Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Teka-Teki Rayyan


__ADS_3

Hanna keluar rumah untuk menemui Bian di luar. Hanna merapatkan jaketnya karena udara dingin menerpa, rambut Hanna nampak berantakan terterpa angin.


"Hai...maaf membuatmu keluar malam-malam" sapa Bian sesaat setelah keluar dari mobilnya. "Kita ngobrol di luar?" tanya Bian menawarkan. Hanna menggeleng pelan, dia lelah, lebih tepatnya hatinya yang lelah karena perdebatan dengan Nayo tadi.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Bian memastikan keadaan Hanna, karena gadis itu terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.


"Oh...baik mas, aku ok" Hanna merentangkan kedua tangannya memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.


"Ok, kita duduk di sana" Bian menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari mobilnya berhenti, Hanna mengangguk dan mengikuti Bian yang berjalan agak lebih dulu di depannya.


Bian duduk di sana, dan mempersilahkan Hanna duduk di sampingnya. Udara malam masih saja berhembus dingin, hanya saja tidak mendung. Kembali rambut Hanna nampak berantakan, Bian membenahi rambut Hanna dengan lembut. Jantung Hanna berdesir, ada perasaan yang berbeda yang dia rasakan. Hanya saja dia belum bisa memastikannya.


"Ada apa mas?" ungkap Hanna agar suasana hatinya mencair, agar rasa canggungnya hilang karena dia merasa salah tingkah.


"Nggak ada...hanya saja aku ingin mendapat jawabannya" Bian tersenyum.


"Haruskah secepat ini?" Hanna masih belum bisa menentukan jawaban, meskipun hatinya tertambat pada laki-laki yang ada di sampingnya itu, Hanna menatap mata Bian dengan tegas. Mata laki-laki itu masih sama, baginya indah, dialah makhluk nyata yang dia sukai sejak lama.


"Haruskah menunggu lama?" Bian balik bertanya sambil melempar senyum. Tangannya menguyek rambut Hanna gemas.


        Sementara itu, tanpa diduga Rayyan sudah berada di dekat Hanna dan Bian. Dia berada di mobilnya. Dia mengirim pesan pada Hanna dengan posisi dia sudah berada di sana. Rayyan memperhatikan mereka berdua. Diam-diam Rayyan meminta Kamila untuk menunda proses perceraiannya.


"Aku suka dengan kamu sejak lama" ungkap Bian akhirnya, "Kamu unik" Bian kembali menambahkan. Hanna mengangkat kedua alisnya, dia senang mendengar Bian berceloteh. Ada rasa bangga dan merasa tersanjung dengan apa yang diucapkan oleh Bian.


"Kenapa kamu hanya menatapku, huh?" Bian gemas saat melihat Hanna hanya menatapnya.

__ADS_1


"Aku nggak tahu harus bagaimana?" Hanna tersipu malu, ini adalah mimpi yang menjadi nyata. Tak disangka orang yang dia kagumi sejak dulu menyukainya juga.


        Rayyan masih memperhatikan, nampak dari pandangannya, Hanna dan Bian bercengkerama dengan santainya. Sesekali mereka tersenyum, Rayyan semakin merasa muak melihat mereka. Ingin rasanya dia turun dan memaki Bian.


    Hampir 1 jam Rayyan menunggu di sana, dan akhirnya Bian melambaikan tangannya dan meninggalkan Hanna. Hanna melambaikan tangan juga pada Bian, tak lupa dia menyunggingkan senyumnya. Hanna merasa hangat meskipun adara sedang dingin. Hanna melihat mobil Bian sudah menjauh dari pandangannya, dia hendak kembali masuk ke dalam rumah.


"Han" Rayyan sudah turun dari mobil dan berada di belakang Hanna tanpa Hanna sadari. Hanna menoleh ke belakang dan mendapati Rayyan ada di belakangnya.


"Kamu..." Hanna nampak tak percaya, dia merasa jika semua sudah berakhir kemarin, dia merasa bahwa tak akan ada lagi pertemuan setelah kemarin. Karena Rayyan adalah langit baginya, yang tak mungkin dia jangkau.


"Kenapa? terkejut melihatku?" Rayyan nampak sinis.


Hanna berjalan mendekat ke arah Rayyan. Apakah Rayyan akan memberikan surat cerai malam ini juga? secepat itukah?.


"Oh...sejak lama kamu di sini?" Hanna melihat ke kanan dan kiri mencari mobil Rayyan, dan ternyata mobil Rayyan memang ada di tempat yang agak jauh darinya.


"Kenapa? kamu terkejut?" Rayyan kembali mengulang pertanyaannya. Hanna menggeleng.


"Kamu masih sah sebagai istriku, Han. Jadi berhati-hatilah jika bersama dengan orang lain, terlebih dia laki-laki" Rayyan berbicara tegas. Hanna menatap mata Rayyan, apa ada yang salah dengannya.


"Bukankah kamu sudah mengurus semuanya? bukankah perjanjian kita sudah usai?" Hanna menegaskan, dia tak mau didikte oleh Rayyan yang baginya sudah tak ada hubungannya sama sekali dengannya.


"Kamu ada hubungan apa sama dia?" Rayyan bertanya dengan nada dingin. Hanna mendongak, mencoba melihat Rayyan dengan tegas. Tapi Rayyan membuang muka, tak ingin Hanna melihat sorot matanya yang menunjukkan bahwa dia sedang marah.


"Kenapa? ada apa denganmu?" Hanna balik bertanya.

__ADS_1


"Aku nggak suka kamu dekat dengan dia" Rayyan meninggikan nada suaranya, malam hening semakin membuat suaranya terdengar keras. Hanna tersentak, dia marah mendengar Rayyan yang sok mengatur hidupnya.


"Atas dasar apa kamu mengatur hidupku?" Hanna menahan marahnya, jika dulu biasanya dia suka berbicara dengan nada usil dan bercanda, kini mereka sedang berdebat.


"Bagaimanapun juga kamu masih sah sebagai istriku" Rayyan menegaskan tanpa memberi tahu apa alasannya.


"Kamu nggak berhak, statusku hanya di atas kertas, dan ini akan segera berakhir" Hanna tak mau kalah.


"Bagaimana jika aku tak menginginkan perceraian?" Rayyan menatap Hanna lekat. Hanna mengerjab, lalu tersenyum sinis.


"Jangan mimpi!" Hanna sadar diri, bahwa kalimat itu tak layak ditujukan Rayyan untuknya. "Kamu nggak lagi mabuk kan? kamu nggak lagi sakit kan?" Hanna mencoba meraih dahi Rayyan dan memegangnya. suhu tubuhnya terasa baik-baik saja dari punggung tangannya.


"Dengarkan aku baik-baik, jangan sekali-kali kamu dengan dia" Rayyan berbalik dan meninggalkan Hanna. "Dan selagi kamu dekat dengan dia, aku tidak akan pernah memberikan surat cerai padamu" ancam Rayyan. Suara itu masih terdengar jelas oleh Hanna.


Hanna hanya diam saat melihat Rayyan pergi, dia mengatur nafasnya sebaik mungkin. Karena sejak berbicara dengan Rayyan dia menahan amarahnya. Tidak tahu maksud Rayyan apa.


Hanna kembali masuk ke dalam rumah, dia melepas jaketnya dan segera berbaring ke atas ranjang, dalam hati dia senang karena habis bertemu dengan Bian.


"Maaf, belum bisa memberikan jawaban" ucap Hanna pada Bian saat mereka akan berpisah.


"It's ok" balas Bian.


Hanna kembali tersneyum mengingatknya, lalu senyumnya pudar saat ingat peristiwa setelahnya. Di mana Rayyan datang tanpa sebab dan memintanya menjauh dari Bian.


"Apa yang kamu inginkan?" gumamnya. Pertanyaan ini benar-benar membuat pikirannya menjadi lebih berat.

__ADS_1


__ADS_2