
Hanna berjalan santai menuju kelasnya, masih terlalu pagi. Lalu lalang mahasiswa masih jarang, karena memang masih terlalu pagi. Hanna memegang perutnya, terasa lapar. Hari ini dia tak ingin masak, bodo amat dengan Rayyan. Hanna duduk di teras kelasnya.
"Hai..." sapa seseorang, sontak Hanna menoleh ke arah sumber suara.
"Mas Bian" Hanna menyapa, mimik mukanya agak terkejut melihat Bian yang ada di sekitaran kelasnya.
"Begitu banget mukanya" Bian duduk di samping Hanna.
"Kaget" Hanna meringis. Bian datang dengan wajah tampan itu, tatanan rambut klimis nan rapi, Hanna benar-benar terpesona.
"Lah...malah melamun" Bian mengibaskan tangannya di depan wajah Hanna.
"Eh enggak....itu...cuma kok sepagi ini sudah berangkat? dan kesini, ada apa?" Hanna menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terlalu terhipnotis dengan makhluk yang ada di depannya itu.
"Sengaja" jawab Bian sambim menyunggingkan senyum manisnya. Alamak, Hanna dibuat kocar-kacir karenanya, jantungnya terasa dibombardir.
"Hah?"
"Iya, nyari kamu...mau aku ajak sarapan"
"Lah" Hanna bengong.
"Yuk ah" Bian menarik tangan Hanna tanpa menunggu jawaban Hanna. Hanna pun mengikuti langkah Bian.
Semangkok soto hangat dan teh hangat sudah berhasil masuk ke dalam perut Hanna, kini perutnya tak lagi demo minta sarapan.
"Persiapan sudah 80% kan?" tanya Bian, mulutnya masih terlihat mengunyah makanan. Hanna mengangguk, mereka sedang membicarakan acara dies natalis kampus. Dan memang sudah sejauh itu persiapannya. "Semoga acara ini sukses" harap Bian.
"Amiinnn" timpal Hanna.
"Semoga artis kita nggak bikin ulah lagi, setidaknya hingga acara di kampus beres" harap Bian lagi. Hanna tercekat, andai Bian dan semua penggemar Rayyan tau jika Rayyan memang problematik, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk mengidolakan. Apakah Hanna termasuk? ah entahlah.
"I...iya mas" Hanna tersenyum menyeringai
__ADS_1
"Han" Bian memanggil Hanna sambil menatap Hanna.
"Iya" Hanna balas menatap. mata mereka beradu, kali ini jantung Hanna kembali berpacu, mengapa dia harus bertatap dengan mata indah itu.
"Aku harus bagaimana?" tanya Bian, Hanna masih terdiam, tidak mengerti maksud arah pembicaraan Bian. "Tadi malam Mona datang ke rumah, dia sama orang tuanya" ujar Bian lirih. Hanna sontak melebarkan matanya.
"Lalu?" Hanna penasaran.
"Ya intinya dia mau balikan lagi, masalahnya itu bokap nyokap nya teman orang tuaku, rekan bisnis" Bian terlihat pasrah. Bian memainkan jemarinya di atas meja di samping mangkok kosong bekas makannya.
"Nah mas Bian sendiri bagaimana?" Hanna asal bertanya, dia juga bingung harus bersikap seperti apa menghadapi situasi seperti ini.
"Aku bingung sih, di satu sisi aku sudah nggak suka, di satu sisi orang tua...hehm...kamu tau lah"
"Iya paham sih, jadi ini semacam perjodohan begitu ya?" Hanna menyimpulkan dengan hati-hati. Bian mengangguk.
"Dan aku suka sama seseorang" imbuh Bian lirih. Hanna sontak mendongak, melihat ke arah wajah Bian, hatinya bagai tersengat aliran listrik. Suka sama seseorang? siapakah?. Lupakan...lupakan...karena Bian memang bukan miliknya. Seketika dia teringat pesan Rayyan, jika sampai Rayyan tahu sekarang dia sedang bersama Bian, maka laki-laki itu akan kembali marah padanya.
"Nah itu dia...maaf sepagi ini sudah menculikmu, padahal aku nggak sengaja sih tadi berangkat pagi, terus lihat kamu jalan ya udah aku samperin, maaf ya...jadi curhat begini ke kamu" Bian kembali tersenyum manis.
"Iya mas, sama-sama, jangan sungkan kalau mau cerita, tapi maaf...aku nggak bisa kasih solusi" Hanna meringis.
"Nggak apa-apa, setidaknya kamu sudah mau mendengarkan, aku sudah senang"
Hingga pulang, Hanna masih saja teringat pertemuannya dengan Bian, Bian suka sama seseorang? berarti dia harus sadar diri, Bian terlalu jauh untuknya. Hanna meletakkan helm di rak helm garasi rumah Rayyan. Hanna melihat ada mobil hitam yang terparkir di halaman. Hanna masuk ke dalam rumah.
Dilihatnya Kamila sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselnya, melihat Hanna datang, Kamila meletakkan ponselnya dan menepuk sofa yang ada di sampingnya. Hanna paham, Kamila menginginkannya duduk di sana. Wajah Kamila nampak lesu.
Hanna duduk di samping Kamila.
"Mau aku ambilin minum Mil?" Hanna melihat wajah suntuk Kamila. Kamila menggeleng.
"Makasih, sudah tadi, kamu sini aja" Kamila meletakkan ponselnya di sampingnya, dia bergeser lalu melihat Hanna, Hanna balas menatap Kamila, tidak salah, Kamila sedang bete. "Setelah beberapa lama kamu tinggal bareng Rayyan, apa yang kamu rasain?" tanya Kamila.
__ADS_1
Hanna terdiam sejenak, tidak ada yang istimewa dari rumah ini bersama Rayyan.
"Dia kesepian" jawaban itu yang meluncur dari bibir Hanna. Kamila tersenyum lalu menepuk pundak Hanna.
"Kamu keren" Kamila tertawa. "Aku minta bantuanmu"
"Maksudnya?" Hanna mengangkat kedua alisnya.
"Benar dia memang kesepian, dan agak-agak sulit diatur, aku khawatir dengan dia akhir-akhir ini" Kamila menarik nafas panjang. "Akhir-akhir ini seolah dia berontak dan sulit diajak bicara, dan....aku yakin kamu sudah tau kan dengan segala skandal dia"
Hanna mengangguk, apa yang dia pikirkan tentang foto dugem itu ternyata fakta, meskipun Kamila tidak mengatakannya secara gamblang.
"Dia sulit diajak berfikir masa depannya, bagaimana jika Brian benar-benar menuntutnya, karir yang dia bangun akan hancur" lirih Kamila, seolah sedang memendam sesuatu. "Aku tidak mau itu terjadi" Kamila menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau".
Hanna mengelus punggung wanita di sampingnya itu, mencoba menenangkannya, tidak pernah dia melihat Kamila seemosional itu.
"Kamu tau? aku berhutang budi dengan Ibunya Rayyan, aku sudah berjanji menjaga Rayyan semampuku, aku tidak mau masa depannya hancur" Kamila menitikkan air mata. Hanna tercekat, dia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Dia kesepian setelah pegangan hidup satu-satunya meninggal, yaitu Ibunya, dia benar-benar hilang arah, begitu juga denganku" Kamila menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Hanna meraih lembaran tisu yang ada di meja dan memberikannya pada Kamila.
"Ibunya, Ibunya sudah berjasa dalam hidupku, aku banyak dibantu, bahkan menanggung biaya pendidikanku, Aku berjanji akan menjaga Rayyan seperti adikku sendiri, akutidak rela jika sampai ada orang yang akan menghancurkan Rayyan"
Hanna menatap Kamila, menunggu kelanjutan cerita Kamila.
"Tolong bantu aku jaga dia" Kamila memegang kedua pundak Hanna. Seperti mendapat mandat penting nan berat, Hanna merasa tak sanggup. Siapalah dia? siapa dia yang harus menjaga Rayyan? "Tolong...bantu aku" Kamila memohon. "Aku yakin kamu bisa, dan aku melihat di samping dia bucin sama Talitha, dia juga cukup bahagia ada orang asing di rumahnya, yaitu kamu" Kamila tersenyum kecil.
Hanna ikut tersenyum, jikalau dia bisa melakukan, maka dia akan melakukan apa yang diminta Kamila.
"Iya, aku bantu sebisaku Mil" Hanna kembali tersenyum.
"Inginku sebenarnya itu agar Rayyan bisa melupakan Talitha, ringan buatku, tapi jelas ini berat untuk Rayyan, jadi tolong jaga dia" ujar Kamila menambahkan.
Ucapan-ucapan yang keluar dari Kamila tidak tergambar jelas, tapi Hanna cukup memahami.
"Tak perlu kamu menjadi orang lain, cukuplah kamu menjadi diri sendiri dalam menjaga dia"
__ADS_1