
Gosip itu terus saja bergulir, tak hanya di televisi. Tetapi media online juga gencar memberitakan. Di mana Rayyan dituduh telah menelantarkan ayahnya yang sudah tua itu. Dan lagi, kasus perceraiannya juga diangkat ke permukaan. Hanna menutup ponselnya dan meletakkan begitu saja di ranjangnya.
Hari masih pagi, dan kebetulan hari ini adalah hari libur. Hanna bergegas meninggalkan kamarnya dan berniat ke dapur untuk masak. Terlalu pagi dia menggubris berita yang beredar.
"Apa berita itu benar?" tanya Pak Handi yang sedang menggoreng tempe. Hanna belum menjawabnya, Hanna mengambil alih apa yang dilakukan oleh Pak Handi.
"Bukan seperti itu yah" jawab Hanna. Pak Handi menatap putrinya itu, merasa bahwa kehidupan seorang artis tidaklah sesederhana yang dia pikir.
"Terlalu ribet, bahkan sering menimbulkan salah paham" ujarnya, Hanna mengangguk setuju. Benar-benar harus mental baja menjadi seorang artis, dengan gempuran berita yang terkadang tak seperti kenyataan. Hanna mengangkat tempe yang sudah matang dari penggorengan. Karena hanya tinggal memasak tempe, maka dia mematikan kompor dengan segera.
"Yuk yah sarapan" ajak Hanna. Pak Handi mengangguk. Kemudian mereka duduk di kursinya masing-masing dan menyantap sarapannya.
"Jadi, ayahnya Rayyan itu meninggalkan Rayyan dan Ibunya sejak lama, dan kini kembali yah"
"Oh" bibir Pak Handi membulat.
"Dia ingin meminta maaf atas perlakuannya di masa lalu. Tapi entahlah wartawan itu banyak yang menggoreng beritanya menjadi besar dan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya" Hanna menjelaskan singkat. Sarapan yang ada di piringnya sudah habis. Pak Handi menatap putrinya itu.
"Dia sakit keras sekarang" Hanna menambahkan.
"Lakukan apa yang bisa dilakukan anak ayah" Pak Handi memegang pundak Hanna.
Selepas Hanna membereskan piring bekas sarapan, Hanna bergegas membantu Pak Handi mengerjakan setrikaan hingga selesai.
***
Siang itu, yang biasanya di jam ini matahari sedang terik-teriknya, hujan rintik-rintik turun. Rayyan membiarkan gerimis menerpa tubuhnya, dia berjalan santai layaknya tidak sedang terkena air hujan. Hingga dia masuk ke dalam, dia segera masuk ke dalam lift. Untung lift sedang sepi, sehingga dia tidak menarik perhatian.
Rayyan tiba di lantai 5, di depan pintu nomer 5. Kedatangannya untuk mengkonfirmasi kepada laki-laki tua itu. Apakah dia yang menyebarkan berita tidak benar itu. Rayyan mengepalkan kedua tangannya, menahan amarahnya.
Rayyan masih terpaku di depan pintu ruangan itu.
Hanna melambatkan langkahnya saat melihat sosok yang ada di depan pintu kamar nomer 5. Rambutnya agak basah, nampaknya di luar hujan lebih deras turunnya. Hanna yang sengaja turun di jalan depan rumah sakit harus berjalan cepat setengah berlari untuk sampai di sana.
__ADS_1
Mendengar langkah kaki yang meskipun tak keras menghentak, Rayyan menyadari kehadiran seseorang. Sontak Rayyan menengok ke belakang.
Mata Hanna beradu pandang dengan Rayyan. Hanna merasa jika Rayyan sedang tidak baik-baik saja. Bahwa kedatangan Rayyan kemari bukan untuk memaafkan ayahnya, itu firasat yang dia rasakan.
"Aku membawakan sup untuk Pak Andre, apa kamu mau masuk bersamaku?" Hanna mencoba tersenyum kecil, mencairkan kebekuan Rayyan. Rayyan masih terdiam sambil melihat bungkusan di tangan Hanna yang diangkat agak ke atas. "Kemarin Pak Andre ingin makan sup ini". imbuh Hanna.
Dan kembali lagi, ingatan tentang masa lalu. Di mana Ibunya sering memasak sup itu, dan ayahnya memang sangat menyukai sup buatan Ibunya itu. Ayahnya benar-benar sudah mengobrak-abrik ketenangan hidupnya beberapa hari ini.
Hanna kembali tersenyum, nampaknya Rayyan tak tertarik untuk masuk ke dalam.
"Aku masuk dulu" pamit Hanna. Rayyan masih terpaku di sana.
Hanna menutup pintunya, dia melihat Pak Andre sedang menonton televisi. Melihat kedatangan Hanna, laki-laki itu mematikan tombol off. Dan televisipun tak menyala.
"Sudah datang, kok basah? apa sedang hujan?" tanya laki-laki sambil tersenyum, wajahnya nampak pucat.
"Iya Pak" jawab Hanna sambil meletakkan tasnya di sofa. "Mau makan sekarang? saya bawa sup" Hanna menunjukkan kresek yang dia bawa. Laki-laki itu tersenyum senang.
Hanna dengan cepat menuangkan sup itu ke dalam mangkok. Sudah ada nasi di sana, dan Hanna bersiap menyuapi Pak Andre. Tanpa mereka sadari, Rayyan melihat itu semua dari celah kecil jendela kaca yang tidak tertutup gorden dengan sempurna.
Keinginan untuk memaki laki-laki itu memudar, Rayyan memilih untuk duduk di bangku yang agak jauh dari ruang nomor 5. Dia duduk di sana beberapa saat.
Setelah menyuapi Pak Andre, Hanna dibantu petugas membereskan bekas makan siang Pak Andre. Setelah melihat Pak Andre tertidur, Hanna keluar kamar. Sudah tidak kaget jika Rayyan tak berada di sana, namun saat dia sudah berada di ujung sebelum naik lift. Dia melihat Rayyan duduk di kursi dan menatapnya. Hanna menghampiri dan duduk di samping Rayyan.
Hanna meletakkan tas selempangnya di pangkuannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rayyan tanpa melihat Hanna. Hanna mengangguk. "Gosip itu terlalu kuat, aku takut jika kamu akan terendus"
"Apa kamu malu jika nanti suatu saat akulah mantan istrimu?" ceplos Hanna.
"Bukan...bukan itu, aku hanya menkhawatirkanmu"
"Tak perlu khawatir"
__ADS_1
"Karena kamu nggak pernah tahu bagaimana rasanya dikejar hingga ke lobang semut Han, dan itu rasanya nggak nyaman, aku nggak mau melibatkan kamu dalam hidupku"
"Nyatanya aku sudah terlibat dari awal kan?" Hanna tersenyum kecut.
"Sorry"
"Kenapa nggak masuk?"
"Mungkin dia yang membuat berita onar akhir-akhir ini" Rayyan menuduh tanpa bukti.
"Rasanya tak mungkin dilakukannya, dia sudah sangat rapuh"
"Aku nggak peduli" Rayyan acuh, dia memang sangat membenci Andre. Hanna melihat ke samping, wajah Rayyan yang memang sedang tak ramah itu. Seolah memang nggak mau tahu tentang Pak Andre yang sudah tinggal menunggu waktu. Setidaknya itu yang dia dapatkan infonya dari dokter yang merawat Pak Andre.
"Maaf, aku memang tidak merasakan sakit yang kamu rasakan, tapi bukankah darah itu mengalir di sini?" Hanna memegang tangan Rayyan. Rayyan bergegas menarik tangannya. Jika saja dia bisa memilih, dia tak mau menjadi anak dari laki-laki itu.
"Kenapa kamu mau terlibat dengan dia?"
Hanna melihat bagaimana Rayyan benar-benar muak dengan Pak Andre. "Karena aku tidak mau melihat kamu menyesal di kemudian hari" Hanna berkata lirih, namun tegas. Rayyan menengok, melihat Hanna.
"Sudah aku bilang, aku tak akan menyesalkan apapun tentang dia"
"Kamu lupa, tanpanya kamu juga bukan siapa-siapa"
"Dibayar berapa kamu sama dia? sama laki-laki itu?" Rayyan mengeraskan rahangnya. Hanna melihatnya dengan tenang.
"Tidak semua bisa diukur dengan uang, dia hanya ingin meminta maaf di sisa hidupnya, dan aku nggak mau kamu menyesal nantinya, itu saja"
"Apa pedulimu"
"Aku peduli, iya Rayyan Sebastian...aku peduli padamu"
Hanna beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam lift, sama sekali dia tidak menengok ke arah Rayyan yang masih duduk di sana. Bergelut dengan perasaannya.
__ADS_1