
Hanna meyakini jika dia berada di lokasi sebuah pernikahan, tampak dari papan ucapan yang berderet di depan hotel. Rayyan membantu Hanna turun dengan membukakan pintu mobilnya.
"Tak perlu lah, kayak apa aja," Hanna protes.
"Hus, jangan protes," Rayyan tidak peduli.
Tangan Rayyan memegang tangan Hanna menuju lokasi pernikahan.
"Ini adalah pernikahan salah satu sahabatku,"
"O jadi karena ini pulang terburu-buru,?" Hanna melihat ke arah Rayyan, namun kakinya terus saja berjalan.
Rayyan melihat ke arah Hanna tanpa menjawab, karena sudah jelas bukan ini alasannya, alasan kenapa dia ingin pulang segera karena Hanna. Titik.
Rayyan tak ragu mengajak Hanna naik ke atas pelaminan dan menyalami kedua pengantin, Hanna berada di belakang Rayyan sembari ikut mengantri untuk salaman. Setelah bersalaman, sang potographer meminta Hanna dan Rayyan untuk berfoto bersama mempelai. Hanna pun ikut saja, meskipun dia benar-benar tidak kenal siapa pengantin itu.
Setelah foto usai, Rayyan mendekati berdiri di antara dua pengantin dengan memunggungi Hanna. Rayyan nampak berbisik pada pengantin itu, Hanna bergeser terlebih dahulu, dia memilih berjalan turun dari panggung pengantin. Kedua penganti mengangguk mendengar Rayyan berbisik, lalu mereka saling mengangkat kedua jempol mereka, entah apa yang mereka bicarakan.
Rayyan segera menyusul Hanna yang masih berdiri di samping panggung.
"Sorry," bisik Rayyan, tangannya kembali meraih tangan Hanna dan mengajaknya untuk makan di salah satu tempat VIP.
"Kenapa di sini,?" tanya Hanna heran, hanya ada mereka berdua yang berada di area ini.
"Nggak apa-apa, biar kamu nyaman," jawab Rayyan.
"Ow jadi ini yang kamu bisikkan pada pengantinnya tadi? minta di tempat VIP,? padahal kita makan di sana bisa loh," Hanna menunjuk tempat makan yang ramai dengan para undangan yang lain.
"Sudah, yuk makan," Rayyan memungkasi, berdebat dengan Hanna tak akan selesai, tapi dia nggak juga sakit hati.
Meskipun merasa tak enak hati karena merasa selalu dimanjakan oleh Rayyan, tapi Hanna pun akhirnya makan juga, menikmati hidangan yang mewah itu.
Pernikahan ini bagi Hanna terlihat sangat mewah, hiasan, tempat, makanan, dan semua yang dilihat Hanna sungguh mewah. Entah berapa uang yang keluar untuk pesat seperti ini, sungguh Hanna merasa sangat takjub.
__ADS_1
"Apa ingin pesta yang seperti ini,?" Rayyan berbisik.
"Rasanya tak pantas aku mendapatkan pesta seperti ini, terlalu mewah," jawab Hanna kembali merasa tidak percaya diri.
Rayyan memegang tangan Hanna dan mengusapnya lembut, "Salah satu hal yang membuat aku sedih adalah saat-saat seperti ini, di mana kamu merasa tidak percaya diri, padahal kamu itu istimewa, terlebih di mataku," balas Rayyan, membuat Hanna kicep.
Obrolan itu terhenti saat Rayyan mengajak Hanna untuk ikut ke dalam kerumunan yang ada di depan panggung pengantin. Rayyan dan Hanna berada di gerombolan orang-orang yang sedang berada di depan panggung pengantin, karena sebentar lagi akan ada lempar bunga pengantin, biasanya para lajang kan berada di sana dan berlomba menangkap bunga dari pengantin.
"Seru-seruan aja," bisik Rayyan pada Hanna, lagi-lagi Hanna yang tidak percaya dengan hal demikian sebenarnya enggan. Tapi Rayyan menariknya ikut bergabung bersama para lajang yang lain.
"Sudah siap,?" tanya MC bersemangat.
"Siiaaaap," jawab mereka serempak, wajah mereka penuh dengan tawa dengan harap-harap cemas mendapatkan lemparan bunga pengantin. Hanna yang ada di samping Rayyan hanya tertawa kecil dan tidak berharap dia yang menangkapnya, secara dia menjadi salah satu makhluk mungil di antara para lajang yang memiliki tinggi badan di atasnya.
"Satu dua tiga...," aba-aba dari sang MC. Kedua mempelai yang berada di atas panggung berdiri membelakangi para tamu undangan bersiap melempar setelah mendengar aba-aba dari MC, namun ternyata pengantin belum juga melempar, mereka mengerjai para tamu undangan yang sudah menunggu bunga dilempar.
"Waaah...wah...ternyata suka ngeprank nih," seru sang MC. Hanna melirik ke arah Rayyan yang bersedekap santai, bukannya mau nangkap bunga? tapi kenapa sesantai itu. Begitulah kira-kira hal yang dipikirkan oleh Hanna.
Mempelai pengantin dengan wajah berbinar bahagia itu mendekat ke arah Rayyan, memberikan bunga itu padanya. Bunga mawar putih dan lily itu diberikan kepada Rayyan. Hanna yang ada di samping Rayyan hanya menyaksikan tanpa tahu maksudnya.
Rayyan menerima bunga itu sambil tersenyum, mengangkat jempolnya pada pengantin sebagai tanda terima kasih. Tangan Rayyan merogoh saku celananya dan mencari sesuai di sana. Sebuah kotak kecil, Rayyan segera berlutut di depan Hanna, tangan kanan memegang kotak kecil itu dan tangan kiri memegang buket bunga.
Para tamu undangan tak luput menyaksikan momen itu.
"Han...terima kasih sudah hadir di hidupku, tak peduli kamu ingin lari dariku, semakin aku ingin mendekapmu, jadilah pasangan hidupku," Rayyan membuka kotak cincin yang dibeli tempo hari itu sambil berlutut. Hanna yang menyaksikan dan mengalami hal ini berasa sedang berada di sebuah adegan sinetron. Berasa mimpi, Hanna menoleh kanan dan kiri, meyakinkan jika ini bukan adegan syuting belaka. Semua mata yang menyaksikan ikut terkesima dengan apa yang dilihatnya. Betapa romantisnya adegan ini bagi mereka, kedua mempelai pun ikut baper, mereka saling mengeratkan genggaman tangan mereka sambil melempar senyum.
Para lajang yang sedianya menunggu lemparan bunga pun ikut terhanyut dengan pemandangan ini. "Maukah kamu menikah denganku,?" pinta Rayyan, senyumnya mengembang. Hanna melihat sorot mata Rayyan, dan mata itu, ah...tak kelihatan ragu sama sekali. Ini yang membuatnya malah takut, takut tidak bisa membuat Rayyan bahagia, takut mengecewakan Rayyan nantinya.
Mata Hanna memanas, tak kuasa menahan air matanya yang sudah saling dorong untuk keluar. Bukan air mata kesedihan, dia merasa apa yang dilakukan Rayyan sudah benar-benar membuatnya tak bisa lagi mengucapkan kata terima kasih.
Gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana, gadis asing yang mengidolakan Rayyan layaknya para penggemar lainnya. Gadis asing yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan Rayyan. Hanna yang kaget dengan sikap Rayyan yang sangat berbeda dengan tampilannya di layar kaca, membencinya, dan kini...laki-laki itu melamarnya di depan umum.
Rasanya dia ingin memukul Rayyan, karena dia merasa malu dilihat banyak orang.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ucap Rayyan. Air mata Hanna pun akhirnya lolos, mengalir ke pipi Hanna dengan mulus.
"Terima...terima...." ucap para tamu undangan. Hanna mengusap air matanya dengan jemarinya.
"Han...aku menunggu jawabanmu," Rayyan masih berlutut, sabar menunggu jawaban Hanna.
Hanna mengangguk kecil, rasanya tak mampu berkata-kata dengan apa yang dilakukan Rayyan.
"Yes," Rayyan mengangkat kedua tangannya, bahkan lupa dia sedang memegang bungan dan juga cincin. Para tamu undangan bersorak girang, begitu juga mempelai pengantin yang masih belum kembali ke tempatnya semula.
Rayyan meletakkan sebentar bunga di dekatnya, dia mengambil cincin yang ada di kotaknya dan memasangkan di jari manis Hanna. Hanna menarik nafas panjang, mengatur emosinya dan juga air matanya. Cincin itu pas berada di jemari Hanna. Para tamu bertepuk tangan kembali.
Rayyan mengambil buket bunga dan memberikannya untuk Hanna. Hanna menerimanya sambil tersenyum. Kedua mempelai pun mengacungkan jempolnya ke arah Hanna dan Rayyan, ikut senang dengan apa yang baru saja terjadi.
"Terima kasih," ucap Rayyan pada mereka, mereka sudah membantu lamaran ini berjalan dengan mulus.
Setelah mmebuat heboh seisi hotel, Rayyan mengajak Hanna pulang, karena acara pun mendekati akhir.
"Suka banget buat heboh," protes Hanna.
"Kalau nggak gini mungkin kamu akan menolakku,"
"Ih kok bisa,?"
"Iya, kalau di depan umum gini kan kamu nggak mungkin buat aku malu," Rayyan cengengesan, meskipun dia tahu Hanna tak mungkin akan berbuat seperti itu. Dia sudah sangat yakin jika Hanna akan menerimanya apapun cara melamarnya.
"Hiiish," Hanna memukul lengan Rayyan pelan.
"Jadi kamu sudah menjadi tunangan Rayyan Sebastian, jadi jangan macam-macam lirik cowok-cowok," Rayyan menaik turunkan alisnya.
"Hiiissh." Hanna mengulum senyum. Rayyan mengantarkan Hanna pulang ke rumahnya, perasaan mereka sangat senang. Jika bisa dilihat, mungkin banyak bunga bermekaran di sekitar mereka. Satu tahap selesai, Rayyan merasa lega.
Terima kasih yang masih membaca, Ya Allah...maafkan author yang lemot banget updatenya ya. Huh lagi deadline urusan pekerjaan, jadi super lemot deh. Maafkan.....
__ADS_1