafkan ayahnya, setidaknya Pak Andre bisa pergi dengan tenang.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu Han, kamu sudah membuka hatiku,"
Sebelum Ibunya meninggal, dia selalu berpesan kepada Rayyan agar Rayyan tidak dendam dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Hanya saja Rayyan yang trauma dan sangat membenci ayahnya tak menghiraukan pesan Ibunya. Hingga Ibunya meninggal, dia masih saja menyalahkan ayahnya, bahwa apa yang terjadi pada Ibunya itu adalah salah ayahnya.
__ADS_1
Peristiwa demi peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya seolah tergugah hatinya, dan hingga kemarin dia bisa memaafkan ayahnya.
"Terima kasih Han," gumam Rayyan, dia mengusap rambut Hanna dengan lembut. Hanna masih tenggelam dalam tubuhnya.
"Aku tak memberikan apapun untukmu," Hanna menarik dirinya dari tubuh Rayyan, dia sudah kembali kuat. Air matanya sudah tak lagi membanjiri pipinya.
Tak perlu diceritakan, Hanna membawa banyak cerita bagi dirinya. Selain itu Hanna membawa banyak perubahan pada dirinya. Dan dia sangat bersyukur atas ketidaksengajaan itu.
***
Pemakaman baru saja dilangsungkan, banyak sekali wartawan yang meliput. Berusaha mengorek informasi dari meninggalnya laki-laki yang katanya ayah kandung Rayyan itu. Banyak yang berasusmsi jika laki-laki itu ditelantarkan oleh Rayyan hingga meninggal. Hingga kini Rayyan belum bisa memberikan keterangan apapun mengenai berita yang menimpa dirinya.
"Mohon bersabar dengan keadaan Rayyan ya...," ungkap salah satu asisten Rayyan yang memberikan keterangan singkat pada wartawan. Hanna mendampingi Rayyan di pemakaman, rasa-rasanya kehilangan yang bertubi -tubi ini benar-benar menguras emosinya. Hanna memegang bunga yang akan dia letakkan di gundukan makam Pak Andre.
Setelah selesai, Rayyan masih di sana, sementara para pelayat mulai meninggalkan area pemakanan. Hanna masih di sana, dia melakukan apa yang sudah dilakukan Rayyan padanya seperti tempo hari.
"Semoga ayah tenang," baru kali ini Hanna mendengar Rayyan memanggil Pak Andre dengan sebutan ayah, hatinya terasa tenang. Akhirnya Rayyan berdamai dengan masa lalunya. Hanna mengusap lengan Rayyan dan tersenyum.
Hanna meletakkan bunga ke atas makam lalu dia berdiri, Rayyan mengusap nisan ayahnya dan kemudian ikut berdiri. Bersiap meninggalkan makam. Hanna mengangguk kecil, memberikan ajakan untuk Rayyan jika Rayyan ingin segera pulang. Rayyan membalas anggukan Hanna, dia melangkah meninggalkan makam ayahnya.
"Aku antar pulang,"
"Nggak usah, aku naik ojek saja, kamu pulanglah...istirahatlah," Hanna meminta. Rayyan menatap Hanna dengan tatapan tajam, dia sedang tak mau dibantah. Mana tega dia membiarkan Hanna pulang sendirian. Rayyan memegang tangan Hanna dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
Hanya Hanna yang dia punya, dan dia berjanji akan menjaga Hanna. Itu yang ada di dalam hatinya, tak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Hanna padanya. Hanna yang tak bisa membantah pun hanya menurut saja. Dia sudah berada di dalam mobil Rayyan.
__ADS_1
"Aku nggak mau kamu kenapa-napa, terlebih kini para wartawan sedang mengejar berita. Alangkah baiknya kamu tinggal di rumahku saja," usul Rayyan, dan tentu saja Hanna tak setuju. Dia tak akan mau tinggal di rumah Rayyan.
"Kalau kamu nggak mau, nanti aku kirim bodyguard ke rumah kamu," usul Rayyan lagi, dan lagi-lagi Hanna menolak dalam hatinya, akan menjadi sangat lucu jika dia dikawal bodyguard. Hanna masih menunggu Rayyan melanjutkan ide-idenya.
"Bagaimana,?" ini pertanyaan akhirnya.
"Enggak perlu, aku bisa menghadapinya," jawab Hanna mantap. Meksipun dia sama sekali tidak pernah berhadapan dengan kamera, dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan, tapi dia merasa dia siap. Bukan Hanna namanya kalau ciut nyali.
Rayyan tersenyum kecil dengan jawaban Hanna, Hanna yang dia tahu memang Hanna yang tangguh dan cuek.
"Ok, akan aku selesaikan berita ini setelahnya,"
"Maksudnya?"
"Iya, aku sudah janji kan sama para wartawan untuk konfrensi press berkaitan dengan semua-muanya,"
"Jadi kamu bilang kalau mantan istri kamu itu aku,?" Hanna menunjuk dirinya sendiri, dia merasa tidak setuju jika Rayyan mengatakan hal itu. Karena jelas akan merugikan Rayyan, dan dia juga belum siap mental jika harus menyandang gelar janda, dan janda dari Rayyan. Apa kabar para warganet? apa kabar para fans Rayyan, bisa-bisa rundungan buat Hanna akan bertubi-tubi. Dia belum siap untuk ini.
"Ya lihat nanti,"
"Jangan," sergah Hanna. "Statusmu akan hancur jika ini terbuka," Hanna ragu mengatakannya. "Dan untuk ayahmu, jika aku boleh meminta....ceritakan dia serapi mungkin,". Hanna berharap Rayyan bisa memberikan keterangan tentang ayahnya dengan cerita yang baik.
Mobil berhenti di depan pagar rumah Hanna, hari masih siang saat ini. Hanna bergegas turun dari mobil Rayyan, dan tak memungkinkan juga Rayyan akan ikut menemani Hanna. Karena kondisi baju Rayyan yang kotor terkena tanah.
"Terima kasih," Hanna tersenyum dan melambaikan tangan, mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir dengan Rayyan, karena tak ada lagi penghubung sekarang. Pak Andre yang akhir-akhir ini kembali mendekatkan dirinya dengan Rayyan pun sudah tiada, Hanna akan kembali seperti semula.
__ADS_1
Terima kasih pada readers yang masih setia membaca, yang masih setia menunggu, dan yang memberikan dukungan pada author dengan like, vote, dan komentar.