Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Hanya Kamu


__ADS_3

Hanna mengikuti Rayyan, seorang pelayan mempersilahkan mereka untuk menduduki salah satu gazebo di ujung.


"Terima kasih," balas Rayyan setelah mereka tiba di sana. Rayyan naik ke atas gazebo, diikuti oleh Hanna. Pelayan pun mengangguk, setelah memberikan buku menu pelayan tersebut meninggalkan Rayyan, menunggu dipanggil kembali saat mereka sudah menuliskan menu yang mereka pesan.


Hanna membolak-balik buku menu tersebut, Rayyan menunggu. Hanna menuliskan hot chocholate dan beberapa camilan kekinian.


"Aku ikut," ujar Rayyan. Hanna yang mendapatkan perintah pun menuliskan di daftar menu yang dia pesan. Setelah semua sudah tertulis di sana, Rayyan memberikan kode agar pelayan mendekati dan mengambil daftar pesanan.


Suara alunan musik dari penyanyi yang ada di atas panggung mini, dan suara merdu dari penyanyi cafe tersebut membuat malam menjadi syahdu.


"Apa Kamila masih belum bisa mendampingi?," tanya Hanna memecah hening di antara mereka.


"Iya, masih belum, karena memang Kamila membutuhkan istirahat yang panjang biar benar-benar pulih,"


"Kamu nggak kerja?" Hanna penasaran, karena beberapa hari Rayyan sibuk menemaninya. Dia merasa tak enak jika Rayyan terus saja berada dekatnya, dia merasa menjadi beban hidup Rayyan yang super sibuk. Apalah arti dia/ atau Rayyan sengaja membuatnya seolah dia adalah orang yang penting?.


Rayyan mengedikkan bahunya, dia sengaja benar-benar mengurangi pekerjaannya. "Nggak, lagi ngurangin aja, demi kamu," gumamnya seraya tersenyum. Mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan agar Hanna tidak larut dalam kesedihan setelah ayahnya meninggal.


"Idih..." pipi Hanna memanas meskipun dia tidak percaya apa yang diucapkan oleh Rayyan. Tapi benar-benar, Rayyan memainkan perannya dan sukses membuat Hanna baper. Tapi tidak, dia tidak mau terbawa dengan gombalan Rayyan. Bagi Hanna itu adalah gombalan yang tidak serius.


"Han..." Rayyan memanggil dengan nada serius.


Mendengar namanya dipanggil dengan nada serius, Hanna mendongak, melihat Rayyan yang duduk berada di depannya, hanya berjarak karena ada meja kecil di depan mereka.


"Apa yang kamu takutkan dari aku,?" tanya Rayyan dengan nada serius. "Kenapa kamu selalu menghindar,?"


Hanna melihat Rayyan, dia menelan ludahnya sendiri. Rayyan terlalu tampan buatnya, itu jelas. Dia merasa bukan siapa-siapa dan tak layak untuk Rayyan, itu juga salah satu alasan yang sangat jelas baginya.

__ADS_1


"Kan sudah jelas," Hanna bersedekap, sedikit mencondongan tubuhnya ke depan, lebih dekat dengan Rayyan. Dia berusaha mengendalikan degup jantungnya agar tidak berdetak lebih kencang.


"Apa,?"


"Aku nggak suka sama kamu," jawab Hanna, namun matanya tidak melihat ke mata Rayyan. Rayyan tersenyum miring, ikut menyedekapkan tangannya, dan juga ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Kini mereka semakin dekat, Hanna yang semakin deg-degan pun perlahan memundurkan badannya.


"Kenapa tertawa?," Hanna mengerjabkan matanya.


"Sini dekatkan tubuhmu," pinta Rayyan. Hanna menggeleng, itu tak mungkin dilakukan karena akan membuat dia semakin tidak bisa menguasai jantungnya. "Sini lihat mataku, lihat aku lebih dekat,"


Hanna kembali meneguk ludahnya, sudah mati-matian dia menghindar dari tatapan mata Rayyan, malah disuruh menatapnya.


"Sini lihat matanya," Rayyan tersenyum kecil. Hanna kembali meneguhkan hatinya dan menatap Rayyan. Tak butuh waktu lama, Rayyan kembali tersenyum. Hanna yang kembali merasakan panas pada pipinya pun segera membuang pandangan.


"Tinggal jawab aja kenapa," Rayyan percaya diri, dia yakin jika Hanna memiliki perasaan yang sama.


Dicecar pertanyaan begini membuat Hanna sesak nafas dan ingin lari saja dari sini, untung saja berjeda karena ada pelayan yang membawa pesanan mereka.


"Sama-sama kak, silahkan, selamat menikmati...jika ada apa-apa silakan panggil kami," pelayan itu dengan ramah melayani. Hanna mengangguk. Dan pelayan itu kembali meninggalkan mereka. Hanna mendadak kembali sesak.


"Apa kamu tidak malu jalan sama aku.?" Hanna mengendurkan perasaannya dengan bertanya hal tersebut, dia benar-benar merasa tidak percaya dengan yang dirasakan oleh Rayyan.


"Malu,?" Rayyan balik bertanya, tangannya meletakkan gelas yang berisi minumannya. "Aku nggak pernah malu jalan sama kamu, kenapa?"


"Iya kamu bilang gini sekarang, soalnya kamu belum pernah dikroyok sama penggemar fanatikmu," Membayangkan Hanna dirundung fans Rayyan yang mayoritas para gadis-gadis cantik membuatnya ngeri


"Bodo amat, aku siap meninggalkan semuanya,"

__ADS_1


"Jangan gila," sergah Hanna, ini adalah salah satu kegilaan jika Rayyan benar-benar melakukannya.


"Perlahan tapi pasti semua akan aku tinggalkan," ujar Rayyan mantap. Dia memang lebih serius untuk membangun bisnis di balik layar saja. Dengan berbagai banyak pertimbangan dia perlahan akan mundur dari dunia yang membesarkan namanya itu.


Melihat keseriusan Rayyan, bukannya menambah keteguhan hati Hanna. Tapi Hanna malah merasa ketakutan, harusnya dia tidak semakin dekat dengan Rayyan. Dia benar-benar merasa sangat tidak percaya diri.


***


Berita tentang perceraian Rayyan semakin santer, membuat pihak-pihak yang sudah mengontrak Rayyan dengan poin perjanjian menjadi kalang kabut dengan berita tersebut.


"Apa ini benar?" tanya seseorang pada Rayyan. Dia adalah salah satu perwakilan dari sebuah produk yang menjadikan Rayyan sebagai brand ambassadornya.


"Saya siap bayar penalti," Rayyan tak perlu panjang lebar, tak juga mau menjelaskan.


Perempuan itu nampak melongo, dengan jawaban yang demikian berarti Rayyan memang membenarkan.


"Siapa,?" tanyanya ingin tahu.


"Tak perlu tahu siapa dia, siapkan saja perjanjiannya dan nanti saya tanda tangan," jawabnya enteng. Dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi. "Waktu saya tidak banyak, dan saya mau bertanggung jawab jika memang saya telah merugikan perusahaan anda,". imbuhnya.


Rayyan meminta asistennya untuk segera mengatur waktu dan tempat agar dia bisa segera melakukan konfrensi pers terkait berita yang menyangkut namanya. Hal itu dimaksudkan agar tidak semakin liar berkembang, karena yang dia tahu, para wartawan sudah mulai menyanggong ke rumah sakit di mana ayahnya dirawat. Hal itu sudah cukup menganggu bagi dia, terlebih dia mengkhawatirkan Hanna. Bagaimana jika kehidupan Hanna akan diusik nanti.


"Siap mas," jawab asistennya.


Rayyan mengangkat panggilan yang baru saja masuk, sebuah nomer asing.


"Iya, saya sendiri," Rayyan seksama mendengarkan kalimat demi kalimat dari lawan bicara. "Iya, nanti segera kesana," jawab Rayyan menutup panggilan telponnya. Bergegas dia keluar dari kantornya dan menuju parkirannya dengan tergesa.

__ADS_1


Hatinya terasa kalut, Rayyan mengemudi mobilnya denga tergesa agar segera sampai di tempat tujuan. Beberapa kali dia membunyikan klakson agar mobil yang ada di depannya memberikan akses jalan untuknya.


"Sial," umpat Rayyan setelah mendapatkan macet di lampu merah. Kembali dia mengemudi dengan kecepatan yang lumayan tinggi saat jalanan lengang, dan akhirnya dia sampai di tempat tujuan. Rayyan berlari ke tempat yang ditujukan si penelpon tadi. Dan mendapati keadaan yang kini baru terasa. Apa yang diucapkan Hanna menjadi kenyataan kini.


__ADS_2