
Hanna baru saja mengunci pintu pagar, selepas dari rumah Panji dia menyelesaikan pekerjaan di tempat laundrynya yang belum sempat dikerjakan oleh salah satu orang yang bekerja dengannya untuk mengurusi laundry.
"Hah..kelar juga," Hanna selesai mengunci pintu pagarnya. Memang belum larut, bahkan saat dia melihat jam dinding tadi, masih pukul 8 malam. Dia sengaja meminta pekerja laundry untuk pulang terlebih dahulu. Sebuah motor berhenti di depan pagar rumahnya. Lampu motor menyorot pandangannya, menjadi silau.
"Panji,?" Hanna menyipitkan matanya, meminimalisir rasa silau. Sadar jika sorot lampu motornya menyilaukan Hanna, Panji segera mematikan mesin motornya. Hanna masih mematung di depan pintu pagar. Panji melepaskan helmnya.
"Jadi aku akan berdiri di sini,?" Panji mneyeringai di depan pintu pagar. Sadar dengan dirinya yang belum membuka pintu pagar, Hanna menepuk dahinya. Sesegera mungkin dia merogoh kunci yang sudah dia simpan di saku celananya. Dengan cepat dia membukakan pintu pagar untuk Panji.
"Apa ada yang ketinggalan barangku,?" Hanna mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat barangkali ada yang tertinggal. Satu per satu diingatnya, tapi tidak ada yang tertinggal.
"Ada," ujar Panji, Hanna menyipitkan matanya. "Aku masuk dulu," Panji nyelonong masuk, sementara Hanna masih mencoba mengingat barang yang ketinggalan.
"Apaan,?" gumamnya sambil menggaruk dahinya, sementara Panji sudah duduk manis di kursi teras rumahnya.
Hanna menyusul duduk di sana, dia melihat Panji yang menatapnya, berharap Panji mengatakan barang apa yang tertinggal.
"Setahuku aku tidak meninggalkan barangku di rumahmu," Hanna menegaskan.
"Iya, tidak ada barang kamu yang tertinggal, tapi rasa ini yang tertinggal," Panji memegang dadanya dengan tangan kanannya. Hanna menatap Panji dengan mimik serius, lantas beberapa dekit kemudian Hanna tertawa.
"Hahaha...., kamu sedang apa,?" Hanna merasa jika Panji sedang melawak.
"Apa ini terdengar lucu Han,?" Panji bertanya dengan wajah serius, tidak ada bercanda sama sekali baginya. Sesaat kemudian, senyum Hanna memudar. "Sekian lama kamu meninggalkan rasa di sini, dan kini terasa sesak," ungkapnya.
"Maksudnya,?" tanya Hanna.
Panji tersenyum pias, tidak seharusnya dia melakukan ini. Tapi, biarlah...biar semuanya jelas dan selesai sampai di sini. Dia pun tidak ingin persahabatannya dengan Hanna yang sudah terbangun bertahun-tahun menjadi runyam hanya karena perasaannya ini.
"Han," panggil Panji.
"Iya Nji...aku...aku minta maaf jika ada salah," ungkap Hanna.
__ADS_1
Panji menggeleng segera, bukan itu yang dia harapkan. Panji berdiri meninggalkan kursinya, dia kini berdiri di depan Hanna, menatap Hanna dengan serius.
"Maaf...bukan maksudku untuk marah, hanya saja memang ada yang tertinggal di hatiku, yaitu kamu. Maaf jika ternyata aku tidak bisa menjaga persahabatan ini, aku mulai menyeberang dari rasa itu," ujarnya.
"Nji...," Hanna mendongak, melihat wajah Panji dengan rasa bersalah. Kenapa? karena Hanna selalu merepotkan Panji dengan curhatan-curhatan hati dan perasaannya. Saat dia merasa jatuh cinta, saat dia patah hati, bahkan sudah terlalu sering dia menceritakan itu kepada Panji. Kini dia sadarm betapa luka hati Panji kala mendengar semua keluhannya.
"Jangan merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan, itu hak kamu Han. Maaf, aku yang seharusnya minta maaf karena aku yang salah,"
"Nji....," Hanna bangkit dari duduknya. Kini mereka sama-sama berdiri. "Jadi kamu kesini karena ini,?" tanya Hanna masih dengan wajah bersalah. Panji mengangguk, menatap Hanna sejenak lalu melihat ke arah yang lain.
"Aku ingin meninggalkan kamu dengan perasaan lega,"
"Tapi Nji..."
"Iya, aku akan tetap ada buat kamu kok, tenang saja. Dan aku bahagia akhirnya kamu akan benar-benar bersama dengan Rayyan," Panji tersenyum dengan tulus, tangan kanannya mengelus kepala Hanna. Sementara Hanna merasa semakin bersalah. "Kamu jangan berpikir macam-macam, aku kesini hanya untuk menyampaikan ini, biar hatiku lega, dan kini hatiku sudah lega," Panji tersenyum.
Hanna mendongak melihat Panji, mencoba menyunggingkan senyumnya pada Panji, sahabatnya yang selalu baik padanya.
"Sudah aku bilang, kamu nggak salah Han, sudahlah. Aku malah merasa nggak enak sudah mengatakan ini semua," Panji memegang tangan Hanna.
Hanna merasa menjadi manusia paling bebal, manusia yang nggak peka sama sekali dengan perasaan orang. Selama ini, bertahun-tahun dia tidak tahu sama sekali jika Panji suka padanya. Hanna menepuk dahinya.
"Jangan menyalahkan dirimu, aku baik-baik saja," Panji kembali menegaskan. "Aku baik-baik saja, dan aku janji suatu saat nanti akan bawa calon aku kesini, kalau perlu ke nikahan kamu dan Rayyan," Panji mengangkat jempol tangan kanannya, Hanna tertawa menyeringai. Semoga apa yang dikatakan oleh Panji ini benar-benar jujur dari hatinya, setidaknya Hanna akan merasa lega.
"Bejanjilah," Hanna tersenyum. Panji mengangguk.
"Oh ya, bolehkah aku bertanya sesuatu,?" tanya Panji.
Hanna mengangguk.
"Bagaimana rasanya punya pacar, bahkan tunangan seorang idola,?" Panji terkekeh.
__ADS_1
"Biasa saja,"
"Ah bohong," Panji mengibaskan tangannya. Dia tahu bagaimana euforia Hanna saat mengagumi Rayyan dari awal. Sangat gila baginya, setiap hari yang diceritakan hanya Rayyan...Rayyan...dan Rayyan.
"Ah kamu nggak bisa dibohongi," Hanna merasa gagal bersandiwara, nyatanya dia merasa tidak baik-baik saja menjadi bagian dari hidup Rayyan. Karena dia terganggu dengan ungkapan kebencian dari para netizen tentang dirinya dan Rayyan. Mereka menyerang Hanna dengan kalimat jahat yang sering melukai hatinya.
"Han...tidak mudah, tapi aku yakin kamu bisa, kamu kan hebat," Panji memberikan semangat, tak lupa dua jempol tangannya kembali terangkat.
"Ah kamu berlebihan,"
"Aku tahu bagaimana kamu mengidolakan Rayyan kala itu, bahkan melebihi mantan kamu yang bernama Bian," Panji seolah mengingatkan tentang Bian.
"Ah dia," Hanna tersenyum tak nyaman.
"Sorry...nggak maksud itu, hanya saja aku tahu kamu akan tetap menjadi Hanna yang kuat bagaimanapun cobaannya nanti,"
"Terima kasih Panji yang selalu menjadi superheroku," senyum Hanna mengembang.
"Jangan seperti itu, superheromu sudah melingkarkan cincin di jari manismu kan,?"
"Ih...jangan gitu Nji, kamu tetap sahabat aku, dan kamu tetap superheroku," pekik Hanna. Membuat Panji mengangguk-angguk kecil.
"Ya...ya..."
Mereka tertawa bersama. Panji merasa lega sudah mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam, terasa beban yang dia tahan di hatinya luruh, semoga dia lekas bisa move on dari perasaannya pada Hanna, karena entah bagaimana Hanna itu menarik baginya.
Sementara Hanna, masih merasa kaget dengan pengakuan Panji yang mendadak itu. Betapa tidak pekanya dia, atau dia yang bebal? jangan-jangan hanya dia yang nggak tahu? bagaimana dengan Kia? apakah Kia tahu jika Panji menyukainya.
Buru-buru Hanna mengunci pagarnya setelah Panji pamit pulang, karena besok pagi dia akan berangkat ke luar kota yang jauh. Hanna berlari masuk ke dalam rumah dan segera mencari ponselnya, menghubungi Kia.
Maaf ya para readers, benar-benar lemot banget updatenya. Author berkabung beberapa hari ini, dikarenakan Ayah author meninggal. Mohon doanya semua ya untuk ayah author...thank you....
__ADS_1