Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Bertemu


__ADS_3

Dari hari ke hari berita tentang Rayyan yang terlibat dengan obat-obatan terlarang semakin santer terdengar, membuat telinga Hanna terasa panas. Tidak hanya telinganya, tetapi juga hatinya dan mentalnya. Banyak komentar yang menyudutkan dia menjadi biang keladi Rayyan seperti ini.


Hanna memutuskan untuk menutup akun media sosialnya karena begitu banyak komentar buruk.


"Apakah kakak benar-benar menyerah,?" Nayo melihat Hanna sedang duduk di teras rumahnya, Nayo sengaja untuk pulang lebih awal dan mengerjakan tugas di rumah saja ketimbang berkelompok dengan temannya. Nayo menyadari jika kakaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Entahlah," gumamnya.


Nayo menarik kursi yang ada di sebelah Hanna, dan mendekatkan di dekat Hanna. "Kak, yang menjalani semua ini adalah kakak, aku tahu kakak dan kakak adalah orang baik, terlepas dari apa yang dikatakan oleh banyak orang di luar sana" Nayo menatap Hanna. Hanna hanya menatap Nayo dengan senyum hambar.


"Apakah aku memang tidak pantas berada di sampingnya,?" Hanna menanyakan pada Nayo.


Nayo menarik nafas panjang, lalu tersenyum ke arah Hanna. "Kak....aku kenal kakak, jadi aneh saja kalau mereka mengatakan kakak tidak pantas bersanding dengan laki-laki siapapun,"


Kalimat Nayo seolah hanya hiburan bagi Hanna, tapi tidak bagi Nayo. Karena Nayo sangat mengenal kakaknya dengan baik. Tapi dengan melihat keadaan Hanna seperti ini, Nayo menjadi khawatir.


"Kak, itu tadi aku belikan vitamin buat kakak, nanti diminum, jangan hanya karena omongan orang yang nggak bener, omongan orang yang sama sekali nggak tau kakak, lalu kakak jadi nge down," Nayo berbicara dengan serius.


        Rayyan nampak berbinar saat Pak Salman memberikan kabar baik baginya.


"Terima kasih Pak Salman, anda sudah menyelamatkan saya," ungkap Rayyan dengan lega. Jika Rayyan tidak terbukti positif menggunakan zat terlarang, berbeda dengan Garry yang memang mengkonsumsinya. Rayyan memang sudah meyakini jika dia tidak akan terjebak ke dalam masalah ini.


Beberapa hari sebelum Rayyan berada di masalah ini, Rayyan memang sedang sakit dan mengkonsumsi obat dari dokter. Dan itulah yang menyebabkan tes urinenya menunjukkan positif, sedangkan tes rambutnya negatif. Ini yang sangat dia syukuri.


Seminggu rasanya bertahun-tahun, terlebih ponselnya disita dan tidak bisa bertemu dengan Hanna dengan alasan pemerikasaan intensif.


"Ini berkat anda juga mas," ungkap Pak Salman dengan senyum kelegaan, melihat kliennya tidak terbukti menggunakan zat terlarang. Namun ada yang dia sesalkan, berita di media begitu santer menjelekkan Rayyan.


"Apa nanti saya sudah bisa pulang,?" tanya Rayyan dengan wajah tidak sabar, wajah tampannya itu nampak sedikit berantakan karena seminggu dia sama sekali tidak peduli dengan tampilannya.

__ADS_1


"Iya bisa, tinggal menunggu berkas selesai,"


"Sekali lagi terima kasih Pak,"


"Sama-sama mas,"


        Setelah berkas selesai, Rayyan bersiap pulang. Ponselpun sudah dikembalikan, Rayyan benar-benar lega dan sangat bersyukur. Di dalam mobil Rayyan segera mengisi daya ponselnya dan mencari-cari nama kontak Hanna. Sejurus kemudian dia melakukan panggilan ke nomor Hanna.


Sudah 3 kali panggilan, namun tidak ada jawaban. Rayyan mengetik pesan dan mengirimkannya ke Hanna.


Tak berapa lama, Hanna melakukan panggilan ke Rayyan.


"Rindu," ucap Rayyan tanpa basa-basi dan tanpa mengucap halo.


Hanna tersenyum tipis di sana, senang rasanya mendengar suara itu kembali ceria. Dia mendapat kabar dari salah satu tim Pak Salman jika Rayyan tidak terlibat dan bebas dari masalah ini. Hanna menangis terharu, dia tergugu dan belum menjawab ucapan rindu dari Rayyan.


"Kamu baik-baik saja kan Han? aku kesana ya," ucap Rayyan.


Hanna menggeleng, sadar jika dirinya kini berada di kantor. Hanna mengambil tisu yang ada di depannya dan menyeka air matanya yang menetes di pipi.


"Enggak...aku lagi di kantor," Hanna berusaha menyembunyikan suaranya yang parau. Tangannya memainkan tisu yang kini diremas menjadi sebuah bola kecil. "Pulanglah dulu, nanti kita ketemu," perintah Hanna yang dengan terpaksa diiyakan oleh Rayyan.


Ada baiknya saran Hanna, dia akan pulang dan membersihkan dirinya. Sudah banyak wartawan yang menunggunya tadi di depan, dekat dengan mobilnya sebelum dia keluar dari kantor polisi. Hanya saja Rayyan belum bisa memberikan keterangan apapun, dia terlalu lelah dengan kejadian seminggu ini. Dia belum ingin sama sekali berhubungan dengan para pewarta. Dengan kejadian ini, Rayyan semakin ingin mundur teratur sebagai entertainer.


Rayyan melepaskan bajunya dengan sembarangan dan segera masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan penat yang ada di bajunya dengan mengguyurkan air hangat di badannya. Terasa ringan, terasa enak di badannya. Setidaknya menjadi suatu kemewahan yang hilang seminggu yang lalu.


Rayyan berlama-lama membersihkan diri di kamar mandi, membersihkan bulu di dagu yang mulai tumbuh, membuat wajahnya agak kurang bersih. Karena memang dirinya biasanya tidak suka bulu di wajahnya.


Mau tidak mau, Rayyan akan menjemput Hanna sore ini di kantornya. Dia akan berangkat lebih awal tanpa memberitahu Hanna. Jika diberitahu, maka Hanna tak akan mau dijemput.

__ADS_1


        Hanna mengerjakan pekerjaan dengan semangat, hatinya terasa amat lega dengan apa yang terjadi hari ini. Senyumnya mengembang setelah beberapa hari terlihat tak nampak.


Hanna melihat jam dinding, dan pekerjaannya pun sudah selesai. Hanna bergegas merapikan barang-barangnya dan segera pulang.


        Sebuah mobil berhenti di seberang jalan, menyadari jika Hanna baru saja keluar dari kantor. Rayyan membuka pintu mobilnya dan segera berlari ke seberang jalan.


"Hannn," pekiknya. Hanna masih sibuk dengan ponselnya.


"Haaannn," ulangnya lagi.


Hanna menoleh, dan melihat Rayyan dengan tatapan terkejut. Ada rasa rindu di hatinya, rasanya dia ingin menghambur dan memukul Rayyan sekerasnya. Namun Hanna terpaku, dia hanya bisa melihat tanpa bisa mengatakan apapun. Ponsel di tangannya masih dengan posisi yang sama, seperti patung.


Rayyan mendekat semakin mendekat ke arah Hanna, lalu memeluknya erat.


"Rindu," ucapan itu lagi-lagi terdengar di telinga Hanna dengan jelas. Bau parfum Rayyan itu kembali tercium di indera penciumannya, masih sama. Benar-benar ini adalah Rayyan.


"Terima kasih masih mengingatku," ucap Rayyan. Hanna tersenyum, tangannya masih menggantung di udara. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka berdua, Rayyan tidak peduli menjadi pusat perhatian. Yang dia tahu dia merindukan Hanna. Titik.


"Apa kamu tidak merindukanmu,?" Rayyan tersenyum, tangannya memegang kepala Hanna. "Itu terlihat dari tanganmu yang enggan menyentuhku," gumamnya sambil tersenyum.


Hanna menarik tubuhnya dan melihat ke wajah Rayyan, wajah itu, wajah tampan itu. Ah rasanya Hanna benar-benar ingin menendang laki-laki yang ada di depannya itu.


"Aduh," ujar Rayyan sambil memegang lengannya yang ditinju oleh Hanna.


"Kamu jahat," ujar Hanna sambil menyeka air matanya yang hampir saja keluar.


"Kenapa,?" Rayyan menyipitkan mata, senyum tak henti mengembang dari bibirnya. "Yuk masuk ke mobil dulu, terserah setelah ini mau ngapain," Rayyan menautkan jemarinya di sela-sela jemari Hanna dan berjalan menuju mobil.


Beberapa pasang mata yang semakin banyak melihat mereka, Hanna dan Rayyan tak peduli dan mereka sudah berada di mobil Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2