
Bukan Rayyan jika dia tidak memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Terlepas dari apa omongan orang. Pagi ini dia sudah rapi, jika biasanya libur diisi dengan lembur atau kalau pas malas dia akan berada di rumah seharian tanpa mandi dan aktivitas lainnya, hanya rebahan atau berenang saja di rumah. Parfum mewah nan wangi sudah dia semprotkan di tubuhnya, dia sudah bersiap untuk pergi.
Sebuah pesan baru saja masuk ke dalam ponselnya bertepatan dia akan mengantongi ponselnya. Rayyan melihat ke layar tanpa membukanya.
Sudah sarapan?
Isi pesan tersebut. Rayyan mengabaikannya. Itulah hal yang selalu dilakukan oleh Annet semenjak menjadi sekertarisnya, menanyakan perihal keadaannya, bahkan menanyakan apakah dia sudah sarapan, makan siang dan lain sebagainya. Meskipun Rayyan tak pernah menghiraukannya.
Rayyan mengambil kunci mobil yang terletak di laci kamarnya, bersiap untuk pergi.
Hanna menikmati liburnya yang menurutnya ini adalah libur panjang, karena besok juga tanggal merah. Inilah situasi yang mewah baginya, setidaknya dia masih bisa molor di rumah. Meskipun hanya rebahan dia sudah sangat bahagia. Rencana untuk bertemu dengan Kia pun gagal, karena Kia sedang berada di luar kota. Jadilah dia menyibukkan diri di rumah dengan membersihkan rumahnya. Sementara Nayo sibuk di dalam kamarnya setelah sarapan tadi. Hanna tak akan menganggu adiknya yang semakin sibuk dengan study_nya itu.
Hanna menyiram tanaman yang ternyata banyak yang mati karena tidak terawat, Hanna mmebuang daun-daun kering dari tanaman tersebut. Sebenarnya dia sedih, karena tanaman ini dia rawat sejak dulu. Karena kerjaan yang pindah, akhirnya dia menjadi tidak terawat. Hanna hampir selesai mengumpulkan sampah daun kering, memindahkan tanaman ke media pot yang baru agar bisa hidup lebih baik lagi.
Hanna memasukkan sampah ke dalam kantong sampah dan memindahkannya ke pojokan dekat pagar. Sebuah mobil berhenti di depan pagar, mobil warna putih. Hanna sudah tidak asing lagi. Hanna berdiri menatap mobil tersebut dengan tangan yang masih terbungkus sarung tangan yang kotor oleh tanah taman berwarna merah.
Laki-laki tampan dengan hem warna biru muda dan juga topi warna hitam itu turun dari mobilnya dengan senyum sumringahnya. Membuat detak jantung Hanna menjadi tidak aman.
"Kita tidak ada janji kan,?" Hanna menyambut dengan kalimat ajaib itu.
"Harus ya bertamu tanya dulu,?" sahut Rayyan tepat berada di pintu pagar rumah Hanna. Hanna tersenyum kecil. "Bukain lah, nggak sopan ngebiarin tamu berdiri begini, udah mulai panas," gerutu Rayyan, tentunya dia sedang bercanda. Hanna membuka pintu pagar dan mempersilahkan Rayyan masuk. Rayyan duduk di teras rumah Hanna. Dia senyum-senyum sendiri, sedangkan Hanna sedang melepaskan sarung tangannya dan menyimpan ke tempatnya, selanjutnya dia mencuci tangannya.
"Aku belum mandi," teriak Hanna, disambut dengan senyum Rayyan.
"Tapi tetep cantik kok," sahut Rayyan, sukses membuat pipi Hanna memerah, bukan karena kepanasan sinar matahari, tapi karena jawaban Rayyan yang asli ngegombal itu.
"Idih gombal sekali,"
"Serius Han, sini," Rayyan melambaikan tangan memanggil Hanna agar duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Hanna melepas topi bundarnya dan meletakkan di meja, kemudian dia duduk.
"Oh ya, mau minum apa,?"
__ADS_1
"Nggak usah, belum haus, nanti saja hausnya sama-sama terus kita nyari bareng," jawab Rayyan.
"Ada apa,?"
"Pertanyaan standar," ceplos Rayyan. Hanna menatap Rayyan dengan kedua alisnya terangkat.
"Terus yang nggak standar yang gimana? bisa ngasih contoh mungkin,?" Hanna tertawa kecil. Ah entahlah, hatinya kenapa merasa berbunga begini ya.
Sedangkan Rayyan tak jauh beda dengan Hanna, rasanya sudah sangat lama dia tidak cucuk di teras ini bersama dengan Hanna. Terakhir dia duduk di sini mencari Hanna dengan keputusasaannya, saat itu hanya Nayo yang berada di kursi yang kini diduduki oleh Hanna.
"Misalnya, kamu mau nikahin aku kapan? nah itu contohnya," Rayyan menjawab asal, membuat Hanna ngakak dibuatnya.
"Dah ah, aku mau mandi dulu, nggak enak nih gerah semua rasanya,"
"Han....,"
Hanna sudah berdiri dan bersiap masuk ke dalam rumah.
"Nggak mau ah, aku ya gini aja nggak ada cakepnya,"
"Ishhh....,"
Hanna bergegas masuk ke dalam rumah dan segera mandi untuk membersihkan diri.
Hanna mematut dirinya di depan cermin, sudah ada sekitar 5 baju yang dia coba, dan dia merasa belum ada yang pas dibuat jalan bareng Rayyan. Ah padahal dia sendiri yang bilang jika dia nggak akan dandan cantik, tapi sekarang dia sendiri yang ribet nyari baju yang cantik buat dirinya.
Hanna yang konsisten dengan rambut pendeknya dan poni tengah membiarkan rambutnya tergerai, atasan warna biru muda lengan pendek dipadukan dengan rok selutut warna hitam. Hanna keluar dari kamar, hampir satu jam dia mandi dan dandan.
Terdengar langkah kaki mendekat, Rayyan menoleh dan tersenyum.
"Ah akhirnya yang ditunggu,"
__ADS_1
"Lama ya? maaf, aku terlalu menikmati guyuran air, seger," Hanna beralasan, tangannya menggaruk tengkuknya sambil tersenyum nyengir.
"Jangankan cuma segini, berbulan-bulan pun aku menunggu,"
"Ish kamu nyindir aku,?" Hnana pura-pura marah.
Rayyan berdiri dan segera menarik pergelangan tangan Hanna, bergegas menuju mobilnya.
"Sebenarnya kita mau kemana,?" tanya Hanna sambil memasang sabuk pengamannya.
"Ikut aja, bantuin aku," ujar Rayyan singkat, mesin mobil pun terdengar menyala, dan mobil melaju. Hanna melirik ke tangan Rayyan, yang ternyata cincin tunangannya kembali dipakai, Hanna kini yakin jika cincin itu adalah cincin tunangan dengannya saat itu.
"Jadi kamu serius buang cincin kamu,?" pertanyaan itu membuyarkan lamunan Hanna.
"Ah...oh itu, enggak, ada kok, tapi kan...,"
"Nggak apa-apa sih kamu buang, sebenarnya aku pakai ini juga buat aksesoris saja, bentar lagi aku buang"
Deg....
Dugaan Hanna salah, dia terlalu percaya diri jika Rayyan memakai itu bukan berarti Rayyan masih suka padanya seperti dulu.
"Kita mau kemana sebenarnya,?" Hanna membuang rasa ketidakpercayaan dirinya.
"Udah, ikut aku, aku mau kamu bantuin aku nyari cincin, tempat nikah, baju nikah, pokoknya yang berkaitan dengan pernikahan dah," Rayyan menatap Hanna sejenak, yang ditatap pun menatap balik. "Buat seseorang, jangan GR," Rayyan menambahkan.
Buru-buru Hanna mengerjab, setelah merasa naik ke atas kini dia merasa jatuh. Sementara itu Rayyan hanya senyam-senyum nggak jelas.
"Dia cantik, mungil, ah...sempurna, kalau kamu pengen tahu nanti aku kenalin," ujar Rayyan tanpa dosa. Hanna hanya menggangguk saja, tidak ada hasrat untu merespon ucapan Rayyan. "Karena aku sangat yakin, pilihanmu akan tepat untuk dia,"
Hanna merasa sudah salah, salah karena terlalu percaya diri. Bisa jadi Rayyan sedang balas dendam padanya, dia sedang mengerjainya. Bisa jadi gadis yang kemarin bersama Rayyan adalah beneran pacar Rayyan. Ah kenapa Rayyan menjadi tidak jelas padanya? Bilang cinta tapi....
__ADS_1
Hanna memejamkan matanya sebelum dia menengok ke sebelah kiri jendela mobil, Rayyan memutar lagu-lagu lamanya. Sudah berapa tahun dia tidak mengeluarkan album baru. Mobil tiba di sebuah tempat, Rayyan bergegas turun. Mau tidak mau Hanna pun ikut turun.