Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Makanan tanda Terima Kasih


__ADS_3

Sebelum gadis di sebelahnya bangun, Rayyan sudah bangun terlebih dahulu. Karena dia harus berangkat keluar kota hari ini, dia tidak mau Kamila sampai marah karena dia mengulur waktu. Rayyan membuka matanya, selimut hangat masih membalut tubuhnya. Dia membuka matanya lebih lebar lagi, nampak Hanna masih tertidur pulas dengan selimut pula. Udara pagi terasa dingin, tak tega pula jika dia harus membangunkan Hanna yang sedang pulas. Rayyan membuka selimut yang dari semalam membungkusnya itu, entah sejak kapan selimut itu ada. Yang jelas, dia yakin jika yang menyelimutinya adalah Hanna. Rayyan menyelimuti Hanna dengan selimutnya, lalu dia bergegas pergi untuk menyiapkan diri.


Hanna sudah bangun, melihat sekelilingnya sepi. Tak ada lagi Rayyan yang semalam tidur nyenyak di sampingnya, Hanna mengucek matanya agak lebih jelas melihat sekitarnya. Segera dia merapikan selimut dan barang lain kembali ke dalam rumah.


Hanya menyisakan tenda yang masih ada di luar, dia akan membereskannya nanti. Hanna bergegas masuk ke dalam kamarnya dan bergegas mandi, meskipun hari ini hari libur, tak ada aktivitas di kampus. Dia berencana mengunjungi ayahnya, sudah beberapa hari dia tidak bertemu ayahnya.


Hanna sudah siap, dia sengaja tidak masak hari ini. Dia berencana untuk memasak bersama ayahnya. Sebelum Hanna meninggalkan rumah, Hanna memasuki area dapur terlebih dahulu, dia sengaja meninggalkan segala hal yang kotor di rumah ini, untuk hari ini saja Hanna menyerahkan pada mbak yang akan datang membersihkan rumah. Dia ingin bersantai hari ini.


Suasana rumah sepi, padahal biasanya juga sepi. Tapi kali ini semakin sepi karena Rayyan nampak sudah berangkat. Terbersit di benak Hanna, apakah Rayyan baik-baik saja dengan Kamila? atau Rayyan masih dongkol?. Hanna menghentikan langkah kakinya saat tiba di dekat meja makan, nampak beberapa makanan tersaji dalam wadah yang bertutup transparan. Mata Hanna mengerjab, berbagai hidangan ada di sana.


Hanna meraih tulisan kertas yang ada di sebelah makanan tersebut.


"Makanlah, atau kalau kamu ingin pulang ke rumah ayahmu, bawalah semua" tertulis dalam secarik kertas. Hanna tersenyum. Kemudian dia menyeret sebuah kursi dan duduk sejenak di sana, melihat aneka makan hidangan. Hanna membuka salah satu hidangan di sana, mencomot olahan jamur yang sangat enak. Tak ingin dia sarapan sendirian, Hanna memutuskan untuk membungkusnya beberapa, dan tetap meninggalkan untuk mbak yang mau membersihkan rumah ini.


        Dengan motornya, Hanna telah sampai di rumahnya, terlihat ayahnya sedang sibuk mencuci baju para pelanggan.

__ADS_1


"Ayaaaah" teriak Hanna, lelaki itu menoleh ke arah sumber suara. Nampak Hanna melambaikan tangan sambil tersenyum sumringah. Ayahnya tersenyum melihat putrinya, sesungguhnya dia merindukan gadisnya itu.


"Hai anak gadis Ayah"


Hanna memeluk ayahnya.


"Ayah sudah sarapan? aku bawa makanan" Hanna menunjukkan bungkusan makanan yang dia taruh di kresek, sungguh seadanya.


"Ayah belum sempat memasak"


"Hah...kebetulan sekali, mari kita sarapan dulu" ajak Hanna, menarik tangan ayahnya. Ayahnya pasrah dan ikut saja. "Nayo di rumah?"


"Oh...dia sungguh sibuk, bahkan lupa sama kakaknya ini" Hanna nyengir, dia mengambil piring dari rak, dan menatap hidangannya di atas meja. Hanna dengan cekatan mengambil nasi hangat untuk ayahnya yang kebetulan sudah ada sejak semalam.


"Biarkan, yang penting dia sungguh-sungguh, dan terima kasih, atas bantuanmu adikmu bisa kuliah"

__ADS_1


"Jangan begitu yah, aku juga turut senang"


"Apakah kamu bahagia?" pertanyaan Pak Handi seolah menyengat pendengarannya. Hanna tersenyum manis, smabil mengangguk.


"Syukurlah, setidaknya kepura-puraan ini tidak menyiksamu" ujar Pak Handi, dalam hati kecilnya dia juga tidak tega melihat putrinya harus melakukan ini. Rasa bersalahnya kembali muncul.


"Mari kita makan" ajak Hanna.


"Apa ini semua kamu yang masak?"


Hanna menggeleng sambil tertawa.


"Kamu beli? harusnya kamu nggak usah beli makanan mahal begini" protes Pak Handi.


"Enggak tadi pagi entah mimpi apa Rayyan menyiapkan semua"

__ADS_1


"Oh ya?" mata Pak Handi membulat. Hanna mengangguk.


"Bagus lah, ayah senang kalau kamu senang" Pak Handi mengangguk.


__ADS_2