
Karena badai dan hujan yang hingga malam belum juga mereda, maka tidak ada kapal penyeberangan yang beroperasi. Rayyan beberapi kali menelpon untuk menanyakan jadwalnya, namun nihil. Sementara itu Hanna nampak tiduran di ranjang. Merenungkan apa yang terjadi, merenungkan apa yang telah dilakukan. Seemosional itu dia.
Rayyan mulai merapikan pakaiannya, memasukkannya ke dalam koper. Hanna melihat ke arah Rayyan, lalu dia turun dari kamar tidurnya.
"Nggak usah, kita nggak jadi pulang, maaf" Hanna berbicara lirih, ada perasaan bersalah yang dia rasakan.
"Nggak apa-apa, aku bisa kembali lagi kesini" Rayyan berbicara bijak. Membuat Hanna semakin merasa bersalah. Hanya karena masalah sepele, rasa lelahnya dengan ghibahan yang nggak penting itu menjadikannya semarah ini. Tidak hanya itu, dia merasa jika dia melewatkan ulang tahun Bian maka akan menjadi salah satu situasi yang sangat merugikan. Sementara pekerjaan Rayyan belum tentu selesai tepat waktu.
"Aku minta maaf, tidak seharusnya aku seperti itu" Hanna menunduk. Rayyan melihat ke wajah Hanna yang menunduk, bukan Hanna yang biasanya saat berbicara dengan cara seperti ini.
"Aku yang minta maaf, telah menyita waktu kamu" Rayyan pun merasakan tidak enak. Gara-gara permintaan dia yang mendadak, sehingga Hanna harus bersamanya. "Aku egois" Rayyan menelan ludahnya. Hanna menggeleng pelan.
"Dan aku minta, kamu jangan mendengarkan ocehan mereka, mereka tak tahu apa-apa tentang kamu"
Hanna terdiam, meresapi apa yang Rayyan ucapkan. Dia tahu arah pembicaraan Rayyan, dia sedang menjelaskan tentang ulah ghibahan para rekan kerjanya.
"Mereka tidak tahu kamu" Rayyan kembali menegaskan.
Rayyan yang merasa ruwet dengan keadaan ini pun memilih meninggalkan Hanna di kamarnya, dia pergi membiarkan Hanna untuk menenangkan diri. Suara dentuman musik membuat hatinya sedikit hangat dengan situasi hujan badai hari ini yang tiada henti.
__ADS_1
"Wehehehehe kesini juga akhirnya" Gerry nampak senang dengan kedatangan Rayyan. Temannya itu nampak menekuk wajahnya, tidak seceria biasanya. "Kenapa woi?" Gerry tertawa keras melihat temannya sedang murung itu. Teman brengs*knya itu nampak puas mengoloknya.
"Sialan kamu" Rayyan duduk di dekat Gerry, dengan cekatan Gerry menuangkan minuman untuk Rayyan. Tak menunggu lama Rayyan menenggak minuman itu. Hingga beberapa gelas dia tidak peduli. Dia ingin melepaskan pikirannya yang jenuh dengan keadaan ini
Rayyan merasa marah dengan dirinya sendiri, merasa kalah dengan Bian yang sudah memenangkan hati Hanna. Hanna, gadis itu. Membuatnya hampir gila, gadis yang sama sekali tak masuk perhitungan sebagai kekasih idaman, bahkan sama sekali tidak pernah masuk dalam kriterianya. Kini gadis itu mengobrak-abrik kehidupannya. Dan membuatnya benar-benar menggila.
"Kenapa? kalah saing?" tanya Gerry serius. "Sekelas kamu masih ditolak sama cewek?" Gerry tergelak lagi. Karena sejauh yang dia tahu tentang Rayyan, belum ada sejarahnya Rayyan ditolak oleh cewek.
Rayyan hanya menceritakan jika dia suka dengan Hanna, si cewek biasa. Rayyan tidak sampai cerita jika dia sudah menikah kontrak dengan gadis itu dengan Gerry. Jika Gerry tahu, bisa-bisa sampai kiamat dia akan mengoloknya.
"Puas ngolok-ngolok terus?" ujar Rayyan.
"Sorry...sorry bro...bukan gitu, aku penasaran sama dia, kenapa bisa begitu sama kamu. Beneran dia kalangan biasa?"
"Iya juga sih, kan memang dari tampilannya juga biasa. Yang lebih heran lagi, kenapa kamu bisa segila ini? dan seperti apa Bian itu, hingga kamu kalah saing sama dia" Gerry menyalakan sebatang rokok. Dia menyodorkan kotak rokoknya pada Rayyan meskipun dia tahu Rayyan tak pernah merokok.
Gerry yang menyebut nama Bian membuatnya semakin ingin menghajar laki-laki itu. "Dia brengs*k" umpatnya, kembali dia meneguk minumannya.
"Memangnya aneh ya kalau aku suka sama dia? dia itu beda bro" sahut Rayyan sembari menyunggingkan senyum di bibirnya. "Aku merasa menemukan hidupku kembali saat bersama dia" ujarnya menerwang, tangannya memainkan bibir gelas yang ada di meja. Sambil mengingat peristiwa di mana dia sering dimasakkan Hanna, merasakan kasih sayang ayah Hanna. Dia menemukan hidupnya. Dan Hanna memang beda baginya.
__ADS_1
Sudah tak terhitung berapa minuman yang dihabiskan oleh Rayyan, hingga Rayyan terlihat mabuk. Gerry yang daya tahannya masih sigap pun akhirnya mengantarkan Rayyan ke hotelnya.
"Sudah kamu balik aja" Rayyan yang sudah sempoyongan menyuruh Gerry pulang saja, toh dia sudah berada di depan pintu kamarnya. Gerry pun akhirnya pulang.
Tubuh lunglai, daya ingat pun sudah terbatas, Rayyan mengetuk pintu keras sambil menyandarkan tubuhnya di depan pintu. Hanna mengucek matanya pun segera membuka pintu kamar, karena saat keluar tadi Rayyan sengaja meninggalkan kunci kamar di dalam.
Hanna membuka pintu, dan saat pintu terbuka tubuh Rayyan menghambur ke tubuh Hanna. Hanna yang mungil pun hampir ambruk karena tiba-tiba mendapat beban berat yang menghantam tubuhnya. Rayyan sudah tak bergerak, Hanna dengan segenap kekuatan pun mencoba menopang tubuh Rayyan dan menuntunnya ke tempat yang tak jauh dari pintu. Dengan susah payah Hanna berjalan sambil memegang Rayyan yang sudah limbung itu.
Akhirnya Hanna berhasil membawa Rayyan ke tempat tidur dengan cara hampir menyeret tubuh laki-laki itu. Wajah Rayyan memerah dengan bau minuman yang menyengat. Hanna langsung mengangkat kaki Rayyan agar bisa berselonjor. Lalu Hanna menarik selimut dan menyelimutinya.
"Hanna....Han...." Rayyan memanggil namanya, Hanna yang semula akan kembali melanjutkan tidurnya pun menoleh. Nampak Rayyan masih tertidur pulas. Hanna melihat wajah Rayyan yang tak karuan karena pengaruh minuman itu. Ada rasa bersalah pada laki-laki itu.
Melihat Rayyan kembali tenang, Hanna pun kembali, kini dia yang akan tidur di sofa. Hanna menghamburkan diri ke sofa dan beranjak tidur.
Tak berapa lama tertidur, Hanna merasakan ada sesuatu yang memegang tubuhnya dari belakang karena Hanna tertidur dengan posisi miring. Hanna membuka matanya, tapi dia belum membalikkan tubuh untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Semakin lama, dia merasakan bahwa yang ada di belakangnya ada tangan yang sedang memeluknya dengan erat. Bahkan Hanna kini tak bisa melihat ke belakang, lama kelamaan pegangan itu semakin erat. Bahkan dirasakan ada yang bergerilya di tengkuk lehernya. Membuat Hanna ingin berteriak.
"Aku mencintaimu....aku mencintaimu....aku ingin memilikimu seutuhnya" dibarengi dengan sentuhan yang belum pernah Hanna rasakan sebelumnya. "Aku tak ingin orang lain memilikimu" imbuh suara itu lagi.
__ADS_1
Hanna mencoba berontak, namun percuma. Kini tubuh Hanna sudah tak lagi membelakangi orang itu. Bahkan kini dia sudah berada di atas Hanna dengan segala tingkah yang membuat Hanna tak bisa bergerak. Tangan Hanna terasa kaku, mulutnya tak bisa berbicara, mata Hanna berkaca-kaca dengan apa yang terjadi. Dia mencoba keluar dari kungkungan itu, tapi tak berhasil. Bibirnya sudah tenggelam dalam bibir orang itu. Hanna pun meneteskan air mata mendapat perlakuan seperti ini.
Semakin lama, Hanna sudah tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi. Hentakan kakinya tak mampu menyingkirkan tubuh itu darinya, berontak tangannya tak kuat lagi dan akhirnya dia kehilangan apa yang dia jaga selama ini.