
Meta sedang sibuk men-touch up make up di wajahnya, tak lupa dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, sehingga membuat seisi ruangan berasa menjadi taman bunga, bahkan ini terasa sangat memabukkan bagi Hanna.
"Ngapain sih?" Hanna mengibaskan atangan di udara, mengusir bau parfum Meta yang sangat menusuk hidung itu.
"Eh katanya mau ada si bos kesini" Meta menengok ke arah Hanna, kemudian dia kembali beralih pada cermin kecil yang menempel di bedak yang dia pegang.
"Terus?" Hanna melirik, masih memperhatikan Meta yang sedang heboh berdandan pada siang itu.
"Ya siapa tahu bos tertarik padaku" Meta tertawa. Hanna nyengir.
"Mau sama bapak-bapak gitu?"
"Heeeh...denger-denger dari anak magang sebelah, anak sebelah dengar dari ruangan kakak-kakak karyawan yang ada di sini, bosnya masih muda lho, dan belum kewong (menikah)" Meta bersemangat. Rambutnya yang agak panjang digelung ala-ala pramugari, membuatnya nampak cantik.
"Laluuu...." Hanna masih nampak tak peduli.
"Ih kamu Han...tau deh yang udah nggak jomblo, makanya nggak tertarik sama si obos tampan"
"Kamu tahu darimana kalau bosnya tampan? secara kalau dia tampan dan masih muda, pasti udah punya pacar lah ya, atau enggak gebetan lah, pasti jelas tak akan selera dengan kita-kita, kita harus sadar diri"
"Jangan insecure dulu donk....namanya juga usaha"
__ADS_1
Tepat jam 2 siang, sesudah istirahat makan siang, semua karyawan berkumpul di suatu ruangan yang mirip dengan sebuah aula. Hanna memilih duduk di belakang saja, karena bagian kursi depan ditempati oleh para karyawan tetap yang ada di perusahaan ini. Hawa dingin AC terasa menusuk tulang, karena AC sengaja dipasang maksimal di ruangan ini.
Meta berdiri sambil celingukan, Hanna menarik lengan baju Hanna, meminta temannya itu untuk duduk.
"Ngapain sih?" Hanna masih memegang lengan baju temannya itu.
"Nyari tahu, kali aja si obos sudah datang"
Hanna berdecak, "Kalaupun datang kan kelihatan di depan, noh tempat duduknya" Hanna mengedikkan dagunya.
"Iya...iya...aku nggak sabar saja" senyum Meta centil.
Meta kembali duduk, tangannya terasa gatal, akhirnya dia membuka tasnya dan kembali mencari cermin, dan dia bercermin untuk memastikan bahwa lipstiknya tidak belepotan dan tetap stunning. Hanna geleng-geleng kepala melihat Meta.
"Lagian...." Hanna belum selesai melanjutkan kalimatnya, Meta sudah menyenggol lengan Hanna, dia tak bisa berkata-kata.
Hanna melihat ke depan, dan dia mengucek matanya, apakah dia salah lihat dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Jadi ini perusahaan milik dia? oh my God, betapa beruntungnya kita Han...." pekik Meta bahagia. Hanna tak merassakan bahagia seperti apa yang dirasakan oleh Meta. Dia bengong dan nggak percaya dengan apa yang terjadi.
"Selamat siang" sapa si obos.
__ADS_1
"Siang sayang..."gumam Meta pelan sambil cengengesan. Hanna mencebik, dia menghela nafas panjang dan ingin kabur. Mengapa temannya menjadi secentil ini.
Hanna menunduk, ingin rasanya dia menghilang dari ruangan ini. Dia semakin menunduk dan mencoba untuk tidak terlihat dari pandangan Rayyan yang sedang duduk di depan. Hanna yakin jika Rayyan tak akan melihatnya di sini, bos besar yang tentunya tak akan selalu berada di kantor ini. Terlebih Rayyan sering ada agenda syuting dan lain-lain.
Bersembunyi di balik punggung dan kepala orang-orang yang ada di depannya adalah salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan Hanna saat ini. Dan dalam hati dia berdoa sekencang-kencangnya agar pertemuan di aula ini segera berakhir.
Ceramah yang dilakukan Rayyan pun masih berlanjut, sebagai tampuk pimpinan, dia bicara panjang lebar memberikan motivasi, dan Hanna heran, begitu lancarnya Rayyan berbicara, begitu menghipnotis laki-laki itu berbicara di depan. Hingga tanpa disadari, Hanna mendengarkan dengan seksama.
"Dan untuk para mahasiswa magang, meskipun kalian berstatus magang, kalian harus tetap memberikan kemampuan terbaik kalian sebisa mungkin" pesannya.
"Siap pak" jawab anak-anak magang, kecuali Hanna yang diam saja sambil menunduk, tangan kanannya memegang dahinya.
"Bawalah R-Pro semakin maju dan berkembang" dan ternyata selama ini R-Pro adalah salah satu perusahaan Rayyan. Bahkan Hanna tak mengetahuinya. Tahu gitu dia tak akan magang di tempat ini, daripada nanti malah ada masalah.
"Kamu kok nggak tertarik sih? bukankah dulu kamu ngefans berat sama dia ya?" Meta mencoba mengingat, Hanna meringis, panjang jika diceritakan, terlebih jika dia cerita denngan Meta, bakalan terjadi ledakan gosip, bisa-bisa seumur hidup tak akan selesai ceritanya.
"Iya... suka kok, sampai sekarang masih suka" Hanna berbicara dengan tak sungguh-sungguh, karena dia sekarang tak seperti dulu.
"Ok, kita sebagai salah satu mahasiswa yang snagat beruntung berarti. Meta masih antusias, dia memegang tangan Hanna seolah sedang mendapatkan penghargaan atau nemu harta karun. Hanna menyunggingkan senyum palsu pada temannya itu. Tepat setengah jam Rayyan selesai memberikan motivasi pada anak buahnya dan juga anak-anak magang. Bagi mereka para karyawan tetap, hal ini adalah sesuatu yang langka, jarang-jarang Rayyan punya waktu untuk berada di kantor ini. Sehingga tidak salah Meta merasa sangat beruntung karena baru berapa hari di sini dia bisa bertemu dengan bos besar yang ternyata adalah Rayyan.
Melihat Rayyan yang sudah meninggalkan ruangan, Hanna bergegas lari keluar menuju toilet, dia sudah lama menahan hajatnya kebelet pipis.
__ADS_1
Bruuuuk......!
Hanna menubruk seseorang yang tak lain itu Rayyan. Kedua orang itu saling memandang.