
Hanna duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Farel, merasa aneh harus satu ruangan dengan Farel saja. Hanna mencoba nyaman dengan keadaan ini. Hanna membuka lembaran buku yang diserahkan Farel, membaca job desk nya. Dan Farel menyerahkan beberapa pekerjaan yang harus diteliti olehnya.
Hanna melirik jam dinding yang ada di depannya, Farel sudah keluar daritadi dan memintanya untuk istirahat juga. Karena nanggung, Hanna memilih untuk menyelesaikan tugasnya sebelum benar-benar keluar untuk istirahat siang.
Hanna merentangkan kedua tangannya dan merasa cukup mengantuk, akhirnya kerjaannya selesai. Sebelum jam istirahat siang usai, Hanna bergegas keluar ruangan untuk sekedar minum kopi.
"Hah beres juga," Hanna menarik diri dari kursinya dan keluar ruangan. Tak lupa dia menebar senyum manisnya agar pegawai yang lain terkesan dengan dia, dan tidak menganggapnya jutek.
"Selamat siang mbak," Hanna menyapa salah seorang pegawai perempuan yang dia temui di lorong menuju pantry. Yang disapa tersenyum membalas senyuman Hanna.
"Oh ya mbak, benar ya di sini arah ke pantry,?" Hanna memastikan agar dia tidak salah arah.
"Iya mbak, pegawai baru ya,?" tanya cewek dengan nama Rara di kartu yang terkalung di lehernya.
"Iya, perkenalkan, Hanna," Hanna mengulurkan tangannya.
"Rara," sahutnya ramah.
"Aku kesana dulu ya mbak," Hanna menunjuk arah pantry. Rara mengangkat jempolnya. Hanna segera berlalu menuju pantry, begitu juga Rara.
Hanna celingukan saat berada di ruangan tersebut, ada beberapa pegawai cewek yang berkumpul di sana, berdiri sambil membawa cangkir kopinya masing-masing. Mata mereka menatap Hanna penuh tanda tanya, karena mungkin sebelumnya belum pernah melihat Hanna.
Hanna mengangguk memberikan hormat, tak lupa senyum manisnya ditunjukkan.
"Siang mbak," Hanna menyapa, dan hanya tatapan yang kurang ramah dia dapatkan dari 4 cewek yang ada di sana. Hanna meneguk ludahnya, berasa mendapatkan ospek dari senior. Hanna segera menuju sebuah rak mengambil cangkir dan sesachet kopi. Hanna meraih gunting yang menggantung tak jauh dari dispenser. Menggunting bungkus kopi dan menuangkannya ke cangkirnya.
Hanna membuang bekas plastiknya ke tempat sampah, dan apa yang dilakukan Hanna tak luput dari pandangan keempat cewek tadi.
Hanna menuangkan air panas ke cangkirnya dan mengaduknya perlahan, karena kondisi yang sepertinya tidak kondusif, Hanna pamit keluar saja.
"Permisi mbak." Hanna menunduk dan tersenyum, lagi-lagi tak ada tanggapan dari mereka, hanya senyum kaku penuh paksaan yang muncul dari salah satu di antara mereka.
"Jadi itu pegawai baru? yang katanya pacarnya Rayyan,?"
"Eh busyet, nggak cantik gitu,"
"Iya, muka pas-pasan, nggak cocok sama Rayyan,"
__ADS_1
Hanna belum sepenuhnya keluar dari ruangan tersebut saat kalimat-kalimat itu terlontar dari bibir mereka, dan mereka tak menyadari jika Hanna mendengarnya. Hanna melangkah kembali ke ruangannya, dan membawa kopinya kesana.
"Hish kenapa semua membahas itu? nggak di media sosial, nggak di kehidupan nyata, kenapa begitu,?" Hanna menggaruk rambutnya. "Haruskah aku kerja laundry saja,?" Hanna menyesap kopinya.
Hanna meraih ponselnya, dan baru sempat mengecek sejak pagi tadi. Ada beberapa pesan masuk dari Rayyan.
Nanti aku jemput. Bunyi pesan tersebut.
Hanna menggeleng dan jemarinya dengan lincah membalas pesan yang sudah masuk sejak pagi itu.
Nggak usah, aku bawa motor. Hanna membalas pesan yang masuk.
Belum juga semenit, ponselnya berbunyi. Dan nama Rayyan tertera di sana.
"Hallo," bisik Hanna, meskipun sedang sepi ruangannya, tapi dia tidak mau terlihat mencolok melakukan panggilan dengan Rayyan.
Kenapa bisik-bisik? lagi sama bos?
"Enggak,"
Nanti aku jemput.
Tinggal aja, besok aku antar.
"Nggak mau ih,"
Tapi aku kangen, pengen ketemu.
Hanna mendengus, dasar Rayyan bucin. Hanna memutar bola matanya.
"Nanti aja deh ketemu di rumah," putus Hanna akhirnya. Dan Rayyan pun akhirnya nurut.
***
Rayyan datang ke rumah dengan membawa beberapa makanan yang khusus dia peruntukkan untuk Hanna dan Nayo.
"Sebanyak ini,?" Hanna melotot saat tahu Rayyan membawa beberapa kantong makanan.
__ADS_1
"Karena ini hari pertama kamu kerja, aku tahu kamu butuh banyak tenaga," Rayyan meletakkan makanan-makanan itu di meja teras. Hanna tertawa melongo.
"Ini mah berlebihan,"
"Nggak apa-apa,"
"Ya udah aku ambil tempat dulu, kita makan bareng. Di dalam aja sih, soalnya ini mejanya kecil,"
"Punya tikar nggak,?" tanya Rayyan sambil melihat bagian halaman depan rumah Hanna yang mini.
"Hah? mau di sana,?" Hanna menatap tak percaya, namun Rayyan keburu kepengen di sana. Hanna berjalan ke arah halaman, netranya melihat ke atas, apakah mendung sedang berjaga atau terang.
"Oh ok, sekiranya nggak hujan malam ini," Hanna setuju, dia masuk ke dalam mengambil tikar dan juga beberapa alat makan.
Rayyan membantu dengan menggelar tikar tersebut, Hanna membawa alat makan dan meletakkannya di sana.
"Nayo belum pulang,?"
"Duh itu bocah, sesibuk itu, nginep di rumah temannya mengerjakan tugas," balas Hanna sambil meletakkan piring dan membuka beberapa kantong makanan.
"Waaah,"
"Ya udah makan yuk," Hanna memulai makan malamnya dengan pizza yang nampak sangat lezat itu, kebetulan dia belum makan malam. Lanjut dengan ayam goreng super renyah. Rayyan yang melihat Hanna makan dengan lahapnya sesekali tersenyum, dan dia merasa senang. Rayyan membantu membukakan minuman kaleng bersoda untuk Hanna.
"Makanlah yang banyak," gumamnya sambil meletakkan minuman itu.
Hanna mengangguk, "Terima kasih orang aneh," gumam Hanna. Rayyan tak protes dengan panggilan itu. Iya, Hanna memanggilnya sebagai orang aneh karena merasa Rayyan sudah salah jalur dengan jatuh cinta padanya, sebagai orang biasanya dirinya tidaklah pantas dan Rayyan memang aneh baginya.
"Apa hari pertama kerja kamu menyenangkan? teman-teman kamu baik,?" Rayyan cukup khawatir dengan Hanna. Hanna terdiam, lalu dia mengangguk.
"Ya, semua baik-baik saja," itu jawaban yang keluar, meskipun pada kenyataannya, sudah ada bully yang menderanya. Rayyan tersenyum kecil, jika biasanya dia cuek dengan komentar yang dia dapatkan di media sosial. Tidak sekarang, diam-diam dia melihat pergerakan jari jemari para warganet. Terutama komenan untuk Hanna.
"Baguslah, semoga kamu kerasan,"
"Hum hum," Hanna mengangguk, dia nampak sedang tak peduli, dan dia menikmati ayam gorengnya itu. Rayyan ikut tersenyum, semoga apa yang diucapkan Hanna memang begitu adanya.
Secuek-cueknya Hanna, tapi komenan di media sosialnya cukup mengusik batinnya. Begitu juga dengan mulut-mulut para penggosip yang didengarkan langsung olehnya. Hanna merasa terusik sesungguhnya, dan membuatnya stress. Hanna mengunyah makananya dan mencoba melupakan apa yang sebenarnya ada di benaknya.
__ADS_1
Hanna meyakinkan pada dirinya, jika memang ini takdirnya, dia akan bisa melewati ini semua. Rayyan tak henti menatap Hanna yang sedang makan, entah kenapa dia begitu bucin dengan mahkluk yang ada di depannya itu.