Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Tak Pedulikah?


__ADS_3

"Ayaaaah aku berangkat" Hanna melambaikan tangan kepada ayahnya, tumben-tumbenan ayahnya masih anteng belum melakukan pekerjaannya. Dia berada di teras melihat Hanna bersiap berangkat magang.


Pak Handi tersenyum dan melambaikan tangannya mengiringi keberangkatan Hanna.


"Hati-hati di jalan nak, putri ayah yang cantik" teriaknya, membuat Hanna terkikik.


"Iya ayah tampan" Hanna membalas, dia memakai helm dan menyalakan mesin motornya. Dan akhirnya Hanna berlalu meninggalkan halaman. Pak Handi melihat Hanna hingga tak kelihatan lagi karena sudah melaju.


        Hanna berangkat pagi menuju kantor, ini adalah hari-hari terakhirnya magang di kantor. Dia akan disibukkan dengan membuat laporan akhir. Dan akhir-akhir ini mbak Santi lagi seneng banget bekerja sama dengan Hanna. Karena menurut mbak Santi, kerjaan Hanna sangat bagus dan memuaskan. Laporan-laporan yang dia buat hampir tak ada yang salah.


"Selamat pagi mbak Hanna...ceria sekali nih, kayak habis menang lotre" goda mas Karyo yang sedang mengepel lantai di lobby.


"Mas Karyo mau?"


"Apa mbak?"


"Kan aku menang lotre, nanti aku kasih bagiannya" Hanna tertawa, Mas Karyo pun ikut tertawa.


"Mbak Hanna kok pagi sekali toh? bahkan ini belum selesai lho ngepelnya saya" Mas Karyo berbicara sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Nggak apa-apa toh mas, ya begini ni kalau anak rajin"


"Iya mbak bener, mbak Hanna memang begini" mas Karyo mengangkat jempolnya dengan sejenak mengehentikan tongkat pelnya.


"Hidih...itu modus"


"Modus apa mbak?"


"Modus mau minta jatah undian lotreku" Hanna tertawa, mas Karyo kembali ikut tertawa, lalu dia geleng-geleng kepala. Hanna memang semenyenangkan itu.


"Mbak..mbak..."


"Kenapa lagi mas?"


"Itu sekarang kok mbak Hanna nggak pernah dapat sarapan lagi ya? apa mbak Hanna sudah sarapan dari rumahnya?" mas Karyo kepo, Hanna pun mendadak kepikiran. Memang sudah beberapa lama Rayyan tak lagi mengirimkan sarapan untuknya. Apakah dia merindukannya?. Hanna termenung.


"Mbak...mbak....walah kok malah melamun toh?" mas Karyo melihat Hanna terdiam. "Mbak Hanna lagi bertengkar toh sama pacarnya?"

__ADS_1


"Pacar?" Hanna baru setengah sadar.


"Iya pacar, kok sekarang pacarnya nggak pernah kirim makanan lagi"


"Oh...bukan...bukan pacar. Ah sudahlah nggak perlu dibahas lagi" Hanna mengibaskan tangannya. Rayyan memang tak lagi peduli padanya, Hanna menyadari itu. Dan dia bersyukur sudah bercerai dari Rayyan, karena benar adanya. Bumi dan langit itu jaraknya tak terhingga, begitulah kiranya dia dan Rayyan.


"Kalau mbakk Hanna jomblo, sama aku aja mbak" mas Karyo terkekeh. Hanna yang hampir masuk ke dalam lift terkekeh dibuatnya.


"Nggak mau, aku nggak mau dijadikan bini mudanya kamu mas" sahutnya seraya masuk ke dalam lift menuju lantai di mana ruang kerjanya berada.


        Saat memasuki ruangan kerjanya, Hanna melihat ruangan itu yang masih sepi. Hanna termenung sejenak, sebentar lagi dia akan meninggalkan ruangan ini. Mungkin akan benar-benar putus berhubungan dengan apa yang berhubungan dengan Rayyan.


Bagaimana kabar dia? bagaimana perasaan Rayyan? bagaimana dengan hubungan Rayyan dan ayahnya?. Berbagai pertanyaan muncul di benak Hanna.


"Selamat pagi" seru Meta yang baru saja nongol dari balik pintu, bukan Meta namanya kalau nggak bikin heboh.


"Hehhm" sahut Hanna. Hanna mulai menyalakan komputernya.


"Bener-bener deh ini karyawan rajin amat. Meta meletakkan tasnya di atas meja, buru-buru dia mengeluarkan cermin dan melihat dandanannya. Tangannya dengan cepat merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah lipstik, lalu mengoleskannya ke bibirnya. "Nggak sempat pake lipstik aku" ujarnya tanpa ditanya, Hanna tersenyum saja melihat Meta.


"Eh Han..sudah tahu belum?"


"Hih palingan kamu sudah tahu. Kalau Rayyan ternyata sudah nikah bok...dan sudah cerai malah. Huh hancur hatiku" Meta nampak serius, dia sudah selesai membenahi lipstiknya. Hanna melihat ke arah Meta.


"Memang siapa istrinya?"


"Nah itu dia, si akun lambe-lambean itu juga belum bisa menemukan orangnya. Apa si Talitha ya? yang pernah digosipin waktu itu" Meta menebak.


"Hih pagi-pagi ngaco aja, kerjaaaa" Hanna menimpali, dia kembali melihat ke layar komputer.


"Tapi Han...aku penasaran, kamu nggak penasaran gitu?"


"Enggak, nggak penting"


"Eh apa jangan-jangan kamu tahu ya? secara kan kamu saling follow di IG?" Meta penasaran.


"Metaaa, hanya karena kita saling follow? lantas aku tahu gitu tentang dia?" Hanna balik bertanya.

__ADS_1


"Ya kali Han, secara kamu istimewa dapat follback dari dia"


"Itu hanya kebetulan Metaa, dia mungkin lagi mabuk. Dah ah kerja" Hanna melihat jam kantor sudah menunjukkan jam kerja, di mana mereka harus mengerjakan pekerjaannya masing-masing.


Gosip memang masih santer berhembus, tak hanya di media masa. Bahkan di kantor ini pun yang di mana Rayyan adalah bosnya pun mereka tetap menggibah. Tak peduli bahwa yang menggaji mereka adalah yang sedang dighibah.


Hanna mengaduk es tehnya yang dia pesan barusan, dia memilih makan siang di kantin kantor.


"Boleh saya duduk di sini mbak?" suara yang sangat dia kenal.


"Eh mas karyo, boleh. Duduk aja, gratis" ujar Hanna. "Mas mau makan apa? pesan aja, aku yang traktir"


"Eh nggak usah mbak, nggak enak ah"


"Nggak apa-apa mas, santai aja"


"Nggak mbak, saya sudah makan kok, mau minum saja"


"Oh boleh, pesan aja nanti aku yang bayar. Kan habis menang lotre" canda Hanna masih sama seperti tadi pagi. Mas Karyo nyengir. Dan akhirnya mas Karyo memesan es jeruk.


Suasana kantin yang rame karena jam makan siang mendadak riuh karena kedatangan Rayyan di sana, tumben-tumbenan dia muncul di kantor. Karena sudah lama sekali Rayyan tak meninjau kantornya ini.


Banyak karyawan yang kasak kusuk, ada yang memuji ketampanan Rayyan. Ada yang menyapa, dan lain sebagainya. Hanna melihat ke arah Rayyan. Mereka beradu pandang, hanya saja tak ada sapaan atau senyum. Hanna terpaku, lalu dia kembali ke arah gelasnya dan kembali mengaduk es teh manis yang kini terasa tak manis lagi di lidahnya.


Apakah semudah itu Rayyan melupakan dia? ah lagi-lagi Hanna menyalahkan dirinya yang seperti ingin diperhatikan oleh Rayyan.


"Mbak...mbak Hanna" panggil mas Karyo saat melihat Hanna kembali bengong.


"Mbak...saya kembali dulu ya, terima kasih esnya"


"Oh iya mas, iya...sama-sama..santi saja" Hanna tergagap, karena sejak tadi dia melamun. Melihat Mas Karyo pergi, Hanna mencoba melirik ke kanan dan ke kiri, mencari di mana Rayyan berada. Dan ternyata Hanna kehilangan jejak pandangan. Entah kemanda Rayyan pergi.


        Hanna bergegas membayar ke meja kasir dan kembali ke ruangannya. Sore menjelang, Hanna lupa dengan kejadian siang tadi tentang Rayyan. Karena dia disibukkan dengan laporan dan juga pekerjaan. Hingga jam pulang pun tiba.


Hanna memakai helmnya dan bergegas menyalakan mesin motornya, dia ingin segera sampai rumah. Dia begitu ingin cepat sampai ke rumah dan menyiapkan makan malam untuk dia dan ayahnya. Gerimis pun turun sebelum Hanna sampai rumah. Karena tidak terlalu deras, dan Hanna ingin segera sampai ke rumah. Hanna tak berhenti untuk memakai jas hujan. Dia melanjutkan perjalanannya.


Sesampainya di depan rumah, Hanna merasa heran dengan melihat banyak orang berkerumun di rumahnya. Hanna segera mematikan mesin motornya dan melepas helmnya.

__ADS_1


Beberapa wajah melihat ke arah Hanna dengan tatapan aneh.


"Kenapa pak? bu? ada apa?" tanya Hanna heran, dia bergegas menyibak beberapa orang dan masuk ke dalam ruang tamu. Mata Hanna nanar melihat apa yang ada di depannya. Terdengar suara guntur dan disertai hujan yang semakin deras di luar sana. Tapi tidak mengalahkan perasaan Hanna yang sedang menghadapi apa yang ada di depannya itu.


__ADS_2