
Saat memasuki mall, Hanna menjadi tidak percaya diri. Selain karena tampilannya yang berbeda, dia merasa tak pantas berjalan di samping Rayyan. Sementara Rayyan cuek saja.
"Rayyan.....Rayyan...!" teriak beberapa gadis yang terdengar alay tak jauh drai Rayyan, Rayyan yang biasanya cuek bebek itu melambaikan tangan memberikan balasan panggilan namanya.
Para gadis yang mengidolakan Rayyan lantas menjerit histeris, mereka mendekat, dan lagi-lagi Rayyan tak keberatan. Dia melayani sesi foto bersama penggemarnya.
"Tanda tangan di sini donk..." seorang laki-laki remaja menyodorkan sebuah bolpoin dan merelakan kaos putih polosnya ditanda tangani oleh Rayyan setelah dia meminta foto.
Setelah selesai, mereka mulai meninggalkan Rayyan, terdengar bisik-bisik dari mereka.
"Apakah itu pacar barunya Rayyan? ih...nggak cantik, cantikan juga aku" bisik gadis dengan rambut pirang yang tadi paling kenceng berteriak meminta foto sama Rayyan. Hanna masih berjalan di samping Rayyan, tapi dia menyempatkan menengok ke arah gadis pirang itu sambil menatapnya datar.
Hanna menghela nafas panjang, seketika dia menghentikan langkahnya. Rayyan yang menyadari Hanna tertinggal di belakangnya ikut berhenti. Lalu dia menengok ke belakang, melihat Hanna. Rayyan mundur beberapa langkah, dan kini dekat dengan Hanna.
"Kenapa?"
Mendengar pertanyaan itu Hanna diam.
"Bukankah kita nggak harus mendengarkan semua perkataan orang?" Rayyan melontarkan pertanyaan itu dengan niat menghibur Hanna, dia tahu Hanna sedang memikirkan perkataan para penggemarnya tadi.
"Maksud kamu apa bawa aku kesini?" Hanna terlihat merajuk, dia merasa sedang dipermalukan oleh Rayyan. Rayyan tersenyum manis sambil menggeleng.
"Nggak apa-apa kan aku minta kamu nemenin aku belanja"
"Belanja?"
"Iya, sebentar lagi kan aku mau pindah apartemen lagi, jadi aku ingin membeli beberapa perabot, jadi nggak ada salahnya kan aku butuh pandangan dari istri? hah?" Rayyan menarik tangan Hanna dan kembali berjalan. Belum selesai Hanna melongo, dia sudah dibawa masuk ke dalam sebuah toko yang memajang perabotan mewah nan estetik.
__ADS_1
"Kamu mau pindah?" Hanna memberanikan diri untuk bertanya, saat Rayyan melihat hiasan dinding yang membuat Hanna melotot beberapa kali melihat harganya. Rayyan mengangguk.
"Kenapa?"
"Kenapa?" Rayyan balik bertanya.
"Iya kenapa?"
"Rumah itu terlalu sepi kalau aku huni sendirian" ucap Rayyan sambil memudarkan senyum, setelah hampir 6 bulan setiap kali pulang syuting dia akan melihat Hanna di sana, dan lalu akan kembali tak ada orang membuatnya merasa aneh. Padahal sebelumnya dia merasa baik-baik saja meskipun nggak ada teman.
"Kalau kamu mau, tinggalah di sana dengan keluargamu" ucap Rayyan. Seolah mendapat kesempatan emas, tapi Hanna tetaplah Hanna. Tidak mungkin dia akan menerima tawaran itu, meskipun Rayyan menyebalkan, tapi itu sangat berlebihan.
"Enggak, aku juga mau pulang"
Rayyan sudah selesai menunjuk barang yang dia beli, setelahnya dia membayar ke kasir, dan meminta toko untuk mengirimkan barang ke alamat apartemennya besok.
"Iya" jawab Hanna.
Tanpa diduga, ada seorang wartawan yang kebetulan sedang nongkrong di cafe tersebut. Dia segera mendekati Rayyan yang tanpa pengamanan kali ini.
"Rayyan, bisa wawancara sebentar?" tanya wartawan laki-laki itu, Rayyan memberikan kode mata, menandakan dia tidak keberatan.
"Kalau boleh tahu, apakah ini pasangan baru kamu?" tanya wartawan itu menyelidik, dia melihat Hanna dari ujung rambut sampai ujung kaki"
"Yang sopan ya mas!" hardik Rayyan tak suka. "Jangan menguliti pasangan saya" ucap Rayyan yang membuat Hanna berasa disengat listrik, seolah aliran darahnya berhenti seketika itu juga. Begitu juga orang-orang di sekitarnya yang mendengar kalimat itu, tak luput juga dengan wartawan yang mewawancara itu tadi.
"Jadi benar ini pasangan yang baru anda?" ulang wartawan itu.
__ADS_1
"Iya" jawab Rayyan mantap. "Ok, permisi ya?" Rayyan menarik tangan Hanna dan tanpa mengucap sepatah katapun dia meninggalkan cafe itu.
Hanna menarik tangannya dari genggaman Rayyan, dia merasa tidak nyaman. Selain kepura-puraan ini, dia juga tidak kuat mental menjadi sasaran empuk pandangan sinis dari para penggemar Rayyan.
"Aku mau ke toilet" pamit Hanna lalu meninggalkan Rayyan. Dia mematut diri di depan cermin di toilet, melihat wajahnya yang berbeda dari kesehariannya, Hanna mendadak membenci dirinya, dan juga Rayyan. Ada beberapa orang yang masuk ke dalam toilet, terlihat memperhatikan Hanna juga.
Hanna segera keluar dari toilet, dna tanpa harus susah mencari, Rayyan menunggunya dengan setia di depan toilet. Nampaknya dia tidak peduli dengan pandangan orang. Hanna semakin merasa tidak enak hati, dan merasa kepura-puraan Rayyan sangat totalitas.
Mereka keluar dari mall dan melanjutkan tujuan, kali ini Rayyan akan membawanya ke apartemen mewahnya untuk sekedar melihat-lihat. Sepanjang perjalanan, Hanna hanya terdiam, dia sibuk marah pada Rayyan tapi tidak bisa dia utarakan. Hingga mobil memasuki basement, Rayyan keluar dari mobilnya dan menunggu hingga Hanna keluar. Karena tak kunjung keluar, Rayyan membuka pintu mobil untuk Hanna.
"Sebentar" ucap Rayyan. Hanna yang masih dongkol akhirnya turun. Rayyan masuk ke dalam lift dan menuju lantai 10, di mana apartemennya berada.
Apartemen dengan nuansa mewah itu terpampang di depan mata Hanna. Rayyan menyalakan lampu ruangan, Hanna semakin bisa melihat kemewahannya.
Hanna mengambil tisu dan berusaha menghapus make up yang masih menempel, Rayyan melihat Hanna lalu duduk di samping Hanna.
"Aku tahu aku tidak cantik, tapi bukan begini caranya jika ingin mempermalukanku" Hanna masih dongkol.
"Hann...bukan itu maksudku hey...."
"Lalu apa?" wajah Hanna nampak belum bersih dan masih cemong dengan make up yang tidak sempurna sekarang. "Kamu memintaku menjadi orang lain dan memamerkan ke publik seolah aku pasanganmu, dan yang jelas aku yakin tak perlu menunggu besok pagi, pasti beritanya akan kemana-mana. Maksud kamu apa?"
"Hey...itu bulu mata kamu lepas" Rayyan menunjuk bulu mata Hanna yang sebelah kanan. Hanna yang masih kesal langsung mencabut dengan paksa.
"Awww" Hanna memekik. Rayyan malah menahan tawa. Kini tinggal bulu mata Hanna sebelah kiri, dan Hanna nampak lucu. Rayyan membantu Hanna mengambil bulu mata yang satunya dengan hati-hati.
Hanna terdiam, jarak keduanya sangat dekat, bau parfum Rayyan begitu membius. Jarak wajah mereka benar-benar dekat, Rayyan mendekatkan wajahnya pada Hanna. Nafasnya memburu, satu detik...dua detik...
__ADS_1
"Aku kebelet pipis" pekik Hanna. Hanna berlari ke dalam toilet apartemen Rayyan, tak kalah mewah. Tapi bukan itu, Hanna tak bisa mengendalikan degup jantungnya. Apakah Rayyan tadi sedang mabuk sehingga hampir saja mereka berciuman. Hanna masih menata hatinya yang tak karuan. Dia masih belum keluar dari toilet.