Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Tentang Talitha


__ADS_3

"Ok...kita cerai" ucap Brian pada Talitha, mereka sudah berdebat sejak lama di dalam kamar utama mereka. Brian yang hendak menebus kesalahannya harus menyerah sekarang, karena keadaan Talitha yang hamil. Masih saja dia menyalahkan Rayyan.


"Apakah dia yang menghamilimu?" tanya Brian sambil menahan amarah, ditatapnya kedua bola mata indah Talitha, bekas air mata itu masih nampak di kedua mata Talitha, perempuan itu pun balik menatap Brian, sejurus kemudian dia menggeleng perlahan sambil tersenyum getir. Brian menghela nafas panjang. Mungkin saja Talitha berbohong dan melindungi Rayyan. Brian mendekat ke arah Talitha, matanya masih menatap tajam Talitha, lalu dia mengangkat kedua tangannya, memindahkan ke kedua bahu Talitha.


"Lalu kenapa kamu mempermainkanku seperti ini?" Brian menelan ludahnya. Nasi sudah menjadi bubur. Talitha hanya terdiam, kecamuk di hatinya juga tidak karuan. Dia sendiri merasa bingung dengan apa yang dia lakukan, mengapa dia seperti ini.


Brian melepaskan tangannya, dia beranjak pergi meninggalkan Talitha perlahan.


"Nanti biar lawyer yang urus semua" ucap Brian sambil menahan rasa sakit di tenggorokannya. Begitu juga Talitha, dia menahan air matanya agar tidak tumpah. Kini dia merasa apa yang dia lakukan salah, semua. Dia telah menyakiti hati Brian dan juga Rayyan. Mengapa dia begitu pongah mempermainkan hati laki-laki. Brian yang sudah siap kembali dengan Brian yang baru, tapi dia menyakiti dengan begitu hebatnya. Lalu apa kabar Rayyan? ah nasi benar-benar sudah menjadi bubur. Belum sempat usai dengan dua laki-laki itu, dia sudah jatuh cinta lagi pada laki-laki lain.


Talitha duduk di sofa kamar yang mewah, matanya menerawang melihat keluar jendela, tirai jendela berkelebat-kelebat terkena angin dari jendela yang sengaja dia buka. Dia ingin menikmati angin dari luar daripada sejuknya AC.


Dengan mudahnya dia mencampakkan Rayyan, dia ingat bagaimana dia sangat mencintai laki-laki itu, tapi dalam hati kecilnya dia juga lelah. Lelah harus menunggu lama, terlalu lama. Ingin dia menikah dengan Rayyan dan hidup bahagia, akan tetapi Rayyan seolah tak serius, dia putus asa, dan hal ini pun terjadi. Talitha menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. Setelah selesai menikmati hatinya, dia masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya.


***


"Lucu sekali aku harus mengajakmu kesini" ungkap Talitha sambil tersenyum getir, gurat-gurat sedihnya tak bisa tertutupi dengan baik. Hanna dapat membacanya dengan baik. Hanna membalas senyum Talitha.


"Aku masih ingat saat memintamu menjaga Rayyan, tapi kamu tahu apa yang aku lakukan?" Talitha kembali tersenyum, matanya yang sayu menatap Hanna. "Aku menghancurkan semuanya" ungkapnya, jemari tangannya memainkan gelas yang ada di depannya.


"Kini aku meminta kamu menjaga Rayyan"


"Atas dasar apa kamu memintaku seperti itu?" Hanna menatap lugas Talitha, mendengar pertanyaan itu Talitha agak terkejut, Hanna bisa melontarkan kalimat yang sarkas padanya.

__ADS_1


"Pasti kamu marah padaku? terassa aneh ya jika aku meminta hal yang nyatanya tidak seharusnya aku lakukan, ok...anggap saja ini permintaan teman baik, anggap saja kita berteman. Aku terlalu picik untuk menemui Rayyan secara langsung.


Hanna masih menatap Talitha, dia memang marah pada Talitha. Dan dia tahu Rayyan hancur hatinya, hanya saja Rayyan tidak memperlihatkan secara gamblang. Talitha dengan seenaknya datang dan pergi, dan kini dia juga seenaknya memintanya untuk menjaga Rayyan.


"Iya" jawaban itu yang meluncur dari bibir Hanna. "Aku kecewa padamu, aku tidak bisa mendeskripsikan betapa kecewanya aku padamu"


"Iya, dan aku tak akan meminta maaf padamu, karena memang ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Hanya saja kita teman baik, anggaplah seperti itu"


Hanna tak berkeras hati, bagaimanapun juga Talitha kini sedang kalut, dan dia merasa mereka adalah sama-sama perempuan.


"Maafkan aku" ucap Hanna. Nampak Talitha tersenyum tipis. "Sebisa mungkin aku akan menepati apa yang bisa aku lakukan untuk Rayyan"


"Terima kasih" Talitha tersenyum, terasa lega hatinya mendengar kalimat itu yang meluncur. "Aku sudah hancur, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk hidupku kali ini"


Nampak Talitha tertawa kecil, menertawakan dirinya. Setelah ini dia pun tak yakin akan bisa hidup dengan baik, laki-laki yang sudah menghamilinya entah ada di mana sekarang. Tapi dia sudah siap segalanya. "Terima kasih atas semangatnya, begitu juga kamu"


"Iya terima kasih" jawab Hanna.


        Sejak ketidakjelasan hubungannya dengan Rayyan, Talitha menjadi pribadi yang seolah kehilangan kasih sayang, kehilangan orang terdekatnya. Tidak ada waktu khusus buatnya, tidak ada perhatian penuh buatnya lagi sehingga dia seolah frustasi, jikalau dia kembali pada Brian, dia merasa hatinya sudah bukan untuk Brian lagi. Akhirnya pelariannya orang lain, orang yang benar-benar ada untuknya. Dan kini, saat dia sudah berbadan dua, orang itu tak tahu di mana rimbanya.


Talitha mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya, Hanna mengambil tisu dan mengusap lembut ke pipi perempuan cantik yang ada di depannya itu. Beban pikiran Talitha mungkin sudah penuh, dan Hanna tak bisa melakukan apapun sekarang.


"Aku akan berjuang sebisa mungkin, ini salahku dan aku siap menebusnya" Talitha terisak, dia memegang tisunya sendiri. Badannya berguncang, Hanna memeluknya dengan posisi dia berdiri dan Talitha masih duduk di kursinya.

__ADS_1


        ***


Hanna memarkirkan motornya di garasi, nampak mobil Rayyan ada di garasi, itu tandanya Rayyan sudah ada di rumah, dia memang pilih-pilih pekerjaan akhir-akhir ini, Kamila pun memberikan ruang untuk Rayyan untuk merehatkan hatinya sejenak.


Masih teringat bagaimana tadi Talitha terluka, Hanna menghembuskan nafas lalu melepas helmnya dan meletakkan di tempatnya. Hanna memegang gagang pintu dan membukanya, dia masuk lewat pintu dekat garasi. Hanna langsung menuju dapur untuk mengambil air minum, matanya teralihkan dengan pintu samping yang terbuka, Hanna urung mengambil air minum, dia melangkah ke dekat pintu. Kepalanya melongok keluar, melihat ada sebuah tenda berdiri di taman samping, di mana dia pernah camping di situ hingga pagi. Terlihat Rayyan tiduran di samping tenda kecil dengan beralaskan rumput. Hanna mengerjabkan matanya tak percaya, sejak kapan Rayyan begitu?.


Hanna segera mengambil minum, dan meletakkan tasnya di meja dapur. Lalu pergi menuju taman samping. Rayyan menyadari kehadiran Hanna dan melihat ke arah Hanna, lalu kembali memejamkan matanya.


Hanna duduk di samping Rayyan, pandangannya ke arah langit.


"Kamu habis kencan sama pacarmu?" tanya Rayyan tanpa melihat ke arah Hanna, matanya pun masih terpejam, dia bertanya dengan nada datar.


Hanna melihat ke arah Rayyan yang terpejam, lalu tersenyum kecil. Dia menggeleng meskipun Rayyan tak tahu.


"Kencan terus" imbuh Rayyan.


"Kamu ngapain tiduran di sini?" Hanna tak menggubris, dia malah balik bertanya pada Rayyan.


"Nungguin orang kencan pulang"


Hanna tergelak.


"Bikinin aku mie kuah" ucap Rayyan sambil membuka matanya, dia perlahan duduk, kini dia sejajar dengan Hanna. Hanna melihat ke arah Rayyan sambil menyipitkan mata.

__ADS_1


__ADS_2