
Malam semakin larut, daging grill dan minuman bersoda sudah tandas. Harusnya Rayyan tak boleh minum minuman ini, karena bisa mempengaruhi suaranya, hanya saja khusus malam ini, dia melonggarkan aturan untuk dirinya sendiri. Dia terlanjur menikmati malam ini, layaknya sedang bercamping di gunung. Handuk yang dari tadi dia pegang sudah dia letakkan di tikar yang dia tempati, Hanna juga masih duduk manis di sampingnya.
Layaknya seperti teman, mereka ngobrol mengalir. Hanna mengingat pesan Kamila agar Hanna ikut menjaga Rayyan, meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku hidup sebatang kara, sudah lama" Rayyan menghela nafas panjang, memulai cerita, ingatannya kembali ke masa lalu, masa lalu yang sama sekali tak ingin dia ingat. Hanna mennegok ke sebelah kanan, melihat dengan jelas wajah Rayyan yang sedang menatap langit, Hanna melihat betapa tampannya Rayyan dari arah samping, hidungnya yang mancung semakin terlihat jelas. Bau harum sabun mandinya masih tercium di hidungnya meskipun sudah sejak tadi Rayyan duduk di sini.
"Ibuku meninggal karena sakit, setelahnya aku kehilangan duniaku" imbuh Rayyan, Hanna masih terdiam, dia tidak ingin memotong cerita Rayyan dengan pertanyaan, dia ingin mendengar seutuhnya. Agar cerita yang dia dapatkan bulat.
"Sejak itu pula aku merasa buat apa aku hidup, hingga akhirnya ada Kamila yang sudah aku anggap sebagai kakak hingga sekarang, menurut cerita Kamila, Ibulah yang merawatnya, jadi dia seperti balas budi dalam hidupku" Rayyan tersenyum datar, matanya masih sibuk menatap langit malam. "Pasti kamu juga menyalahkan aku bukan?" Rayyan tiba-tiba menengok ke arah smaping, tepat bertatap pandang dengan Hanna. Dengan sigap Hanna menutup mata, karena situasi ini bisa saja meracuni perasaannya, karena mata Rayyan sungguh bisa menghipnotisnya.
"Kenapa?" Hanna membuka matanya, tangannya sibuk memainkan rumput yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Rayyan tersenyum kecil, tidak mungkin gadis di sebelahnya itu tidak tahu dengan arah pembicaraannya. Rayyan menghela nafas panjang.
"Tak ada yang salah denganmu" jawab Hanna.
"Oh ya? dengan berita dan skandal yang banyak beredar itu?" Rayyan tersenyum kembali. "Ayolah, kamu jangan pura-pura baik Han, sekelas Kamila yang tak pernah memarahiku sekeras itu saja sampai mencak-mencak"
"Ya karena aku bukan Kamila" jawab Hanna.
"Maksudmu kamu nggak peduli?" tanya Rayyan semakin heran dengan gadis yang ada di sebelahnya, bagaimana pandangan gadis itu terhadapnya, terhadap skandal yang menerpanya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Bukan....maksudku, kamu melakukan karena kan ada sebabnya, dan itu yang aku nggak tahu" Hanna mengedikkan kedua bahunya. Rayyan mengangguk.
"Iya...mungkin"
"Nah kan" Hanna ikut mengangguk. Dia sebenarnya menunggu Rayyan membuka semua ceritanya.
"Aku kehilangan Ibu, dan aku merasa Talitha memiliki semua yang bisa membuat aku nyaman" jawaban singkat Rayyan sedikit membuka tabir.
"Kamila?" Hanna mengangkat kedua alisnya, tentu saja dia mempertanyakan peran Kamila.
"Dia tidak bisa bertindak seperti Ibu, dia sebagai kakak" jawab Rayyan singkat. Hanna kembali mendapatkan jawaban.
"Lantas, sebenarnya kamu suka sama Talitha hanya karena dia mirip almarhumah Ibu?" cecar Hanna. Rayyan kembali melihat gadis itu, gadis yang mendobrak pemikirannya.
"Entah"
"Aku tidak pernah tahu bagaimana pedihnya hidupmu di masa lalu, hingga timbul seperti ini, yang tahu kamu, dan tentu yang bisa menyelesaikannya adalah kamu sendiri" Hanna mencoba netral.
Rayyan menghela nafas panjang, hingga kini dia masih merasa jika kedekatannya dengan Talitha adalah kewajaran, tak peduli seberapa salahnya dia.
"Aku masih ingin berjuang dengan Talitha" imbuh Rayyan.
__ADS_1
"Jika itu yang kamu inginkan, kamu harus menimbang dari berbagai sisi, karena selain akan menyakiti hati banyak orang, tentu akan mengganggu karir, sudah tahu itu kan?" Hanna mencoba mengkonfrontasi pikiran Rayyan. "Oh maaf, bukan maksudku menggurui bukan, hanya saja aku menimpali percakapan kita saja sih, maaf"
"Nggak apa-apa, kamu cukup membuat perasaanku hari ini sedikit lega, aku salah sama Kamila, dan aku tahu aku salah, tapi entah aku belum bisa melepaskan dia"
"Tak harus kamu lepaskan kalau kamu belum mampu" Hanna tersenyum penuh arti. Rayyan melihat mata gadis itu, tulus berbicara padanya. "Sudah malam, bukankah besok kamu ada jadwal yang padat? tidurlah jika perasaanmu sudah membaik" pinta Hanna, dia ingin bergegas merapikan piring dan teman-temannya yang dia gunakan untuk memasak tadi.
"Bolehkah aku tetap berada di sini? aku ingin tidur di sini" Rayyan memejamkan matanya, dia ingin menyembunyikan air mata yang mulai menunmpuk di matanya. Hanna urung membereskan peralatan masaknya, dia mengangguk kecil.
"Jika kamu masih ingin bicara, bicaralah, sebisaku akan mendengarkan ceritamu" Hanna melihat ke arah Rayyan yang masih memejamkan matanya.
Tiba-tiba Rayyan meletakkan kepalanya di pangkuan Hanna, Hanna sontak kaget, tapi dia tidak menolak, membiarkan kepala Rayyan berada di pangkuannya. Mungkin saja beban berat sedang Rayyan rasakan, hanya saja dia tidak bisa menyampaikan semuanya pada Hanna.
Tak ada lagi ucapan dari Rayyan, laki-laki itu nampak tenang di pangkuannya, mungkin tertidur, atau mungkin hanya sekedar memejamkan mata, melebur segala lara di hatinya. Ingin rassanya Hanna mengelus rambut Rayyan, sang artis idola itu benar-benar nyata berada di depannya, hanya beberapa senti dari pandangannya. Rambutnya yang hitam, wajahnya yang mulus bersih, hidung mancungnya, sangat terpampang jelas. Ini adalah godaan yang nyata. Hanna menutup matanya sambil menggeleng kecil, mencoba menepis semua godaan itu.
Barang-barang masih berserakan, Hanna dengan hati-hati meletakkan kepala Rayyan di tikar mini, kemudian dia jalan meninggalkan Rayyan untuk mengambil bantal dan juga selimut untuk Rayyan. Terlalu lelap, hingga Rayyan sama sekali tak terusik. Hanna meletakkan kepala Rayyan di bantal, lalu menyelimutinya hingga hanya bagian kepala yang terlihat.
Hanna sendiri tak tega meninggalkan Rayyan tertidur di luar, akhirnya dia juga tidur di dekat Rayyan, dengan bantal dan selimut yang berbeda, berbeda dengan Rayyan yang nyenyak, Hanna tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
Hanna sedikit tahu tentang hidup Rayyan, menjadi selebritas papan atas tidaklah mudah, dia melihat Rayyan dari kacamata seorang penggemar, Rayyan adalah seorang yang glamor, yang selalu bahagia dan tidak punya masa lalu yang menyedihkan. Nyatanya, kini dia mulai tahu siapa Rayyan, dia tidak sebahagia penampilannya. Dia kesepian dan merindukan Ibunya, hingga membentuk karakter yang seperti sekarang ini.
Hanna melihat ke arah wajah Rayyan yang tertidur, sangat nyenyak, sangat tenang, Hanna tersenyum kecil, kemudian dia memejamkan mata dan mencoba kembali tidur.
__ADS_1
Malam itu terasa panjang, namun sangat berarti, tenda kecil itu menjadi saksi bagaimana Hanna mulai tahu tentang kehidupan Rayyan.