
Rayyan sengaja datang lebih dulu dengan tidak menjemput Talitha, dia sudah memesan tempat tersebut khusus untuknya dan Talitha. Tak lupa Rayyan membawa buket bunga yang besar, dan juga sesuatu yang dia letakkan di saku celananya. Nanti akan dia persembahkan untuk Talitha.
Rayyan mengenakan kemeja putih dan menggulung lengan bajunya hingga sesiku, tatanan rambutnya rapi dan klimis. Rayyan melepas masker dan topi yang dari tadi dia kenakan. Dia duduk manis di kursinya, beberapa hidangan sudah mulai dihidangkan. Dia menyiapkan khusus untuk Talitha.
Perempuan yang dia tunggu akhirnya tiba, nampak dari kejauhan perempuan itu diantarkan oleh pelayan restoran menuju tempatnya duduk. Rayyan berdiri dari kursinya dan mengembangkan senyumnya menyambut kedatangan Talitha yang nampak cantik dengan gaun warna hitam, begitu elegan. Rayyan merentangkan tangannya menyambut kedatangan Talitha, Talitha tersenyum kecil sambil menghambur di pelukan Rayyan.
"Maaf aku telat" ucapnya pada Rayyan, Rayyan menggeleng, dia nampak sangat menikmati memandang Talitha yang cantik itu.
"Bukan kamu yang terlambat, aku yang terlalu awal datang" Rayyan mengembangkan senyumnya sambil melirik jam tangannya. Seorang pelayan menarik kursi untuk Talitha.
"Wow...spesial sekali" ucap Talitha melihat sekelilingnya, sepi dan sunyi, dia meyakini jika Rayyan sudah memesan tempat ini secara khusus.
"Ini buat kamu" Rayyan memberikan buket bunga mawar warna merah itu. "Untuk kamu yang spesial" imbuhnya. Talitha melihat Rayyan dengan wajah datar, lalu menyunggingkan senyum kecilnya.
"Terima kasih sayang"
"Maaf, aku tidak bisa menjemput kamu"
"Tak masalah"
Para pelayan kembali menyuguhkan berbagai makanan yang telah dipesan oleh Rayyan, hingga hampir penuh satu meja. Rayyan meminta pelayan meninggalkan mereka berdua.
"Kita makan dulu" ajak Rayyan. Meskipun nampak sangat menawan, namun Talitha agak terlihat aneh, wajahnya terlihat agak sedikit pucat. Rayyan belum mengutarakan pikirannya, dia masih menikmati makanan yang ada di depannya sambil sesekali melihat Talitha dan melemparkan senyumnya.
Makanan sudah mereka coba, mustahil jika akan habis semua.
__ADS_1
"Terima kasih, enak sekali" ucap Talitha, Rayyan mengelap bibirnya setelah minum, dia melihat Talitha sambil tersenyum. Talitha juga baru saja menyelesaikan makannya. Kini mata indah itu menatap Rayyan.
"Apa kamu sakit?" tanya Rayyan sambil menyipitkan matanya. Talita mengernyitkan dahi.
"Apa aku terlihat sakit?"
"Bisa jadi, soalnya kamu terlihat agak pucat dan tidak semangat seperti biasanya"
"Oh ya?"
Rayyan mengangguk, para pelayan menghampiri meja mereka setelah Rayyan memanggil, mereka bersiap mengambil makanan dan piring kotor di meja. Tidak perlu waktu lama, meja pun bersih, hanya meninggalkan buket bunga yang kembali berada di atas meja.
"Sayang...terima kasih untuk pertemuan ini, maaf jika aku tak bisa selalu ada buat kamu, jarang bisa bertemu, tapi itu akan jadi sejarah" Rayyan membuka tujuan mengajak Talitha kesini.
Talitha tersenyum, tapi matanya berbeda, hampir saja dia menangis.
"Kenapa?" tanya Rayyan. "Apa kamu tak menginginkan menikah denganku?" Rayyan berada di samping Talitha, tangan kanannya memegang dagu Talitha dan mengarahkan wajah Talitha. Mereka saling bertatapan sekarang.
Air mata Talitha semakin deras mengalir, bahkan terdengar terisak. Tangan Rayyan merogoh saku celananya, mengambil sebuah kotak kecil yang sudah dia persiapkan. Rayyan memegang kotak itu dan membukanya, terlihat sebuah cincin berlian di depan mata. Tangis Talitha semakin menjadi, belum terucap satu kalimatpun dari bibirnya.
"Maukah kamu menikah denganku?" Rayyan memegang cincin tersebut dan hendak mengambilnya. Talitha menyungkurkan wajahnya di meja, kedua telapak tangannya menahan wajahnya agar tak langsung menyentuh meja. Rayyan semakin heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Talitha. Mengapa perempuan itu nampak sedih, ini bukan perilaku terharu.
Menunggu beberapa lama, Rayyan melihat Talitha perlahan mengangkat wajahnya, dia menatap Rayyan dengan mata yang masih sangat basah. Rayyan mengambil tisu yang ada di atas meja tak jauh darinya, dengan lembut dia mengusap air mata yang meleleh tersebut.
"Maafkan aku..." ujar Talitha setelah dia bisa berbicara meskipun terbata. Rayyan masih sibuk mengelap air mata perempuan yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Ada yang salah dengan perkataanku? maafkan aku" Rayyan menatap Talitha dengan tatapan mata sendu. Talitha menggeleng.
"Bukan...bukan salahmu" Talitha menatap Rayyan, tangan kanannya memegang pipi Rayyan dan mengusap perlahan. Laki-laki itu sungguh tampan, Talitha tersenyum kelu. "Maafkan aku" ucapnya lalu kembali menangis terisak.
"Kepana? ceritakan padaku sayang? kamu kenapa? siapa yang membuatmu terluka seperti ini?" Rayyan menatap Talitha kelu.
Talitha membuka tas warna hitamnya dan mengeluarkan sebuah benda, sebuah benda yang asing buat Rayyan. Sebuah tespeck. Talitha meletakkannya di atas meja, dengan dua garis biru.
"A..apa maksudnya ini?"
Talitha menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tak sanggup berkata-kata, melihat wajah bingung Rayyan membuatnya semakin terluka, merasa sangat bersalah. Sedangkan laki-laki yang ada di depannya benar-benar dibuatnya bingung.
"Katakan sayang....katakan...ada apa?" Rayyan memegang kedua pundak Talitha. "Kamu sedang bercanda kan?" Rayyan nampak memahami maksud dari benda tersebut.
***
Rayyan nampak sangat emosional, nampak sangat berantakan, wajahnya kusut, matanya memerah. Hampir tengah malam Rayyan baru tiba di rumah, dengan keadaan sedikit mabuk. Hanna yang baru saja selesai mengerjakan cucian melihat Rayyan berjalan sedikit sempoyongan merasa heran, baru kali ini dia melihat Rayyan "nakal". Hanna melihat dari jarak yang tidak jauh dari Rayyan berjalan, tapi Hanna tak berani mendekat. Wajah Rayyan nampak sangat tidak bersahabat.
"Apa lihat-lihat?" tanya Rayyan dengan suara keras membentak, membuat Hanna terkejut, baru kali ini dia dibentak oleh Rayyan, dan mata merah Rayyan membuatnya bergidik.
Hanna segera berlalu dan masuk ke dalam kamar, sebelum dia benar-benar menutup pintu kamarnya, dia melihat dari pintu yang belum tertutup seutuhnya. Melihat Rayyan naik ke kamar melalui tangga dengan perlahan, karena terlihat mulai kehilangan keseimbangan diri. Hanna merasa khawatir, takut jika Rayyan akan jatuh dari tangga. Tapi dia sendiri tak berani mendekat.
Hingga akhirnya Rayyan benar-benar tak kuat naik tangga, dia terduduk di tangga sambil memejamkan mata, Hanna kembali membuka pintunya dan berlari mendekati Rayyan, Hanna membantu Rayyan dengan sekuat tenaganya. Bau minuman keras menusuk hidungnya, Rayyan yang hampir tak sadarkan diri ikut saja saat Hanna bersusah payah memapahnya.
"Hah....merepotkan saja" gumam Hanna lirih, sungguh berat sekali tubuh Rayyan meskipun dia memapah, bukan menggendong.
__ADS_1
Hanna langsung membawa Rayyan ke ranjangnya, dan meninggalkannya begitu saja, dia takut Rayyan hilang kontrol dan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Nampak Rayyan marah, dia tak mau tiba-tiba dipukul oleh Rayyan.