
Berkali-kali Kamila mengirimkan pesan pada Rayyan agar segera bersiap menuju lobby hotel, mereka akan berangkat ke tempat meet and great yang akan diadakan satu jam lagi. Yang dikirimi pesan sama sekali tidak memberikan respon. Kamila hilang kesabaran, dia memutuskan untuk menjemput Rayyan di kamarnya.
"Kebiasaan" Kamila memencet tombol lift untuk naik ke lantai di mana kamar Rayyan berada. Dia masih memegang ponsel dan mencoba menelpon Rayyan, dan nihil.
Ting....
Terdengar bunyi nyaring pintu lift terbuka, Kamila segera keluar dan menuju kamar Rayyan, langkah kakinya lebar. Ingin rasanya dia menjitak Rayyan.
"Awas aja kalau belum bersiap sama sekali" Kamila sudah berada di depan kamar Rayyan, tangan kanan bersiap mengetuk pintu kamar Rayyan. Baru beberapa senti kepalan tangannya di udara, Rayyan membuka pintu kamarnya.
"Sorry" jawab Rayyan enteng, dia hapal betul Kamila pasti marah. Senyum mengembang di bibir Rayyan, seolah tidak terjadi apa-apa. "Nggak telat kan?" Rayyan masih melihat Kamila tak bersuara, perempuan di depannya itu ingin menjitaknya.
"Siapa sayang?" suara itu dari dalam kamar Rayyan.
Kamila mendelik dan melihat perempuan yang baru saja keluar dari kamar Rayyan.
"Kamu?" Kamila memekik. Talitha agak menciut melihat Kamila. "Kita bahas nanti, cepat jalan nanti kita terlambat" ajak Kamila menarik pergelangan tangan Rayyan.
Sepanjang perjalanan, Kamila memilih sibuk memainkan ponselnya, hatinya terasa dongkol melihat kelakuan Rayyan. Sejak kapan Rayyan memasukkan perempuan itu ke kamarnya?
"Nggak seperti yang kamu bayangkan Mil" Rayyan melihat Kamila masih marah. Kamila melirik ke samping dengan tatapan sengit, dia benar-benar ingin menjewer telinga Rayyan sekuat mungkin.
"Apa kamu tidak memikirkan resiko apa yang akan kamu tanggung jika orang lain tahu kamu berduaan di kamar sama perempuan? apalagi itu Talitha? gila ya kamu!" akhirnya Kamila mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku juga tidak tahu dia tiba-tiba datang" Rayyan membela diri.
"Kamu kan punya mulut, bisa kan kamu menyuruh dia pergi, duh...heran banget sama kamu, entah...bagaimanapun caranya, usir perempuan itu setelah ini, kalau tidak silahkan cari manager baru" ancam Kamila.
Kamila nampak sedang tidak bercanda, Rayyan meneguk ludahnya, mendapat ancaman dari Kamila membuatnya ngeri juga. Bukan masalah mencari manager baru, itu adalah hal yang sangat mudah sebenarnya bagi dia, tapi dia sudah cocok dengan Kamila yang menanganinya sejak lama.
"Iya" jawab Rayyan pasrah.
"Awas kamu sekali lagi macam-macam"
"Iya" Rayyan masih pasrah.
"Gini lho....terserah deh setelah nanti kamu pisah sama Hanna, entah kamu mau nikah kek sama mau gimana, setidaknya nunggu reda, nunggu perceraian dia beres, dan nunggu aku mau lanjut kerja sama kamu atau enggak"
__ADS_1
"Maaf Mil...iya...." Rayyan mengalah.
"Sudah sampai, ayo turun" tanpa disadari mobil mereka tiba di parkir khusus. Rayyan keluar dari mobil, Kamila berjalan di sampingnya. Mereka disambut oleh panitia acara, mereka menaiki lift menuju tempat acara.
Banyak poster yang dibentangkan oleh para penggemar, nama Rayyan dielu-elukan oleh para penggemar yang didominasi kaum hawa itu. Rayyan melambaikan tangan kepada para penggemarnya, suara semakin riuh saat Rayyan menyapa mereka.
Acara yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu berjalan cukup lancar, Kamila nampak sangat lega karena acara berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan, Begitu juga Rayyan.
"Kamu memang keren Rayyan" gumam Talitha yang diam-diam berada di tempat acara, dia berbaur dengan para penggemar Rayyan, tak satupun yang menyadari jika Talitha berada di antara mereka. Talitha yang menjadi salah satu tokoh yang menghiasi pemberitaan beberapa minggu terakhir.
Rayyan melambaikan tangan kepada para penggemarnya, dia meninggalkan panggung dan segera menuju ke mobilnya kembali.
"Untunglah semua berjalan lancar" ujar Kamila. Dia mengulurkan air mineral pada Rayyan.
Terdengar bunyi ponsel Rayyan nyaring di sampingnya, Kamila melirik nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
Honey calling
"Ck..." Kamila berdecak. Jika dulu dia bertoleransi dengan apa yang dilakukan oleh Rayyan dan Talitha, tapi kini tidak, karena sudah jelas Talitha sudah membohongi Rayyan.
Kamila terdiam, ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Kamila membukanya, dan dari nomer yang tidak dia kenal, terlihat sebuah foto, di mana Hanna dan seorang laki-laki.
"Apa lagi ini Tuhan?" Kamila menggeram. Rayyan yang penasaran melihat ke arah layar ponsel Kamila.
"Dia lagi" gumamnya, segera saja Rayyan mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan untuk Hanna.
"Jangan marah padanya, percayalah...cowok itu bukan siapa-siapa dia, dia hanya sedang ada proyek kampus"
Kamila mereda, seharian dibuat naik darah oleh Rayyan, dan kali ini hampir saja oleh Hanna.
"Dari mana kamu tahu?"
"Sudah pernah aku bicarakan sama dia, dan dia ada kerjaan sama dia, kamu sudha terima proposalnya belum sih?"
"Proposal apa?" Kamila balik bertanya.
"Kampus X yang mau kerjasama dengan kita"
__ADS_1
"Oh itu, iya"
"Ya udah itu maksudku"
Kamila paham dengan apa yang dimaksud oleh Rayyan. Mereka sudah tiba kembali di hotel tempat mereka menginap.
Rayyan sudah mengirimkan pesan pada Talitha, agar dia tidak kembali lagi ke kamarnya, dan bahkan dia menawarkan Talitha agar pindah hotel saja. Rayyan sudah naik ke lantai di mana kamarnya berada. Kamila masih berada di lobby hotel.
Tak berselang lama, Talitha masuk ke dalam hotel melewati lobby. Kamila yang menyadari Talitha lewat segera menghentikannya dan memintanya untuk ngobrol.
"Kita perlu bicara" Kamila berbisik, tidak ingin terdengar oleh banyak orang yang ada di sana. Talitha hanya mengangguk, tak ada pilihan selain mengikuti apa yang diucapkan oleh Kamila. Kamila mengajak Talitha pergi ke cafe yang ada di rooftop hotel, orang awam tak akan mengenal Talitha memang, karena perempuan itu sedang menyamar dengan menggunakan rambut palsu pendek dan kacamata hitamnya. Bahkan saat ngobrol pun Talitha tak melepas kacamatanya itu.
"Talitha...aku tahu perasaan kalian, tapi tolong hargai usahaku untuk menolong kalian" Kamila menatap Talitha yang sedang berlindung di balik kacamata hitamnya.
"Kukira kamu paham, tapi nyatanya kamu hah....." Kamila terkenal ceplas-ceplos, dia sebel banget dengan keadaan ini.
"Tidak ada salahnya aku bertemu dengan Rayyan" Talitha berusaha membela dirinya.
"Iya nggak salah, tapi dulu...dulu sebelum kamu membohonginya, kini salah besar kalau kamu bertemu dengannya, apalagi berduaan di dalam kamar" Kamila menjawab. Talitha tak terima disalahkan.
"Yang kamu lakukan kan hanya perjanjian"
"Apa yang kamu mau?" Kamila melipat kedua tangannya.
"Jangan sampai Rayyan jatuh cinta pada Hanna"
Kamila menahan tawanya, Talitha sedang ketakutan dengan Hanna si periang yang cuek itu. "Jadi kamu takut?" Kamila tertawa mengejek.
"Kamu harus berani menjamin itu tidak terjadi" Talitha masih meminta.
"Nggak, aku bukan siapa-siapa yang bisa kamu suruh, lagian biarin aja kalau memang mereka mau cinta natinya, bukan urusan kamu" jawaban-jawaban Kamila yang pedas membuat otak Talitha panas.
"Apa yang kamu inginkan? hah?" Talitha mendesis.
"Jauhi Rayyan, dan urus rumah tanggamu" Kamila menggertak.
Talitha berdiri dan meninggalkan Kamila yang menyebalkan itu, Kamila tersenyum kecil, merassa menang. Dia tidak merassa takut dengan Talitha, biar saja Talitha marah padanya, yang dia lakukan tidaklah salah. Semata-mata sebagai wujud perlindungannya pada Rayyan.
__ADS_1