
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Rayyan yang seolah sengaja menunggu Hanna di depan pintu utama rumahnya. Hanna melihat Rayyan dengan tatapan tajam, muak dan rasanya ingin memaki laki-laki yang ada di depannya.
"Bukan urusanmu" jawab Hanna ketus. Rayyan menyunggingkan senyumnya, senyum termanis, senyum terbaik bagi Hanna. Tapi tidak, dia tidak boleh luluh.
"Sewot amat"
"Minggir!" Hanna meminta Rayyan tak menghalangi dia jalan. Namun Rayyan memang sengaja menghalangi Hanna keluar pintu. "Minggir nggak, aku mau kuliah"
"Sepagi ini?" Rayyan melongok ke dalam, melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul 6 kurang.
"Kenapa? nggak pernah lihat orang kuliah pagi?"
Rayyan mendekat ke arah Hanna, Hanna ingin mendorongnya, tapi dia tidak berdaya. Rayyan masih mencoba menghalangi Hanna agar tak keluar.
"Kamu belum masak" Rayyan beralasan.
"Kamu bisa beli, aku lagi malas memasak" Hanna mencoba menerobos dan dia berhasil keluar dari kungkungan Rayyan. Hanna tiba di garasi dan segera mengambil helmnya. Setelah memakai helm, Hanna menuntun motornya keluar dari garasi.
"Hah? kok bisa?" Hanna melihat ke arah ban motornya yang sudah kempes. Rayyan yang berada di teras tertawa melihat Hanna. Hanna yang mendengar suara tawa cekikikan dari Rayyan semakin merasa geram.
"Nah kan...kamu banyak dosa sih sama aku" Rayyan tertawa, puas melihat muka jutek Hanna, gadis itu melirik sinis padanya, bukannya takut, Rayyan malah semakin terbahak.
"Duh...kamu benar-benar tidak bisa diandalkan, di saat aku ingin kabur sepagi ini, kamu malah kempes" Hanna mengeluarkan ponsel dari tas ranselnya, niat hati ingin menggunakan jasa ojek online saja. Belum juga Hanna memencet kunci di layar ponselnya, Rayyan sudah berhasil merampas ponsel Hanna. Hanna melongo dan mencoba merampas ponsel yang kini sudah beralih tangan ke Rayyan.
"Kuantar saja" Rayyan masih memegang ponsel Hanna.
Seketika dunia terasa berhenti berputar, apakah yang baru saja dia dengarkan itu suara Rayyan? Hanna terhipnotis sejenak. Lalu kembali ke alam sadarnya.
"Nggak usah" Hanna meraih ponsel yang dipegang Rayyan dengan mudahnya. Namun dengan cekatan, tangan Rayyan mencegah Hanna melangkah dengan memegang pergelangan tangan kiri Hanna.
"Aku akan mengantarmu" kali ini Rayyan berujar dengan nada serius, matanya juga menatap gadis itu dengan tajam. Hanna? yak, dia sedikit luluh.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Hanna masih terdiam, mimpi apa Rayyan dengan tiba-tiba bersikap seperti itu. Bukankah dia harus bekerja hari ini? entah itu syuting film kek apa kek. Tapi dia tidak mau terlihat ingin tahu.
__ADS_1
Sementara Rayyan juga masih terdiam, dia fokus melihat ke arah jalanan yang masih lengang, masih jauh dari kata macet. Dia sengaja melaju dengan perlahan. Dia tidak habis pikir, mengapa gadis di sampingnya itu jutek dari tadi malam.
"Apa kamu sedang ada masalah dengan pacar kamu?" akhirnya Rayyan membuka percakapan. Hanna melirik ke arah Rayyan saat mendengar pertanyaan konyol itu. "Kenapa? iya?" Rayyan memastikan.
"Bukan" jawab Hanna, pandangannya tertuju ke arah samping, tak lagi melihat ke arah Rayyan.
Rayyan menaikkan kedua alisnya, tidak biasanya gadis itu jutek, Rayyan semakin penasaran. "Oh jangan-jangan kamu lagi dapet ya? makanya sensi?" Rayyan tersenyum kecil. Hanna mendengus emndengar ocehan Rayyan.
Hanna merogoh tas ranselnya, mencari ponselnya, membuka layar kunci layar dan membuka galerinya, dia sudah menyimpan foto Rayyan dan seorang perempuan sedang dugem.
Hanna memperlihatkan sejenak pada Rayyan, karena memang kendaraan juga tengah berhenti karena lampu merah. Rayyan menyipitkan mata melihat foto tersebut.
Sejenak dia terdiam, lalu dia tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang. Lampu merah berganti hijau, Rayyan kembali melajukan mobilnya, dia masih tertawa. Hanna menarik ponselnya dan kembali menyimpan ke dalam tasnya, orang yang ada di sampingnya mendadak gila. Hanna melihat Rayyan lalu kembali membuang pandangannya.
Apakah hanya melihat foto itu Rayyan menjadi benar-benar gila sekarang?
"Ow...aku tau...jadi kamu jutek dari tadi malam itu karena kamu cemburu?" Rayyan kembali terkekeh, dia seolah tau jawabannya sekarang. "Hah...ternyata, istriku sedang cemburu" Rayyan melihat ke arah Hanna yang kini sedang melotot melihatnya.
"Apa? sudah jelas kalau kamu cemburu padaku, makanya kamu jutek" Rayyan kekeh pada pendiriannya.
Perjalanan menuju kampus terasa begitu lama.
"Buruan nyetirnya" Hanna tak ingin lagi berdebat.
"Kenapa? bukannya kamu bahagia bisa duduk berdua denganku dan menghabiskan waktu bersamaku?" Rayyan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Hanna, entahlah dia begitu bahagia melihat ekspresi Hanna yang seperti ini.
Ebuset...kalau tidak sayang nyawa, Hanna ingin meloncat saja dari mobil Rayyan, kalau nggak gitu ingin dia berteriak dari balik kaca mobil bahwa dia sedang diculik oleh mafia. Tapi hayalan Hanna terlalu tinggi.
"Aku tidak menyangka, secepat itu kamu jatuh cinta padaku" Rayyan kembali membahas topik tadi. Hanna memejamkan mata sambil menghela nafas panjang.
"Rayyan Sebastiaaan....!"
"Iya...Hanna...Hanna...., ah entah siapa nama panjangmu, kenapa?"
__ADS_1
"Dengar ya Rayyan.....ini bukan masalah cemburu, bukan! ingat ya...bukan, dan aku nggak jatuh cinta sama kamu, terserah ya kamu mau dekat dengan siapa saja, asal selesaikan dulu perjanjian kita. Kamu jangan egois, melarangku dekat dengan orang tertentu, tapi kamu sendiri malah cari mati" Hanna nyerocos panjang lebar.
Rayyan menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
"Kenapa? mau marah sama aku? itu kenyataannya kan?"
Rayyan terpukau pada Hanna, gadis itu terlalu berani padanya, tapi dia suka, gadis itu yang tidak meleleh dengan pesonanya.
"Oh jadi karena itu?"
"Iya, jangan berbicara aneh-aneh tentang perasaanku, sampai kapanpun aku nggak akan jatuh cinta padamu, paham?" Hanna berbicara tegas pada Rayyan, dan Rayyan mendengarkan dengan khidmat. "Jika kamu selalu berbicara tentang larangan, maka aku juga punya hak untuk itu, ingat, ini bukan tentang hidupku, tapi hidupmu, jika sampai Brian tau semua, maka tamatlah riwayatmu"
Kalimat Hanna terputus, dia melihat Rayyan dengan seksama, laki-laki itu sedang melihat ke arahnya, mungkin saja mendengar ocehannya yang mirip emak-emak.
"Tunggulah hingga waktunya nanti tiba" imbuh Hanna akhirnya.
Rayyan tak membalas ucapan panjang dari Hanna, Mobil kembali melaju, tidak ada lagi perdebatan atau kalimat dari Hanna maupun Rayyan. Mereka tengah disibukkan dengan pikiran masing-masing. Mobil berhenti tepat berada di gerbang kampus, Rayyan tak bertanya di mana dia harus menurunkan Hanna.
"Di sini saja, tak perlu mengantarkan aku hingga depan fakultas, ingat, kita harus merahasiakan ini" Hanna mengingatkan.
"Terima kasih" Hanna melambaikan tangan dengan ragu. Rayyan mengangguk kecil, kemudian mobil melaju.
Hanna menghela nafas lega, jika disuruh memilih dia lebih nyaman jika harus naik motor ke kampusnya atau naik angkot, atau ojek online. Daripada harus bersama dengan Rayyan.
"Kamu kerja di rumah Rayyan ya?" pekik salah satu mahasiswi cantik pada Hanna, Hanna menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sumber suara itu, Hanna tak mengenalnya. "Iya bener kan tadi itu si Rayyan, sekilas dari balik kaca mobil yang dibuka sedikit, aku yakin banget itu Rayyan" cerocosnya. Hanna menggaruk rambutnya.
"Nah bener kan?" gadis itu sangat senang meskipun Hanna tak membenarkan. "Ih mau donk aku dekat sama Rayyan"
"Mbak...mbak...itu tadi bukan Rayyan bukan, mbak salah lihat" Hanna berbohong.
"Eh mataku masih normal" jawab gadis itu kekeh.
"Mbak...jika benar aku kerja sama Rayyan, mana mungkin dia mau nganterin aku yang sebagai pembantu, logika saja mbak" Hanna melipat kedua tangannya, meyakinkan alibinya. Gadis itu mulai terdiam. "Itu tadi pakdeku mbak, yang baru saja keluar dari penjara" imbuh Hanna sambil berbisik. Mendengar bisikan Hanna, gadis itu lantas pergi meninggalkan Hanna. Hanna tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1