
Panji menepuk dahinya sesaat setelah mengecek ponselnya, Hanna yang sedari tadi mengekor hanya heran saat melihat ekspresi Panji.
"Kenapa?" tanya Hanna ikut menghentikan langkahnya saat mereka hampir sampai di ruangan yang seharusnya kelasnya.
Panji memperlihatkan pengumuman yang baru saja dia dapatkan di grup WA.
"Serius kita pindah aula hari ini? kok mendadak banget?" Hanna ikut bergegas saat melihat Panji kembali melangkah, jarak kelas dengan aula tidak jauh, hanya saja mereka butuh berjala lebih cepat agar tidak terlambat masuk ke kelas Pak Ibra yang hari ini kembali memberikan kejutan.
Flashback On
Rayyan mengambil ponsel yang ada di dalam tas mungilnya yang dia selempangkan di bahu lalu dia melakukan panggilan kepada orang yang dia sapa dengan panggilan om itu. Tak berapa lama dia memarkir motornya di parkiran VIP, berjejer dengan mobil para dosen yang ada di sana. Rayyan menuju sebuah ruangan, di mana orang yang dia cari berada di sana.
Rayyan menanyakan kepada resepsionis ruangan tersebut guna mencari tahu di mana orang tersebut.
"Nggak sulit kan mencari?" tanya orang tersebut. Rayyan mengangguk, lalu dia duduk di sebuah sofa tak jauh dari orang tersebut. Lalu orang tersebut duduk di dekat Rayyan.
"Tumben? ada angin apa ini?" tanya orang tersebut sambil tersenyum pada Rayyan. Rasanya tak mungkin juga Rayyan akan menyampaikan tujuan yang sebenarnya jika dia berada di kampus ini hanya untuk menguntit Hanna.
"Ehm...ada sedikit melakukan riset aja om, untuk bisnis baru" Rayyan berbohong.
"Oh...oke, sudah om kondisikan, tinggal action saja"
"Terima kasih om" balas Rayyan.
Flashback Off
Hanna dan Panji tiba di depan aula, dan ternyata para mahasiswa sudah duduk berjejer di sebuah kursi yang melengkung panjang itu.
"Pantesan tadi kelas sepi, rupanya sudah pada di sini" gumam Panji sambil melangkah mencari tempat duduk yang nyaman. "Gara-gara kamu konser mulu sih Han ini" gumamnya sembari tertawa.
Hanna menoyor punggung Panji dari belakang.
"Yeee.....kenapa juga aku yang disalahin, ah nggak apa-apa, lagian Pak Ibra juga belum datang kan, amaan" ungkap Hanna. Dia duduk di barisan belakang, lalu dia meletakkan tasnya di sampingnya. Tangan Hanna sibuk menyisiri rambutnya agar tidak terlihat berantakan karena habis lari dari kelas menuju aula ini.
Terdengar langkah kaki saling bersahutan memasuki aula, Hanna masih belum memperhatikan. Dia masih sibuk menyisir rambut dengan jari tangannya.
"Memangnya kita mau kuliah apaan sih kok pindah sini?" Hanna bergumam, Panji menyenggol bahu Hanna saat Hanna tak mengetahui jika Pak Ibra datang ke aula. Dia bersama dengan seseorang.
"Selamat siang saudara semua" sapa Pak Ibra dengan suara khasnya, kali ini semakin bergaung karena menggunakan microphone yang ada di aula, memang jika menggunakan aula untuk kegiatan, maka biasanya menggunakan microphone agar suara bisa terdengar dengan jelas.
"Siang pak..." jawab mahasiswa hampir serentak, begitu juga Hanna. Hanna mencoba memicingkan mata, memperhatikan siapa yang berada di samping Pak Ibra, karena laki-laki itu masih mengenakan topi dan juga masker. Dandanannya memakai kemeja yang dilipat sampai di sikunya, demage nya membuat para mahasiswa cewek kasak kusuk.
"Siapa sih? cakep amat meskipun pakai masker" bisik salah satu mahasiswa yang duduk tak jauh dari Hanna.
"Gilak" teriak Hanna terdengar nyaring.
__ADS_1
Panji dengan cekatan kembali menyenggol Hanna, ingin rasanya dia membungkan bibir mungil Hanna yang mengumpat itu dengan tangannya. Panji tak kuasa menahan tawanya, sedangkan mahasiswa yang lain menengok ke arah Hanna. Sadar menjadi sumber pandangan, Hanna diam seribu bahasa dan tersenyum meringis sambil mengatupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf.
"Kenapa dia ada di sini?" Hanna bergumam, kali ini tak ada yang mendengar suaranya.
"Iya saudara, maaf tiba-tiba harus memindahkan kelas ke aula, karena hari ini kita kedatangan pengajar tamu, di mana hari ini dia akan memberikan semacam motivasi bisnis untuk kalian semua, Bapak harap kalian bisa mendengarkan dengan serius, karena kesempatan ini sungguh langka"
"Baik pak..." jawab mereka kompak.
"Oh ya...panggil saja Bapak ya, meskipun dia masih muda, silahkan mulai, dan saya akan bimbingan dengan mahasiswa skripsi"
"Terima kasih om" balas Rayyan. Dan Pak Ibra pun keluar aula.
Rayyan melepas maskernya, dan seketika aula menjadi heboh dan sangat riuh saat mengetahui jika pengajar tamu tersebut adalah Rayyan Sebastian. Mereka menjadi gagal fokus untuk emndengarkan materi.
"Oh my God, Rayyan...." teriak salah satu mahasiswa yang tak bisa mengontrol kekagumannya, mungkin dia adalah fans garis keras, melebihi Hanna.
"Selamat siang teman-teman...maaf saya panggil teman-teman ya..." Rayyan mengucapkan kalimat pertamanya.
"Panggil sayang saja Pak...." teriak salah satu mahasiswi centil dengan kemeja merah dan juga lipstik merah merona itu. Mendengar hal itu sontak seisi aula kembali riuh dengan tawa teman yang lainnya. Sementara Hanna nampak gusar melihat Rayyan berada di depan.
"Wah...gila sih, Rayyan kadi pengajar tamu, keren sekali" ujar Panji bersemangat.
"Keren ya?" Hanna menoleh sambil memasang wajah tidak nyaman.
"Setelah ini kita boleh minta foto bareng nggak pak?"
Rayyan yang seperti menghadapi anak-anak TK hanya tertawa, dia mencoba bersabar, karena dia tahu mayoritas manusia yang ada di aula ini adalah fansnya, hal itu terlihat dari bagaimana mereka mengelu-elukan Rayyan.
"Baik....kita akan berbicara dengan bisnis, bahwa kesuksesan berbisnis itu dimulai dari kita, dari pribadi kita, di mana kita harus disiplin, disiplin waktu contohnya"
Hanna menggaruk rambutnya, lebih tepatnya mengacak-acak rambutnya, padahal dia sudah susah payah menyisir dengan jarinya tadi.
"Disiplin apanya? orang dia juga nggak disiplin" omel Hanna lirih.
"Bangun pagi, motivasi kuat, dan tidak plin-plan, terdengar sepele, tapi itu yang saya lakukan" ujar Rayyan bangga, karena memang selain sebagai artis besar. Bisnis Rayyan banyak dan ada di mana-mana, dia adalah salah satu artis muda yang bisnisnya menggurita. Hanna mengakuinya, tapi untuk masalah bangun pagi, lagi-lagi dia dibuat tertawa.
"Bangun pagi, nyari sarapan di dapur..." gumamnya.
"Kamu kenapa Han? itu artis kebanggaan kamu, nggak ngimpi loh kita kedatangan Rayyan lebih dekat dari acara kemarin" Panji mendekatkan bibirnya ke telinga Hanna.
"Iya...iya..." balas Hanna.
"Yang di belakang, kenapa kasak kusuk?" Rayyan menunjuk ke arah Hanna.
"Siapa Pak?" Hanna nampak celingukan.
__ADS_1
"Iya kamu...siapa lagi?" Rayyan menatap Hanna.
"Itu Pak, banyak nyamuk di sini" Hanna beralasan, Panji nampak melotot mendengar pernyataan Hanna yang tak masuk akal, tak ada satupun nyamuk ada di sini.
"Itu salah satu tanda orang malas, hanya mendengarkan saja susah, hanya mendengarkan! bagaimana dia tidak bisa menghargai orang" sindir Rayyan pedas. Hanna meneguk ludahnya mendengar Rayyan menyindirnya.
"Ini sampai jam berapa?" Hanna menggumam pada Panji, kali ini dia sama sekali tak melihat ke arah Panji, dia pura-pura sibuk mendengarkan Rayyan yang ternyata jago juga menjadi pengajar. Ah Hanna tanpa sadar mengagumi hal itu.
"Sampai selesai Han, selesai jamnya Pak Ibra" jawab Panji yang melakukan hal yang sama.
"Kamu sini maju ke depan" Rayyan kembali menunjuk Hanna.
"Siapa pak? saya?" tanya Hanna sambil menunjuk dirinya sendiri dan dia nampak bodoh.
"Bukan...itu jin yang ada di belakang kamu" balas Rayyan yang disambut gelak tawa dari yang lainnya. Hanna mencebik, tak ada orang yang duduk di belakang dia. Hanna dengan ogah-ogahan turun dari kursinya dan meniti anak tangga menuju Rayyan berdiri.
"Ih beruntung banget Hanna...." gumam beberapa mahasiswi.
"Siapa nama kamu?" tanya Rayyan seolah tak mengenalnya.
"Hanna Pak" jawab Hanna sambil pura-pura tersenyum manis.
"Hanna boleh saya bertanya sesuatu yang agak privasi?" tanya Rayyan sambil menatap Hanna tajam, Hanna membalas tatapan tersebut dengan tajam pula.
"Iya Pak" jawab Hanna akhirnya.
"Dalam berbisnis kita harus fokus dengan apa yang kita punyai, fokus. Jangan sampai melepas apa yang sudah kita miliki untuk sebuah spekulasi yang sangat samar keuntungannya untuk kita"
"Pertanyaannya?" Hanna langsung menodong.
"Sudah punya pacar?"
"Apa hubungannya dengan bisnis pak?" Hanna protes.
"Loh ini sepele, tapi bisa melihat peluang ke depannya, termasuk urusan bisnis"
Tepuk tangan membahana seisi aula, mereka terhibur dengan apa yang mereka lihat, dan tetap merasa bahwa Hanna adalah mahasiswa paling beruntung bisa sedekat itu dengan pengajar tamu mereka.
Karena merasa Rayyan mengada-ada, tak jelas arah tujuannya, Hanna diam saja mendengar pertanyaan tersebut.
"Itu tandanya anda sebagai pribadi yang belum tegas dalam menjalankan bisnis"
Hanna menghela nafas panjang lalu menghembuskannya.
"Terserah deh" gumam Hanna dalam hati, dia sungguh merasa sebal dengan laki-laki tampan yang ada di depannya ini. Dan lagi-lagi Rayyan tidak berhasil untuk mencari tahu hubungan Hanna dan Bian.
__ADS_1